Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 217. Terjebak


__ADS_3

Menghabiskan waktu berdua bersama sang mertua, hal yang tak seluruh wanita bisa dapatkan. Mana kala banyak seorang istri yang tak memilki hubungan baik dengan mertua, Radha berbeda.


Keduanya beriringan, dengan sebegitu sabarnya Jelita mengajarkan menantunya memilih sayur yang masih segar dan gizi terbaik.


"Aku gak suka bayam, Ma."


Jelita menurut, jika menantunya saja tak suka, bagaimana dengan Gian . Pria gila yang seumur hidupnya hanya dihabiskan untuk makan daging, mana mungkin ia akan senang.


"Maunya apa?"


"Telur," jawab Radha yang langsung mendapat gelengan kepala dari Jelita, entah kenapa menantunya ini seakan tak bisa hidup tanpa benda itu.


"Selain telur, kamu makan telur mulu nggak bosen, Ya?"


"Enggak, Ma."


Bagaimana pola makan menantu dan putranya, sangat amat kacau dan Jelita hanya mengkhawatirkan kondisi Radha saat ini. Ia tengah mengandung dan jika hanya telur apa tidak bisulan, pikir Jelita.


"Untuk saat ini dan beberapa bulan ke depan, Mama yang atur pola makan kamu. Kamu hamil dan kamu perlu tau satu hal, makanan itu nggak kamu makan sendiri, tapi pengaruhnya ke sini, paham, Sayang?"


Radha hanya mengangguk, ia tak punya pilihan lain. Mengiyakan lebih baik daripada membantah apa kata mertuanya. Persis remaja yang mengikuti mamanya belanja, Radha masih sangat polos dan siapa yang menyangka jika dia sudah menyandang status sebagai istri orang.


Cukup lama di sana, yang mereka dapat selain belanjaan yang cukup untuk satu RT itu, jelas saja rasa lapar. Radha yang tak malu mengakui apa yang ia rasakan, merengek dengan jelas jika perutnya sudah meronta-ronta.


"Mama yang pilih, kata Gian kamu kalau makan suka seenak jidat, ya?"


Jelita menarik sudut bibir, niatnya baik karena memang hal yang kerap Gian keluhkan tentang istrinya adalah kebiasaan makan yang sembarangan.


Sudah sejak beberapa waktu lalu, Radha tak bisa memilih apa yang ia mau. Hanya pasrah akan apa yang dipilihkan mertua dan suaminya. Ingin sekali makan ayam pedas level jahannam itu, tapi apalah daya, makan cabai satu buah saja dia harus sembunyi-sembunyi.


Yang namanya lapar, tetap saja Radha menerima semua jenis makanan yang ada di hadapannya. Toh memang Radha termasuk kalangan omnivora, pemakan segalanya selagi halal.


Tak butuh waktu lama, makanan mereka sudah datang dan mulai menikmati dengan caranya masing-masing. Dan seperti yang Radha duga, tidak ada sedikitpun rasa pedas dalam makanannya, sedikit menyiksa tapi tak apa.


"Enak?" tanya Jelita menyadarkan pandangan Radha yang melihat ke arah lain.


"Hm? Enak kok, Ma, rasa garam."


Jawaban asal yang berhasil membuat Jelita hampir tersedak, dengan polosnya dia menjawab makanannya rasa garam.

__ADS_1


"Nanti ya, kalau sekarang pola makannya diubah dulu, Sayang ... bukannya gak sayang sama kamu, tapi ada jiwa lain yang harus kita jaga sama-sama dalam diri kamu, Ra."


Begitu lembut, ia mencoba meminta pengertian agar menantunya tak salah paham. Sejak dulu Gian kerap meminta Jelita agar mau mengatur apa saja yang boleh Radha makan, akan tetapi sebelum ia memiliki alasan, Jelita belum mau melakukannya.


"Iya, Ma."


Entah harus berkata apa, selama ini tidak ada yang memedulikan apa yang Radha lakukan. Boro-boro perihal makanan, ia sakit saja terkadang sembuh sendiri. Sungguh memprihatinkan, anak seorang dokter akan tetapi hidupnya lebih kacau dari anak kost.


Mendapat perlakuan sebaik ini, yang Radha rasakan hanya kebahagiaan bertubi. Meski sempat tak terima dengan cara Gian yang membatasi kebebasan lidah dan mulutnya, akan tetapi perlahan ia mengerti.


-


.


.


.


"Budi? Kok bisa begini?"


"Maaf, Nyonya, saya yakin tidak salah lihat ... semua baik-baik saja sebelumnya."


Celaka, bagaimana bisa Budi melakukan kesalahan semacam ini. Jelita ingin marah, tapi tak tega, mereka sudah cukup lelah, terutama Radha. Dan mobil yang mereka gunakan tertimpa masalah tiba-tiba.


"Entahlah, Nyonya ... tapi, saya yakin sebelumnya baik-baik saja," tutur Budi seyakin itu, karena dia yakin betul sebelum pergi akan memastikan keadaan mobil baik-baik saja.


"Huft, ya sudah kita naik taksi saja ya, Sayang, Maura kita tinggal dulu."


"Hah? Maura?" Radha kaget tentu saja, mereka Hanya ada dua perempuan, lantas siapa yang Jelita maksud pikir Radha.


"Mobilnya maksud Mama," Jelas Jelita lupa jika Radha belum terbiasa dengan hal yang kerap ia lakukan.


"Oh namanya Maura ya, Ma?" Radha mengangguk paham, wajar saja jika Gian berbeda dari beberapa pria yang ia kenal, sepertinya gen Jelita lebih kuat dalam suaminya.


Sedikit lucu, namun kebiasaan namanya memang begitu. Semuanya memiliki nama, terlalu penyayang atau bagaimana, sungguh hal ini masih menjadi tanya dalam benak Radha.


Di tengah pembicaraan mereka, tampaknya sosok pangeran datang dengan segala upaya untuk membuat dirinya terlihat dapat dipercaya.


"Ehem, maaf sebelumnya ... mobilnya kenapa, Tante?"

__ADS_1


Jelita terperanjat dengan kehadiran pria seumuran Gian di sampingnya. Wajahnya familiar, namun Jelita lupa dimana pernah bertemu pria ini.


"Eh, iya, tiba-tiba sudah begini." Jelita sedikit bingung, sedangkan Radha sudah menajamkan mata begitu sadar yang menyapa mertuanya adalah Juan.


"Aku aja yang anterin, Tante ... kebetulan, aku temennya Gian."


"Oh temennya?" Wajah Jelita berubah total, ia menyambut hangat begitu ucapan itu ia dengar. Wajar saja terlihat seperti seumuran, pikir Jelita.


"Iya, Tante ... kalau cari taksi biasanya susah, lagipula belanjaannya banyak, biar cepet sama aku aja."


"Tapi, apa nggak ngerepotin? Belanjaan Tante banyak, rumahnya juga lumayan jauh," tutur Jelita sedikit tak enak, pasalnya ini baru pertemuan pertama tapi Juan sudah sebaik itu.


"Nggak kok, Tante ... kebetulan aku juga mau pulang, kita searah."


Tanpa banyak pertimbangan, Jelita mengangguk dan menyetujui tawaran Juan. Budi yang tak tahu apa-apa jelas merasa ini adalah kabar baik, karena menurutnya hal ini adalah sebuah kebaikan untuk majikannya.


"Mama kita naik taksi aja," cegah Radha menggenggam pergelangan tangan mertuanya, namun secepat itu Juan mengatur kembali suasana.


"Sama Abang aja, Ra ... langit udah mendung, nanti kalian terlanjur nggak bisa pulang, lebih bahaya kan?"


"Bentar, Ma ... aku izin kak Gian dulu."


Radha merogoh ponselnya, mencoba menghubungi GIan namun anehnya tidak bisa dihubungi. Untuk pertama kalinya suaminya ini membuat Radha mengerutkan kening, sungguh ini adalah hal yang tak wajar.


"Gimana, Ra?" tanya Juan menatap Radha begitu lekat, dan jawaban yang Radha berikan berhasil membuat sudut bibirnya tertarik amat tipis, sesuai dengan dugaan sebelumnya.


"Nggak diangkat," jawab Radha lemah, hanya sekadar ponsel Gian tak dapat dihubungi Radha sekacau ini.


"Ya sudah, Ra ... Gian nggak akan marah kalau pulang sama temannya, apalagi sama Mama," ujar Jelita sangat yakin semua akan baik-baik saja.


Di atas keraguan Radha, kini Juan begitu merdeka dengan keputusan Jelita. Ia meminta Budi untuk membantu memasukan seluruh barang belanjaan Jelita, dan sesekali ia menatap wajah takut Radha yang sangat ia suka.


"Masuklah, kenapa liat muka Abang?" Tatapan itu benar-benar berbeda, dan Radha berusaha mengalihkan pandangannya. Entah kenapa, sejak kejadian di malam itu, ia membenci Juan tanpa sisa.


"Jangan macem-macem ya!!" tekan Radha dengan suaranya yang begitu kecil, namun bukannya marah pria itu hanya tersenyum melihat kemarahan Radha yang baginya terlihat lucu.


"Hm, tidak akan."


Tbc

__ADS_1


Ntar aku lanjut ya!! Maaf baru sempet, Authornya sakit mata 😎


Vote Dan Hadiah seikhlasnya, dukung Gian biar masuk 200 besar lagi🌻 Thengkyu!


__ADS_2