
Menanti Gian di dalam sana nyatanya membuat Radha mengantuk, matanya mulai mengecil dan ia mencari posisi ternyaman berharap ia bisa tidur nantinya.
Tidak, apa ini? Sial!! Bisa-bisanya dia sakit perut saat begini. Bukankah tadi ia hanya mengantuk? Radha yang tadinya mengantuk berat kini justru meringis menahan sakit perutnya.
"Aduh, kak Gian masih lama gak ya?"
Radha menggigit bibirnya berkali-kali, perutnya benar-benar menyerang di saat yang tidak tepat. Mau kemana dia? Mana mungkin berlari ke masjid itu. Sedangkan di sana laki-laki semua.
Ia tak bisa lagi menahannnya lebih lama, melihat ke luar berharap ia akan mendapat kemudahan. Hingga keputusan itu semakin bulat, kala ia kesal dengan aroma kentutnya sendiri.
"Nyesel gue ikutan makannya, mana minta dua lagi."
Radha baru ingat, jika dia makan beberapa roti yang Ele bawa dari rumahnya. Entah bekal atau apa, tapi yang jelas tas teman barunya itu lebih mirip seseorang yang hendak piknik daripada sekolah.
Tak punya pilihan lain, Radha keluar dan menghampiri pemilik warung depan masjid. Tentu saja sembari berjalan ia tengah menyusun kalimat agar mereka dengan rela memberikan tumpangan untuknya buang hajat.
"Permisi, Bang."
"I-iya ... kenapa?"
Pemuda itu tersihir dengan kecantikan Radha yang memberikan senyum terhadapnya. Manik indah pertama yang ia lihat secara langsung, biasa ia menemukan wanita cantik, tapi belum pernah secantik Radha.
"Hm, boleh numpang ke belakang nggak, Bang? Saya kebelet," pinta Radha sembari menggigit bibirnya lagi, sedikit malu sebenarnya, tapi jika ia tahan mana mungkin ia rela menahan malu di depan Gian.
"Oh boleh-boleh, yuk saya tunjukkin, nanti kamu salah kamar lagi," ujar pemuda itu dengan senang hati, ya meskipun bukan hanya karena cantiknya Radha ia rela membantu sesama.
"Makasih, Bang."
Hatinya berseru, Iyees!!! Akhirnya akan tuntas penderitaan ini. Radha setengah berlari, tak ada orang di rumah ini, melihat ornamen dalam rumahnya, Radha dapat memahami pria ini bukan orang biasa.
"Sebelah kanan ya, awas nanti kepeleset agak licin soalnya."
Radha mengangguk, rumah ini tampak sederhana tapi luar biasa bermakna. Ia segera menuntaskan keinginannya, wajahnya sudah memerah menahan sakit sejak tadi.
Tak ingin berlama-lama, ia menuntaskan dengan cepat. Tak mungkin Radha akan menunda waktu jika di tempat orang lain, lega sekali, hanya itu yang Radha rasakan kini.
__ADS_1
"Sudah?" tanya pemuda itu yang ternyata menunggu Radha tak jauh dari kamar mandi, jelas saja hal itu membuatnya malu, sial kenapa harus malu berkali-kali, pikir Radha.
"Iya udah, makasih ya, Bang." Mulutnya berucap demikian, tapi hatinya tengah memikirkan apa pria itu mendengar bagaimana dia di dalam sana? Jika iya, alangkah malunya Radha.
Radha berlalu keluar bersama pria itu di depannya, sedikit heran kenapa pria ini tidak ke masjid padahal berada di depannya, tidak mungkin datang bulan, pikir Radha.
"Makasih sekali lagi, Bang."
"Santai, sering-sering ya, Neng."
Ucapan macam apa itu? Jika boleh memilih ini adalah kali terakhir ucap Radha dalam benaknya. Meski demikian ia hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Ehm, Abang nggak sholat?"
"Saya non muslim."
Oh iyaya, baru Radha sadar. Seharunya ia tak bertanya namun rasa penasarannya lebih penting. Karena dilihat dari wajahnya, pria itu Islamable, pikirnya.
"Oh maaf saya nggak tau, Bang .... Sorry-sorry," tutur Radha merasa tak enak, ia menunduk berkali-kali dan pria itu hanya tertawa geli.
"Ntw nungguin siapa? Kakaknya ya?" tanya pemuda itu, ia melihat dengan jelas bahwa tadi Radha turun dari salah satu mobil yang ada di depan masjid itu.
"Iya, Kakak saya."
Pria itu mengangguk berkali-kali, ada kelegaan sesaat ketika Radha mengatakan bahwa yang sedang shalat itu adalah Kakaknya.
"Juan," ucap pria itu tiba-tiba mengulurkan tangannya, memang sepertinya Radha dan pria itu sama, mudah akrab dan membuka diri terhadap orang lain.
"Radha." Begitupun yang Radha lakukan, ia menghormati siapapun yang memperlakukannya dengan baik.
Dalam pertemuan secepat itu, bahkan mungkin Juan takkan temui lagi, ia takkan melepaskan kesempatan. Ia merogoh ponselnya, dan meminta nomor ponsel Radha.
Radha yang polos merasa memberikan nomor ponsel bukanlah suatu masalah, dan tentu saja pria tampan yang berada di depannya bahagia bukan main.
"Aku simpan nomornya boleh?" tanya Juan tanpa basa basi, karena perempuan ini telah membuatnya terpukau sejak pertemuan pertama.
__ADS_1
"Iya silahkan," jawab Radha mengiyakan, tentu saja boleh jika hanya sekadar menyimpan nomornya, kan itu hak masing-masing, pikir Radha.
*******
Kembali ke tempatnya, Radha masih sabar menunggu Gian. Walau tanpa ponsel, dan tak ada yang menjadi kesibukannya, ia memutuskan untuk duduk diam dan menunggu sembari mendengar khotbah itu. Sekalian pahala, pikir Radha.
Hingga apa yang ia nantikan tiba, di antara segerombolan orang pria yang ia maskud berada di sana. Gian semakin dekat, dan hatinya luar biasa girang begitu melihat Gian membawa nasi kotak yang ia maksud.
"Hai!! Assalamualaikum," tutur Gian dengan senyum manisnya, ia melepas peci dan mengacak rambutnya.
"Waalaikumussalam," ucap Radha dengan senyum mengembangnya, ketampanan Gian benar-benar berlipat ganda di matanya.
"Nih, Kakak dapet satu, rebutan sama anak kecil tau." Gian menyodorkan nasi kotak yang ia sendiri bingung kenapa anak kecil tadi sampai menangis hingga membuatnya rela menggantinya dengan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Makasih, udah lama nggak liat," tutur Radha menatap sendu kotak nasi berwarna putih itu, mungkin beberapa tahun lalu ia pernah melihatnya kala Ardi masih menjadi papa terbaiknya.
"Lama nunggunya ya?" Gian bertanya sembari menatap lekat istrinya, memang cukup lama jika dikategorikan untuk hal menunggu, tapi tidak untuk ibadah, pikir Gian mendadak islami.
"Enggak kok, nggak lama."
Radha berucap tanpa menatap Gian, yang ia lihat kini hanya nasi kotak itu. Memeriksa isinya dan senyumnya terukir jelas begitu menatap ayam bakar bagian sayap berada di sana.
"Hm, apa yang istimewa, Ra," tutur Gian mengelengkan kepala berkali-kali, merasa heran kenapa istrinya sampai sesenang itu melihatnya.
"Istimewa dong, ini adalah nasi yang hanya bisa didapatkan oleh kaum laki-laki," tuturnya kemudian membuat Gian sejenak berpikir, apa yang dimaksudkan istrinya.
"Ahahah iya juga."
"Kakak sering dapet?" tanya Radha kemudian membuat Gian menggeleng.
"Ih pasti jarang shalat jum'at kan," cibir Radha yang membuat mata suaminya membulat sempurna, tuduhan macam apa ini? Seumur hidup baru kali ini Gian mendapat perkataan macam ini.
"Sembarangan!! Ya tidak mungkin Kakak posting kalau ibadah, jangan samakan Kakak seperti om Randy ya." Gian mencebikkan bibirnya, istrinya itu hanya tertawa dan kembali fokus pada nasi kotak yang ia dapatkan dengan harga 400 ribu itu, ya daripada anak itu meraung di masjid pakai toa, pikir Gian.
Guys, ini hari seninđź’¦
__ADS_1
Boleh minta Vote Giannya?🤗 Terima kasih, love-love.