Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Tanggung Jawab (Gian)


__ADS_3

Memang sedikit merepotkan, namun mengingat apa yang terjadi pada Haidar adalah akibat ulah istrinya, Gian tak mungkin lari dari tanggung jawab.


Setelah mendengar kesaksian dari Jelita, pria itu paham mengapa sang Istri meminta maaf pada Haidar. Dan hal itu dapat ia maklumi, wajar saja ia yang terkena fitnah sang mama.


"Kalian kemana saja? Randy kenapa tidak pulang bersama kalian?"


Gian mengangguk, namun untuk pertanyaan kedua ia tak mampu menjawabnya. Karena memang Randy pergi dan tak kembali usai pembicaraan sensitif yang membuatnya kesal bukan main.


"Kenapa kau tega, Gian? Bagaimana nasibnya sekarang coba, kau mau dia terjebak kerumunan seperti dulu?"


Benar-benar sial, kenapa juga kini Randy menjadi tanggung jawabnya. Tak peduli bagaimana dahulu, memang pria itu sempat terjebak di pusat perbelanjaan lantaran pergi sendiri dengan alasan ingin menikmati waktu.


Karena lupa dirinya siapa, Randy terpaksa harus bersikap baik pada penggemar yang sebenarnya cukup mengganggu kehidupan pribadinya.


"Kenapa Mama tanya aku? Om Randy sudah dewasa, mengapa harus aku yang mengawasinya," ujar Gian tak terima kali ini, jelas saja ia tak suka. Tak mungkin ia memastikan setiap manusia yang ada di sekitarnya, sungguh tak dapat di percaya.


"Aah, buatku khawatir saja, dimana kunyuk itu," kesal Jelita sembari membuka ponselnya, memastikan bahwa adiknya itu masih baik-baik saja.


Tidak ada jawaban, beberapa kali ia coba namun hasilnya tetap sama. Wajah cemas Jelita tak dapat ia sembunyikan, dan Gian sungguh menganggap itu berlebihan.


"Mama lebay, dia sudah tua bukan lagi anak-anak, siapa juga yang mau menculiknya."


Memang benar, jika di pikirkan harusnya ia tak sekhawatir ini. Namun tetap saja, bagi Jelita Randy adalah harta yang sangat berharga. Kehilangan kedua orang tua beberapa tahun silam menjadi luka tersakit yang pernah Jelita rasakan, dan ia tak ingin menyia-nyiakan adik kandungnya.


"Bukan masalah itu, Gi ... kau takkan mengerti karena saat ini kau belum merasakannya, nanti kau paham apa maksud Mama."


Senyum Jelita membuat Gian sedikit kikuk, ada rasa sesal kala menganggap apa yang dilkakukan Mamanya sedikit lebay. Padahal, itu adalah bentuk kasih sayang Jelita pada Randy sebagai satu-satunya keluarga yang Randy punya.


"Ma, sudah selesai kan? Aku boleh keluar?" Gian memastikan, takut jika nanti ia salah lagi.


Jelita mengangguk, luka di tangan putranya memang telah Gian tangani. Hanya saja tubuhnya yang terasa sakit tak mungkin Gian urut, karena memang putranya tak mampu melakukan hal itu.


"Lekas pulih, lusa kita harus pulang jangan lupa."

__ADS_1


"Dasar cerewet," celetuk Haidar asal menjawab, sejak tadi pria itu hanya membatu tanpa berucap apapun padanya, dan kini satu kalimat itu membuat Haidar menganggap kakaknya cerewet.


"Tidak tahu terima kasih." Gian berucap kecil menatap kalah sengit.


"Kewajibanmu, karena ini semua ulah istrimu."


Bukan main kesalnya, Haidar memang tak berniat sama sekali mengucapkan terima kasih pada Gian. Sedikitpun tidak, karena ia tak sama sekali menginginkan Gian merawatnya kali ini.


"Salahmu juga berdiri di sana, itu bencana yang kau inginkan, iya kan?"


"Apa maksudmu? Aku bahkan baru hendak keluar, kau saja yang membuatnya berlari persis di kejar pedofil."


"Heh!! Jaga mulutmu, anak kecil."


Jelita cepat bertindak, baru saja keduanya terlihat baik. Kini secepat itu memanas dan bahkan membuatnya sedikit merasakan pusing.


"Astaga!!! Gian, keluar sana ... kau mengalah dulu kali ini ya," pinta Jelita berharap anaknya akan mengerti.


"Tapi mulutnya kurang ajar, Ma." Gian memanas, ucapan Haidar membuatnya tersinggung.


"Iyaa nanti Mama ajarin, sudah sana, Radha butuh kamu."


Huft, untung saja Jelita membawa nama Radha. Kalau tidak, mungkin ia takkan mau mengalah begitu saja. Wajah Haidar yang kini tengah mengejeknya jelas menunjukkan bahwa dirinya pemenang debat kali ini.


"Mama pilih kasih," celetukya membuat Haidar menatapnya semakin remeh, tatapan penuh ejekan dan luar biasa menyebalkan.


"Kau mau tetap di sini? Mama yang keluar ya," tawar Jelita yang membuat Gian berlalu tanpa pikir panjang, mana mungkin ia mau. Berdua bersama Haidar di ruang yang sama akan membuatnya tensinya naik.


"Najish!!" Masih sempat ia menoleh ke arah Haidar sembari menunjukkan jari tengah lantaran kesalnya pada Haidar.


"Gian jangan kurang ajar!!" Teriakan Jelita disertai lemparan bantal yang hampir mengenai tepat di wajahnya membuat Haidar tertawa renyah.


"Hahahah mampussh kau." Pria itu tertawa puas, telah lama ia tak begini. Mungkin ia tengah mengingat beberapa tahun lalu, bagaimana dirinya dan Gian kerap bertengkar jika ia pulang.

__ADS_1


Jelita yang merindukan tawa putranya merasa tenang walau tawa itu di akibatkan cekcok antara keduanya. Ia bukan pilih kasih ataupun mendeskriminasi Gian, tapi saat ini Haidar memang butuh perhatiannya lebih daripada Gian.


"Haidar," panggilnya membuat tawanya terhenti, hanya hal-hal kecil semacam itu berhasil membuat Gian tertawa renyah.


"Iya, Ma?"


"Kau melewatkan makan siang hari ini, bahkan ini sudah sore, Mama bawakan ya?"


Haidar menggeleng, ia memang masih kenyang. Bukan karena faktor sedih atau galaunya, tapi memang ia tak bernafsu sama sekali.


"Tidak, Ma, aku mau tidur saja, punggungku sakit sekali."


Haidar meringis, memang masih terasa ngilu. Namun karena penyebab jatuhnya adalah Radha, secara nyata masih menjadi wanita yang ia cinta Haidar hanya tersenyum kala mengingat kejadian tadi.


"Kau kenapa?" Jelita menepuk wajah putranya, menyadari kini Haidar terlihat melamun, namun ia terus saja tersenyum membuat Jelita khawatir otaknya bermasalah.


"Tidak, Ma, memangnya kenapa aku?"


"Ya aneh, katanya sakit tapi kamu senyum-senyum gitu."


Haidar tertawa sumbang, ini ternyata sebabnya. Pria itu menatap lekat sang mama. Memperlihatkan bahwa sesakit apapun kini ia tak masalah, karena dengan kejadian tadi ia dapat merasakan bagaimana tulusnya Radha meminta maaf.


"Seneng, Ma."


"Seneng? Sakit semua gitu seneng, Haidar?"


"Iya ... karena jatohnya sama Radha, kalau sama Gian takkan sudi aku maafkan."


Jawaban itu terlalu jujur, dan Jelita menatap sedih putranya yang kini begitu sendu. Ia tak punya cara untuk ini, dan membiarkan Haidar tersenyum dengan caranya adalah hal terbaik.


"Haidar, inget kata Papa kan?" Jelita berucap hati-hati, karena ia tahu seberapa rapuh putranya kini.


"Iyaa, aku tidak pikun, Mama tenang saja."

__ADS_1


Walau ucapan itu cukup membuatnya sakit, tapi itu adalah fakta paling nyata yang tak bisa Haidar tolak. Bagaimanapun semua memang telah berubah, dan ia tak mungkin memaksakan keadaan kembali seperti sebelumnya.


............Bersambung


__ADS_2