
Hari ini Gian memutuskan untuk tak ke kantor, jelas saja dengan alasan malas dan ingin fokus pada Radha seorang. Pria itu rela menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan menemani istrinya, dan itu cukup lama.
Jika biasanya Gian akan cerewet luar biasa terhadap pekerjaan-pekerjaan yang menyita waktu seperti ini, kini ia dengan suka rela bahkan antusias bertanya kemana lagi tujuan Radha yang belum ia jelajahi.
"Kak, enakan madu atau susu?"
Tampak bingung memilih, wanita itu kini dipertemukan kebimbangan lantaran lulur di kedua tangannya ini sama-sama ia suka.
"Hah? Susu? Susu siapa?" tanya Gian dengan sedikit terkejut, ia takut jika ada orang lain menengarnya.
Entah kemana otak Gian, apa yang perhatikan hingga salah tangkap apa pertanyaan Radha. Istrinya itu hanya menghela napas pelan, kenapa suaminya seaneh ini, jika sebelumnya Gian salah mendengar antara sikat gigi dan sikat cuci, dan kini masalah susu ia juga tak menangkapnya dengan baik.
"Lulurnya, wangian mana?" tanya Radha mengulang pertanyaannya.
"Oh ini."
Pria itu tertawa sumbang, menyadari betapa bodoh dirinya. Dan kini dengan sejuta pertimbangan, ia tampak fokus bahkan membaca kandungan yang tertera di kemasannya. Sungguh ketelitian diluar dugaan, pikir Radha.
"Dua-duanya bagus semua, manfaatnya juga sama dan, melembabkan, mencerahkan dan vitamin serta ekstrak __"
"Wanginya, Kakak ... aku nggak minta saran yang begituan." Gian mencebik kala Radha memotong pembicaraannya, ia mempelajarinya cukup lama dan istrinya tak tertarik dengan hal itu pada nyatanya.
"Wanginya saja?"
"He'em, lagian kenapa bisa paham hal begituan sih, jangan-jangan mantan SPB lulur ya, Kak?" tanya Radha asal yang lagi-lagi membuat nama Gian kian turun di mata Radha.
"Astaga, memangnya tampangku cocok jadi Sales Promotion lulur, Ra?"
"SPB alat dapur juga cocok kayaknya, Kakak kan pekerja keras, siapa tau sebelum Papa kasih kepercayaan Kakak sambilan kerja waktu kuliah kan," tutur Radha seakan apa yang ia ibaratkan benar adanya.
"Terserah kamu, Ra," ujar Gian pasrah, ia terima segala yang Radha tuduhkan padanya.
Apalagi setelahnya, dukun, tukang cabul, dukun beranak dan kini SPG menjadi julukan Radha untuk suaminya. Sedikit heran memang, kenapa Gian memiliki sejuta pengetahuan bahkan tentang seluk beluk perempuan.
"Jadi apa pilihannya, cepet ah," desak Radha merasa Gian hanya menunda-nunda, mungkin beberapa orang yang melihat pasangan ini hanya menggeleng pelan lantaran tak berpindah hanya untuk memastikan aroma dua pilihan itu.
"Madu enak, susu juga manis wanginya ... hm, dua-duanya aja, Ra."
Pilihan terakhir pria, dua-duanya dan itu menghindarkan diri dari sebuah keributan. Radha yang hanya ingin salah satu menatap Gian dengan manik penuh kekecewaaan.
__ADS_1
Ia ingin satu, bukan dua. Karena terlalu banyak bagi Radha. Dan mencoba paham, Gian mengerti jika istrinya tak menyukai jawaban darinya kini mencoba memperbaiki suasana.
"Yaudah madu." Gian memilih salah satu yang paling ia yakini, padahal juga nanti wanginya takkan bertahan dan kalah dengan aroma parfum, pikir Gian.
"Tapi susu juga enak," tutur Radha yang kini semakin membuat Gian serba salah.
"Yaudah susu." Gian menyetujui pilihan Radha yang tampak tak rela ia memilih madu.
"Tapi madu wanginya juga kalem, Kak."
Sejenak terdiam, jawaban apa yang seharusnya Gian berikan. Kenapa harus sesulit ini, dan apa yang membuatnya istrinya ini plin plan luar biasa hingga membuatnya sakit kepala.
"Dua-duanya ya, Sayang ... nanti kamu gantian pakeknya biar gak bosen," ujar Gian luar biasa lembutnya agar istrinya selesai dengan perluluran duniawi ini.
"Kebanyakan, Kak, nanti aku jadi bosen makeknya," keluhnya yang lagi-lagi membuat Gian memukul tekuk lehernya beberapa kali.
"Nanti Kakak yang bantuin, kita pakek sama-sama biar cepet abis, kamu nggak bakal bosen."
Kurang mengalah apa dirinya kini, bahkan rela melakukan hal yang menurut dia sangat menggelikan. Seumur-umur ia tidak pernah merawat tubuhnya sedetail itu, dan kini istrinya yang amat peduli dengan kecantikan dirinya juga harus ikut.
"Bener ya, awas nggak," ancam Radha kemudian meraih dia lulur yang berada di tangan Gian, dan meletakkannya talam troli bersama perlengkapan lainnya yang kini menggunung.
Jarang pergi untuk belanja, tapi sekalinya pergi Gian bahkan menganga melihat apa yang Radha beli. Segala penjuru ia telusuri, seakan menjadi surga sesaat bagi Radha.
Apapun yang Radha mau, Gian hanya mengangguk. Karena tugasnya hanya menemani dan membayar belanjaan istrinya.
Tak banyak yang mengira jika mereka tengah belanja bulanan untuk persiapan lebih dari satu bulan, banyak pertimbangan Radha, dengan asalan ia tak terlalu suka pergi dan lebih baik beli banyak daripada harus bolak balik, pikirnya.
-
.
.
.
.
"Kakak yang ini atau yang ini?"
__ADS_1
Berpindah ke tempat lain, setelah perlengkapan hidupnya usai kini Radha berada di hadapan surganya piyama dan baju tidur.
"Sama aja, apa bedanya." Gian menghela napas perlahan, keduanya sama saja, bahkan warna kedua piyama itu pun sama.
"Beda, Kak, Kakak nggak liat doraemonnya ada yang duduk ada yang enggak," ujar Radh Memberikan penjelasan, sedangkan Gian yang tak sadar perlu menajamkan matanya berkali-kali untuk memastikan.
"Ya Allah, kan nggak kelihatan juga, Sayang mau dia ngangka*g juga sama ajalah."
"Ish!! Jangan gede-gede, malu."
Ucapan suaminya sempat menjadi pusat perhatian dua wanita di dekat mereka. Dan dari mana pula Gian menemukan istilah itu, pikir Radha.
"Ya kamu aneh, terserah kamu, Ra ... ambil aja dua-duanya, kalau bosen berdiri pakek yang duduk." Gian mulai kehilangan stok sabar, kenapa istrinya ini justru terfokus pada hal-hal semacam ini, pikirnya.
"Makasih, gitu dong jawabnya."
Salah apa Gian, bahkan jika memang Radha mau, tanpa bertanya juga ia takkan melarang. Gian mengusap wajahnya kasar, dan kini mengikuti langkah istrinya yang masih kurang dengan buruannya.
"Zura, Kakak mau kamu pakai yang itu, udah gak jaman tidur sama suami pakai piyama beginian."
Tanpa malu, Gian menunjuk lingerie merah merona yang menurut Radha persis jaring ikan. Sungguh menggelikan, bagaimana bisa pakaian semacam itu diciptakan.
"Ih nggak mau, apa yang ditutupi jadinya," tolak Radha mentah-mentah, pasalnya ia tak pernah bahkan berniat menggunakannya saja belum ada.
"Ya kan dipakainya depan Kakak, bukan didepan yang lainnya," jelas Gian berharap istrinya akan mau dengan permintaan konyol namun sangat ia dambakan ini.
"Tetep aja, aku masuk angin gimana?" Radha masih mencari 1000 alasan agar Gian berhenti memintabya macam-macam.
"Halah, biasanya tidur tanpa sehelai benang kamu masih nyenyak, Ra." Gian berbisik kali ini, senyum tipisnya mewakili betapa dirinya tengah memperlihatkan makna lain dari tatapannya.
"Mau ya, Sayang? Sesekali, buat Kakak," rayunya sembari meraih jemari Radha lembut, sebuah permintaan yang benar-benar ingin Radha kabulkan.
"Hm, terserah Kakak aja," ucap Radha dengan suara kecil dan wajah yang kini merah merona.
"Iyes!! Terima kasih, istriku."
Dengan izin Radha, maka bebaslah Gian menentukan pilihan. Jika sebelumnya sedikit berat hati, namun jika tentang ini ia takkan pernah menyia-nyiakan kesempatan.
TBC 🧘♀
__ADS_1
Wadaw, authornya up kenceng meski promonya dah di cabut. Tapi tapi tapi aw votenya he****m, ini dah minggu baru mari dukung Gian 💔🧘♀
Btw, kalau sempet tolong mampir ke cerpen aku yang paling baru ya, tinggalin jejak di sana, kali dapat poin kalau likenya banyak ... terima kasih😌