Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 175. Sulit (Menerima)~ Gian


__ADS_3

Malas, rasanya hari ini Gian hanya ingin menghabiskan waktu bersama istrinya. Baginya sangat mubazir karena Radha bahkan membuang waktu belajarnya, ia terpaksa lagi-lagi libur dadakan karena Gian tak membawanya pulang ke rumah.


“Udah cepet sana, kak Rey mau nunggu berapa jam lagi, Kak.”


Nampaknya penyakit mager dan jiwa rebahan Radha kini menular pada Gian. Sudah hampir setengah jam Reyhans menunggu Gian, dan suaminya masih saja bersandar di tubuhnya. Rasanya duduk di sofa tak nyaman hingga Gian memilih bersandar di tubuh Radha.


“Huft, males, Ra … di kantor pasti ada Papa, bisa mati Kakak kalau sampai Papa tanya kejadian semalem.” Bahkan walau sedetik ia benar-benar enggan untuk beranjak, tak peduli dengan janji temu dengan aktor ternama yang kemarin sempat membuatnya geram.


“Kakak lupa semalem gimana? Masa tukang pukul sepertimu takut Papa,” ejek Radha kini mengacak rambut tebal suaminya, aromanya sungguh candu, rasanya ingin Radha cabut beberapa genggam untuk ia simpan.


“Itu bukan sengaja, kenapa juga dia narik kamu segala, hanya sedikit peringatan sebenarnya,” tutur Gian membuat Radha mengerutkan dahi, pukulan sekeras itu Gian anggap hanya peringatan. Lalu bagaimana jika selebihnya, pikir Radha.


Drrt drrt drrt


Gian membuang napas kasar, ia sudah sangat muak dengan notif dari Reyhans yang sejak tadi memperingatkannya bahwa harus segera turun. Iya, Reyhans menunggunya, hal itu memang ia lakukan karena beberapa menit lagi adalah jadwal pertemuan antara Gian dan juga Harry yang kemarin sempat tertunda segala macamnya.


Karena Harry adalah salah-satu aktor dengan banyak jadwal, maka akan sangat disayangkan jika Gian menyia-nyiakan kesempatan ini. Memang akan lebih sulit, salah satu hal yang terkadang membuatnya tersiksa adalah saat menunggu Gian yang tidak sedang moodnya mau bekerja.


“Iya-iya … aku turun sekarang, mengganggu saja!”


Gian beranjak dan melangkah ke kamarnya lebih dulu. Tentu saja merapikan kemejanya lebih dahulu. Sejak tadi ia hanya bermalas-malasan dan menolak ketika Radha menyerahkan kelengkapan kerjanya.


“Sayang, Kakak pamit, kamu jangan kemana-mana … buka pintu ketika aku pulang, jangan coba-coba menerima tamu ya, Ra.”


Tak ingin satu perintahpun hilang, Gian berucap dengan mantapnya. Yang ia ingin hanyalah istrinya ini baik-baik saja dan menikmati kesendirian ketika dirinya sedang bekerja. Gian hanya takut jika hal-hal yang tidak ia inginkan terjadi nantinya.


“Jawab, Zura.”


“He’em, Iya, Kak ….” Radha mencebik lantaran memang dirinya sedikit sulit karena cara pamit Gian memang berbeda, menghujaninya dengan ciuman yang bahkan membuat tubuhnya terdorong ke belakang.


“Baik-baik, jangan banyak ulah, mengerti?”


Senyum manis Gian lebih kepada ancaman dan Radha harus tunduk, banyak ulah bagaimana, memangnya dia akan melakukan apa, pikir Radha sebal bukan main.

__ADS_1


Menatap lekat suaminya yang kini menjauh, pria itu seakan tak ikhlas meninggalkan peri kecilnya. Radha hanya menarik sudut bibir mendapati bagaimana suaminya masih saja mengurungkan langkah beberapa kali. Hanya setengah hari, bahkan mungkin mereka berpisah hanya beberapa jam saja, dan Gian seakan enggan lepas saat ini.


-


.


.


“Jalan,” titah Gian begitu masuk ke dalam mobil, panampilannya cukup mengesankan dan membuat Reyhans percaya jika Gian memang bersiap-siap, wajar saja butuh waktu lama menunggunya, pikir Reyhans.


“Ehem.”


Dalam perjalanan sunyi, Reyhans mencairkan susasan. Tak biasanya dia begini, selama ini Reyhans lebih memilih diam dan tak banyak bersuara, terutama saat bersama Gian seorang.


Pria itu hanya fokus dengan benda pipihnya, entah apa yang di pantau di sana, namun yang pasti senyum tipis Gian dapat Reyhans artikan walau pria itu tak memberitahukan apapun.


“Gian.”


“Jangan bicara jika bukan tentang pekerjaan, Reyhans … fokus saja untuk hari ini, kita sangat sibuk kan?”


Pertanyaan sekaligus pernyataan yang Gian berikan membuat Reyhans bungkam. Meski hatinya kini kacau, Reyhans kembali mencoba untuk fokus. Karena memang saat ini adalah jam kerja, bukan saatnya membicaraan hal-hal pribadi.


“Iya, Pak.”


Hanya itu, dan jawaban Reyhans tak mendapat respon lagi dari Gian. Pria itu kini menatap nanar ke luar jendela, biasa pura-pura galau, pikir Reyhans menarik sudut bibirnya. Dapat kembali bersama Gian meski tak lagi sama adalah hal yang bisa ia katakan sebagai anugerah, walau sedikit menyiksa hidupnya.


“Oh iya, tadi malam … apa yang kau katakan pada istriku?” tanya Gian kini menoleh ke arah Reyhans, pria tampan dengan sejuta pesona ini tengah mengadakan wawancara dadakan, tanpa persiapan dan sama sekali Reyhans tak menduga bahwa Gian akan menanyakan hal ini.


“Nona maksudmu?” Pertanyaan konyol yang membuat Gian semakin emosi saja.


“Jawab saja, Reyhans … aku hanya butuh pengakuanmu, katakan selagi aku masih baik.”


“Tidak ada, ia hanya bertanya aku hendak kemana, tidak ada yang aneh, Gian … Azzura hanya menyapaku sebagai bawahanmu, itu saja.”

__ADS_1


Setakut itu Gian jika Radha bertanya hal lain pada Reyhans. Sebesar itukah cemburu dan kegelisahannya, apa mungkin trauma itu masih menjalar dalam diri Gian, pikir Reyhans mengehla napas pelan-pelan.


“Apa ucapanmu bisa dipercaya?” tanya Gian lagi memastikan, hanya anggukan kepala yang ia berikan.


“Sedikitpun aku tidak pernah akan membohongimu, Gi.” Reyhans menjawab tanpa menatap manik Gian, ia hanya menyerah kenapa hingga saat ini Gian masih sama.


“Sejak hari itu, hanya ada keraguan tentang semua yang keluar dari mulutmu, Rey.”


“Kali ini berbeda, Gi, kau tidak perlu khawatir aku akan melanggar janjiku,” ucapnya santai namun begitu penuh tekanan, cukup rasanya selalu berada di posisi salah, sedangkan kejadian itu hanya berupa kesalahpahaman yang membuat Gian membenci Adinda dan Reyhans, begitupun dengan dirinya sendiri.


“Anehnya aku masih khawatir, karena sangat tidak mungkin pengkhianat akan benar-benar tulus.” Gian berucap dingin, tangannya mengepal dan rahangnya mengeras meski ia telah berusaha menahan emosinya.


“Gi, bisakah kau berhenti membahas hal itu, tidak ada yang berkhianat, semua hanya kesalahpahaman.” Reyhans menepikan mobil sejenak, sepertinya memang perlu pembicaraan serius tentang ini.


“Mataku tidak mungkin salah, Reyhans … bahkan di titik tersulitku, kau dan Adinda menusukku dari belakang? Itu yang kau maksud salah paham?”


Mata Gian memerah, tergambar jelas kekecewaan Gian pada Reyhans yang dulu ia anggap sedekat itu. Sedangkan Reyhans yang bingung harus menjelaskan dengan cara apalagi hanya bisa diam ketika Gian kembali dengan amarah itu.


Bahkan ia rela menyerahkan diri pada Raka untuk dapat kembali baik-baik pada Gian. Meski sedikit tersiksa dengan jalan yang Raka pilih melalui kontrak kerja dan itu cukup menyita separuh dunianya namun tetap belum mampu meluluhkan hati Gian.


“Cih, dasar rendah kalian berdua! Kau buta dan tak peduli posisiku, Reyhans … aku memintamu menjaganya, dan kalian justru memadu cinta? Haha!! Dan bisa-bisanya penjilat sepertimu mampu mengendalikan papa, dasar siallan!!”


“Gian ….”


“Diam, lakukan tugasmu … berhenti bersikap seakan kita sedekat itu,” tutur Gian tak ingin menerima penjelasan lagi, karena baginya menerima Reyhans sebagai asisten dan bersikap seakan semua baik-baik saja sudah amat sulit.


Meski telah berbagai cara ia lakukan agar Reyhans tiba di titik tak betah dengan bertindak sesukanya, memerintah semaunya tetap saja tak membuat pria itu tumbang, entah alasan karena uang atau memang tengah memperjuangkan maaf dari Gian.


Gitulah kira-kira, aku kasih jelasnya di eps selanjutnya gengs.


Btw, hari terakhir ada di Banner🌻 Terima kasih satu minggunya MT, udah kasih tempat buat Gian. Love-love, dan semoga yang baca masih setia walau dia dah gak nangkring di banner utama lagi. Yippi, semangat!! Gian, kita lakukan yang terbaik💞


Dukung Gian terus ya, Wak, Hadiah dari Gian setelah mereka End, aku ambil 5 besar dari keseluruhan pendukung kecuali akun aku, Babay😚

__ADS_1


__ADS_2