
"Ran, bawa dia ke rumah ya ... Gian pasti sangat merindukan adik sepupunya," ujar Radha mengusap lembut pundak Caterine, mengingat dahulu Gian sempat memaksa agar dia diberikan adik perempuan ketika tak bisa lagi dapat bertemu Caterine.
Dan begitupun Caterine, meski ingatannya tak 100 persen tertata namun bagaimana dulu Gian dan Haidar menyayanginya ia takkan lupa.
"Besok ya, atau mungkin beberapa hari lagi ... Caterine harus istirahat lebih dulu."
Randy menjawab datar dan pandangan sedikit menghindari manik Jelita. Pertanda bahwa sebenarnya ada yang Randy tutupi, untuk saat ini Randy belum berniat untuk mengajak Caterine kesana kemari.
Karena baginya, menenangkan Caterine dengan cara tetap di rumah dan menjadikannya ratu adalah hal paling baik. Randy ingin putrinya merasa aman, ia takut hal-hal aneh terjadi lagi, karena memang trauma dalam diri putrinya belum semuanya hilang.
"Dia seumuran Radha, kamu punya temen, Sayang."
Jelita mengingat menantunya yang tadi ketar ketir lantaran Gian yang masih saja sama. Terkadang ia merasa lucu gadis sekecil Radha harus merasakan bagaimana menyebalkannya Gian jika sedang sakit.
"Temen?" tanya Caterine dengan mata beningnya berharap banyak, ia butuh sosok yang di sebut teman, karena memang hidupnya selama bersama Sheina terlalu di batasi dan hanya boleh berteman dengan seseorang yang Sheina kenal lebih dulu.
"Ehm, dia satu tahun lebih muda dari kamu, namanya Radha, kau pasti senang berkenalan dengannya."
"Adik aku, Tan?" Caterine menduga yang tengah Jelita ceritakan ini adalah putri kandung Jelita.
"Iya, adik dong."
Senyumnya mengembang, setelah lama hidup kesepian sepertinya memiliki seorang adik akan lebih baik. Berada di lingkungan keluarga ini benar-benar membuat Caterine merasakan hal yang berbeda.
Percakapan mereka terjalin baik, hingga waktu menunjukkan jam makan malam. Dan tentu saja, Jelita telah menyiapkan itu dari rumah. Sengaja ia memasak banyak untuk ia bawa ke rumah adiknya, sementara di rumah hanya ada Radha dan Gian saat ini.
Sudah ia duga, sematang apapun persiapan Randy nyatanya untuk hal ini ia lupa. Melihat bagaimana putrinya kini makan dengan baik, perasaan Randy benar-benar sebaik itu.
"Enak, Sayang?" tanya Jelita di sela-sela makannya.
"Hm, sangat enak ... lebih enak dari masakan mba Tuti," jawab Caterine senang, dan memang benar masakan Jelita lebih enak dari masakan yang kerap di sajikan oleh pekerja di rumahnya.
"Tante ajarin masak mau?"
"Apa boleh? Aku mau," tuturnya seceria itu, seakan luka kemarin benar-benar usai.
Randy tak melepaskannya dari pandangan, senyum putrinya benar-benar candu. Dan itu ada hanya karena sebuah interaksi manis dari Jelita, keduanya kembali dekat secepat itu.
__ADS_1
"Boleh banget dong, sekalian ... Radha juga lagi heboh-hebohnya belajar masak." Lagi dan lagi, nama Radha kembali ia dengar, sungguh Caterine penasaran pada sosok adik perempuannya itu.
"Malem ini boleh?" tanya Caterine menggebrak meja lantaran terlalu bahagia, memasak adalah hal yang ia inginkan sejak lama, tapi Sheina yang takut tubunya akan lecet membuat ruang gerak Caterine benar-benar terbatas.
"Haha izin dulu sama Papamu sana," ujar Jelita tertawa geli, menatap bagaimana Caterine dan ekspresi Randy kini benar-benar lucu.
"Boleh, Pa?" Caterine menoleh ke arah Randy dan menampilkan puppy eyes berharap Randy akan menuruti kemauannya.
"Jangan malam ini ya, kamu harus istirahat," jawab Randy dengan begitu lembut, sedikit kesal dengan Jelita yang mengatakan ide itu malam-malam.
"Yaah, terus kapan?"
"Besok, Ran ... lagian Radha kayaknya gak masuk sekolah tu," tutur Jelita yang berharap Caterine makin tergoda dan memaksakan kehendak pada papanya seperti anak lain.
"Tidak, Caterine di rumah dulu ya, Sayang."
Mendengar jawaban dari Randy, Jelita mendelik begitu kesal. Ia menginginkan waktu bersama keponakannnya ini, dan Randy tak mengerti. Sedangkan Caterine yang mendapat perintah, ia hanya diam dan mengangguk patuh.
"Iya, Pa ... tapi Papa jangan kerja," pintanya kemudian, karena jika Randy pergi, yang ia rasakan hanya ada ketakutan semata.
"Papamu tidak punya kerja saat ini, Caterine ... tenang saja." Raka berucap demikian dengan kalimat canda, namum Caterine menganggapnya serius.
"Ck, kebiasaan ... Papa masih kerja, hanya saja Papa kurangi biar waktunya buat kamu, jangan dengarkan dia."
"Aah begitu ya, Pa."
Kembali ia mengingat, mana mungkin aktor terkenal seperti papanya tak laku tiba-tiba, sedangkan yang terakhir ia tahu, Randy dan Haidar merupakan cast dalam sebuah drama yang akan tayang beberapa minggu lagi.
"Kamu kenapa sih, Mas ... doyan banget buat dia bete gitu." Sedikit aneh memang, Raka tak suka dijadikan bahan candaan, namun Randy kerap ia jadikan bahan tertawaan, usil sampai tua ternyata memang ada.
"Haha memangnya aku kenapa?" Raka menggeleng, ia menarik sudut bibir merasa hal ini memang sedikit lucu.
"Apa kakak iparmu ini membuatmu marah, Randy?" tanya Raka tanpa menatap Randy.
"Oh tentu tidak Kakak ipar, kita kan best friends," ujarnya yang sedikit membuat Raka tergelitik, karena memang sejak dahulu hubungan mereka cukup baik, dan Raka adalah suport system bagi Randy yang siap mengeluarkan banyak uang demi Randy mampu meraih cita-citanya dulu.
******
__ADS_1
Di sisi lain, jauh dari keberadaan Randy dan juga Caterine. Di kamar ini, Radha tengah menatap sedih Gian yang kini terlihat lelah terbaring di tempat tidurnya.
Obat yang Jelita berikan ternyata hanya menghentikan sementara, karena memang niatnya hampir tidak ada untuk minum obat itu. Bolak balik kamar mandi benar-benar menguras tenaga.
"Aduuh, capek banget ya?"
Gian mengangguk, matanya sudah terpejam namun ia tak tidur sama sekali. Tubuhnya seakan tanpa tenaga, tapi perutnya luar biasa melilit. Namun ke rumah sakit ia tak mau dengan alasan tak suka berada di sana, dan yakin betul akan lebih baik sebentar lagi.
Dan lebih menyebalkan lagi Gian sesulit itu untuk menegak larutan oralit yang Radha buat dengan sepenuh hatinya. Menyebalkan memang, dia sedang sakit tapi minum obat begitu enggan.
"Is ayolah, kalau begini terus kapan Kakak sembuhnya," ujar Radha kembali membujuk suaminya dengan lembut, karena sejak tadi memang Gian menolak dengan berbagai alasan agar larutan itu tak masuk dalam perutnya.
"Gak enak, Ra ... asin, obat apaan begitu."
Radha mengelus dada, ternyata ini maksud ucapan Jelita yang mengatakan sabarmu diperlukan ketika Giam sedang sakit.
"Dikit aja, atau aku panggil Papa aja ya?" tawar Radha berharap Gian akan mengangguk, dan hasilnya sama saja, pria itu menggeleng berkali-kali.
"Ogah, pasti pahit."
"Yang namanya obat pahit, mana ada yang gurih, Kak." Radha tak tega sebenarnya, keringat suaminya itu kembali bercucuran di keningnya, dengan lembut dan kesabaran yang masih tersisa Radha menyekanya.
"Ck, sambal setan!!! Awas saja kau Asep, besok aku bakar warungmu."
Plak
Tangannya spontan menepuk bibir Gian pelan, mulut ceplos Gian benar-benar tak bisa di rem.
"Heh, kenapa jadi begitu, Kakak yang salah, Mang Asep yang kena gimana ceritanya."
"Bangun, minum obatnya atau aku akan minta Papa suntik pantatt Kakak, mau?!!"
"Lakukan saja jika kau mau aku kurung selama 3 bulan di kamar ini," ancam Gian balik yang ternyata tak membuat Radha panik sedikitpun.
"Oke kalau begitu," tuturnya sembari meraih ponsel di atas nakas, dan hal itu belum Gian ketahui.
......... "Hallo, Pa," ucap Radha yang membuat mata Gian sontak membeliak dan dia bangun secepat itu.
__ADS_1
Tbc
Gian enaknya di suntik mati yagasi?ðŸ˜