
"Sayang," sapa Gian yang langsung saja merebahkan tubuhnya di sofa dan menjadikan paha Radha sebagai bantalnya.
"Ehem, Gian ... ini tempat wanita, bisakah kamu kasih ruang buat kami berbincang lebih lama? Mengganggu sekali," Ujar Jelita merasa sedikit kesal karena yang mereka akan bahas kali ini cukup sensitif, dan Gian datang membuat pembicaraan mereka menjadi sedikit berbatas, hal ini dikarenakan ada Caterine di antara mereka.
"Lanjut saja, Ma, aku cuma mau tidur."
Bukannya bangun, Gian justru menenggelamkan wajahnya menghadap perut Radha. Dan istrinya tak sama sekali keberatan dengan keberadaan Gian diantara mereka.
"Hm, baiklah sampai mana tadi?" tanya Jelita pada mereka karena memang lupa apa yang sebelumnya mereka bahas.
"Jangan tidur pagi, Tante." Caterine yang justru mengingat pembicaraan terakhir mereka.
"Oh iya, kamu nggak kan, Sayang?" tanya Jelita pada Radha yang mulutnya masih saja mengunyah, sejak tadi kue bawang itu bahkan tak henti masuk dalam mulutnya.
"Enggak, Ma."
Jelita mengelus dadanya, karena memang seperti yang ia ketahui bahwa Radha lebih rajin dari Gian perihal bangun pagi.
"Tante, aku pernah baca katanya suami bisa ngidam, apa iya?"
"Iya, ada beberapa yang mengalami kejadian serupa, tapi tidak semuanya ya, dulu tante waktu hamil Papanya nggak banyak ulah, jadi nggak buat pusing," ujar Jelita melirik Gian sekilas, ucapan sarkas dan berharap Gian sadar dan segera bangkit.
"Pusing kenapa, Tante?" tanya Caterine polos dan Radha juga sama penasarannya padahal ia sudah mengalami.
"Ini contohnya, Gian ... kamu buat Mama terganggu, Nak, sana gabung sama Papamu."
Jelita menepuk pundak Gian, ia tahu putranya ini tidak tidur sama sekali. Melainkan hanya alasan agar bisa terus menempel dengan istrinya.
"Jangan ganggu aku, Ma," ucapnya dengan suara datar dan benar-benar malas walau hanya untuk berpindah.
"Kakimu jangan kurang ajar, apa maksudnya begini, Gian."
Pasalnya, tubuh tingginya membuat Jelita kesal bukan main karena menguasai tempat itu, ia bahkan harus pindah agar tak merasakan beban itu.
"Cerewet sekali, istriku saja diam, Mama."
Radha mencubit bibir Gian yang tak habis-habisnya perihal jawaban. Padahal di dalam kamar dia sempat marah tak jelas karena Radha mandi lebih dulu darinya, bahkan pria itu belum meminta maaf usai melempar boneka kesayangan Radha dari lantai dua sebagai bentuk pelampiasan amarahnya.
__ADS_1
"Bagus, Ra, kalau perlu ikat bibirnya."
Sungguh sebuah hal baik jika Jelita menemukan hal semacam ini, ingin sekali ia ikut serta menarik bibir putranya agar Gian dapat diam.
"Mama jangan buat dunia semakin panas," ungkap Gian meminta Jelita untuk tak mengadu domba istrinya.
"Caterine, kita ke dapur saja ... bantu Tante masak buat makan siang," ajak Jelita memilih mengalah, karena jika Gian sudah berada bersama istrinya sama artinya dengan ia menunjukkan kuasanya atas Radha.
"Ih Mama aku mau ikut," rengek Radha mencoba menjauhkan Gian darinya, akan tetapi baru saja hendak mencoba pria itu membuka mata dan menatapnya tajam seperti biasa.
-
.
.
.
"Mau kemana?" tanya Gian kini merubah posisi agar lebih leluasa menatap wajah istrinya.
"Ikut Mama masak," jawabnya singkat, seraya mencebikkan bibir, ia masih marah tentu saja.
"Kenapa nempel-nempel, bukannya tadi marah?" Bertanya dengan tatapan kosong dan kembali mengunyah kue bawang itu tanpa henti.
"Udah enggak, kenapa jadi kamu yang marah, Ra?" tanya Gian seakan menjadi pihak paling tersakiti, manik polosnya menatap lekat Radha, sudut bibirnya tertarik tipis.
"Aku nggak marah," jawab Radha tetap fokus dengan aktivitasnya, dagunya terlihat amat lucu di mata Gian.
"Sayang, ini apa namanya?" Sengaja bertanya sembari menyentuh dagu Radha.
"Tembolok, Kak, aku kan ayam."
Jawaban pasrah yang membuat Gian terkekeh, istrinya tidak lagi marah Gian membahas fisiknya. Naiknya berat badan Radha tak sama sekali ia pusingkan, dan Gian seakan semakin puas jika istrinya bertambah lebar.
"Zura," panggil Gian menatap lekat perut Radha yang masih rata itu, dia sebegitu betah menatapnya walaupun belum ada gerakan atau lainnya.
"Hm, apa, Kak?" sahut Radha lembut sekali, terkena Gian dengan suara lembutnya.
__ADS_1
"Kamu tidak menyesal kan?"
"Menyesal kenapa?" tanya Radha sedikit aneh, karena ucapan suaminya ini mulai terdengar serius.
"Jadi istri Kakak ... kamu harus mengandung, terus nanti melahirkan lalu punya anak, sedangkan teman-teman kamu masih menikmati dunianya, apa kamu tidak memikirkan hal itu, Ra?" Gian menatap lekat wajah Radha, tatapan teduh itu ia dapatkan.
"Semua orang memiliki dunia yang berbeda dan tidak dapat disamakan, Kak, dunia mereka mungkin kebebasan, tapi, saat ini duniaku Kakak sendiri, terus buat apa aku menyesal." Tanpa ragu ataupun banyak berpikir, Radha menjawab dengan lugasnya.
"Benarkah? Apa benar ini istriku yang bicara?" Gian tersenyum hangat, merasa sedikit tak percaya jika yang bicara kini adalah istrinya.
Jawaban itu sungguh amat dewasa, bahkan belum pernah ia dengar dari siapapun. Senyaman ini rasanya, wanita memang tempat kembali dan sumber ketenangan seperti yang Raka sempat jelaskan padanya.
"Terus istri siapa kalau bukan istrimu? Masa istri pak Budi," celetuk Radha yang membuat Gian duduk secepat itu, nama Budi membuat telinganya panas seketika.
"Sayang, kenapa harus pak Budi." Gian mengacak rambutnya kasar, bahkan hanya kalimat Candaan yang tak pernah ia pikirkan Gian sekacau ini.
"Biasa aja mukanya ... Kakak mandi nggak sih?" Radha menyentuh rambut Gian yang kering kerontang.
"Mandi, tapi lupa keramas."
"Lupa?" tanya Radha seakan tak percaya, bagaimana bisa suaminya melupakan hal penting itu.
"Mandi sama-sama makanya, Kakak pelupa sekarang." Bisa saja mengarang alasan, lupa menjadi jalan pintas dan jawaban dari segala permasalahan.
"Modus sekali Anda, dulu juga mandi sendiri Kakak nggak pernah begini," tutur Radha tersenyum miring, dasar pria aneh, pikirnya.
"Bukan Modus, Zura ... tapi memang begitu seharusnya, kamu jangan lupa yang tadi Mama katakan, bisa jadi ini keinginan bayi kita," ucap Gian mengatasnamakan bayinya.
"Dasar Fitnah," celetuk Radha mendorong dada Gian yang kini tak berjarak dengannya.
Tak peduli siapa yang melihat, Gian menganggap di rumah ini hanya ada dirinya dan Radha. Wanita di depannya akan menjadi temannya untuk waktu yang sangat lama, dan ia harap selamanya.
Penantian akan lengkapnya keluarga mereka akan menjadi hal paling sabar dan Gian nikmati meski masih cukup lama. Hal-hal sederhana yang ia dapatkan dari pernikahannya bersama Radha tiada habisnya.
Bidadari yang diturunkan Tuhan untuknya ini sempurna di mata Gian, dan takkan ia biarkan sedikitpun luka menyentuhnya. Karena bagi Gian luka yang Radha dapatkan sudah terlalu dalam, membahagiakannya adalah tugas wajib bagi Gian.
Bersambung 🙏
__ADS_1
Mungkin akan aku percepat, dalam minggu-minggu ini aku usahakan End. Aww rada ga ikhlas, berasa bakal pisah gitu. Tapi sepertinya sudah saatnya buat End, jangan lupa follow Author, nanti aku akan kembali dengan kisah lainnya kalau Allah izinkan tetap berada di sini.