Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 235. Hadiah (Terindah)


__ADS_3

Radha menghentikan langkahnya, apa yang ia lihat di depan matanya cukup membuat terkejut. Dia baru selesai mandi, bahkan rambutnya masih basah. Turun hanya untuk meminta Jelita mengeringkan rambutnya.


"Ma?"


Sedikit bingung dan belum bisa menyesuaikan diri, Radha masih bertanya-tanya karena kedatangan Maya sama sekali tak ia duga. Gian tak pernah membahas masalah mamanya, dan kini wanita itu berada di hadapannya tak lupa bersama adik-adiknya juga.


"Sini, Mama kamu kangen, Ra."


Tatapannya masih terkunci, sebelumnya sempat bertemu namun ia juga tak sedekat itu. Perlahan kembali menghampiri, jika saja Radha sendiri mungkin dia akan memilih untuk lari.


"Apa kabar, Ma?"


Di luar dugaan Maya, putrinya kini mencium punggung tangannya. Batinnya terasa hangat kala jemari itu sudi memberikan hormat padanya.


Tak bisa menahan tangisnya, Maya tetaplah seorang ibu dari Radha. Memeluknya begitu erat, beberapa kali menghujani pipinya dengan kecupan, sudah sangat lama Maya tak merasakan hal ini.


"Kamu cantik sekali, Maaf, Ra ... Mama baru bisa menemui kamu lagi," sesal Maya masih memeluk erat tubuh putrinya, Radha tidak menangis, dia hanya sesekali tersenyum tipis dan tak sama sekali memperlihatkan kesedihannya.


"Tidak apa-apa, terima kasih Mama mau datang untukku."


Sebagai wanita, Jelita paham bagaimana sakitnya dia orang ini. Jika melihat keduanya lagi-lagi Jelita amat sangat membenci Ardi, sungguh jika bisa ia ingin mengubur pria itu hidup-hidup.


Radha memang tak semudah itu menerima dengan canda tawanya. Akan tetapi memang kehadiran Maya membuat kebahagiaan tersendiri baginya, belum lagi kehadiran Arunika dan juga Jingga membuat Radha untuk pertama kalinya merasakan bagaimana rasanya punya saudara secara nyata.


Interaksi mereka yang termasuk cepat akrab lantaran Arunika serakah itu membuat Radha merasa nyaman, ternyata keluarga barunya berbeda dengan Celine, karena dahulu mereka bertemu mungkin masih sekecil adiknya.


"Terima kasih, Mba, kamu menerima putriku begitu baik," tutur Maya begitu tulus pada Jelita, karena memang ia sangat paham seorang Dewi takkan pernah menerima Radha sebagai putrinya.


"Karena memang dia sangat baik, May ... terkadang dia persis kamu, kalau lagi kumatnya mereka persis kamu sama Randy masih muda, sakit kepalaku," keluh Jelita panjang lebar, karena memang Gian dan Radha kerap melakukan hal gila yang membuat Jelita sakit kepala.

__ADS_1


"Oh iya? Aku pikir dia pendiam, Mba," ujar Maya yang tampak terkejut jika melihat bagaimana putrinya kini.


"Pendiam apanya, bahkan tetangga hampir tau dia semua, May ... kalau lagi ditinggal kerja sama Gian, dia bakal jalan-jalan sama anjing peliharaan Budi, putrimu tidak ada takut-takutnya sama sekali."


"Gitu ya, Mba ... aku bahkan tidak kenal bagaimana putriku, menyedihkan sekali."


Ingin menangis, namun semua sudah terjadi. Takdir membawanya dan membuatnya terpaksa berpisah dari Radha ketika kecil. Kekejaman Ardi yang memang sama halnya mengiris urat nadi adalah awal dari segala luka yang Maya alami.


"Tidak apa-apa, semuanya bisa diperbaiki, Maya ... untuk sekarang fokus saja pada dirinya yang sekarang, usahakan ada karena memang Radha butuh kamu walau dia tidak memintanya."


Maya mengangguk, seperti yang Gian katakan. Radha memang tak pernah lagi membahas dirinya, akan tetapi sebagai ibu ialah yang harus berusaha ada tanpa diminta, dan itu adalah sebuah keharusan.


"Waaah, semuanya Mama yang masak?" tanya Radha menghampiri keduanya, walau tak pasti yang ia tanya adalah Mama yang mana.


"Hm, Mama yang masak, kamu masih kecil suka makan ini, Ra." Jawaban Maya membuatnya menatap sang mama walau sejenak, sebelum beberapa detik kemudian dia tersenyum tipis.


"Mama masih ingat? Sampai sekarang masih suka kok, aku minta masakin Mba di rumah." Radha menceritakan sedikit demi sedikit bagaimana dirinya tanpa Mama.


"Kalau tentang Papa ada yang Mama ingat?" tanya Radha asal yang membuat Maya menghela napas pelan.


"Kalau Papa kamu apa ya, pria paling teduh yang pernah Mama temukan, tapi paling menghanyutkan," jawabnya dengan suara lembutnya, tampak jelas kekecewaan dari manik hitamnya.


"Kalau Om Randy?" Bibirnya tersenyum jahil kala mulai mempertanyakan hal ini.


"Randy, pria paling gilaa yang pernah Mama temui, dia napas aja Mama ketawa, tapi sayang manusia itu adalah luka pertama yang Mama dapatkan." Patah hati ditinggal menikah adalah sakit paling luar biasa bagi Maya saat itu.


"Sudah, May ... lupakan dua manusia sinting itu, sekarang kan kamu sudah punya suami, tampan, kaya manly, kurang apa lagi coba?" puji Jelita yang memang mengenal sosok Wira walau tak begitu dekat.


"Hahah iya, jago tengkar lagi, tulang ekor om Randy hampir patah." Radha turut mengiyakan pernyataan Jelita, sebuah hal yang tak mungkin ia lupakan.

__ADS_1


"Sampai sekarang aku masih merasa bersalah, maaf, Mba ... mas Wira memang tidak bisa diajak bicara baik-baik kalau masalah cemburu," tutur Maya dengan rasa bersalah luar biasa, karena mungkin Jelita sangat mengkhawatirkan adiknya waktu itu.


"Tidak masalah, siapapun pasti akan begitu ... contohnya menantumu, sudah berapa orang terkena amukannya jika mengusik Radha, apalagi kalau cemburu."


Jelita dapat mengerti kemarahan Wira, karena dirinya hidup di lingkungan para pria posesif tingkat tinggi. Baik itu Raka maupun Gian, jangankan mantan kekasih, penjual pecal lele saja Gian cemburui.


"Kamu beruntung dapat suami begitu, Ra, justru pasangan yang tidak cemburu itu membahayakan," tutur Maya mencengkeram paha ayam itu kuat-kuat.


"Ehm betul sekali, diam-diam bawa selingkuhan, mana udah dinikahin lagi, kan kurang ajar pria yang begitu, Ra," ujar Jelita semakin memanaskan suasana.


"Itu sepertinya Papa ya, Ma?" tanya Radha dengan polosnya, Maya sudah berusaha lupa, Jelita malah mempertegasnya.


"Iya, Papamu, otak cerdas, pekerjaan lancar, wajah tampan, tapi sayang bodoh dalam menghargai wanita." Jika ia ingat memang sesedih itu, tapi tak mungkin dia terlalu lama tenggelam dalam lautan tak berguna itu.


"Dan akhirnya dia duda lagi, si Ardi dapat karma tuntas! Istrinya selingkuh, Maya ... kamu harus ketawa dengar kabar ini." Jelita benar-benar berapi-api bila membahas hal ini.


"Aku ingin tertawa, tapi sepertinya terlalu keji, Mba, wajar saja dia terlihat tidak sehat waktu ketemu aku beberapa bulan lalu, ternyata dikhianati istrinya."


"Dasar ganjen, wajar aja di jidatnya ada bekas luka, itu karena kamu, May?" tanya Jelita sejauh itu, padahal sama sekali Maya tidak menyakiti mantan suaminya.


"Eh bukan, itu dia luka sendiri, aku nggak sekejam itu, Mba." Jelita masih menganggap Maya segila itu pada nyatanya.


Pembicaraan mereka tak jauh dari hal itu, selama Maya berada di sana, Radha tak bisa menahan keinginannya untuk meminta dimanjakan oleh Maya, meski hanya sebatas menyisir rambutnya.


"Ra, jangan terlalu lincah ya, nanti kepleset." Maya berucap dengan lembutnya, mengetahui putrinya sangat suka berenang entah kenapa Maya setakut itu.


"Iya, Ma.


"Hati-hati, jangan minta yang macam-macam, minta yang masuk akal saja ya kalau bisa."

__ADS_1


Radha mengangguk pelan, tanpa Maya tahu yang justru kerap meminta hal aneh adalah Gian, bukan dirinya.


Flashback Off ❣️


__ADS_2