Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 277. Pencuri Handal (Kesempatan)


__ADS_3

Sudah menjelang zuhur dan Gian belum keluar juga, bahkan Radha juga ikutan. Entah apa yang mereka lakukan, Jelita mencoba memahami putranya.


Beruntung saja Kama dan Kalila tidak berkeliaran mencari induknya. Hanya dengan susu dan biskuit kesukaannya, kedua anak itu sudah diam dengan sendirinya.


"Ini anak-anak Gian kok bisa anteng ya, padahal papanya nelor ni gue yakin."


Ya, sudah tentu ucapan itu keluar dari bibir Rhania. Wanita itu merasa gemas lantaran Kama dan Kalila sebegitu lucunya, sejak tadi mereka tidak menangis dan membuat ulah berlebihan.


"Hahaha nggak usah disebut juga, namanya juga masih muda ... Papanya dulu juga begitu," tutur Jelita sembari menikmati potongan apel yang telah disediakan Asih.


"Apa iya, Ta? Setau gue Raka nggak begini banget sih."


"Iya dong, nggak beda jauh, cuma dulu mas Raka masih ada malunya dikit, kalau Gian nggak tau kemana urat malunya, putus kali," jelas Jelita mengenai fakta yang memang begitu adanya.


"Tapi Raka mending, Ta."


Rhania masih menganggap Raka di masa muda sangat wajar, dan Gian ini sudah di luar batas. Pasalnya sejak tadi malam dia bahkan memberikan banyak syarat agar istrinya boleh ikut Jelita untuk sementara waktu.


Belum lagi Gian hanya memperbolehkan istrinya tidur di sisi Caterine, tidak boleh di dekat Jelita. Kurang ajar atau terlalu cinta, Rhania juga bingung dengan keponakannya itu.


"Duh mana anaknya lucu-lucu lagi, pinter juga buat anak dia."


Mengagumi Kama dan Kalila, sungguh wanita itu tak bisa menahan diri dari dua malaikat kecil yang tengah aktif-aktifnya. Sudah berapa bekas gigitan Rhania di paha Kama, roti sobek itu membuat giginya mendadak gatal.


"Buah kesabaran, Gian lama banget dapetin Radha sepenuhnya ... dulu sempat ngeluh karena merasa punya istri tapi batinnya kesiksa, mau maksa gak tega," ucapnya mengingat dulu Gian sempat menyampaikan keluhan tersebut pada sang mama.


"Kok bisa gitu? Mereka nikah gara-gara lu jodohin kan?" tanya Rhania memastikan hal itu, sempat mendengar sekilas tapi dulu Andra enggan bicara banyak.


"Haha iya, awalnya mau dijodohin sama Haidar, eh bayi gue satu itu kabur terus Kakaknya yang dipaksa buat gantiin."


Sedikit sedih jika ia ingat, lantaran hal ini sempat menjadi tangis Haidar yang takkan terhenti waktu itu. Sebagai wanita ia sangat mengerti perasaan Radha, akan tetapi Tuhan punya rencana seindah itu.


"Asem, udah kayak novel aja kisah anak lu heran gue ... lagian lu pada ngapain dah masih doyan jodoh-jodohin, ini tahun berapa?? Kuno banget sih lu."


Dicaci Rhania bukanlah hal yang asing bagi Jelita, ketika mereka muda, Jelita kerap kali merasa lelah jika sudah berhubungan dengan wanita ini.


Kuno? Memang, tapi itu adalah cara satu-satunya agar Haidar bisa menetap, dan itu pikiran mereka yang tak memikirkan kemungkinan lain.


"Yaudah lah, kalau gue nggak jodohin Haidar, mungkin sampai sekarang Gian masih suka kabur-kaburan dan milih hidup sendiri, gue gila juga anak gue pada pergi begitu, Rhan."

__ADS_1


Hikmah dari semua kekeliruan yang memang terasa menyakitkan di awal memang ada. Gian menikah dan keluarga baru itu tercipta, Radha dijadikan ratu setelah sebelumnya terperangkap dalam luka yang tercipta oleh orangtuanya.


Rhania mengangguk mengerti, kesepian, pada intinya Jelita merasa kesepian hingga meminta salah satu putranya menikah dan agar bisa bersama dirinya.


"Oh iya, Ardi itu dokter yang dulu suka periksa lu hamil Gian, kan?"


"Ho'oh, dari bentuknya sekecil kacang Ardi udah lihat Gian, eh sekarang jadi menantu ... hahah."


Dimana letak lucunya, hanya mereka yang paham dan Rhania turut terbahak. Sempat mengenal Ardi walau tak begitu dalam, Rhania hanya menghabiskan waktu sebentar di negara ini sebelum mereka benar-benar pergi setelah menikah.


"Ibra udah gede kan, Rhan?"


"Udah dong, dia pendiam, padahal Mama sama Papanya nggak ada bibit pendiamnya, gue heran dia mirip siapa."


Rhania memilah apel yang kini tersisa beberapa potong saja. Wanita itu mengingat putranya yang bahkan sudah risih dianggap anak kecil. Pengaruh lingkungan dan gaya hidup di sana membuat Ibra lebih dewasa daripada umurnya.


"Sediam Haidar?" tanya Jelita, karena memang Haidar sangat berbeda dari Gian, akan tetapi jika yang jadi pembanding memang siapapun sepertinya akan dianggap pendiam.


"Haidar mah nggak pendiem, Ta, dia masih ada pedulinya sama orang, kalau anak gue ya Allah ... lu mau teriak-teriak manggil dia juga nggak akan peduli."


Jelita menganga, padahal Andra adalah manusia paling ramah di dunia. Kenapa justru putranya berbeda, mungkin karena masih terlalu kecil, pikir Jelita.


"Nanti dewasa dia berubah, Rhan ... namanya masih anak-anak," jelas Jelita menganggap hal itu adalah sesuatu yang masih wajar.


-


.


.


.


Mandi lagi, kedua kali? Iya!! Gian memanfaatkan waktu sebaik itu. Selesai di tempat tidur, dia memaksa Radha membuka pintu kamar mandi padahal istrinya baru saja selesai keramas.


Dengan alasan panas dan risih karena keringat Gian berhasil mengelabui Radha. Dan pada akhirnya wanita itu terpaksa harus rela, karena hendak menolak juga percuma.


"Senyum dong, kenapa cemberut sih?"


Masih saja berani usil, Radha menatapnya nyalang sembari mengeringkan rambutnya. Ingin rasanya Hair dryer itu dia arahkan ke mulut Gian sebagai balasan lantaran berhasil mengelabuinya.

__ADS_1


"Kakak tau nggak sih, di rumah ini bukan cuma ada papa sama mama, tapi om Andra dan juga tante Rhania ... kakak nggak malu?" tanya Radha dengan nada seriusnya, suaminya ini santai sekali sembari menggosok rambutnya dengan handuk kecil.


"Enggak, kenapa malu? Kan kita ngelakuinnya di kamar, bukan di depan mereka," jawabnya asal, tanpa dosa dan tiada rasa bersalah sama sekali.


"Astafirullahaladzim, sepertinya memang ada yang salah dengan otakmu."


Tak habis pikir, bisa-bisanya Gian menjawab seenteng itu. Andai saja memukul suami itu tidak dosa, sudah Radha lakukan sejak kemarin-kemarin.


"Kenapa? Memangnya aku jin sampai kamu istighfar segala?"


Radha menghela napas pelan, masalahnya Gian bukan lagi sosok jin. Tapi lebih dari itu, ia hanya menggeleng pelan, selesai dengan rambutnya dan kini wanita itu berjalan ke arah tempat tidur yang tak berbentuk itu lagi.


"Nanti aja, keringin dulu rambut aku, aku mau juga."


"Kakak bisa sendiri, tinggal arahin aja ke rambutnya kelar."


Radha sudah bicara sebegitu lesunya, untuk saat ini dekat-dekat dengan Gian dapat membuatnya bahaya. Terlebih pria sinting itu belum juga mengenakan celana.


"Nggak mau, nanti salah."


Alasan sekali, padahal dia sudah lama hidup sendiri dan semua itu pernah ia lakukan dengan mudahnya. Wajahnya membuat Radha tak tega, sepertinya sengaja agar Radha luluh dan menuruti keinginannya.


"Yaudah cepetan, rambut segini juga banyak banget ulahnya."


"Jangan kasar-kasar, dikasarin balik teriak," sindirnya tak lari jauh dari arah sana, sepertinya Gian memang perlu untuk dibakar.


Radha tak setega itu pada nyatanya, walau ingin rasanya membuat pria ini pingsan saat ini juga, akan tetapi, Radha masih memperlakukan suaminya dengan sangat lembut.


Mengatur rambutnya agar terlihat lebih rapi, walau sebenarnya hari ini pria itu akan di rumah saja. Setidaknya menghilangkan anggapan yang di luar sana jika mereka di dalam kamar hanya fokus pada project lain.


"Azzura," panggil Gian menatap pantulan wajah cantik istrinya, sejak tadi Gian hanya memandangi wajah itu.


"Hm," sahur Radha selembut mungkin, jika Gian sudah memanggil namanya seperti itu biasanya dia akan menyampaikan hal-hal tak terduga dan amat manis.


"Love you," ucapnya kemudian menarik sudut bibir, ungkapan basi yang sebenarnya dapat Radha pahami tanpa dia mengucapkan berkali-kali.


"Kenapa tiba-tiba?"


"Nggak apa-apa, cuma bilang aja."

__ADS_1


Menarik pergelangan tangan istrinya dan mengecupnya pelan. Meski tiada lagi penghalang, tetap saja Gian setakut itu perihal kehilangan.


🧚‍♂


__ADS_2