
"Mau berapa banyak, Neng?"
"3 Kilo boleh deh, Pak."
Aryo bahkan turun untuk mengikuti istri tuannya, dengan alasan tak ingin jika Radha akan kenapa-napa. Sungguh pesan Gian masih melekat dikepalanya.
Radha mengeluarkan uang dari dompetnya, entah kenapa nanas segar itu benar-benar menggugah di matanya. Dan tentu saja ia hanya ingin makan bersama Gian, sang suami tercinta.
"Apa tidak masalah, Non?"
Sedikit ragu, namun Aryo tetap tak menutup kemungkinan jika dirinya memang benar-benar khawatir, Nona mudanya membeli nanas dengan jumlah yang tak sedikit, dan seperti yang ia ketahui istri dulu sangat ia larang makan nanas kala usia kehamilannya masih muda.
"Tidak, Pak, aku bakal makan sama kak Gian, kok."
"Baiklah kalau begitu," tutur Aryo merasa tenang, karena jika dibawah pengawasan Gian nampaknya tidak akan terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan.
"Bapak mau juga? Sekalian nanti bawa pulang buat pak Budi." Radha memberikan penawaran, serius dan memang ingin memberikan sedikit senyum untuk orang-orang di sekitarnya.
"Hm, apa boleh, Non?" tanya Aryo ragu, karena nampaknya Radha setulus itu padanya.
"Boleh dong, Pak, masa nggak boleh."
"Duriannya deh kalau boleh," ucap Aryo malu-malu padahal mau.
Melihat durian yang Aryo tunjuk, Radha juga jatuh cinta. Dan tanpa banyak berpikir dia jelas mau juga, entah akan jadi apa ruangan Gian, yang jelas hari ini dia lagi berminat makan buah bersama Gian.
"Ya udah, Pak, duriannya tiga."
Kaget? Tentu saja, walau sedikit Aryo tetap tak menduga jawaban Nona mudanya. Berbeda dengan tukang buah yang justru merasa senang lantaran ketiban rezeki tanpa ia duga.
-
.
.
.
Baru saja memasuki loby kantor, mereka menjadi pusat perhatian secepat itu. Bukan karena penampilan Radha yang cantik, melainkan buah yang kini mereka bawa.
Aroma durian yang sama sekali tak pernah tercium di kantor, kini justru semerbak dan menjadi pusat penciuman para karyawan yang Radha lewati.
Dengan bantuan Aryo, satu buah durian dan 3 Kg Nanas itu mendarat dengan selamat. Tak peduli dengan orang-orang yang menganggap dirinya aneh, kini Radha lebih memilih menunggu Gian di ruangannya.
Evany sempat menganga, namun kode dari Aryo membuat wanita cantik itu terdiam. Karena memang ia tak punya hak untuk menganggap tingkah istri bosnya itu aneh atau lainnya.
__ADS_1
"Pak Aryo? Kenapa ada di sini?" Sewaktu yang tepat, Gian justru datang menghampiri mereka.
"Saya mengantarkan nona muda, Tuan," tutur Aryo yang berhasil membuat senyum manis di wajahnya.
"Benarkah? Kejutan sekali."
Gian berterima kasih tentu saja, hal ini adalah info paling menyenangkan baginya. Karena sejak tadi yang ia bahas hanya masalah dan masalah tiada hentinya.
"Hati-hati dijalan, Pak."
Evany dan Reyhans saling melirik, kesenangan bosnya terlihat jelas. Tak heran lagi, karena Reyhan kerap mengalami hal semacam ini, Radha benar-benar membuat suasana pria itu membaik.
"Kalian berdua menggunjingkan aku?"
"Ti-tidak, Pak," jawab Evany cepat, karena memang Gian teramat sensitif dan kerap menyangka hal yang tidak-tidak.
"Saya masuk dulu, dan tolong jangan izinkan siapapun masuk, paham!" tegas Gian benar-benar tak mau diganggu, karena memang kepalanya terasa penat dengan pekerjaannya.
"Iya, nikmati waktumu." Reyhans tak banyak protes, karena memang Gian punya kuasa penuh.
Pria itu mendorong pintunya pelan-pelan, dadanya berdebar seakan menemukan kembali titik dia jatuh cinta seperti dulu. Tepatnya jatuh cinta Gian setiap harinya.
"Selamat siang, Sayang," sapa Gian dengan suara lembutnya.
Dengan langkah pasti, Gian menghampiri istrinya dan mengecup keningnya sebagai salam pertemuan. Dan Radha yang mendapat perlakuan begitu, seperti biasa ia akan mencium punggung tangan Gian sebagai ungkapan hormat pada suaminya.
Gian menarik sudut bibir, istrinya mulai berani protes, dan belum sempat menjawab sejak tadi ia sudah terkecoh oleh aroma durian yang menguasai Ruangan.
"Ra? Kamu yang bawa?"
Seakan tak percaya, durian dan nanas di dekat kaki meja sempat membuat Gian menganga. Bukan hanya buahnya akan tetapi sebuah pisau yang sudah tersedia membuat Gian menelan salivanya.
"Pak Aryo, tapi yang beli aku," tutur Radha dengan polosnya, dan wajah itu tampak tak sabar ingin mengeksekusinya.
"Nanas? Siapa yang mau makan nanas? Kamu?"
"He'em, pengen aja tiba-tiba. Tapi, Kakak yang kupas ya," pinta Radha dengan menampilkan puppy eyes nya.
"Kakak? Mana bisa, Ra. Belum pernah Kakak buka sendiri," keluh Gian apakah mampu menuruti keinginan istrinya atau tidak.
"Is, coba aja dulu, berjuanglah namanya."
Bisa saja Radha menjawab, karena yang ia inginkan bukan nanas sembarang nanas, akan tetapi nanas dari jerih parah Gian yang harus masuk dalam mulutnya.
"Tapi cuma satu potong, gak lebih! Janji dulu."
__ADS_1
Bukan tega, hanya saja Guam tak mau apa yang ia izinkan membuat Radha dalam bahaya. Meski ia tahu memang tak selamanya berakhir buruk, akan tetapi alangkah baiknya jika dia waspada.
"Dua ya?" rayu Radha meminta tambahan, sungguh satu itu sangatlah sedikit, hanya menambah kotoran di gigi bagi Radha.
"Satu, nggak boleh dua."
"Yaah, Kakak mah curang! Udah aku beliin duren padahal." Ia mencebik, karena ia menginginkan pesta buah kesukaannya siang ini.
"Memang nggak boleh banyak-banyak, Zura. Kamu hamil, jangan macem-macem ya," lembut namun tegas dan punya penawaran, sekali Gian bilang satu tetap harus satu.
"Tapi mau durennya juga, satu," pinta Radha menakutkan jemarinya, keren takut Gian takkan memberikan izin juga untuk buah berduri tajam itu.
"Hanya satu? Yakin?"
Radha mengangguk, sebenarnya tak masalah jika tak berlebihan. Namun kembali lagi, bagi Gian segala sesuatu lebih baik mencegah daripada mengobati.
"Iya, udah bukain nanasnya," titah ratunya mantap tanpa menerima penolakan apalagi penawaran jasa orang lain.
Sebelum melakukan misi pentingnya, Gian bahkan mengambil napas perlahan berkali-kali. Wajahnya sejenak terlihat tegang, karena ia tak pernah sama sekali melakukan hal semacam ini.
Mengupas nanas, yang ia tahu hanya makan nanas yang telah di potong kotak-kotak oleh Asih ataupun Jelita. Dan kini dengan sejuta kesulitan ia harus memaksakan diri untuk istrinya.
"Bismillah, hiyyaak!!"
Dengan kekuatan penuh, Gian membelah nanas itu hingga terbagi menjadi dua. Dan jelas saja Radha memerah bahkan hampir menangis.
"Kakak, kenapa dibelah? Nggak gitu caranya!"
"Kenapa? Kakak salah ya?"
Gian merasa dirinya tak salah jelas bingung, karena memang dia tidak pernah Melakukannya. Yang ia pikirkan bagaimana caranya nanas itu bisa dibersihkan dan dimakan, pikir Gian.
"Bukan gitu, Kak, di kupas mirip kentang, nanti dibersihkan baru potong-potong terus potongannya jadi lingkaran, aku maunya begitu."
"Rumit juga ya ternyata, harus yang begitu? Yang setengah lingkaran nggak mau?" Gian merayu, berharap apa yang ia lakukan masih bisa diperbaiki.
"Iya maunya gitu," rengek Radha persis anak kecil yang kecewa dengan kesalahan orang tuanya.
"Kakak ganti yang satunya ya," tutur Gian dengan perasaan dag dig dug tak karuan, untung saja itu bukan satu-satunya nanas yang Radha bawa.
"Iya, baca doa yang benar."
"Iya, Sayang akan Kakak coba."
Sebegitu rumitnya, tapi tak apa selagi istrinya yang meminta. Karena baginya, Radha adalah hal berharga dalam hidup Gian kini. Lagipula, baru kali ini istrinya meminta hal semacam ini padanya, senang karena ia merasakan Radha tampak normal seperti Ibu hamil yang ia ketahui.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan pikiran Radha, wanita ini tengah mengumpat pengetahuan suaminya. Ternyata ada hal yang tak Gian kuasai, karena selama ini biasanya sang suami kerap serba tahu segala hal bahkan mengenai alam lain.
TBC