Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 208. Penggangu


__ADS_3

Sarapan bersama setelah sekian lama, bagi Reyhans hal ini bagaikan kejutan yang sama sekali tak ia duga. Meski buka kali pertama, akan tetapi biasanya mereka makan bersama hanya ketika mendampingi Gian secara formalitas bersama rekan bisnisnya.


Sudah sekian lama, Raka tersenyum tipis melihat putranya tak bisa menolak satu meja bersama Reyhans. Perkara anak muda memang rumit, bahkan Raka mengakui jika hubungan mereka tak bisa Ia mengerti.


Berulang kali Raka meminta Gian untuk memaafkan apa yang menjadi kesalahpahaman putranya. Karena tak mungkin seorang reyhans mengkhianati putranya kala itu.


Mungkin hanya karena cemburu, belum lagi memang wanita yang dulu Gian cinta tak membalas sebaliknya. reyhans hanya korban dari kemarahan Gian yang sebenarnya sebenarnya tertuju pada Adinda, sungguh menyebalkan nama itu bagi Raka.


"Oh iya, Gian, Papa mau tanya, kenapa pak Gilang dan teman-temannya tidak pernah Papa temui lagi?" tanya Raka masih penasaran dengan menghilangnya salah satu pejabat tinggi perusahaan, padahal sama sekali ia tak memecatnya, pikir Raka.


"Reyhans yang pecat, Pa," jawab Akan mencari kambing hitam, Sasaran tidak tahu adab memang.


"Dia yang minta, Om."


"Kalian berdua sama saja, kenapa harus diam-diam memecatnya? Papa kau anggap apa, Gian?"


Tak habis pikir dengan putranya yang terkadang membuatnya sedikit sakit kepala. Bertindak semaunya dan takkan pernah mau menjilat kembali ludahnya, itu bukan Gian sama sekali, mana mungkin ia mau.


"Papa terlalu baik, nunggu mereka tobat ya kapan, keburu meninggal, Pa."


"Benar, Om, karena memang tidak mungkin kita pertahanan lebih lama jika hanya merusak perusahaan," tutur Reyhans membenarkan ucapan bosnya kali ini, karena memang untuk hal ini dia setuju pada Gian.


"Iya, Pa. Jangan hanya karena mereka berjasa, Papa jadi mau diinjak harga dirinya, tegas itu harus ... bukankah Papa selalu mengajarkanku masalah itu?"


"Ya sudah, terserah kalian jika memang itu sudah keputusan paling baik."


Sepertinya Gian memang lebih mampu berkuasa dibanding dirinya, jadi akan lebih baik jika Raka tak mempermasalahkan masalah ini.


Berada di antara pria dewasa dengan otak dan kecerdasan luar biasa, baru kali ini Radha merasa dirinya sia-sia belajar selama bertahun-tahun. sama sekali ia tak paham, bahkan sialnya mereka bertiga kerap berbicara dengan menyematkan bahasa asing yang membuat telinganya terasa sedikit sakit saja.


"Pengumuman kelulusanmu kapan?"


Puas melamun dan makan rotinya dengan pelan, Radha tersadar kini suaminya bertanya. Tentu saja harus dengan tepukan pelan dibahunya baru Radha sadar.

__ADS_1


"Nggak tau, Kak ... lagian pasti lulus, kan."


Benar juga, kalian semisal tak luluspun mau apa dia? Mana mungkin sekolah lagi, pikir Radha merasa tak masuk akal.


"Mau hadiah apa?"


"Hah? Minta apa?" Bukannya menjawab Radha malah balik bertanya, dirinya masih belum bisa memahami situasi, pasalnya kenapa Gian harus membicarakan hal ini sekarang, pikirnya.


"Jawab saja, Ra ... minta saham atau sertifikat rumah begitu," ujar Gian memberikan pilihan, suaminya kenapa jadi agresif tiba-tiba.


"Kau kira istrimu itu gila harta atau bagaimana, dasar aneh."


Raka mencibir pertanyaan putranya, dan juga kenapa Gian mampu bersikap seakan-akan di ruangan ini hanya ada dirinya dan Radha. Sedangkan Reyhans disebelahnya hanya menarik sudut bibirnya tipis namun enggan untuk terbahak dan ikut campur.


"Siapa tahu radha mau, Papa."


Benar kata Reyhans dulu, bahwa Gian jatuh cinta tak main-main. Bahkan dahulu Gian rela diamuk Raka karena mengeluarkan uang yang tak sedikit demi ulang tahun Adinda, wanita gila yang merusak kehidupan putranya bersama teman sebayanya ini.


"Kau belum berniat menikah, Reyhan?" tanya Raka dengan nada serius, ia benar-benar penasaran apakah Reyhans masih menyukai wanita.


"Dasar egois, tugasmu seharusnya memang tanggung jawabmu, Gian."


"Tapi aku kesulitan kalau sendiri, Pa."


Dasar menyebalkan, nyatanya masih saja butuh Reyhans walau setiap harinya hidup Gian hanya semena-mena.


-.


.


.


"Kenapa? Apa ada yang aneh, Rey?"

__ADS_1


Gian menyadari sejak tadi Reyhans memang terlihat tak fokus kedepan, entah apa yang ia lihat hingga melaju secepat itu tanpa perintahnya.


"Mobil itu mengikuti kita, dan bahkan sejak aku menjemputmu tadi pagi, mau apa sebenarnya."


Gian menoleh, ia tak familiar dengan mobil hitam yang berada di belakangnya. Selagi bukan mobil patroli, Gian merasa dunianya masih aman.


"Kau yakin? Itu mobil yang sama?"


"Hem, sangat yakin, mengingatnya dengan jelas," tutur Reyhans seyakin-yakinnya.


"Mau apa dia? Terus saja, mungkin hanya kebetulan satu arah."


Mencoba untuk tak terlalu memikirkan, Gian hanya merasa hal ini sudah sering ia rasakan, bahkan saat pulang sendirian, tapi ia tak mau terlalu percaya diri dengan mengatakan jika itu benar mengikuti Dirinya.


"Mencurigakan, Gi. Jika orang jahat bagaimana?"


Tak menutup kemungkinan, karena saat ini manusia mana yang bisa dipercaya. Zaman semakin kejam, manusia mampu lebih kejam dari hewan. Dan Reyhans paham bagaimana kerasnya dunia bisnis, terutama saat ini nama Gian mulai diagung-agungkan, Reyhans hanya khawatir pada sahabatnya ini, itu saja.


"Santai, lagian apa salah kita? Kau juga tidak melakukan hal macam-macam," ujar Gian tampak tenang, berbeda dengan Reyhans yang justru gugup luar biasa.


Firasatnya tak pernah salah, entah kenapa justru dirinya yang tak bisa bernapas lega. Diam, Reyhans masih memantau mobil yang tadi mengikutinya, dan ketika kecurigaan itu memuncak, mobil itu mendahuluinya.


"Gi, di rumahmu ada siapa?"


"Kenapa kau bertanya? Kau lihat sendiri kan tadi pagi?"


Hanya Radha dan beberapa pekerja dirumah, pertanyaan Reyhans menimbulkan tanya dibenak Gian. Ada apa, dan kenapa begitu mencemaskan begini.


"Apa tidak lebih baik kau minta mamamu pulang? Dia sendirian, Gi."


"Jangan membuatku khawatir, Reyhans, tolong fokus, biasanya kita tidak begini."


.......

__ADS_1


Bersambung!!


Nanti lanjut, aku kesel luar biasa ini tiba-tiba keypadnya otomatis, jijik banget pegel ngeri dan dia berubah-ubah katanya. Mau nangis parah!!


__ADS_2