
Sesuai dugaan, Jelita panik melebihi ibu-ibu yang putranya jatuh ke gorong-gorong. Melihat Gian tak berdaya, ia menghampiri Radha dan menuntutnya dengan banyak pertanyaan gila.
"Ra!!! Dia abis dari mana?"
Dengan bodohnya Jelita mengira bahwa Gian mabuk berat. Hal yang sangat-sangat Jelita benci, dia sangat membenci kebiasaan buruk putranya yang kerap memilih jalan kematian dengan minuman tidak berguna itu.
"Reyhans, katakan, dia Clubing?" tanya Jelita dengan mata tajamnya, wanita itu bahkan mengguncang tubuh Gian yang kini sudah terbaring di tempat tidur.
"Enggak, Ma. Kak Gian cuma kecapekan," tutur Radha menjelaskan, sebelum mertuanya melakukan hal yang lebih gila dari ini, karena jika dilihat cubitan itu cukup menyakitkan.
"Yakin kamu, Ra? Kamu juga, pergi nggak bilang-bilang, pulang dah jam segini bawa suami tepar begini, apa Mama nggak gila?"
Jelita mengacak rambutnya, bagaimana situasi saat ini benar-benar mengguncang jiwanya. Bertahun-tahun Jelita sabar selalu menjaga putranya agar jauh dari perbuatan gila itu, walau sesekali tetap kecolongan dan membuat Jelita kehilangan kesempatan untuk membatasi pergaulannya.
"Yakin, Mama."
"Kalian tidak bohong kan?" Jelita menekan kalimatnya, menatap Reyhan dan Radha bergantian.
"Iya, Tante ... Gian tidak melakukan hal macam-macam."
Setelah mendengar penjelasan dari Reyhan barulah wanita itu benar-benar percaya. Sedangkan Raka yang berada di sisinya hanya menatap Gian dengan tatapan tak terbaca, jelas saja ia khawatir, putranya itu tak semudah itu jatuh sakit, apalagi hanya dengan alasan lelah.
"Reyhans, ikut aku."
"Baik, Om."
"Eh, Mas!! Aku ikut, awas Reyhans main rahasia-rahasiaan dari Tante ya, aku sunat kamu."
Raka hanya menggeleng pelan, istrinya ini memang luar biasa jika berhadapan dengan hal-hal terkait putranya. Gian, di usianya yang sudah dewasa, Jelita tetap memperlakukannya seperti anak kecil yang butuh perhatian lebih.
"Ra, jaga sendiri bisa kan, Sayang?"
"Bisa, Ma."
Ia mengangguk kala sang mama kini pergi meninggalkannya. Pandangan Radha kini berpindah pada Gian yang masih tertidur, walau hatinya merasa janggal, sebisa mungkin ia berpikir yang baik-baik.
"Nggak panas, tapi kenapa nggak bangun-bangun sih."
Dengan perlahan, Radha membuka kemeja kerja Gian. Melihatnya tidur dengan pakaian lengkap seperti ini justru membuatnya sesak sendiri.
"Kalau diam memang kalem, tapi jangan kelamaan, Kak," ujar Radha dengan suara lembutnya, wajah Gian yang sama sekali tak meresponnya membuat menciptakan kesedihan tak tertahan dalam benaknya.
__ADS_1
Melepas sepatu dan membuka ikat pinggangnya, Radha melakukan hal itu dengan sangat amat lembut. Mungkin pertama kalinya ia memperlakukan Gian seperti ini, dan kenapa dia seperti curi-curi perhatian.
"Ck, dia kan nggak sakit, ngapain juga dikompres."
Baru sadar jika apa yang ia lakukan sedikit bertentangan. Otaknya berkata Gian sehat dan hanya butuh istirahat saja, tapi hatinya justru mengatakan lain.
"Kak, bangun dong!! Belum makan masa tidur," tutur Radha menepuk pelan wajah Gian, tak sabar menanti Gian membuka mata.
"Isssh kebo banget sih, bangun!! Udah siang, kerja Kak!! Besok aku lahiran," Canda radha berharap suaminya akan tertawa.
Masih juga tak merespon, Radha bahkan berpikir terlalu jauh. Tangisnya tak tertahan, sendirian dan menghadapi situasi ini jelas saja ia menangis.
"Bangun, Kak ... masih napas kan?"
Dengan gerakan kasar, ia menempelkan kepalanya di atas dada Gian, memastikan jantung suaminya masih berdetak. Karena bagaimanapun juga, ia tetap merasakan ketakutan akan hal semacam itu.
"Masih, kok ... tapi kenapa nggak bangun-bangun, aku kangen banget, buka matanya, Kak."
Cukup lama ia bertahan dengan posisinya, air matanya bahkan sudah membasah di atas dada Gian. Jika saja ada yang melihat mereka, sudah pasti akan mengira jika Radha menangisi kematian suaminya.
"Jangan tinggalin aku, Kak, cukup Papa yang hilang, Kakak jangan." Mulut Radha mulai macam-macam, karena otaknya sudah tak sejernih itu.
Suara lembut itu menyadarkan Radha, lembutnya tangan yang mengusap puncak kepalanya membuat Radha menatap wajah suaminya cepat-cepat.
"Kak? Udah bangun?" tanya Radha seakan tak percaya, tatapan yang sangat ia rindu itu kembali Radha saksikan, terlihat jelas jika Gian memang lelah.
"Hm, ngaco banget ngomongnya si, Ra."
Gian menarik sudut bibirnya amat tipis, ucapan istrinya masih terekam jelas. Sejak tadi ia sudah sadar, bahkan merasakan semua apa yang Radha lakukan padanya.
"Denger? Berarti dah bangun dari tadi?"
"Awwww, jangan di cubit, Ra."
Malunya dia, nampaknya kini Gian tengah sengaja memanfaatkan kesempatan. Meski belum terlalu kuat, namun Radha dapat menyaksikan betapa suaminya ini masih tetap sejahil itu meski dalam keadaan sangat lemah.
"Huaaaaaaa, jangan begini lagi, capek tau nggak!!"
Kepalanya terasa sakit, tapi Radha membuatnya terpaksa menutupi apa yang Gian rasakan. Secepat mungkin dia menarik istrinya dalam pelukan, menyaksikan betapa khawatirnya Radha, pria itu percaya jika cinta Radha tak main-main.
"Ssshhtt, maaf, Sayang ... ini yang terakhir ya," tutur Gian menenangkan istrinya, sentuhan lembut itu ia berikan.
__ADS_1
"Iya, kenapa Kakak bisa di sana? Apa aku buat Kakak secapek itu sampai milih minggat ke hotel segala, hah?!!!" tanya Radha dengan nada tingginya, wajah Gian panik tentu saja, dia tidak sadar apa yang ia alami, sadarpun baru ketika tiba di rumah, pikirnya.
"Hotel? Hotel apa?"
"Udah deh, orang Kakak tidurnya lelap banget."
"Ra? Maksud kamu apa, Sayang, Kakak tidak mengerti, jujur saja."
Apa yang keluar dari mulut Radha justru membuat Gian panik saja. Sejak kapan ia menjadikan hotel sebagai tujuannya, dan apa yang ia dengar sungguh tak masuk akal.
"Serius enggak?"
"Hem, sumpah demi Neptunus Kakak nggak ke Hotel," tutur Gian serius, karena memang ia tidak melakukan itu.
"Tapi Kakak tidur disana, yakali kesurupan Jin koh Malih, aneh banget deh."
"Entahlah, sepertinya Kakak memang lelah ya sampai lupa begini."
"Sepertinya, yasudah istirahat malam ini, aku janji nggak bangunin Kakak malem-malem," ucap Radha tak ambil pusing, karena baginya suaminya sudah pulang saja adalah hal baik.
"Udah mandi?"
"Belum," jawab Radha sembari menggeleng, karena memang dia belum mandi sejak siang.
"Mandi sama-sama mau? Kakak pusing, Ra ... takut kejengkang," tutur Gian tanpa ditutup-tutupi. Berkedok kondisinya yang masih lemah, Gian memanfaatkan situasi.
"Heleh!! Alasan Kakak aja," cibir Radha mendorong wajah Gian yang hendak mencuri kecupan darinya.
"Serius, Sayang ... kalau kepleset gimana? Kamu mau tulang ekor Kakak patah?" Ada saja alasan Gian, jika sudah begini memang rasanya lebih baik Gian pingsan lagi.
"Ayolah, Ra ... udah terlanjur, yang buka kemeja Kakak siapa? Kamu kan." Perlahan, dia sendang menjebak mangsanya lagi dan lagi.
"Iya, aku."
"Ya sudah, tanggung jawab, masa dibuka doang nggak dipake."
"Hey!! Mulut Anda!!"
"Hahahaha, santai ... jangan emosi dong, nanti cantiknya hilang," ucapnya sembari mencubit pelan Wajah Radha, cukup sakit dan membuat Radha meringis.
TBC 🌼
__ADS_1