
Malam telah usai, dan kini ia berganti kala cahaya dengan sejuta kehangatan itu membelai alam, wajah Radha masih saja ia tekuk setelah perdebatan singkat yang terjadi akibat ulahnya sendiri yang tanpa sengaja memukul wajah Gian.
"Aaargh, bagaimana bisa aku bekerja dengan keadaan seperti ini, Zura?"
Gian meringis, hidungnya terasa amat sakit lantaran tangan kecil istrinya itu menghantam cukup kuat. Meski tak dapat ia salahkan, bagaimana mungkin ia akan marah pada wanita cantik yang kini tengah merapikan seragamnya di depan cermin.
"Aku kan sudah bilang tidak sengaja, Kak," ujarnya lembut berusaha meminta belas kasih agar Gian tak marah.
"Hm,"
"Ck, aku serius, Kak. Salahmu mengapa mendekap tubuhku begitu erat," protes Radha dengan semburat merah di wajahnya.
Mimpi buruk yang ia alami membuat Radha berhalusinasi hal yang tidak-tidak. Apalagi kala ia membuka mata, lampu kamar memang padam dan wajah Gian tak dapat ia lihat dengan jelas.
"Tapi tetap saja, Ra, untung saja darahnya berhenti."
Gian menggeleng pelan, bahkan perih itu masih terasa. Entah apa yang menghantui sang Istri dalam mimpinya hingga wajah tampannya menjadi sasaran keganasan tangan Radha.
"Katanya gak masalah, kenapa jadi dia yang rewel," batin Radha sembari menatap sengit pantulan sosok pria di belakangnya.
"Kau mengumpatku?"
"T-tidak, Kakak saja yang salah sangka," ujarnya kemudian, takut jika Gian berbuat macam-macam padanya kali ini.
Sembari memutar bola matanya malas, Radha memoles wajahnya dengan sedikit bedak dan pelembab bibir seadanya. Rambut ia biarkan terurai hari ini, dan dengan waktu singkat Radha meraih tas sekolah dan hendak berlalu keluar kamar.
"Hey-hey ... Mau kemana kau?"
Gian menghentikkan langkahnya hanya dengan satu kali gertakan, pria itu berhasil membuat Radha mengurungkan niat dan menunggu perintah selanjutnya.
"Hari ini kau pergi sendiri, Kakak ada urusan mendesak."
Sebuah kesempatan berlian yang memang Radha impikan, izin dari seorang Gian adalah hal langka yang sangat ia nantikan. Belum lagi melihat Gian yang kini mengeluarkan dompet semakin membuat mata Radha begitu segar.
"Cukup?"
"Aah sangat cukup, terima kasih, Kak."
Dengan senang hati ia menerima lima lembar uang seratus ribuan itu. Tentu saja akan sangat cukup baginya, bahkan lebih. Gian menarik sudut bibir kala menyaksikan wajah berseri tanpa dosa itu berucap begitu manis.
"Hati-hati, nanti Kakak jemput. Jangan pulang sendirian, apalagi bersama temanmu yang baru belajar mengendarai motor itu," ujarnya kemudian penuh penekanan.
"Dia tidak sedang bela...."
"Ssstttt."
__ADS_1
Tidak ada kesempatan untuk Radha menyela dan membela, jari telunjuk Gian benar-benar menahan istrinya bahkan hanya untuk berbicara.
"Jangan membantah, pergilah nanti kau telat."
Tak ada yang dapat ia lakukan selain menurut, meski dengN wajah semu tak terima, Radha tetap mengalah dan mencium punggung tangan Sang Suami sebagai bentuk sopannya.
Menyadari kebiasaan baik Radha, Gian kembali mengingat sosok sang Mama. Interaksinya dengan kedua orangtua dan Raka begitu membekas di benak Gian, sungguh hal sekecil ini membuat Gian seakan luluh dan jatuh pada sosok wanita mungil yang telah resmi menjadi pendamping hidupnya.
Cupš
Sebuah hal spontan yang Gian berikan berhasil membuat Radha memerah, selama beberapa waktu Gian belum pernah melakukan hal semacam ini padanya, jelas saja ciuman di keningnya kali ini membuat Radha salah tingkah.
Jika saja Gian mendengar hatinya yang tengah bersorak tak tentu arah tentulah ia tak akan mampu menahan gelak tawanya. Ia menatap lekat punggung Radha yang kini berlalu menjauh dengan gerakan kilat dan sebegitunya menghindar dari tatapan Gian.
"Astaga, apa yang kulakukan," ucap Gian tersadar sembari menyentuh bibirnya.
*****
"Kenapa dia mengikutiku?"
Radha menghentikan langkah, sedari tadi ia merasa langkahnya keluar dari Apartemen seakan tak sendiri.
"Kak!! Aku bisa sendiri, kau tak perlu mengantarku keluar," ujarnya tanpa berani menoleh ke belakang, sesungguhnya ia malu, masih terbayang hal manis yang Gian lakulan padanya di kamar beberapa saat lalu.
"Hah? Papa?"
Radha memicingkan matanya, kendaraan yang cukup familiar di matanya sejak tadi tak berpindah dari jarak yang tak terlalu dekat dengannya.
"Apa mungkin dia menjemput kak Gian?"
Pertanyaan itu muncul dan ia abaikan begitu saja, baginya bukan suatu hal mustahil jika Raka mengunjungi tempat tinggal putranya, tapi apakah harus sepagi ini? Pikir Radha kembali menimang jawaban atas gundahnya.
Ia menatap pergelangan tangan kirinya, sembari menanti kedatangan angkutan yang akan membawanya dengan nyaman ke sekolah.
"Akhirnya datang juga," ujar Radha dengan senyum hangat di wajahnya.
Baru saja ia masuk, suara melengking dan begitu antusias bahkan membuat Radha seketika menjadi perhatian. Sungguh ia menyesal, harusnya lebih baik Radha naik ojek online saja, pikirnya.
"Radha!!! Yuhuu, tumben naek beginian, bangkrut ya jangan-jangan."
Dasar gila, candaan Nisa membuat Radha mendelik namun tetap saja ia memilih duduk di samping gadis manis bersuara emas itu.
"Pagi, Nis," sapa Radha mencoba tak menggubris pertanyaan pertama sahabatnya.
"Selamat pagi cantik, btw kenapa lo bisa di sana? Pindah rumah apa gimana?"
__ADS_1
Radha bingung menjawab, pasalnya arah Apartemen Gian memang berlawanan dan cukup jauh dari rumahnya. Ia memutar otak agar tidak timbul kecurigaan dari wanita pembawa acara gosip itu.
"Gue tidur di rumah sepupu gue tadi malem, kangen soalnya."
Nisa mengerutkan kening, pasalnya sepupu mana yang Radha maksud, pikirnya.
"Ah ... iyakah?" tanya Nisa dengan kecurigaan di luar batas wajar kembali menatap Radha dengan tatapan super tajamnya.
"He'em."
Tidak ingin banyak bicara, Radha seakan pura-pura memejamkan matanya. Sengaja meminta Nisa untuk membangunkannya padahal ia tak mungkin akan tertidur.
*********
"Awas, Ra, jatoh bahaya."
Benar-benar menyebalkan, sebegitunya Radha di mata Nisa bahkan turun dari kendaraan itu harus di khawatirkan, pikirnya.
Radha berjalan berdampingan dengan Nisa dan juga beberapa siswa yang juga baru saja tiba. Jika biasanya ia di antar Gian, kini Radha tak perlu khawatir dan menunduk-nunduk memastikan keadaan aman terlebih dahulu.
"Eh bentar, tali sepatu gue copot," ujar Nisa yang kini meminta Radha menghentikan langkahnya juga.
"Huft ada-ada saja, makanya pakek sepatu yang kek gue dong," seru Radha dengan wajah puas begitu menatap tali sepatu Nisa yang begitu menyulitkan.
"Buruan, Nis, lima menit lagi gerbang ditutup sama pak Heru," pinta Radha dengan begitu paniknya sembari menatap gerbang berkali-kali.
Mengelilingi sekeliling sekolah dengan pandangannya, Radha membeliak, lagi dan lagi ia mengerutkan kening dan menajamkan penglihatannya.
"Mobil itu lagi? Apa benar Papa?"
"Kenapa, Ra?" tanya Nisa yang kini telah ikut berdiri dan menyelesaikan urusan dengan sepatunya.
"Ah iya? Nggak, Nis, gue salah liat."
Entah mengapa perasaannya menjadi tak enak kala pemandangan yang ia lihat di sekitar Apartemen kembali terulang, mobil yang sama dan ia tak dapat mengetahui siapa di dalamnya.
"Apa mungkin orang suruhan kak Gian ya? Tapi dia bukan orang yang melakukan hal berlebihan semacam itu," batinnya sembari sesekali masih menoleh mobil putih yang biasanya Raka gunakan.
"Astoge, Radha!! Buruan kenapa sih."
"Iya, Nis."
Terpaksa ia menurut, memang sebentar lagi gerbang di tutup dan hal itu harus mereka hindari jika tidak ingin mengabdi sebagai tukang bersih-bersih selama satu minggu di sekolah ini.
............... Bersambungā£ļø
__ADS_1