Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 171. Sama Piciknya (Nenek Sihir?)


__ADS_3

“Maaf, aku tidak senga … Nona?”


Rey panik bukan main kala yang ia tabrak adalah istri dari bosnya, pria itu bahkan berlutut dan tak memiliki keberanian untuk membantu Radha berdiri. Karena sesuai janjinya pada Gian, bahwa tidak aka nada sentuhan walau bagaimanapun keadaannya.


“Kak Rey? Kenapa nangis?”


Sialan, dia tertangkap basah. Radha yang tadinya ingin meluapkan amarahnya kini bungkam kala menatap wajah Rey yang tak sebaik biasanya. Tampak jelas ada sesuatu yang disembunyikan, dan Radha tak pernah melihat Rey sekacau ini sebelumnya.


“Aku ….”


“Udah-udah, kalau nggak bisa jangan dipaksa, Kakak bisa cerita lain kali,” tuturnya menenangkan Reyhans, bahkan tak sungkan Radha mengelus pundak pria itu dengan lembutnya.


Senyum Radha memang menenangkan, memang pantas jika Gian takluk pada wanita secantik ini. Dapat Gian rasa jika kecantikan Radha tak hanya dari wajah, melainkan seluruh jiwanya.


“Terima kasih, kamu memang sangat baik,” tutur Reyhans menampilkan senyum manis untuk pertama kalinya di hadapan Radha.


Tak ingin lebih lama, jujur saja Reyhans takut jika Gian menangkap pertemuannya dengan Radha. Jika hal itu sampai terjadi, tak dapat ia bayangkan sebesar apa Gian makin membencinya. Dan Reyhans tak ingin jika nanti keduanya berseteru untuk kedua kalinya dengan alasan yang sama, yaitu wanita.


“Kakak baik-baik saja?”


Reyhans hanya mengangguk, ia berdiri dan mundur beberapa langkah. Seharusnya pertanyaan dia berikan untuk Radha dan kini justru sebaliknya. Memilih pergi dengan sopan layaknya etika Reyhans pada istri bosnya, meski sejujurnya Radha sangat risih dianggap ratu sejagat seperti ini.


“Ganteng juga kak Rey, kok jadi inget kak Caterine ya.”


Ia tersenyum simpul, memang begitulah hidup Radha. Pikirannya terlalu jauh hingga lupa bahwa Gian sejak tadi berada di belakangnya. Mungkin kepergiannya terlalu lama hingga mmebuat Gian menghampirinya.


“Zura, kamu liat apa?”


Radha gelagapan, Gian yang kini telah berada di sisinya membuat jantung Radha berdetak lebih cepat. Bukan karena cinta, akan tetapi kaget tentu saja.


“Kebiasaan deh, hobi banget bikin kaget … aku jantungan gimana?”


Berlebihan sekali, pikir Gian seraya menarik sudut bibirnya. Wajah panik istrinya benar-benar lucu, tak peduli di sini mereka dilihat beberapa tamu lainnya, Gian tak segan memperlihatkan bagaimana mesra dirinya pada sang istri.

__ADS_1


“Ayo cepat, kau bilang mau pulang kan?”


Radha tak lagi ingin pulang, ngantuknya sudah hilang begitupun keinginannya untuk buang air kecil sudah tuntas. Gian telat jika ingin meminta Radha untuk pulang, mana mau dia pulang sementara dia belum puas memanjakan lidahnya dengan makanan yang ada di sini.


“Yakin nggak mau?” tanya Gian sedikit kecewa, padahal andai saja Radha mengiyakan tanpa basa basi Gian akan membawanya pulang detik ini juga.


“Iya, aku juga belum ketemu sama yang tunangan, penasaran sama ceweknya.”


“Ra … ays gawat.” Gian menggigit bibirnya, namun istri kecilnya terlampau lincah hingga kini Gian tertinggal di belakangnya.


Ketakutan perihal bagaimana sikap Radha masih membelenggunya, pasalnya istrinya dan tunangan Erick sempat terlibat perang dingin beberapa bulan lalu. Dan ia tak ingin istrinya yang pendendam itu membuat onar di pertunangan sahabatnya.


-


.


.


“Zura, Erick maaf … semua baik-baik saja kan?”


“Terkendali,” jawab Erick santai.


Pria itu menarik napas lega kala menatap Laura masih baik-baik saja di belakang punggung Erick, tampak jelas bahwa sahabatnya itu khawatir, dan Gian mewanti-wanti jika nanti Radha mengamuk karena masih membenci Laura yang dahulu kerap membuatnya panas hati.


“Sayang, kita duduk ya,” ajak Gian menarik pelan pergelangan tangannya, sedangkan Radha hanya menatap heran kedua pria yang tampak aneh menatapnya.


“Kamu kenapa gak bilang kalau bocah itu ikut Gian, Erick? Kamu lupa tulang keringku pernah celaka karena dia?”


Laura ketar ketir, kejadian kala makan malam itu masih jelas teringat. Ia bahkan tak bisa kemana-mana karena kakinya benar-benar cidera. Entah sepatu jenis apa yang Radha pakai hingga membuatnya trauma sampai detik ini.


“Ck kau tenang saja, semua juga tidak akan terjadi jika kamu tak memancing emosinya.”


Bisik-bisik pasangan itu jelas menjadi tanda tanya bagi Heru dan juga Andrew yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Belum lagi Gian yang tampak mengalihkan perhatian Radha dengan pembicaraan yang entah apa dan mereka tak paham sama sekali.

__ADS_1


“Kakak kenapa sih? Orang cuma mau lihat ceweknya,” celetuk Radha mulai kesal dengan tingkah Gian yang selalu menghalang-halanginya.


“Kalian ini kenapa sebenarnya? Apa hanya aku yang tidak paham di sini?” Heru mulai frustasi dengan tingkah dua sahabatnya yang tampak menenangkan pasangan masing-masing.


“Ahaha tidak apa-apa, Heru … maaf ya membuatmu tak nyaman,” tutur Laura merasa serba salah, memang sejak tadi ia hendak berlalu dan tak ingin berdekatan dengan Radha, namun di sisi lain Erick tak ingin membuat calon istrinya ini berjarak terus menerus dengan istri sahabatnya.


Mendengar suara itu, Radha menyingkirkan kepala Gian yang sejak tadi menghalanginya. Karena memang ide Erick untuk mempertemukan mereka tidak Gian setujui sejak awal. Yang ia takutkan bukan Laura akan berbuat yang tak baik pada Radha, akan tetapi Radha lah yang ia khawatirkan akan menyakiti Laura untuk kedua kalinya.


“Hah? Kak, nenek sihir itu?”


Apa kata Gian, semua benar kan. Sudah ia duga yang Radha ingat hanya keburukan Laura. Dendamnya terlalu besar hingga julukan nenek sihir itu masih melekat dalam pada Laura, dan tentu saja ucapan spontan itu dapat dengan jelas Laura dengar.


“Sabar, Laura … kau sayang dengkulmu kan.”


Susah payah Laura mencoba untuk tak terpancing emosi, karena jika sampai dia macam-macam maka itu sama saja dengan Laura sudah siap kehilangan semua kecantikannya malam ini.


“Ehem … Hai, Azzura … lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu cantik?”


Radha terdiam sejenak, kenapa tiba-tiba seramah ini wanita itu menyapanya, sedikit curiga namun ia tak memiliki waktu untuk memikirkan hal semacam itu lebih lama. Tentu saja sang suami meminta untuk menjawab baik-baik, bahkan menirukan kalimat apa yang harus Radha ucapkan layaknya balita yang baru belajar bicara.


“Baik, Kakak kerasukan apa?” tanya Radha benar-benar bingung, apa yang Gian ajarkan tentu saja ia lupakan.


Pertemuan kesekian kali yang cukup berkesan, dan setidaknya lebih baik dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya. Jika sebelumnya Laura terobsesi membuat Radha panas dengan terus menerus menempel pada Gian, kini ia tak seberani itu tentu saja.


“Hahah kerasukan bagaimana? Kamu tidak ingin mnegucapkan selamat padaku, Azzura?”


“Ish!! Kakak kok nggak bilang ceweknya dia, tau gini aku lebih baik ikut kak Rey pulang saja tadi,” ujar Radha yang membuat raut wajah Gian berubah seketika, benar dugaannya bahwa yang tadi sempat bicara pada Radha adalah Reyhans.


“Dasar siallan, bahkan saat ini kau masih sama piciknya, Reyhans.” Gian membatin dalam diamnya.


Tbc💞


Hai-hai, buat yang lupa sama Laura. Di Eps awal-awal dia sudah muncul ya. Aku satuin mereka berdua biar kemungkinan pengganggu mulai berkurang.

__ADS_1


__ADS_2