Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 254. Waktu Bersama.


__ADS_3

Pagi menjelang, putra dan putrinya sudah lebih dulu terbangun. Seperti biasa, tugas membangunkan Gian adalah bagian Kama dan Kalila, karena tak mungkin Gian menolak jika kedua buah hatinya yang turun tangan.


Mulut kedua buah hatinya yang tak bisa diam, ditambah lagi dengan tangan jahilnya yang tak henti berkuasa di atas wajahnya membuat Gian perlahan membuka mata.


"Eeehmm, kalian ternyata."


Pria itu menarik sudut bibir, meski mereka belum mandi, tubuh mereka sungguh menjadi candu bagi Gian.


"Mama mana?" tanya Gian pada Kalila, dia belum bisa bicara dengan benar, baru mulai sepatah kata dan belum mampu merangkai kata.


Gian beranjak bangun dan menggerakkan tubuhnya, akhir pekan yang sangat Gian nantikan. Ia ingin menghabiskan waktu bersama kedua buah hatinya sepuas mungkin.


"Hoam, kalian nggak ngantuk? Padahal masih pagi," ucap Gian menatap kedua buah hatinya bergantian, mata mereka begitu segar, melebihi nanas matang, pikir Gian.


Gian membuka tirai jendela, udara pagi sangat baik untuk untuk tubuh. Menghilangkan kantuk sepertinya akan sangat efektif, pikirnya.


Membiarkan mereka berada di tempat tidur, sepertinya tidak akan membahayakan. Karena kalaupun bergerak, mereka berdua belum mampu terlalu cepat.


Dari jarak yang tak begitu jauh, Gian menatap tingkah keduanya. Entah apa yang kini dipikirkan kedua otak yang masih suci itu, namun yang jelas Gian hanya merasakan kedamaian bertubi mana kala senyum itu terbit di wajah Kama dan Kalila.


"Kamu dari mana?"


Gian menatap lekat sang istri yang kini sudah terlihat begitu segar.


"Bantuin Mama, guci kesayangannya di ruang tamu pecah," jawab Radha yang membuat Gian menghela napas pelan, lagi-lagi Jelita membuat istrinya repot karena kepentingan pribadinya.


"Kenapa minta kamu? Layla apa gunanya? Sayang sama pembantu sampai minta menantu buat beresin begituan?"


Gian emosi tiba-tiba. Ia tak terima jika Radha kerap dimintai hal-hal yang seperti ini, sampai kapanpun ia takkan rela.


"Kak, aku yang mau ... karena Mama beresin sendirian, Layla sakit, bi Asih di dapur masakannya gak bisa ditinggal," jelas Radha panjang lebar karena memang kehendaknya membersihkan pecahan benda keramat kesayangan Jelita itu.


"Alasan aja terus sakit, sakit jiwa dia."


Sempat membuat Radha celaka, Gian kini benar-benar membenci Layla. Sudah beberapa kali Gian meminta Jelita agar gadis itu segera pergi dari rumah ini, akan tetapi hati nurani Jelita tak setega itu jika harus mengusirnya.

__ADS_1


"Heih gak boleh gitu bilangnya."


Meski sempat dibuat celaka, Radha berusaha untuk tak sedendam itu. Selagi Layla tak mengusiknya, Radha merasa dirinya aman-aman saja. Walau, memang dia sehati-hati itu dan menutup diri dan memilih tak pernah meminta bantuannya sama sekali.


"Hm, kamu sama Mama sama saja, terlalu baik, dan kalian memberikan kesempatan untuk seseorang melukai kalian kapan saja."


Padahal suasana hatinya baik-baik saja, mengingat semua itu Gian kesal tiba-tiba.


"Kenapa mukanya begitu?" sentak Radha yang merasa tak suka dengan ekspresi Gian.


"Kok bentak? Kamu kenapa jadi galak banget si, Ra." Wajahnya berubah tiba-tiba, padahal Radha hanya berbicara dengan nada yang sedikit meninggi, bukan bermaksud marah atau lainnya.


"Baperan, mandi sana ... mukanya kusam banget," tutur Radha 100 persen berbohong, ia hanya mengalihkan pembicaraan agar Gian tak merasa jika dirinya benar-benar marah.


"Masa iya?" tanya Gian tak percaya, karena baru kali ini Radha mengatakan hal demikian tentangnya.


"He'em ... Oh iya!! Hari ini jadi kan?"


Radha menagih janji Gian untuk mengajaknya pergi hari ini, walau hanya sekadar berjalan-jalan ke tempat yang tak begitu jauh dari rumah tak apa, karena yang Radha butuhkan hanya waktu bersama Gian dan kedua anaknya.


"Siapa juga yang bakal mengira aku gadis," ujar Radha menggeleng pelan, dia selalu membawa salah satu anaknya dalam gendongannya kemanapun ia pergi sebagai pertanda bahwa dia sudah menikah dan mempunyai anak.


"Banyak lah, masa masih ditanya." Gian masih sempat menjawab ucapan Radha yang sebenarnya begitu kecil, mungkin maksud Radha agar Gian tak mendengarnya, namun nyatanya pendengaran pria itu sangat baik pagi ini.


-


.


.


.


Buah hatinya memang benar-benar baik, bahkan sama Sekali membuat Radha lelah. Kadang kala yang justeu membuat pikiran Radha rumit adalah suaminya sendiri.


Dengan membawa Asih untuk turut serta bersamanya, Gian tak ingin jika nanti Radha justru kesulitan. Walau dirinya bisa membantu, akan tetapi tetap saja menjaga dua anak akan sangat sulit.

__ADS_1


Pusat perbelanjaan adalah tujuan utama Radha, tentu saja ia akan memburu pakaian dan perlengkapan untuk kedua malaikat kecilnya. Kedua buah hatinya tumbuh sangat cepat, dan pakaian mereka bahkan sudah banyak yang sudah tak muat lagi.


Tak hanya Radha, nyatanya Gian juga sibuk mencari berbagai hal yang menunjang penampilan putra dan putrinya.


"Sayang, buat Kalila boleh ya?"


"Rambutnya masih terlalu pendek, Kak, belum bisa di jepit-jepit begitu."


Radha menghela napasnya kasar, sejak tadi yang Gian pedulikan hanya tentang aksesoris yang bahkan belum bisa Kalila gunakan, padahal di rumah sudah banyak, dan Gian seakan tak ada puasnya.


"Ya kan nanti, satu tahun lagi rambutnya pasti panjang, iya kan, Bi?"


Ia meminta validasi dari Asih agar Radha mengiyakan kemauannya. Padahal memang untuk apa, mungkin jepit itu baru bisa Kalila gunakan ketika dia sudah bisa berjalan.


"Betul, Non, sekarang saja sudah kelihatan," tutur Asih membenarkan.


Ia, Radha mengangguk. Jika dilihat, sudah lebih banyak barang yang Gian ambil daripada dirinya. Melihat benda lucu sedikit saja Gian tergiur tanpa berpikir untuk apa gunanya.


"Ini juga boleh ya?!!" Antusias sekali, dia meminta izin tapi tak butuh kata iya dari Radha.


"Kak, sebenarnya yang mau itu mereka atau kamu sih?"


"Tapi ini terlalu lucu, Ra."


"Kaca mata?" Radha menggeleng tak habis pikir, mau sebanyak apa Gian mengumpulkan benda itu untuk mereka.


"He-em, ini cocok buat muka Kama dan Kalila yang selebar martabak bangka," tutur Gian, jika saja Kalila sudah mengerti, mungkin perkataan itu akan menyakitkan bagi kaum perempuan.


"Udah cukup ya, lagian Kama dan Kalila masih kecil, yang ada mereka gigit kacamatanya."


"Persiapan, Ra, nanti kalau mereka agak gedean dikit kita nggak usah capek-capek lagi belanja," jawabnya benar-benar bisa mencari alasan, memang benar jika Gian yang bertindak mungkin hanya Tuhan yang mampu menggerakkan hatinya agar berhenti.


"Mau sebanyak apa? Kamar mereka bentar lagi penuh loh ya," ujar Radha hiperbola.


Padahal belum sesesak itu, akan tetapi memang sudah terlalu banyak yang Gian siapkan untuk kedua buah hatinya, entah itu dia pergi sendiri atau meminta Reyhans untuk membeli segala macam yang membuatnya gemas, namun sayang yang Gian pedulikan hanya mainan dan hal-hal yang membuat putra putrinya terlihat lucu saja, bukan berfokus pada pakaian untuk mereka kenakan.

__ADS_1


❣️


__ADS_2