
Radha memejamkan matanya sesaat, pagi ini ia ingin msmbuktikannya sendiri. Dengan segala kesiapan yang sejak tadi ia kumpulkan, Radha mengatur napasnya pelan-pelan.
"Bismillah," ucapnya membuka matanya pelan, hingga sekian detik kemudian Radha menganga dengan apa yang ia lihat.
"Enggak, ini pasti salah."
Seakan belum siap dengan hasilnya, Radha mencoba untuk kedua kalinya. Masih berusaha tenang walau dia sudah panik luar biasa, mencoba untuk tak berteriak karena takut Gian akan menghampirinya di kamar mandi.
"What? Dua garis lagi?"
Matanya membulat sempurna, persis khawatirnya seorang anak yang hamil di luar nikah. Radha panik, takut dan bahkan kini ia gemetaran kala mencobanya lagi dan lagi.
Haislnya masih sama, Radha terduduk lemas mengetahui telat datang bulannya kali ini berbeda. Ada kehidupan lain dalam dirinya, meraba perutnya yang masih rata, Radha meneteskan air mata dalam bimbangnya.
"Gue harus gimana? Kalau Papa tau gimana?"
Dia lupa punya suami atau bagaimana, yang Radha pikir saat ini hanya ketakutan bagaimana dia bisa menjalani hidupnya kedepan jika dirinya harus menjadi ibu di usia semuda ini.
"Gue masih bocil, masa punya bayi."
Dalam keadaan gelisahnya, celetukan-celetukan renyah semacam itu masih mengalir begitu saja dalam benaknya.
"Kak Gian jahat banget sih." Ia mengusap air matanya berkali-kali, seakan tengah meratapi nasib buruk yang menimpanya.
"Zura," panggil Gian dari luar yang membuat Radha cepat-cepat menghapus air matanya.
"I-iyaa, kenapa?"
Dengan suaranya yang sedikit berbeda, Radha menjawab panggilan Gian. Akan tetapi terlalu kentara hingga menbuat pria itu khawatir tentu saja.
"Kamu ngapain? Kakak masuk ya?"
Gian hendak membuka pintu kamar mandi itu, beruntung Radha sempat menguncinya. Hingga dapat membuatnya mengulur waktu untuk berjumpa dengan Gian.
"Enggak boleh, aku lagi mandi ... bentar lagi selesai."
Alasan yang sangat tidak masuk akal, dirinya bahkan begitu diam, sedangkan biasanya Radha mandi seheboh itu, mana mungkin Gian akan percaya istrinya tengah mandi.
BRAKK
Tanpa memberi aba-aba, Gian mendobrak pintu kamar mandi itu, dan pagi-pagi ia sudah merusak salah satu bagian rumah ini karena khawatir terhadap istrinya.
Radha yang tak punya kesiapan terperanjat kaget tentu saja. Jemarinya masih fokus mengumpulkan kembali alat cek kandungan yang berjejer di lantai.
__ADS_1
"Ka-kakak ngapain dobrak pintunya?" tanya Radha sedikit takut karena kini tatapan Gian justru terlihat membunuhnya.
"Katanya mandi, kok yang basah cuma matanya?"
Gian menghampiri istrinya yang kini masih terduduk dengan beberapa benda pipih kecil di tangannya. Terlihat seperti tengah menyembunyikan sesuatu, tapi Gian tak bisa dibohongi semudah itu.
"Boleh Kakak lihat? Satu aja," pinta Gian dengan sorot tajam namun begitu lembut, mata Radha yang membasah dapat menjelaskan bahwa istrinya memang usai menangis.
Radha menggeleng pelan, entah kenapa ia merasa malu jika Gian mengetahuinya. Dan terpaksa, Gian meraih salah satunya dari genggaman Radha.
Sekilas ia menatap wajah istrinya yang hanya tertunduk di depannya. Dan kini tatapan Gian fokus pada benda itu, sesaat ia terbeku, diam dan detak jantungnya tiba-tiba berbeda kala ia tatap dua garis di sana.
Matanya tiba-tiba memerah, apa yang ia harapkan Tuhan jawab dengan nyata. Ia genggam benda itu dengan kasihnya, seakan menjadi napas baru bagi Gian.
"Ra?"
Beralih pada istrinya, Gian yang terlampau bahagia menarik Radha dalam pelukannya. Entah kalimat apa yang setara sebagai rasa terima kasihnya untuk Radha, akan tetapi tak dapat ia pungkiri bahwa Gian belum pernah sebahagia ini.
"Zura? Ini bukan mimpi kan, Sayang?"
Mereka memang sama-sama menangis, tapi maknannya berbeda. Radha mengangguk pelan, ia membenarkan jika ini bukanlah mimpi. Semua nyata dan ia harus terima.
"Terima kasih, Love You."
"Huuaaaaaaa, aku hammmmmiil!!" jeritnya seraya memukul dada Gian berkali-kali, bahkan testpack itu kini berhamburan karena ia lempar dengan kekuatan tak biasa.
Radha berontak kala Gian mencoba lagi-lagi memeluknya, apa benar Radha belum menerimanya? Lantas, kenapa Radha selalu mengatakan iya jika Gian bertanya apakah dia mencintai Gian atau tidak.
"Zura, kamu kenapa?" tanya Gian kala istrinya itu mulai tenang, tepatnya lelah usai menangis dengan tingkat kesedihan luar biasa.
"Kakak tanya kenapa?" matanya menatap Gian nyalang, marah dan Gian mengerti jika istrinya kini kacau, bukan bahagia.
"Maaf, Ra ... tapi sudah waktunya dia hadir, Sayang, Tuhan yang kasih."
Mencoba memberi pengertian, ia tahu mungkin Radha masih memikirkan umurnya. Karena sebelumnya jik Gian membahas tentang anak, Radh tak pernah menjanjikan ataupun mengiyakan bahwa ia siap.
"Tuhan yang kasih, tapi kan Kakak yang buat!!" tuturnya dengan mata terpejam dan pipi yang kini membasah.
Namun sesaat, apa yang Radha ucapkan justru membuat Gian menarik sudut bibirnya. Bahkan di saat seperti ini, Radha masih saja membuat Gian ingin menerkamnya.
"Kok nyalahin Kakak, kan kita berdua yang kerja sama-sama," balas Gian tak mau kalah, karena memang apa yang mereka lakukan tanpa paksaan sama sekali.
"Tapi Kakak yang ajak aku, akunya ya mau."
__ADS_1
"Hahahahahaha!!! Radha, kamu lagi sedih atau kenapa sebenarnya?"
Tidak, Gian tak mampu menahan tawanya kali ini. Apa yang istrinya ucapkan membuat rahang dan perutnya terasa sakit. Sebenarnya siapa yang sedang berduka di sini.
"Huaaa diam!! Nggak usah ngeledek, memang bener begitu, aku nggak salah!"
"Iya-iya, istriku, manjaku, cintaku, surgaku, bidadariku, sayangku, kamu benar."
Tak ada kemarahan meski bentakan Radha itu benar-benar serius, ia hanya fokus menyeka keringat Radha yang kini membuat rambutnya bahkan basah.
"Udah ya, jangan nangis ... nanti kepalanya sakit, kamu demam Kakak juga ikutan nanti."
Persis menenangkan anak kecil, Gian yang sejak dahulu terkenal dengan kesabaran setipis kulit bawang kini harus membiasakan diri untuk lebih sabar lagi menghadapi sang istri.
"Kenapa bisa aku hamil sekarang?" tanya Radha menatap sendu wajah Gian yang juga menatapnya sungguh dalam. Bibirnya mencebik menahan tangis ronde kesekian.
"Karena kamu punya suami, Ra, makanya bisa hamil." Jabawan paling tepat dan tanpa basa basi, benar adanya tanpa bantahan.
"Iya juga sih, tapi maksudku bukan itu, Kak."
"Lalu apa, Sayang?" tanya Gian balik, berharap istrinya akan mengatakan hal yang memang ingin ia dengarkan.
Radha menggeleng, ia lupa jika dia mengonsumsi obat itu tanpa sepengetahuan Gian. Bahkan tak ada satu orangpun yang tahu bahwa dia membelinya.
"Yang salah dosis obatnya atau guenya sih."
Dalam lamunan, Radha bahkan hanya diam tak menolak ketika Gian menggendongnya kembali ke kamar.
"Kakak kenapa gendong aku terus?"
"Karena kamu hamil, masa Kakak lempar," ujarnya santai sembari mencuri kecupan di bibir ranum Radha.
Cup
"Selamat pagi, maaf ya jika harimu akan sulit karena jadi istri Kakak."
Tak Radha pahami makna kata Gian sepenuhnya, namun yang jelas kebahagiaan suaminya itu benar-benar jelas. Dan anehnya Gian sangat memahami bagaimana Radha saat ini.
"Jangan benci dia, yang buat ulah Papanya ... paham, Zura?" Senyum tipis itu Gian berikan lagi, dan ia tak bisa menolaknya, luluh seketika meski hatinya masih diambang kebimbangan.
🌻
Jujur, galau! Karena yang setuju Radha hamil banyak, tapi yang belum setuju juga ada. Aku juga bingung, tapi tetep aku mengikuti karena dari awal tanda-tandanya dah jelas dan jika bertolak belakang nanti cerita Gian dan Radha cacat logika, dan juga mengingat epsnya udah banyak jadi aku putusin dia hamil ya, Wak. Umur segitu hamil kalau berada dalam pelukan lelaki yang tepat, dia akan baik-baik saja❣️
__ADS_1
Love You semuah😙