Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 160. Malam Yang Berbeda


__ADS_3

Sebentar? Gian terlalu percaya diri. Sama sekali Radha tidak membayangkan akan memiliki anak di usianya yang masih menginjak 18 awal. Bukan karena tidak mau, tapi drama persalinan yang ia takuti masih melekat dalam diri Radha.


"Jawab, Ra ... kok diem," tutur Gian menatap istrinya sekilas.


Menghadapi situasi seperti ini, Radha hanya mengangguk demi menghindari pembicaraan ini lebih lama lagi. Kehadiran Raka benar-benar membuatnya kaku, ia menatap kesal Gian yang masih saja menggaruk tubuhnya, entah itu memang gatal atau hanya pura-pura gatal.


Plak


"Mandi makanya!!"


"Iyaya!! Mama sewot banget sih, istri aku aja gak risih aku gak mandi."


"Bisa banget mulutnya jawab ya," tutur Jelita memukul perut Gian dengan centong nasi.


"Papa bawa masuk ratumu ini, menganggu sekali."


Jelita geram melihat Gian persis pria tanpa beban dan tak punya pekerjaan yang setiap sore hanya dihabiskan untuk memancing ikan. Raka tak mampu berbuat apa-apa, jujur saja hal yang membuatnya enggan adalah menghadapi manusia kurang waras seperti mereka.


"Ya Tuhan, Radha ... maafkan Papa ya," tutur Gian menepuk pelan bahu menantunya, sadar betul jika sepusing-pusingnya dia, lebih pusing lagi Radha.


Kedua orang itu berlalu, meski Raka harus membujuk Radha dengan segala cara karena tingkah Gian yang selalu menjawab dengan asalnya membuat Jelita merasa tak puas sebelum memukulnya lebih kuat lagi.


"Huft, capek juga ternyata."


Radha menatap nanar Gian yang kini menyisir rambut dengan jemarinya, memang bentuknya tetap saja tampan bahkan bertambah tampan. Akan tetapi, Radha tak menyangkal menatap suaminya itu sedikit menyebalkan.


"Kamu mau kemana, Ra?"


"Cuci piring."


Secepat itu ia berlari mengejar Radha, tak mau jika istrinya melakukan pekerjaan yang seharusnya bukan kewajibannya.


"Jangan, biar bi Asih saja ... nanti tanganmu panas."


"Kan cuma satu, bi Asih udah tidur, Kak."


"Ya sudah Layla kan ada kalau memang bi Asih tidur," ucap Gian tak mau kalah, seakan bencana jika Radha melakukan pekerjaan semudah itu.


Radha menghela napas kasar, sepertinya berdebat dengan Gian yang malam ini tenaganya justru makin banyak meski mengantuk sepertinya takkan membuahkan hasil.


"Cepet naik, kamu tau nggak ini malam apa?"


"Jum'at," jawab Radha biasa saja.

__ADS_1


"Jum"at apa?"


Pertanyaan Gian tiba-tiba serius, dan manik hitamnya membuat Radha sedikit takut. Belum lagi gelagatnya yang melihat kesana kemari semakin membuat istrinya berpikir macam-macam.


"Gatau, Kliwon kali."


"Yaps, benar! Dan kamu tau apa yang terjadi pada malam itu?"


"Aah udah deh, Kakak kenapa sih ... ini udah malem nggak usah macem-macem."


"Kakak serius, Ra ... cerita sewu dino, kamu pernah baca gak?"


"Ga tertarik cerita gituan," ujar Radha kala bulu kudunya mulai meremang.


"Makanya dengerin, ini kisah udah lama tapi Kakak baru denger beberapa bulan lalu," tutur Gian semakin serius.


"Ssstt!! Ceritanya lain kali aja! Udah sana."


Radha menghempas tangan Gian yang sejak tadi berada di pundaknya, sudah tahu istrinya penakut dan Gian menciptakan suasana sedemikian rupa.


Pria itu tertawa sumbang, menatap ketakutan dari wajah istrinya membuatnya terhibur. Suasana malam ini memang sunyi, dan Gian dengan sengaja membuatnya semakin kelam.


Hingga, belum sempat ia menyelesaikan ceritanya, petir di luar sana menggelegar dan membuat pasangan suami istri itu terperanjat bersamaan.


"Hahaha." Gian merasa menang tentu saja kala Radha berlari dalam pelukannya, memeluk erat tubuh Gian hingga pria itu kesulitan bernapas.


"Aaaaaarrrggghhh!! Kakak jangan bercanda deh!! Ini gak lucu sumpah."


Lampu di lantai satu mati seketika, Radha yang sejak tadi sudah berada dalam pelukan Gian semakin takut saja. Napasnya memburu dan jantungnya berdebar tak karuan, sungguh ia panik luar biasa.


"Kakak nggak bercanda," tutur Gian serius, karena jujur saja yang takut karena situasi ini bukan hanya Radha, tapi juga dirinya.


"Terus kenapa bisa mati? Nggak mungkin kan abis token."


"Ck, sembarangan."


Gian menatap jauh, tidak ada tanda-tanda kehidupan selain dirinya dan juga Radha di sini. Dan anehnya meski teriakan Radha cukup kuat kenapa tidak ada yang terbangun ataupun menghampiri, sepertinya mereka belum terlalu pulas, pikir Radha.


"Budi!"


Ia sempat menangkap sosok hitam yang berlalu di ruang tamu, tapi ia tak bisa memastikan apa itu hanya halusinasi atau memang benar manusia. Remang-remang cahaya dari luar membuat pandangannya tak hitam total, tapi tetap saja sama sekali tak jelas.


"Pak Budi, kau kah itu?" Gian yang biasanya pemberani dalam medan perangpun menjadi takut dibuatnya.

__ADS_1


Sembari menenangkan Radha yang kini mulai menangis karena memang istrinya takut gelap, ia tak boleh terlihat takut juga. Dadanya berdebar, bulu kuduknya meremang, dan ia tak pernah setakut ini sebelumnya.


"Kakak aku takut," rengek Radha yang semakin membuat Gian frustasi, suara istrinya yang lemah menjadi rasa bersalah dala diri Gian.


"Kita ke kamar ya," tutur Gian berusaha tetap baik-baik saja, ia membopong tubuh mungil istrinya, bermodalkan keyakinan dan hati-hati yang luar biasa, ia berharap tidak ada drama tersandung ketika meniti anak tangga.


"Pejamkan matamu, Secepatnya kita akan masuk ke kamar, Sayang."


Radha tak tahu saja bagaimana suasana hati Gian, ia juga kacau sebenarnya. Jika dirinya sendiri mungkin Gian akan berlari walau tak peduli akan jatuh.


"Rumah jadi horor sejak Kakak pulang," celetuk Radha yang membuat Gian menghentikan langkahnya, pria itu menelan salivanya pahit, entah kenapa ketakutannya seakan lebih berat dari tubuh Radha kini.


"Udah, nggak boleh gitu."


Gian mulai tenang kala usai meniti anak tangga, kini hanya berjalan beberapa langkah lagi untuk tiba di kamarnya. Wajahnya mungkin saja sudah pucat, secepat mungkin Gian medorong pintu kamar dan menguncinya begitu mereka berada di dalamnya.


"Huft, syukurlah." Radha mengelus dadanya yang kini berpacu sekuat itu, benar-benar luar biasa rasanya. Baru kali ini ia rasakan ketakutan sebesar ini.


"Bentar, Kakak tutup jendela dulu."


Radha mengangguk, dan tentu saja ia akan mengekor kemana suaminya berjalan. Kini, bingunglah Radha karena Gian harus mandi dan mau tidak mau ia ikut masuk ke kamar mandi karena dirinya luar biasa takut.


"Cepet mandinya," tutur Radha menatap Gian nyalang, semua ini karena ulah mulut kurang ajar suaminya, pikir Radha.


"Hahah sabar ya." Gian menggeleng, jika Radha akan terus menempel padanya seperti ini tak apa kejadian horor itu terjadi setiap malam, pikirnya.


 


.


.


"Mas, apa kita nggak keterlaluan?"


Jelita kini menatap suaminya, ide Raka untuk membuat putranya itu kembali ke kamar memang sempat Jelita tolak karena takut Radha yang terkena imbasnya.


"Nggak, itu mereka sudah berhasil masuk kamar, artinya baik-baik saja." Raka meyakinkan Jelita yang tampak panik.


🌻


Babay💞


Yang usil siapa sebenernya.

__ADS_1


__ADS_2