Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 259. Tak Sempurna (Maaf)


__ADS_3

"Kenapa kau tidak bilang ada wanita itu?"


Gian masih belum bisa memaafkan teman-temannya. Kehadiran Adinda yang berada di tengah pesta pernikahan Andrew membuatnya luar biasa murka.


"Gian, seperti yang sudah mereka jelaskan ... Adinda itu sahabat Cintya, istrinya Andrew, kita semua tidak ada yang tahu kalau Adinda akan berada di sana."


Sulit menjelaskan, pria ini marah bahkan enggan mengucapkan selamat pada Andrew kala ia menyadari ada Adinda di sana. Luar biasa kemarahan pria itu bahkan ia membatalkan niat untuk memberikan kado pernikahan yang nilainya fantastis itu pada Andrew.


"Sama saja, kalian menjebakku, dan juga kenapa kau mau ketika dia menjabat tanganmu, iyyuh sebaiknya kau mandi kembang 7 rupa, Reyhans."


Sejak tadi dia tak henti mengomel, bahkan sifatnya sudah melebihi Evany yang kerap cemburu kala Reyhans menyentuh wanita lain.


"Ck, memangnya perlu? Aku hanya tak ingin dia merasakan malu berkali lipat kalau aku juga mengabaikannya, Gian."


Sebenci-bencinya Reyhans terhadap orang lain, dia masih punya nurani. Lain halnya dengan Gian yang sama sekali tidak memberikan sedikitpun ruang terhadap seseorang yang telah menyayatkan luka di hatinya.


"Evany sepertinya perlu tahu hal ini."


"Jaga mulutmu, Gian, kau mau aku adukan pada Radha juga?" ancam balik Reyhans, karena jujur saja dia takut jika mulut beracun Gian sudah beraksi, terutama membawa pengaruh buruk pada kekasihnya.


"Lakukan jika kau mau Evany meraung di atas pusaramu tak lama lagi." Salah Reyhans berani mengancam Gian, pria ini mana mau kalah walau hanya sebatas bicara.


"Maksudmu? Kamu mau membunuhku? Apa kemampuan bela dirimu sudah melebihi aku?" tanya Reyhans tanpa takut, tampaknya perdebatan ini mulai memanas.


"Iyyuuuh, siapa juga yang sudi mengeluarkan tenaga untuk membunuhmu," ujar Gian sangat-sangat lancar dan tak terlihat ia kaku sedikitpun.


Siapa sebenarnya Gian kini, dia pria sempurna dan tentu saja normal luar biasa. Buktinya anaknya saja sudah dua, tidak mungkin ada kelainan dalam gen Gian bukan.


"Bisakah kau berhenti mengucapkan iyyuh-iyyuh itu? Aku sedikit geli mendengarnya."


Jujur saja, jika Gian seperti ini terus lama-lama telinga Reyhans terasa sakit. Ia justru seakan tengah berada di tempat yang tak seharusnya, sedangkan Gian yang kini menatap gusar jalanan hanya menghela napas kasar.


"Antar aku pulang, istriku pasti rindu." Ia mengalihkan pembicaraan, baru sadar jika cara bicaranya cukup melelahkan.


Bisa saja membuat alasan, padahal Radha amat sangat terbiasa jika Gian pergi bahkan jika pulang malam. Dan kini dia memakai nama Radha kala dirinya lebih memilih pulang daripada kembali ke kantor.


Menatap hiruk pikuk kota yang panasnya bisa membakar kulit, Gian hanya tengah membuang kenangan bersama sejuta kebencian. Matanya sempat menatap wajah sumringah Adinda ketika mereka bertemu, Gian tak sengaja dan dia merasa bersalah luar biasa kepada Radha.


Dan ia ingin menghapus apa yang ia lihat dengan menatap istrinya, sama sekali ia tak menginginkan dalam hidupnya wanita itu kembali di hadapannya. Akan tetapi, semua hancur lantaran Andrew justru menikahi sahabat Adinda tanpa sepengetahuan teman-temannya lebih dulu.


-


.


.


.


"Selamat sore istriku."

__ADS_1


Suara itu menggema, Gian lupa jika ini adalah saat-saat kedua buah hatinya tidur. Jelita yang kini tengah menonton televisi hanya mendelik menatap kehadiran Gian.


"Aih kenapa makhluk ini yang menyambutku?"


"Gian!! Apa maksudmu?" tanya Jelira dengan nada tingginya.


Tanpa berdosa dia berucap dan menghampiri Jelita yang sudah siap dengan senjatanya. Dia sebenarnya sadar atau tidak jika kelakuannya kurang ajar. Padahal sewaktu Radha melahirkan namun sedikit sulit dia susah meminta maaf mati-matian dan meraung di pelukan Jelita karena tingkahnya, dan kini Gian mulai lagi.


"Bercanda Mama sayang, jangan marah-marah nanti cepat tua."


Baru saja menyebut mamanya dengan kalimat yang cukup membuat emosi, Gian kini duduk di sisi sang mama. Bahkan Jelita sempat terkejut kala Gian memeluknya erat-erat.


"Kerasukan apa kamu begini ha? Mau minta apa?"


Perasaan Jelita mulai tak enak, Gian bukan sosok pria yang kerap berbuat manis padanya. Berbeda dengan Haidar yang memang menyayangi Jelita dengan kelembutan dan manja walau waktu mereka cukup sedikit untuk bersama.


"Kangen bau Mama, ternyata masih sama."


Cara bicaranya beda, Jelita paham ada yang tampak disembunyikan oleh putranya. Meski sudah beberapa ini memang terkadang Gian akan kumat di bulan-bulan tertentu, terutama saat dia merasa tengah bersedih.


"Kenapa sebenarnya, Gi? Ada masalah apa? Ceritakan."


Walau sempat dibuat naik darah, dengan Gian yang seperti ini Jelita merasa hancur. Baginya lebih baik putranya sedikit kurang ajar daripada murung dan berbeda seperti detik ini.


"Wanita itu, aku bertemu dengannya ... dan bisa-bisanya dia tersenyum, cih, murahaan sekali."


Gian menatap nanar tanpa arah, telapak tangannya mengepal. Jika saja bertemu di jalan raya, sepertinya Gian akan menabraknya hingga tewas.


"Adalah, Mama kepo banget sih."


Baru saja mulai baik, tiba-tiba dia kembali ke pengaturan awal. Dia sudah sangat serius menunggu kelanjutan cerita Gian, nyatanya pria itu justru beranjak dan merengganggkan otot-ototnya, sepertinya dia mengantuk juga.


"Aku ke kamar dulu, capek banget, mereka tidur ya, Ma?"


Dia berucap tak jelas karena sambil menguap, sontak Jelita mendaratkan bantalan sofa tepat di perutnya.


"Kebiasaan, kalau nguap itu tutup jangan sambil bicara," tegur Jelita sudah sejuta kali mungkin.


"Iyaya, maaf, gitu aja dimarahin, coba kalau Haidar pasti disayang-sayang, terus dibilangin nanti setan masuk mulutnya, kenapa aku nggak begitu, Ma?" tanya Gian sembari menggosok hidungnya.


"Kalau kamu sudah nggak mempan, setannya sudah terlanjur masuk kedalam, bahkan sudah berkembang biak," jawab Jelita sekenanya, sebenarnya ia tak membedakan antara Gian dan Haidar, akan tetapi memang mereka tumbuh dengan kepribadian yang luar biasa berbeda.


"Mama jahat banget sih, ibu tiri ya jangan-jangan?" tebaknya sama sekali tak masuk akal, Jelita tak lagi mau menjawab, gosip siang ini lebih menarik daripada apa yang Gian tanyakan.


Merasa tidak diperdulikan lagi, Gian berlalu dan menghampiri istrinya di kamar. Walau kecil harapan dia bisa langsung menatap manik hitam Radha yang menjadikan hati Gian begitu tenang kala menatapnya, tapi tak apa.


Pelan-pelan, Gian melangkah dengan begitu hati-hati. Takut jika nanti mereka mengamuk, meski Gian suka ketika putra dan putrinya terbangun namun ia tak ingin jika sampai mengganggu tidur mereka.


Ceklek

__ADS_1


"Kak? Udah pulang? Kok cepet?"


Terkejut, Gian menarik sudut bibir kala masuk kamar dan istrinya tengah duduk manis memandangi kedua buah hatinya.


"Iya pulang, kamu kok nggak tidur juga? Nggak capek?"


Gian mengecupnya singkat, ia sangat paham bagaimana lelahnya Radha. Lingkaran tangannya kian mengecil, Gian sedikit kecewa lantaran istrinya semakin kurus saja.


"Kecil banget, nanti dikira Papa aku nggak bener jagoan istri," ujar Gian menatapnya lekat, Radha hanya tersenyum tipis, menatap genggaman tangan Gian di sana.


"Yang penting sehat, Kakak, aku nggak sakit."


Gian mengangguk pelan, sesaat kemudian dia berlutut dan menggenggam tangan istrinya. Jelas saja Radha heran, pasalnya Gian terlihat berbeda. Wajahnya bahkan sesendu itu.


"Kakak kenapa? Ada masalah ya?" tanya Radha baik-baik, mengacak rambutnya yang sejak tadi masih sangat rapi.


"Maaf ya, Kakak belum jadi suami yang sempurna untuk kamu, Ra." Gian menggigit bibirnya, bibirnya kaku untuk meminta maaf dengan jujur sebabnya apa.


"Maaf untuk apa? Memangnya buat kesalahan yang bagaimana?" Radha tak tega jika suaminya mulai terlihat menyedihkan seperti ini.


"Untuk semua, salah yang disengaja ataupun tidak, tolong maafkan Kakak ya, Sayang."


Radha hanya mengangguk, walau kepalanya penuh sejuta tanya. Akan tetapi Radha yakin suaminya takkan Macam-macam. Bagaimanapun tingkah Gian, selama ini yang Radha paham hanya kesempurnaan dia sebagai pendamping hidupnya.


"Belum hari raya, jangan minta maaf dulu, nanti kesalahannya udah keburu abis," canda Radha yang berhasil membuat suasana kian terasa hangat. Gian tersenyum lebar mendengar celetukan sang istri.


"Bisa aja kamu," ujarnya mencubit dagu Radha hingga wanita itu berdecak kesal.


Rutinitasnya seperti biasa, Radha akan meminta Gian mengganti pakaiannya lebih dahulu.


"Mereka tidur, kamu nggak kangen Kakak, Ra?"


Radha mengernyit, pertanyaan Gian mulai melenceng. Setiap hari bertemu, dan Gian menanyakan hal semacam itu.


"Tiap hari ketemu, masa kangen."


Jawabannya jujur sekali, tanpa ditutup-tutupi dan Gian memutar bola matanya malas. Kurang dewasa apalagi istrinya, padahal sudah punya anak, pikir Gian.


"Kangen kangenan lah, masa nggak sih?" Gian mencebik, menebak isi pikiran Radha bahwa dirinya juga merindukan hal yang sama.


"Buahahah nggak jelas banget idupnya, gausah macem-macem ... mereka tidurnya udah lama, tiba-tiba kebangun gimana? Kakak sendiri yang susah nanti."


Pada nyatanya, istrinya paham tanpa dijelaskan. Menghindari hal-hal yang tidak seharusnya, sebaiknya Radha menahannya sejak awal. Karena jika benar-benar terjadi dialah yang akan kesulitan nantinya.


"Apa iya? Bentar aja nggak bisa, Ra?" tawar Gian namun mendapat penolakan dari Radha.


"Kalau memang bukan waktunya jangan curi-curi," ucapnya berhasil membuat Gian semakin gusar saja.


"Yaudah kalau gitu, Kakak juga mau tidur sebentar ... tidurin dong, jadi istri harus adil." Benar-benar membuat gila, kebiasaan Gian jika pulang cepat begini, apalagi jika Kama dan Kalila tengah tertidur.

__ADS_1


"Pinjem dulu Mama ya, tidurnya lamaan dikit," tuturnya yang dimaksudkan pada kedua buah hatinya.



__ADS_2