
Bagaimana cerianya Gian semenjak hadirnya Radha dapat disaksikan jelas oleh orang-orang yang berada di rumah itu. Terutama bagi kedua orangtua-nya. Jelita hanya menggeleng menyaksikan dua insan itu kejar-kejaran di anak tangga seakan Gian lupa usia.
Lain halnya dengan Jelita, tawa Radha seakan menjadi siksaan bagi Layla. Ia melangkah, mendekati Jelita yang kini tengah membagi-bagi tempe mendoan yang ia yakini Gian yang membawanya.
"Hai, kamu baru bangun, Lay?"
"Ehe, iya, Nya ... badan aku pegel-pegel soalnya."
"Masih ya? Apa perlu kita ke rumah sakit, Lay?"
"Enggak kok, nanti sembuh sendiri, Nyonya."
"Sering-sering olahraga, Layla ... biar sehat luar dalemnya," tutur Jelita begitu lembut.
Benar-benar tiada batasan, Jelita memberikan kebebasan untuk Layla merasakan kenyaman bagaikan di rumah sendiri. Tidur siang, bahkan istirahat layaknya anak gadis bagi Jelita ia berikan tanpa memotong gaji bulanan Layla.
Namun sayang, nyatanya baik kepada siapapun belum tentu akan membuat mereka berterima kasih dan sadar diri. Apa yang Jelita lakukan justru membuat Layla salah paham sejak awal.
Gian yang beranjak dewasa, dan tak pernah ia lihat Gian membawa teman wanita membuatnya pernah berpikir bahwa Jelita memiliki maksud lain karena kebaikannya.
"Hm, udah siap ... tolong anter sama pak Budi sama pak Aryo di depan ya, Lay," tuturnya tanpa terdengar seperti perintah yang memaksa sama sekali.
Sebenarnya ia bingung melihat tempe mendoan sebanyak ini, siapa yang akan menghabiskannya? Andai saja ada Randy mungkin akan berkurang walau takkan secepat itu habis karena memang banyaknya ini tak main-main.
"Hadeuh, ini anak sama papanya sama persis, ya Tuhan, Gian."
Jelita memijit pelipisnya, mengingat bagaimana dulu Raka pernah membelikan semua jenis pembalut ketika awal pernikahan ia meminta bantuan. Dan kini, justru putranya tak main-main bahkan membeli makanan satu gerobak.
"Untung bukan gerobaknya yang dia beli," tutur Jelita kini juga merasakan nikmatnya tempe mendoan itu. Memang enak, selera Radha tak salah, wajar saja ia suka.
.
.
__ADS_1
Di kamar, Radha tengah menyisir rambutnya berkali-kali. Seakan tengah memperlihatkan betapa indah surainya itu, Gian masih duduk di tepi ranjang entah apa yang ia periksa dari benda pipih itu.
"Kak," panggil Radha membuyarkan fokusnya Gian, sejak tadi ia menatap bayangan suami tampannya itu.
"Hm? Kenapa?" Gian meletakkan ponselnya, demi fokus pada Radha yang kini mengajaknya bicara.
"Potong rambutku, Kak ... bisa nggak?
"Jangan, rambut kamu cantik, masa dipotong."
Itu Rambut Radha, tapi kenapa justru Gian yang panik ketika sang empunya ingin memotongnya. Pria itu mendekat, ia meraih sisir yang Radha pegang, mengambil alih apa yang istrinya lakukan dan hanya ingin Radha menikmatinya sebentar.
"Dikit aja, segini doang."
"Jangan coba-coba, jika kau berani memotongnya satu centi pun Kakak cukur habis rambutmu mau?" ancam Gian karena tak suka kala Radha menunjukkan rencana sependek apa rambutnya.
"Ih Kakak gak tau sih gimana rasanya ... pas olahraga panas, shampo nya harus banyak, keringnya lama, susah disisir juga, masa 30 menit sendiri buat rambut doang," keluhnya seakan rambutnya yang mulai menyentuh pinggang itu benar-benar sumber masalah.
Gian menghela napasnya pelan, baru kali ini ia temui wanita yang justru merasa terganggu dengan keindahan dalam dirinya.
"Kakak yang akan merapikan rambutmu setiap hari, kau tenang saja."
"Kau tidak percaya?"
Gian menatap lekat istrinya itu, tatapan yang Radha lemparkan membuatnya menarik sudut bibir. Ia paham istrinya kini tengah ragu, dan memang janji itu hanya ia ungkapkan semata-mata agar Radha tak benar-benar memotong rambutnya.
"Bukan begitu, tapi aku memikirkan rambutku jika Kakak yang menyisirnya setiap hari," tutur Radha mengangkat sisir yang kini terdapat beberapa helai rambutnya, rontok cukup banyak entah bagaimana cara Gian menyisirnya.
"Itu sisirnya yang jelek, kita beli baru besok pagi," tuturnya menampilkan senyum manis yang dapat Radha tangkap dari balik cermin itu.
"Nyalahin sisir," celetuk Radha dengan suara kecil namun masih dapat Gian dengar.
Pria itu tertawa sumbang, dengan posisi dia berada di belakang sang istri yang kini tengah duduk di meja rias, sejenak ia tiba-tiba terpikir dengan hal ini, ingin ia ungkapkan namun takut jika Radha akan marah mendengarnya.
"Ra, Kakak boleh tanya?"
__ADS_1
"Apa? Sejak kapan minta izin, biasanya juga selalu tanya."
"Haha bisa saja kau, tapi kali ini Kakak serius, Ra." Wajahnya kini berubah, tatapannya tajam dan membuat Radha mengernyit heran.
"Ya apa, lama banget ... buruan, aku mau mandi bentar lagi."
"Baiklah, jawab jujur ya," ujar Gian mewanti-wanti istrinya akan menjawab yang tidak-tidak, karena seperti yang ia tahu bahwa Radha memang kerap asal bicara.
"Iya, apa?" Radha sudah takut sebenarnya, karena Gian tak biasanya bertanya dengan tatapan sedalam itu.
"Juan .... siapa, Sayang?"
Radha menelan salivanya, Juan? Nama itu familiar di telinganya, namun ia butuh waktu sejenak untuk mengingat karena memang ia tak terlalu peduli jika seseorang mengajaknya kenalan.
"Oh!!! Juan? Itu Abang-abang di depan masjid, Kak."
Ia menjawab santai, karena memang setelah ia ingat pria yang sempat berkenalan dengannya adalah penyelamatnya siang tadi.
Mendengar reaksi Radha, Gian kini naik pitam. Ia mengepalkan tangan namun emosinya masih tertahan. Memang benar-benar kurang ajar ternyata, ia masih ingat jelas bagaimana cara Juan menyapa istrinya.
"Abang-abang? Kamu ketemu dimana? Kakak sudah bilang jangan kemana-mana sebelum Kakak datang kan?"
"Iya, Kak ... maaf, aku _"
"Ssssttttt, Kakak tidak menerima alasan apapun." Ia menepuk bibir istrinya hingga Radha terkejut bukan main akibat ulah suaminya.
"Kakak dengar dulu, Bang Juan nggak jahat kok."
"Matamu Nggak jahat, kau ini polos atau polos, Zura? Kau bukan lagi ABG yang bebas berhubungan dengan siapapun, kamu udah punya suami, Sayang."
Radha mengerjap beberapa kali, ia tak mengerti mengapa Gian sekhawatir itu, karena memang sejak tadi pagi Radha tak memegang ponselnya sama sekali.
"Memangnya kenapa? Aku kan tidak tau, Kak."
"Mulai besok ponselmu akan Kakak sita sampai bulan depan, dan kau harus fokus untuk menghadapi ujianmu ... dan ingat, sekali lagi kau coba-coba memberikan nomor hpmu pada pria gila macam Juan atau siapapun itu, Kakak bunuh yang berani chat kamu, Ra," ancam Gian kemudian berlalu meninggalkan Radha, tak lupa ponsel Radha tetap ia bawa bersamanya.
__ADS_1
"Hoel, memangnya bang Juan chat apa sama aku? Apa ngajakin bisnis MLM ya." Radha bertanya-tanya pada dirinya sendiri, karena memang ia sepenasaran itu bagaimana cara Juan menghubunginya.
😎 Juan Chat apasii heran!!