Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Ulah Suami Gila


__ADS_3

"Turun," ujar Gian sembari menghentikan mobilnya.


Radha mendelik, perintah dari suaminya itu benar-benar tak masuk akal. Meski tak mendapat perintah, tentu saja akan ia lakukan dengan senang hati.


Bruk!!


"Hei-hei!! Pelan-pelan, Zura."


Gian berdecak sembari menggeleng kala Radha menutup pintu mobil dengan sekuat tenaga, mungkin ia memasukkan unsur dendam di dalamnya. Benar-benar gila, mobil kesayangan yang Gian beli beberapa bulan lalu mendapat perlakuan kasar dari seorang anak di bawah umur.


Percuma, seberapa kesalnya Gian, wanita itu telah melenggang pergi entah kemana. Bahkan tas mungilnya masih tertinggal di mobil, tentu saja itu menjadi tanggung jawab Gian.


Benar-benar merepotkan, jika seseorang melihat pria itu sekarang jelas mereka akan menyimpulkan bahwa Gian tengah mengasuh adik kecilnya.


"Cantik."


Gian menarik sudut bibir, tangan kini memeriksa dompet Radha dengan rasa penasaran yang tak pernah ia duga. Seketika saja ia ingin memastikan apa saja yang berada di dalam dompet anak kecil itu.


"Ck, dia masih sangat muda."


Pria itu menggeleng pelan kala menatap tanggal lahir yang tertera di KTP Radha. Memang benar, ia masih begitu muda. Bahkan KTP-Nya saja baru selesai beberapa minggu sebelum pernikahan dilaksanakan.


Rasa penasaran Gian semakin besar, satu persatu sisi dompet itu ia buka perlahan. Beberapa debit card yang tersusun di sana cukup membuat Gian terbelalak. Mungkin itu milik Ardi dan sengaja diberikan untuk Radha, pikirnya.


Entah, mengetahui isi dompet Radha membuatnya tersenyum senang. Ada kepuasan tersendiri yang tak dapat ia pungkiri, sembari menoleh beberapa kali, memastikan Radha tidak kembali ke mobil dalam beberapa menit kemudian.


"Apa ini?"


Gian mengerutkan kening kala sebuah lembaran kertas tersemat di bagian terkecil dan tersembunyi dari dompet itu. Senyum yang sedari tadi terpancar kini pudar, rasa penasaran yang begitu antusIas kini hilang begitu saja kala menatap lembaran itu.


"Jiahahah ...."


Gian tertawa sumbang, menggeleng sembari membayangkan sakitnya di posisi seseorang yang tersenyum begitu manis di foto yang kini tengah ia pegang.


"Huft, sungguh kasihan adik kecilku."


Tak dapat dipungkiri, wajah tampan Haidar yang terlihat tanpa beban di sana sejenak membuatnya teriris. Bahkan suara khawatir Haidar dari balik telepon beberapa saat yang lalu terngiang jelas di benak Gian. Hanya saja, untuk saat ini ia hanya mampu diam, takkan mungkin ia mengambil langkah dari apa yang kini tengah terjadi.

__ADS_1


"Apa dia sudah makan ya," ujar Gian dalam kesendiriannya.


Saat ini, mungkin anak manja itu sendirian. Tanpa Asisten, tanpa Randy, tanpa siapapun yang bisa ia mintai tolong. Gian cukup mengenal Haidar, tentu saja di matanya pria itu hanya remaja yang bahkan belum bisa mengurus diri sendiri.


"Aah ... sudahlah."


Gian menghela napas panjang, takkan habis jika hal ini ia masukkan dalam pikiran. Cukup sadar, ia menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan yang masih belum terlalu dewasa.


Pria itu berlalu, masuk dengan membawa tas dan keperluan Radha yang tertinggal di mobil tentu saja. Belum pernah Gian diperlakukan seakan Asisten pribadi, dan kini semua terjadi di dalam kuasa Radha.


*****


Brugh


Ia hempaskan tubuhnya di tempat tidur, Radha yang sejak tadi duduk di sisi yang lain terperanjat kaget. Segera ia beranjak dan menciptakan jarak sejauh-jauhnya.


"Mau kemana kau?"


Mata yang terpejam, dan tangan yang bersedekap di dada tetap menyadari pergerakan Radha. Benar, ia takkan melepaskan Radha sejak awal keduanya berada di kamar ini. Tentu saja pintu kamar telah ia kunci, dan Radha tak mungkin nekat merebutnya.


"A-aku haus, Kak, mau ke dapur sebentar."


"Duduk, kembali ke sini, di dekat Kakak."


Ya, itu perintah, dan harus Radha turuti. Pria itu tak bergeser, namun dengan matanya terpejam ia dapat meraih pergelangan tangan Radha dan menarik istri kecilnya itu duduk di dekatnya.


Radha mencebik, ingin rasanya ia menarik rambut pria yang kini terpejam itu hingga tercabut. Sungguh ia teramat kesal, benar-benar cari masalah, pikirnya.


"Apa besok kau masuk sekolah?"


Pertanyaan konyol, tentu saja iya. Bahkan hari ini pun seharusnya ia masuk, sungguh menyebalkan, dalam sejarah hidup Radha tak pernah ia bolos walau sehari saja. Dan kini baru beberapa hari pernikahan Gian mulai membuat sekolahnya terhambat.


Radha diam, ia hanya mengangguk sembari menatap mata Gian yang kini terbuka lebar menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


"Kakak hanya bertanya, Zura ... kenapa kau terlihat takut?" tanya Gian begitu lembut.


Radha tak suka, Gian terlampau membawanya kedalam belaian kelembutan. Namun terkadang tindakannya yang tak bisa di tebak menimbulkan tanya. Radha bingung, sebenarnya siapa yang kini berada di depannya.

__ADS_1


"Ti-tidak, aku tidak takut."


Radha menggeleng, lebih tepatnya bertanya-tanya. Gian dapat berubah 180 derajat tanpa dapat ia duga. Teringat jelas bagaimana wajah dan amarahnya terpancar ketika Gian merebut ponselnya, dan kini pria itu sebegitu lembutnya.


"Oh iya, kau butuh ini kan?"


Sejenak berbagai pertanyaan itu hilang, Radha hanya butuh ini. Iya, ponselnya. Ia tersenyum senang kala Gian merogoh sakunya, ponsel kesayangannya itu kini berada di depan mata.


"Kakak mandi dulu."


Gian berlalu usai memberikan ponsel Radha, tentu saja ia tak langsung ke kamar mandi. Ia tatap lebih dahulu Radha melalui ekor matanya, menarik sudut bibir dan tertawa geli menatap Radha yang kini justru membunuhnya dengan tatapan tajam penuh tanya.


"Jangan berpikir untuk menggantinya!! Habis kau jika berani menghapusnya."


Tanpa dosa dan menunggu Radha berbicara, Gian benar-benar berlalu saat ini.


Aaaaarrghh!! Mengapa harus memiliki suami seperti ini, sungguh tak ada lagi yang Radha dapat banggakan dari Gian. Ia sudah cukup bahagia dengan kembalinya ponselnya, tapi bukan dengan keadaan seperti ini.


"Haaah?!!" Radha membeliak,


"Apaan sih!! Sejak kapan galeri gue penuh sama muka dia?"


Radha mendelik ke pintu kamar mandi yang kini telah tertutup, gemericik air mulai terdengar samar. Menyadari suaminya menguasai ponselnya mulai dari pesan singkat di Aplikasi berwarna hijau itu.


"Astaga? Sebanyak ini dia ngirim foto di HP gue? Kak Gian!!"


Andai saja Gian bukan lari ke kamar mandi, jelas ia akan menuntut pembalasan. Bagaimana bisa Gian berpikir licik seperti itu.


"Cakep sih, tapi kan ... Aaarrghh! Dasar sinting."


Radha tertawa sejenak, menatap wajah tampan Gian di layar ponselnya. Tak pernah ia memakai wajah seorang lelaki sebelumnya, dan kini Gian merubah semua prinsipnya.


"Zura!! Kakak mendengarmu!!"


Gleg


Seketika segala macam cacian itu hilang di telan keheningan. Radha tak seberani itu untuk kembali mencaci kala ia sadar Gian dapat mendengarnya. Entah bagaimana, seketika Radha curiga jangan-jangan pintu kamar mandi itu sengaja Gian manipulasi.

__ADS_1


"Tapi bolongnya dimana?" tanya Radha bertanya-tanya sembari menatap pintu kamar mandi itu dari jauh.


Tbc


__ADS_2