
Gian melaju sungguh pelan, bahkan Radha sesekali berdecak kesal lantaran sang Suami seakan mengulur perjalanan. Beberapa kali ia memperlihatkan ketidaksukaannya, namun lagi dan lagi yang Gian perlihatkan hanya senyum tipis sebagai jawaban.
Maniknya meneliti, ia tak terlalu bodoh tentang hal seperti ini. Sadar betul ada yang tak beres di belakangnya, sejak tadi dan ia cukup kenal dengan sepeda motor yang mengikutinya dari jarak yang tak terlalu jauh.
"Besar juga nyalinya," ujarnya begitu kecil bahkan tak terdengar oleh Radha, ia menyeringai tipis.
Pantang di tantang, Gian menambah kecepatan hingga membuat Radha berdesir dan sontak berteriak. Ia tak mengerti apa yang membuat suaminya berubah secepat itu, memang kerap sesukanya dan Radha masih tak habis pikir dengan ulahnya.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Bukankah ini yang kau mau, Ra?"
"T-tapi tidak secepat ini, Kak."
Ia bergetar, Gian terlihat berbeda. Ada gurat emosi dan jug kemarahan di manik tajamnya. Suaranya terdengar dingin dan Radha hanya bisa diam kini. Dan anehnya lagi, Gian mengambil jalur lain yang membuat jarak mereka ke rumah semakin jauh, namun dengan kecepatan seperti ini bisa jadi mereka tiba dalam beberapa menit saja.
"Haha, aku penasaran kau senekat apa?"
Seringai tipis itu membuat Radha takut, ia paham ada yang Gian maksud dengan ucapannya. Mencoba mencari, dan tanpa perlu bertanya Radha sadar apa yang sebenarnya terjadi.
"Abian?"
"Kenapa?!! Kau khawatir padanya?"
Radha menggeleng cepat, Gian terlalu anti pada sahabatnya itu. Bahkan bisa jadi apa yang Abian lakukan jika itu berhubungan dengan Radha akan membuat emosinya sukses berkuasa.
Bukan hanya khawatir, yang ia khawatirkan justru adalah Gian sendiri. Jika sampai membuat celaka orang lain, maka suaminya lah yang akan terjerat masalah, dan Radha tak mau hal semacam itu terjadi.
Tak hanya itu, kekhawatiran akan terbongkarnya hal yang. menjadi rahasianya adalah hal yang paling Radha takuti. Habislah, jika Abian berhasil mengikuti mereka hingga akhir, dia akan benar-benar tak punya wajah untuk bertemu sahabatnya yang lain.
Berharap laki-laki itu akan berhenti mengejarnya, nyatanya jarak Abian kini semakin dekat dan jelas aja membuat Radha semakin panik. Ia kesal, marah dan ingin rasanya ia memaki lantaran hal yang dilakukan Abian sukses membuatnya senam jantung.
"Santai, Ra," ujar Gian datar, paham akan kekhawatiran dalam manik Radha yang sedari tadi melihat memastikan keberadaan Abian.
__ADS_1
Kali ini, tak ia pedulikan situasi di sekitarnya. Gian lagi dan lagi menambah kecepatannya, seakan jalanan itu memag resmi miliknya.
*********
"Aaarrghhh!!"
Abian memukul angin, apa yang salah? Ia merasa kecepatannya bahkan sudah maksimal. Lantas, mengapa ia bisa kehilangan tujuannya.
Perumahan itu tampak mewah, tak berbeda jauh dengan lingkungan tempat tinggalnya. Abian yakin walau kehilangan jejak, Radha takkan jauh dari tempatnya sekarang.
"Apa mungkin rumahnya di sini? Siapa sebenarnya dia?"
Jujur, sosok Radha tak ia kenali sesungguhnya. Kepribadiannya yang begitu tertutup dan Abian bukanlah tipe manusia kepo jika harus bertanya ke banyak orang tentang privasi Radha.
Cukup lama ia menanti, bahkan rintik hujan itu membuatnya kesulitan. Perlahan jaket denim itu tak lagi melindunginya, Abian mulai basah dan bahkan bibirnya mulai berubah. Ia harus pergi tentu saja, mengejar Radha cukup lama.
Ia yakin betul, sosok pria yang tak sempat ia lihat wajahnya itu adalah orang yang sama dengan waktu itu. Sangat menyebalkan bila hidupnya harus berurusan dengan pria kasar itu.
Melaju dengan kecepatan sedang, Abian tentu tak mau celaka karena jalanan tentu akan sangat licin tentu saja. Tak apa, mungkin kali ini ia gagal. Bukan berarti ia tak bisa bertanya pada pujaannya, pikir Abian mengangguk yakin.
********
"Taman, Ma," jawab Gian singkat, jemarinya menggenggam erat jemari Radha yang masih saja bergetar pasca kejadian gila karena kecerobohannya itu sempat membuat istrinya tertekan.
"Taman?"
"Hm, Mama tau sendiri kan menantu Mama ni masih kecil," ucap Gian yang membuat Radha mendelik tak suka, kecil? Iyaa memang kecil namun dipaksa dewasa karena terjebak dalam ikatan bersama makhluk itu.
"Ada-ada saja kau, Gian ... sudah masuk sana, beberapa jam lalu Rey datang kesini, kau bahkan meninggalkan kantor sejak siang? Astaga."
Jelita menggeleng pelan, tak habis pIkir dengan apa yang Gian lakukan. Bagaimana bisa dia meninggalkan pekerjaan selama itu bahkan kini hari sudah hampir gelap. Taman apa yang ia kunjungi hingga harua selama ini, pikirnya.
"Ck, sesekali Mama, tidak setiap hari," ucapnya di sertai senyum usil yang membuat Jelita memilih meganguk, ia menyerah dan terserah Gian saja bagaimana harusnya.
__ADS_1
Dengan langkah perlahan, Radha mengikuti Gian dengan lemasnya. Jujur saja, rasanya tulangnya terasa rapuh usai sejak beberapa menit yang lalu. Tingkah ugal-ugalan Gian yang memang melekat dalam otaknya rasanya takkan bisa lepas.
Masih saja terbayang di kepalanya, jika saja Gian tak mampu mengendalikan diri, sudah di pastikan sepasang kekasih yang menyebrang jalan itu berakhir di tempat.
Entah mengapa, seakan menerobos lampu merah adalah kebutuhannya. Ia takkan bicara, biar saja pria itu merdeka dengan pilihannya. Pikirannya tentang Gian sebagai penjahat jalanan sepertinya memang benar adanya, tak mengerti bagaimana kehidupan pria gila itu sesunguhnya, hanya saja Radha masih berpikir dua kali jika Gian mengajaknya mati.
"Eh, Gian!! Tunggu bentar."
Baru saja hendak meniti anak tangga, Jelita berlari kecil menghampiri keduanya. Bak membawa berita gembira, ia tersenyum penuh makna dan menatap manik keduanya bergantian.
"Ada apa lagi, Mama? Aku gerah, dan badanku sudah lengket semua."
"Ays, sebentar saja, Sayang!!"
"Apaaaa? Hm aku dengarkan, Ma."
"Hmm, dua hari lagi kita liburan, tanpa alasan dan Mama tidak terima penolakan!!"
"What? Liburan? Tumben sekali, siapa yang merencakan, tidak mungkin Papa kan?" Gian menatap lekat manik Jelita, sebuah kebetulan yang sungguh luar biasa, kesibukan Raka membuat Gian mengatakan hal itu.
"Hm, Ma-ma yang merencanakan, dan sepertinya kalian berdua juga butuh kan," senyum jahil itu mengembang, Gian menggaruk kepalanya yang tak gatal, jika hal semacan ini tak perlu penjelasan secara detail, ia tahu dengan sendirinya.
"Okey!! Setuju, Mama yang tentukan dan aku akan ikut dengan senang hati."
Begitu antusias, Gian sungguh bersemangat dan menjabat tangan Jelita layaknya baru saja resmi melakukan kerja sama. Tanpa ia pedulikan wajah datar Radha yang masih menatapnya penuh tanya.
"Baiklah, siapkan diri kalian, ingat ... Mama tidak mau ini gagal karena kalian berdua."
"Hm, Mama tenang saja."
Tentu saja ia bersemangat, wajah polos sang Istrilah yang menjadi alasannya. Entah mengapa, sepertinya Gian harus berterima kasih pada sang Mama, sejak pernikahan apa yang Jelita ucapkan memang berbeda dari Raka. Bahkan Ia kerap mempertanyakan telah sedalam apa kehidupan pernikahan Gian, jelas saja ia ingin segera penerus kecil keluarga Wijaya hadir di rumah itu.
Bersambung............❣️
__ADS_1
Maaf ya sempet ngilang, mood nulis beneran kacau. I'M Sorry Gaes!!!