
"Mama!!!!"
"Kebiasaan, dasar orangutan." Jelita menganggap teriakan yang bahkan ia dengar hanya sebagai angin berlalu, dasar sinting, bisa-bisanya Gian bahkan mengetuk jendela kamar Jelita dari luar meminta putranya kembali.
Kama menyadari kehadiran sang Papa diluar sana, cerobohnya Jelita yang lupa menutup jendelanya. Seperti anak kecil pada umumnya, Kama hanya menampilkan tawa cerianya karena mengira Gian tengah mengajaknya bercanda.
"Mama, buruan deh ... kenapa harus dikunci segala sih."
Gian hanya ingin putranya, dan Jelita tengah mempertahankan pangerannya. Ia tak peduli bagaimana Gian yang berusaha menbuatnya luluh dengan cara yang bagaimanapun.
"Ahahaa lihat Kama malah anggap kamu lucu, Gian," tutur Jelita karena Kama semakin menjadi, tawanya serenyah itu karena mungkin ia cukup merindukan Gian.
"Ya Tuhan, kamu kenapa malah ketawa, Sayang." Andai Kama mengerti, mungkin Gian sudah memohon dengan seribu bahasa pada putranya.
Bukannya berhenti, Kama seakan kecanduan dengan gerakan-gerakan yang Gian perlihatkan sebagai bentuk protes pada mamanya.
"Seru ya, Sayang ... itu namanya topeng monyet, Kama." Jelita berucap begitu lembut, tanpa dosa dan terdengar sangat jelas oleh Gian.
"He!! Mama," celetuk Gian kesal bukan main, pria ini frustrasi, bukannya mendapatkan iba, ia justru seakan terhina.
"Kamu berhenti teriak-teriak, Gian, nggak malu sama pak Budi? Dari tadi liatin kamu noh." Jelita menunjuk Budi yang sejak tadi melongo di belakang, bahkan kucingnya sudah lari entah kemana lantaran fokus menyaksikan apa yang Gian lakukan.
"Mama berhenti siksa aku, izinkan aku masuk ... aku mau anakku, Ma."
"Nggak bisa, ini memang waktunya Kama sama Omanya, salah sendiri nggak izinin Mama punya bayi, tanggung jawab dong kalau berbuat sesuatu."
Jelita membawa masa lalu, hal yang telah terjadi beberapa waktu silam masih menjadi hal yang masuk dalam pikirannya. Sungguh sebesar itu dendamnya hingga bermaksud menguasai Kama setiap harinya.
"Mama jahat banget sih, Kama, nangis lagi dong ... kamu sama Papa aja," pinta Gian yang jelas saja takkan dimengerti oleh bayi seumuran Kama.
Mereka cukup mengganggu, Raka yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat Gian di luar jendela. Sampai kapan istri dan putranya ini akan berhenti, kenapa mereka justru semakin menjadi.
"Gian, jangan seperti anak kecil ... kembali ke kamarmu sana."
"Papa tumben nggak bela aku, aku cuma mau Kama ... bilangin istrinya itu anak orang, Pa."
Berharap Raka akan membelanya, nyatanya tidak sama sekali. Pria itu justru mendekati jendela dan menutupnya rapat-rapat. Tak lupa tirai yang juga ia tutup agar Gian tak bisa mengintip walau sedikit.
__ADS_1
"Hahaha terima kasih, Opa ...." Jelita memperagakan seakan Kama yang bicara, jika biasanya Raka akan memilih Gian, lain halnya kini.
Dengan kehadiran Kama dan Kalila, ketika ada perang dunia IV antara ibu dan anak yang memperebutkan malaikat kecil itu, Raka akan lebih memilih membela Jelita, karena dia juga menginginkan cucunya berada di dekatnya setiap hari.
"Semakin mirip Gian sewaktu kecil, tapi Kama pendiem ya, Sayang?"
Memang, untuk saat ini Kama tidak terlalu banyak tingkah seperti Kalila. Bahkan jika dibawa ke kamar atau diajak keliling halaman, Kama lebih cenderung diam, dan tak begitu ramah meski Budi dan juga Arti kerap mati-matian membuatnya tertawa.
"Iya, Mas ... mukanya persis Gian, tapi sifatnya mirip siapa?" Jelita menatap mata Raka, pertanyaan sarkas yang tujukan pada Raka.
"Kenapa kamu liat aku?" tanya Raka merasa aneh dengan tatapan Jelita, pria itu tak sadar maksud istrinya berbicara demikian.
"Lupakan saja, yang penting cucu kita sehat, iya kan, Gantengnya Oma?"
Hanya sibuk dengan mainan lembut yang kini menjadi favorit Kama, Jelita sangat berharap cucunya tumbuh gigi. Berharap nanti Gian akan merasakan siksaan lebih oleh putranya sendiri.
-
.
.
.
"Kak? Kenapa mukanya begitu?"
Radha bertanya dengan lembut, berharap suaminya sedang tidak terkena masalah ataupun lainnya. Wajahnya sangat-sangat tertekan, Gian ingin menangis rasanya saat ini.
"Capek," jawabnya singkat, ia hanya menarik sudut bibir kala Radha melepas jas dan dasinya.
"Mama culik anak kita, aku dibiarin teriak-teriak dari luar, jahat banget kan?"
Mengadu persis bayi yang kehilangan haknya. Jelita memang menjadi musuh paling bahaya bagi Gian di rumah ini.
"Kok culik, kan memang cucunya," tutur Radha menarik sudut bibir, wajar saja Gian selemah itu, nyatanya kebahagiaan dia tengah dirampas oleh mamanya sendiri.
"Ya culik namanya, kalau memisahkan paksa orangtua dari bayinya," tegas Gian tak terima begitu Radha membela serta mamanya.
__ADS_1
"Kakak kan bisa main malemnya, sekarang juga ada Kalila, nggak harus sama Kama juga dong."
Masih heran, kenapa Gian tak bisa berlaku adil untuk mamanya. Karena anaknya kembar, dia berusaha sebaik mungkin agar mereka tidak merasa ditinggalkan satu sama lain, ia berlaku sama sejak mereka masih bayi.
"Hm, menyebalkan ... kita pindah rumah aja gimana?" tanya Gian tiba-tiba, karena sepertinya ini adalah cara paling ampuh yang perlu ia lakukan untuk membuat sang Mama tidak bisa berkutik lagi.
"Pindah? Pindah kemana?" Radha mengerutkan dahi, pasalnya Jelita takkan mungkin memberikan izinnya.
"Ke Aceh aja gimana? Kalau nggak ke Bali aja, kan seru Kama sama Kalila jadi anak pantai sejak kecil." Ide yang sangat-sangat halal untuk dipukul jika Jelita mengetahui rencananya.
"Heh, mau diamuk Mama?" Radha mengernyitkan dahi, belum lagi yang Gian tuju sangatlah jauh.
Bisa-bisanya dia berpikir untuk pindah rumah, mereka belum memiliki anak saja Jelita tak melepaskan Radha sama sekali. Walau Gian sudah meminta untuk mengizinkan mereka hidup mandiri, akan tetapi wanita itu memilih untuk putra dan menantunya tetap berada di sisi mereka.
"Biarin, itu satu-satunya cara agar aku puas sama mereka, kalau masih ada Mama yang ada kita diganggu mulu, Ra."
Hanya bisa menggeleng pelan, sepertinya Gian perlu diperiksakan. Ada yang salah dengan otaknya, Radha hanya menepuk-nepuk pundak Gian lembut, berharap suaminya akan luluh walau sesaat.
"Mandi sana, sebentar lagi Kalila bangun ... Kakak bisa puas habisin waktu sama dia."
Gian mengangguk patuh, walau hatinya masih begitu malas, ia ingin membawa Kama dalam pelukannya sore ini, akan tetapi Jelita benar-benar berhasil menguasai Kama penuh, bahkan dia belum sempat mencium putranya.
Gemericik air mulai terdengar, dan Radha sebagai istri yang sangat baik hanya mengelus dada kala melihat pakaian Gian yang seperti biasa selalu berada di tempat yang tak seharusnya.
"Zura!!!" teriak Gian yang membuat Radha lagi-lagi mengelus dadanya pelan-pelan, kenapa suaminya segila ini.
"Apalagi?" sahut Radha mendekati pintu kamar mandi yang ternyata sama sekali tak Gian kunci.
"Buatin teh anget, kepalaku sakit."
"Hm, aku buatkan." Radha sudah menjawab sebaik mungkin, dan tentu saja itu masih menjadi masalah.
"Kamu nggak ikhlas ya?"
"Ikhlas woey! Udah deh mandi aja sana, ribet banget."
Gian hanya tertawa mendengar jawaban sang istri yang sepertinya kini terbakar emosi.
__ADS_1
TBC