Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Kembali


__ADS_3

"Dia semanis itu," ujar Haidar dalam hatinya, menatap lekat wajah kekasihnya yang kini tengah menikmati makan siangnya.


Dengan suasana yang sama, dan tempat yang sama. Hari yang begitu bersahabat seakan menjadi suatu kebetulan pertemuan mereka. Sadar betul semuanya tak lagi sama, Haidar tak sedikitpun melupakan fakta.


"Pelan-pelan, Ra." Haidar terkekeh, wanitanya tetap sama. Tak sedikitpun merasa kaku menikmati makan siang yang hampir terlewat itu di depan Haidar.


Ia tersenyum sejenak, teguran Haidar membuatnya berhenti sejenak. Ia beralih menatap makanan Haidar yang tak tersentuh sama sekali, entah pria itu tak lapar atau memang ia tak lagi menyukai makanan itu.


"Kenapa kakak tidak makan?"


"Hm, melihatmu saja Kakak sudah kenyang, Ra."


Pemilik surai hitam itu terdiam, tak biasanya Haidar berkata demikian. Pandangan yang bahkan tak ia lepas seakan membuat Radha berada di antara lautan tanya. ***** makannya mendadak hilang, Radha mendadak kenyang dan kini fokus menatap balik Haidar.


"Kenapa berhenti? Tak biasanya makananmu tak kau habiskan, Ra."


"Kakak juga, tidak biasanya makanan hanya jadi pajangan."


Pria itu tertawa sumbang, candaan Radha nyata adanya. Meski sejujurnya ia tak ***** makan sama sekali, tujuannya keluar rumah hanya untuk bertemu sang Kekasih dan menuntaskan rindunya.


"Kau bisa saja," ucapnya kemudian, Radha hanya menarik sudut bibir. Ingin tertawa namun saat ini tak ada yang lucu, pikirnya.


Beberapa saat keduanya terdiam, Radha mengalihkan pandangan ke sekelilingnya, bangunan tua namun tertata begitu indah menenangkan jiwanya. Rintik hujan kali ini begitu awet, memang tak terlalu deras namun cukup membuat basah kuyup jika terlalu lama menikmatinya.


"Ra,"


"Apa, Kak?" tanya Radha kemudian, tatapan itu teramat serius dan Radha dibuat gemetar setelahnya.


"Kakak boleh tanya?"


"Silahkan," ujarnya berusaha bersikap tenang, ia tahu Haidar tentu akan menanyakan hal serius yang tentu saja ia harus berhati-hati menjawabnya.


"Pernikahanmu, apa sungguh berarti, Ra?"


Sudah ia duga, pertanyaan berat prihal kehidupannya tentu akan Haidar pertanyakan. Diam sejenak, Radha tak ingin salah bicara. Ia setakut itu jawabannya membuat keduanya sama-sama kacau.


"Iya, Mama selalu mengatakan hal itu padaku," jawab Radha sebisanya, toh memang Jelita lah yang memberitahukan hal itu setiap saat padanya.

__ADS_1


"Meski Gian yang menjadi penampingmu?"


"Hahah lalu bagaimana, seharusnya Kakak kan?"


Pertanyaan balik Radha tersemat luka tersayat, jika ia harus mengingat, bolehkah ia marah pada Haidar saat ini bukan? Andai saja Haidar tak pergi, saat ini ia lah yang berstatus suami dari gadis cantik itu.


"Kenapa kau tertawa, Zura?"


Bukan hanya Radha, saat ini Haidar pun terluka. Jawaban spontan Radha membuat sesalnya semakin dalam rupanya. Jika boleh meminta, ia harusnya menuntut penjelasan Radha sejak wanita itu menghubunginya sebelum ia pulang.


"Kakak, kenapa tega meninggalkan aku di hari itu? Kau tau seberapa bodoh dan tak mengertinya aku berada di sana?"


Tidak, tak seharusnya Radha berkata demikian. Pun ia tak paham bahwa sebenarnya yang seharusnya menjadi pendampingnya adalah Haidar.


"Kau bertanya demikian? Lalu mengapa kau hanya diam menerima apa yang orangtuamu lakukan, Zura?!! Kau lupa bahwa kau milikku? Kau lupa siapa yang menjadi cintamu? Lupa, Ra?"


Napasnya memburu, amarahnya tercekat dan kini Haidar berusaha susah payah menahan kristal bening yang berusaha menerobos pertahanannya. Memang benar, jika Radha berpikir tentangnya, bukankah seharusnya Radha pergi layaknya apa yang ia lakukan di hari itu.


"Kau tau?? Bahkan aku tak peduli apa yang akan Papa lakukan waktu itu, semua aku lakukan karena tujuanku pulang selain untuk Mama adalah untukmu, Radhania."


"Apa sukarnya kau melangkah keluar kala akad sialan itu belum terucap?"


"Apa salahnya kau berkata jujur padaku ketika menghubungiku, Zura?!! Sesulit itu? Apa itu aib bagimu, hm?"


"Dan kau!! Setidak berarti itu aku di hatimu, Ra?"


Pertanyaan beruntun yang ia ucapkan terdengar begitu lirih, teramat pahit dan membuat Haidar tak kuasa menahan air mata pada akhirnya. Lagi dan lagi ia harus memgeluarkan tangis hari ini.


Pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar dari bibir Haidar hanya membuat luka hati Radha makin terbuka. Memang benar adanya, jika ia pikir apa yang Haidar ucapkan memang benar adanya. Namun bagaimana, Ardi melarang Radha mengatakan pernikahannya terhadap siapapun, dan Radha tak mampu melawan perintah itu.


"Kenapa kau diam?"


Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, amarah itu lagi-lagi memuncak. Haidar terjebak dalam persimpangan yang hanya membuat Radha terluka lagi dan lagi. Wajah itu tampak kacau, tak peduli berapa banyak mata yang menyaksikan dirinya.


"Maaf, Kak ... aku ... aku tak punya pilihan waktu itu, bakti terakhirku dan aku tidak ingin Papa kecewa dan membuangku layaknya Papa memperlakukan Mama!!"


Radha bergetar, sejak tadi tangisnya tertahan dan kala itu pilihannya memang terlampau berat. Ia memiliki hati untuk Haidar, tapi juga pengakuan Ardi adalah segalanya bagi Radha. Trauma masa kecil membuatnya hidup dalam bayang ketakutan, apa yang Ardi lakukan terhadap Maya beberapa tahun silam takkan pernah lepas dari batinnya.

__ADS_1


"Karena itu? Hanya karena itu lantas kau membuangku dari kehidupanmu, Ra?"


"Jawab kakak Zura!!"


Bentakan Haidar memekakan telinga, secepat itu keduanya menjadi pusat perhatian beberapa orang yang masih berada di sana. Seorang Haidar berani membentaknua di keramaian, dan ini adalah suatu hal yang tak pernah ia lakukan.


"Berhenti berteriak, Kak. Bukankah yang seharusnya marah adalah aku?"


"Kau? Apa maksudmu?"


"Berapa lama aku bertahan dengan hubungan yang bahkan Kakak tutupi, dari siapapun termasuk keluargamu."


Haidar benar-benar dibuat bungkam atas ucapan Radha, tampaknya logika gadis manisnya ini kembali bekerja dengan baik. Takkan selamanya Radha menerima selalu diletakkan di posisi salah.


"Dan Kakak tak pernah menjanjikan bagaimana kita setelahnya, aku terlalu pasrah dan tak menuntut waktumu, dan di titik sabarku, Papa memintaku untuk menikah segera dan ia tak menerima penolakan."


"Tapi kenapa pada akhirnya kau harus menikah dengannya, Ra!! Tak bisakah kau menikah dengan pria lain selain dia?" Pertanyaan yang memang tidak akan Haidar temukan jawabannya, pun ia temukan sudah pasti takkan sesuai kehendak hatinya.


"Seharusnya Kakak tanyakan pada diri Kakak sendiri, bukankah pilihanmu pergi hari itu, andai ...."


"Stop, Zura!!! Berhenti, berapa kali ku jelaskan, aku pergi karenamu, hanya untukmu dan aku tidak ingin kau hancur kalau aku melangkah maju, hanya itu yang aku pikirkan, Ra ... kamu."


Haidar menekan kalimatnya, ia memejamkan mata lantaran amarah tengah berusaha menguasai dirinya. Akan sekacau apa Radha jika di akhir penantiannya justru kecewa yang ia terima, Haidar tak ingin hal itu terjadi. Hanya itu dan tak ada alasan lain ia meninggalkan pernikahan yang direncanakan sang Papa untuknya.


Nyatanya, kecewa dan patah yang ia khawatirkan untuk Radha kini justru ia yang menerima. Dalam keadaan seperti ini, tidak ada yang benar kecuali Radha kembali ke pelukannya.


"Kembali padaku, Zura."


"Kak ... aku tidak bisa,"


"Kenapa? Kau mencintainya? Atau kau telah menjadi milik Gian sepenuhnya?"


"Kak, aku ...."


............ Bersambung❣️


Tetep bakal up, meski ga tepat waktu. Surry❣️

__ADS_1


__ADS_2