Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Gian untuk Radha (Khawatir)


__ADS_3

Terserah, apa yang Gian perbuat dengan kamarnya ini. Yang jelas Radha hanya harus mengerjakan tumpukkan tugas yang sejak beberapa hari menantinya. Bahkan usai pernikahan, Radha tak terlalu fokus mengerjakan tugasnya.


Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan masih banyak lagi. Belum lagi tugas tambahan yang diberitahukan temannya. Andai saja pernikahan dan semua rangkaian pristiwa kemarin tak ia terjadi, mungkin kini ia telah beristirahat dengan tenang.


"Astaga!! Kenapa gue bisa lupa, rumusnya pakek yang mana ya?"


Seketika otaknya melemah, mungkin terlalu banyak tugas yang menantinya. Dan juga waktu yang begitu sedikit membuatnya sangat amat kesulitan, Radha tak terlalu bodoh, namun bukan juga siswa terlampau pandai dalam segala hal. Tentu saja ia masih kerap merasakan kebingungan dalam menyelesaikan masalah.


Di tengah usahanya yang berusaha fokus pada satu soal, telinganya merasa terusik kala Gian keluar dari kamar mandi. Tentu saja hanya dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Seketika pikirannya kacau, permasalahan yang hampir saja ia pecahkan kini bubar begitu saja. Kekaguman pada tubuh sang Suami membuat Radha menelan salivanya. Jujur saja, ia menyukai hal semacam itu, layaknya postur tubuh para idolanya.


"Radha fokus, masih cakepan badan Bright titik!!"


Radha mencoba menghilangkan pikiran kotornya yang tiba-tiba saja tersemat kala menatap otot-otot Gian.


Gian tertawa sumbang, ia menarik sudut bibir sembari menggeleng pelan. Wajah polos istri kecilnya yang tengah menyembunyikan semburat malu.


Melihat pergerakan Gian, firasat Radha tiba-tiba tak enak. Ia berusaha untuk bersikap biasa saja meski kakinya terasa gemetar. Tentu saja Gian akan memandangi dirinya lagi dan lagi.


Radha berdetak kala tubuh Gian dengan sengaja menempel di pundaknya. Gian benar-benar tak menganggap kehadirannya.


"Kak, bukuku basah," ujar Radha menekan kalimatnnya.


Memang benar bukunya kini menjadi korban, Gian menggosok rambutnya dengan kekuatan tak biasa. Sengaja mengacaukan ketenangan istrinya.


"Lalu apa urusannya denganku?"


Pertanyaan paling menyebalkan yang pernah Radha dapatkan, entah kehadirannya kini Gian anggap apa. Pria itu hanya fokus dengan kegiatannya.


"Kakak masih bertanya, aku jadi harus mengulang semuanya!!"


Suara itu melengking, cukup kuat dan berhasil menggetarkan gendang telinganya. Pria itu memejamkan sejenak matanya, suara itu benar-benar membunuhnya.

__ADS_1


"Astaga!! Zura, kita bukan di hutan kau tau bukan?!!"


Cebikan Radha yang tampak jelas dari pantulan kaca lebar di depannya membuat Gian semakin dendam. Bibir mungil Radha yang kini maju beberapa centi membuatnya ingin ********** seketika.


"Bisakah bibirmu biasa saja?" tanya Gian gemas sambil meremat bibir Radha dengan tangan jahilnya.


"Hmmmppp!!"


Dengan seenak jidat Gian mempermainkan bibir mungil istrinya, kekesalan Radha seakan menjadi kemerdekaan baginya. Tertawa menang dan berlalu begitu saja, tak lupa ia lemparkan handuk lembab yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya tepat di wajah Radha.


"Aawwww!! Kakak!!"


Ia tak terima, perlakuan Gian benar-benar luar biasa. Sungguh kurang ajar, pikirnya. Wajah datar tanpa ekspresi dan seakan tak berdosa yang Gian perlihatkan membuat Radha semakin meradang.


"Jemur, Zura," ujar Gian tanpa menatap wajah sang istri. Ia berlalu begitu saja usai merasa puas kali ini.


"Ck, kemana tangannya, apa sudah kehilangan fungsi?!"


Meski penuh dengan kemarahan, Radha masih menuruti perintah Gian. Ya, bagaimanapun juga Gian adalah suaminya. Dan jelas Radha banyak mendapat berbagai masukan dari Jelita tentang kewajiban seorang istri meski belum bisa sepenuhnya pasangan dalam hatinya.


"Hoam."


Sudah lebih dari 3 jam Radha berkutat dengan tugasnya. Gian yang memilih ke kantor usai membersihkan diri membuat Radha dapat mengerjakan tugasnya dengan sedikit tenang. Meski masih belum sebagian, karena Radha masih kerap mendapat gangguan dari notifikasi pesan yang membuatnya mengulur pekerjaan.


Hingga kantuk itu semakin melanda dan ia tak mampu lagi menahannya, dengan pena yang masih ia genggam, dan buku yang masih terbuka disertai dengan berbagai alat tulis masih berserakan di sana.


Ceklek


Tanpa sepengetahuannya, suaminya masuk masih dengan pakaian rapinya. Gian tak pergi kemanapun setelah memastikan keadaan kantor hari ini, jika biasanya ia akan pergi ke Apartemen, namun untuk saat ini memilih untuk pulang ke rumah utama terlebih dahulu.


Sudah tentu semua ini demi Radha, Jelita yang juga tak mengizinkannya untuk ke Apartemen jika sendiri membuat Gian sedikit pusing. Namun, jika hendak membawa Radha bersamanya, ia takut takkan mampu menahan diri jika tinggal hanya berdua dengan wanita kecil itu.


"Apa tugasnya sebanyak itu?"

__ADS_1


Gian melangkah, perlahan memeriksa tugas-tugas Radha. Pria itu mengangguk pelan sembari tersenyum bangga. Banyak hal yang cukup menjadi alasan pria itu mengagumi istrinya, di usia yang masih tergolong muda Radha mampu mengatur dirinya.


"Ck, apa gurunya sudah kehilangan akal?"


Ia benar-benar tak habis pikir, bukan prihal tingkat kesulitannya saja. Namun, jumlah soal yang begitu banyak membuat Gian merasa guru istrinya berlebihan.


Melihat istrinya tertidur lelap, Gian memutuskan untuk memindahkan Radha ke tempat tidur agar wanita itu lebih nyaman. Pelan-pelan ia takut tidurnya Radha justru terganggu.


"Cantik, dia masih terlalu muda, Pa."


Gian menatap lekat wajah Radha inci demi inci, pria itu tersenyum hangat menatap pipi mulus itu. Tak ada yang salah dengan fisik Radha, semua nyaris sempurna.


Wajah ayu anggun tanpa kurang suatu apapun membuatnya merasa tak tega jika kenyataan bahwa kebebasan gadis kecil yang seharusnya kini bahagia bersama teman-teman seusinya itu hilang lantaran kehendak orangtua.


Ia menyibakkan rambut indah Radha yang ia anggap menggangu, ia hanya ingin menatap wajah itu lebih lama. Entah bagaimana nantinya, yang jelas Gian hanya merasa akan sangat amat bersalah jika ia lagi-lagi menuntut egonya di atas penderitaan Radha.


"Huft, lalu bagaimana denganku?" tanya Gian menatap nanar keluar jendela kamar.


Pria itu memejamkan matanya, memijit pangkal hidung dan kali ini ia benar-benar pusing lantaran takdir hidupnya yang penuh kejutan dan tanda tanya.


Memikirkannya saja ia sudah pusing, hidup dalam lingkup penghianatan takkan mampu memberikan kebahagiaan. Namun, mana mungkin ia menyatukan dua mawar cinta dalam satu jambangan.


"Eeengghh," erangan Radha membuat Gian tersadar dari lamunannya. Pria itu segera menggapai tangan mungil istrinya kala wanita itu berusaha mencari sesuatu di sekitarnya.


"Ada apa dengannya?"


Gian khawatir, ia periksa tubuh Radha. Rasanya tak mungkin jika hanya prihal tugas sekolah ia sampai sakit. Dan jika benar adanya itu penyebabnya, sudah tentu Gian takkan diam saja.


"Apa mungkin sakit?"


"Astaga, tubuhnya benar-benar panas."


Ia jelas saja panik, segera ia hubungi Windy dan memintanya datang tanpa peduli apa kesibukan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Dasar bodoh!! Istriku sakit, Windy, bukan waktunya main-main." Tanpa sadar ia sekhawatir itu pada keadaan Radha, sangat amat khawatir.


Tbc


__ADS_2