
Masih menjadi tanya di benaknya, Radha sempat menoleh sembari meniti anak tangga. Tangisan Layla sebegitu pecahnya. Berbeda jauh dengan sebelum hadirnya Jelita, ia semakin bingung apa sebenarnya yang membuat wanita itu bungkam jika dengannya, apa memang dirinya menakutkan, pikir Radha.
Terserahlah, masalah pembantunya itu urusan mertuanya. Yang menjadi tanggung jawabnya kini adalah Gian, sudah pasti pria itu sedang menggerutu dan marahnya sampai esok pagi.
Tok tok
"Idih ngapain kudu ngetok pintu," ceteluk Radha sadar akan tingkah anehnya, merasa takut menemui Gian hingga ia lupa bahwa itu kamarnya juga.
Ia dorong pintu itu perlahan, melangkah hati-hati dan memastikan keadaan aman. Wanita itu tak menemukan keberadaan Gian di sana, hanya tumpukan baju kotor berada di tempat tidur.
"Ck, kebiasaan."
Belum lama menikah, namun Radha sudah merasakan keluhan para istri yang kerap ia dapatkan dari sosial media. Curhatan para istri yang kerap Radha baca, dan kini semua itu ia rasa.
Dengan hati yang luar biasa sabar, Radha memunguti pakaian Gian. Masih memaksa senyum meski hal ini sangat menyebalkan. Aroma maskulin yang melekat di kemeja suaminya itu sejenak membuatnya nyaman.
Gemericik air itu kembali terdengar, ya sudah biasa bagi Gian mandi harus dua sesi. Entah bagaimana cara mandinya hingga mengalahkan durasi mandi Radha.
Tunggu, ponselnya masih berada di saku celana. Radha masih penasaran dengan password ponsel laki-laki itu. Sudah berapa kali ia coba, bahkan dengan begitu rumitnya mencari tanggal lahir dan hari-hari penting yang berhubungan dengan suaminya.
"Apa ya?"
Radha menggigit bibir bawahnya, hanya tanggal lahir Haidar yang belum pernah ia coba. Namun untuk alasan apa Gian memakai tanggal lahir Haidar sebagai kode keamanan benda pribadinya.
Ia membuang napas kasar, terlalu lama berpikir sedangkan pria itu mandi mungkin tak lama lagi usai. Dengan sembarang ia coba memasukkan tanggal lahirnya, coba-coba namun hasilnya luar biasa mengejutkan.
"Hah?!! Iyees!!! Kebuka!!"
Ia mengangkat tangannya tinggi, seakan tengah memenangkan olimpiade. Wajahnya sumringah dan kini meloncat seakan lupa tujuan awalnya, namun sesaat tergantikan lantaran perih akibat luka bakarnya itu masih terasa.
"Zura?"
Suara itu terdengar walau samar, telinga Gian tampaknya memang lebih peka. Teriakan Radha dapat ia dengar, segera Radha menutup mulutnya. Ia menelan salivanya sembari menyembunyikan ponsel itu di belakangnya.
"Kenapa? Kau tidak jatuh kan?"
"E-enggak, Kak!!"
__ADS_1
Radha menghela napas lega sembari mengelus dadanya, andai saja pria itu memastikan keadaannya dengan membuka pintu, sudah pasti ia akan terjebak dalam masalah.
"Aduuh, jangan keluar dulu please!!"
Cepat-cepat ia periksa ponsel suaminya dengan tangan bergetar, takut jika ulahnya diketahui oleh Gian. Dengan tangan lincahnya Radha menelusuri galeri foto itu dengan wajah datar.
"Hah?"
Berhasil membuatnya bertanya-tanya kala ia lihat satu persatu foto dirinya di dalam ponsel itu. Sejak kapan Gian punya, bahkan fotonya masih SMP pun ada di sana.
"Astaga? Bisa-bisanya foto ini ada di sini!!! Iyuuuuh!!"
Melihat wajahnya dengan pakaian serba pink di tengah lapangan basket dengan kuncir ekor kuda itu Radha mendadak mual. Ingin ia memuntahkan seluruh isi perutnya saat ini juga, bahkan dirinya saja enggan menyimpan kenangan yang ia anggap aib dalam kehidupan itu.
"Ini lagi, ya Tuhan darimana dia dapetnya sih?!!"
Lebih menyebalkan dari sebelumnya, wajah Radha dengan bibir bak mulut ikan itu berada di sana. Ah zaman kapan itu? Mungkin tahun pertama masuk SMA, di UKS ketika ia pura-pura sakit hari senin pagi.
"Haaaaa memalukan, hapus ah."
Niatnya untuk memusnahkan semua foto itu semakin bulat, dahulu ia susah payah menghapus jejak fotonya yang sempat viral di majalah sekolahnya, tentu saja dengan akibat dirinya di kejar banyak cowok-cowok bandel dengan masa depan tak tentu arah itu.
"Haaaaaaa!!!"
Terlalu fokus memilih foto yang hendak ia musnahkan, Radha lupa bahwa suaminya hanya mandi bukan semedi. Ia gelagapan dan ponsel itu terlempar ke lantai, matanya membulat sempurna, jika Gian meminta ganti rugi habislah hidupnya.
"Aduh, maaf."
Segera ia meraih ponsel itu, dengan wajah polos yang menatap manik tajam Gian. Pria yang kini hanya mengenakan handuk itu mengeraskan rahang, habis sudah dirinya saat ini.
"Kembalikan," titah Gian begitu dingin, wajahnya sama sekali tak bersahabat, suram padahal dirinya baru saja mandi.
"B-bentar, aku pinjam buat telpon Papa."
"Ck, kau pikir aku percaya?"
Dengan kasar tanpa peduli perasaan Radha, Gian merampas ponsel itu. Retak, ponsel mahalnya itu cacat akibat ulahnya. Beruntung masih menyala, dan ia paham betul apa tujuan istrinya membuka ponsel itu diam-diam.
__ADS_1
Namun tidak ada yang kurang, Gian merasa lega meski tak ia tunjukkan bahwa kini ia merasa baik-baik saja. Masih ia genggam benda pipih itu, mendekati Radha yang kini tengah mati kutu.
"Semakin lancang kau ya," tuturnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Maaf, aku tidak sengaja, Kak."
"Tapi kau merusak ponselku, dan kau tau semua data-data penting ada di sana, Zura," ucapnya membuat drama yang jelas akan membuat Radha semakin terpojok.
"A-aku tidak tau kalau HP Kakak bakal jatuh, lagipula ini salahmu, kenapa mengejutkanku?"
Gian terkejut, meski bergetar istrinya kini terlihat tengah mencoba memberi perlawanan. Ia sudah mewanti-wanti apa yang akan terjadi, Radha menutupi dadanya tangannya itu, karena tahu suaminya itu bisa jahil dan mesum tiba-tiba walau sedang marah.
"Jadi salahku?" tanya Gian tertawa sumbang, tatapan istrinya membuatnya tak tahan. Pura-pura marah, nyatanya aktingnya sudah tidak sebaik dulu.
"I-iyaaa, salah Kakak ... udah sana ganti baju, tanganku perih aaaawwwww," teriaknya kini pura, luka bakar di tangan kanannya itu sudah Jelita obati, meskinya tak terlalu perih seperti yang ia gambarkan dengan ekspresinya itu.
"Tanganku perih aaaawwwww nyenyenye, bisa saja kau lari dariku hmmmm," ucapnya menirukan Radha sembari mencubit pipi mulus istrinya hingga kemerahan. Sungguh gemas bahkan ingin ia gigit istrinya itu hingga luka-luka.
"Lari apaan, kita gak lagi lomba."
"Ck, ada saja jawaban dari mulutmu itu, Radhania," tuturnya menggeleng pelan.
"Kakak mau baju yang mana?" tanya Radha yang kini sudah berlalu dan bermaksud memilihkan baju untuk Gian.
"Yang mana saja, terserah."
"Hm, tunggu di sana."
"Siapa juga yang mau ikut," tuturnya asal ceplos dan kini merebahkan tubuhnya yang masih belum kering ke tempat tidur.
Gian menatap nanar ke arah lampu tidur, ia menggigit bibir sembari mengepalkan tangannya. Ia beralih pada ponsel yang kini retak seribu itu, istrinya benar-benar bahaya, beruntung saja ia datang tidak terlambat.
"Apa dia menemukannya?" Gian was-was sebenarnya, namun melihat bagaimana reaksi istrinya ia yakin yang Radha lihat masih hal yang sewajarnya.
Habis sudah dirinya jika Radha tahu, bisa jadi istrinya itu akan mengadu pada Jelita yang mengancam keselamatannya.
"Hahaha dia tidak tau dimana letaknya, kau belum terlalu pintar sayang." Gian menarik sudut bibir, lagi-lagi ia berdebar dan tubuhnya terasa panas usai ia membuka foto istrinya yang menjadi candu itu.
__ADS_1
Oh iya guys, kalau mau gabung di GC udah aku buka lagi ya.