Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Salah Baik (Maya)


__ADS_3

Menatap wajah Maya yang kini memerah, hati Wira teriris. Namun sakitnya karena hal yang ia lihat tadi sore membuat Wira tak menyudahi keinginannya. Terbayang bagaimana eratnya Randy memeluk istrinya membuat amarahnya lagi-lagi membuncah.


"Aaarrrgggghhh!!"


Prank


Pria itu tak dapat menahan amarahnya, lampu tidur yang berada di atas nakas itu hancur. Maya kini mengambil napas dalam-dalam, beruntung tangan itu telah terlepas darinya. Suaminya nampak frustasi, wajahnya merah padam dan menatap nyalang wajah Maya.


"Maya, tak bisakah kau menerimaku sepenuh hatimu?"


"Terima aku di sini, bisakah? Ganti dirinya, harus dengan cara apa aku menghapus laki-laki itu dari hidupmu, hah?!!"


Dengan derai air mata yang kian deras, Maya kini menangis. Memang, hal paling berat adalah menerima sosok Wira sebagai pendamping hidupnya secara utuh. Pria yang dahulu Maya selamatkan nyatanya membuatnya terjebak dalam ikatan pernikahan.


"Aku mencintaimu, Mas ... sungguh."


Iya, memang ia mencintainya Wira sejujurnya. Dari lubuk hatinya perasaan itu tentu ada. Bagaimana mungkin ia tak cinta, sedangkan putrinya telah beranjak remaja. Namun, untuk Randy ia takkan mampu untuk lupa.


"Kau cinta, atau terpaksa?"


Maya diam sesaat, dua-duanya benar. Ia cinta, namun juga terpaksa, keadaan memaksanya untuk cinta. 12 Tahun lalu, ia begitu tulus merawat Wira kala pria itu terbaring di rumah sakit, sendirian tanpa satupun keluarga ataupun teman.


Dalam keadaan tak bedaya, Maya lah yang memposisikan diri sebagai keluarganya. Walau Bobby memintanya untuk hati-hati karena identitas pria yang ia rawat itu sama sekali belum di ketahui. Namun dengan alasan tanggung jawabnya sebagai dokter, Maya tak memedulikan nasihat Bobby.


"C-cnta, Mas ...." Ia menjawab kaku, pria itu menatap lekat sang istri yang menghindari tatapannya.


Memang tak ada kebohongan di sana, karena ia memposisikan Randy dan Wira begitu berbeda. Baginya dua pria ini adalah sosok sama berharga dalam hidupnya.


"Kalau kau cinta, mengapa kau tersenyum untuknya?"


Maya menelan salivanya pahit, pria itu benar-benar membuatnya kalut dan takut sekaligus. Pembawaannya yang tenang namun mata yang kini merah membuat Maya merasa takut pada suaminya.


"Dan tubuh ini, bukankah sudah ku katakan hanya milikku, kau lupa, Sayang?"


Lembutnya Wira teramat menakutkan baginya, Maya hanya mengucap maaf dengan kedua tangannya. Namun yang kini ia hadapi bukanlah Bobby ataupun Randy, suaminya begitu berbeda prihal cara memberikan maaf padanya.


"Tunjukkan padaku jika ucapanmu itu benar," titahnya dengan suara dingin yang menusuk tulang.


Maya mengangguk, ia tahu apa yang harus dia lakukan. Sejak dahulu, hanya perlakuan lembut yang dapat melunakkan hati suaminya, dan ia harap kali ini juga sama.

__ADS_1


*******


Sedang di tempat lain, lampu kamar masih saja menyala. Gian teramat lelah hari ini, berapa orang yang terluka dan ia menjadi penanggung jawabnya. Sungguh sangat menyebalkan.


Radha tersenyum kala wajah manja itu mendongak menatapnya. Terlihat jelas Gian kini ada maunya, rambut pria itu masih basah, ia baru sempat mandi lantaran Randy yang banyak minta.


"Kakak lelah?"


"Masih kau tanya, Ra ... matamu itu untuk apa gunanya, Sayang."


Gian mencubit hidung istrinya, tidur di pangkuan Radha seakan membuat lelahnya hilang seketika. Pria tampan dengan sejuta pesona itu tengah bermanja-manja pada wanita mungil yang kini menganggapnya sebagai anak kecil.


"Hari ini sungguh luar biasa, aku harap semoga besok semua baik-baik saja, aku ingin istirahat, Tuhan."


Wanita itu menarik sudut bibir, nampaknya Gian benar-benar lelah. Ia acak pelan rambut Gian yang masih basah, pria itu tampak tersenyum merasakan kenyamanannya.


"Ra." Bibirnya berucap, namun matanya terpejam.


"Hm? Apa, Kak?" Radha menatap lekat garis wajah yang luar biasa tampan itu, sangat menggemaskan dan membuat hati Radha bergetar berkali-kali.


"Kita mau punya anak berapa?"


"Issh!! Pertanyaanya," ujar Radha sedikit kesal namun pipinya merah bak kepiting rebut kala suara Gian begitu santai keluar dari bibir asal ceplosnya.


Radha mengalihkan pandangannya kala menyadari kini Gian membuka mata. Walau sudah sewajarnya, namun Radha masih saja malu membahas hal semacam ini pada Gian.


"I-iya wajar," jawabnya kaku.


"Cepat jawab, kamu mau berapa?"


"Dua," jawabnya Radha cepat dan tentu saja asal tanpa pertimbangan, karena dia belum sama sekali berpikir ke arah sana.


"Enak saja hanya dua, gak mau!! Lihat aku sama Haidar, kesepian, Ra."


Radha terperanjat kaget kala pria itu kini duduk dan nada bicaranya jadi berubah. Gian lebih mirip ibu-ibu komplek yang kerap berbincang panas di pagi hari.


"Ya terus kenapa Kakak tanya aku?"


"Ya kan tanya, kan kamu Mamanya nanti."

__ADS_1


"Itu udah aku jawab dua, kenapa Kakak protes?"


"Ya jangan dua dong, empat gitu maksudnya," tuturnya mencubit wajah Radha begitu gemas hingga memerah.


"Empat, Kakak aja yang hamil."


"Eh, jangan ngelawan ya ... aku suami kamu loh."


"Terus buat apa Kakak tanya kalau keputusannya malah begitu?"


"Ehe, Kakak cuma tanya, Sayang ... keputusan ada di tanganku, karena aku suamimu."


Sungguh, Radha frustasi jika Gian terus menerus begini. Ingin ia pukul wajah tampan yang kini mengedipkan mata sok imut di depannya.


"Terserah, aku mau tidur ... capek."


"Tunggu!! Project pertama, kita mulai hari ini ya?"


Radha mengernyit heran, sedikit tak mengerti apa yang Gian katakan. Dan pria itu kini menggerakkan alisnya hingga membuat Radha semakin merasa Gian kehilangan jati diri.


"Kakak gila ya?"


"Hm, Kakak gila karenamu, puas?!!"


Memang nyata adanya, Gian seakan gila semenjak menikahi gadis SMA yang dahulu ia anggap baru pubertas, tak pernah terpikirkan berada di sisi Radha akan menjadi candu dalam hidupnya.


"Aaaakkkhhh!! Kakak sakit," teriak Radha kala Gian memulai hal yang sejak tadi Radha hindari.


"Peluk, sakit kah?"


"Jangan kuat-kuat, aku bukan bantal guling!!"


Radha mendorong wajah Gian yang memaksanya dalam pelukan luar biasa erat dan sedikit menyakitkan.


"Yang bilang bantal guling siapa, tidak ada tuh."


"Tapi kalau Kakak peluknya begini ya sama aja, aku susah napas, Kak."


Berada dalam pelukannya, dengan kekuatan luar biasa yang membuatnya susah bernapas benar-benar ujian bagi Radha. Berharap esok pagi akan berakhir, dan segera pulang agar alasan dingin tak menjadi senjata Gian untuk memeluknya.

__ADS_1


❣️


Makasii temen" masih mau baca❣️


__ADS_2