Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 194. Semua Baik (Pada Waktunya)


__ADS_3

Memilih tak masuk kerja, Ardi kini berada di sudut kota Semarang. Entah bagaimana, hingga ia menginjakkan kaki ke kota ini. Tanpa pertimbangan, dan tanpa tujuan ia menuruti kata hatinya untuk kesini.


Informasi terakhir yang ia tahu dari Raka dan Jelita bahwa mantan istrinya memutuskan pindah sejak bercerai dengannya. Rasa bersalah itu kian tumbuh kala Radha telah menikah.


Sendirian, kini yang Ardi rasakan hanya pahit menerima kenyataan. Bagaimana dirinya, putrinya dan juga istrinya ia sia-siakan begitu saja.


Hanya ada luka, dan sakitnya luar biasa. Luka yang ia buat sendiri, dan dia melepas jahitan sementara yang telah Dewi rajut


"Aaarrrggghh!! Kurang bodoh apalagi aku."


Ingin rasanya Ardi menenggelamkan dirinya, jika saja jurang di depan mata, Ardi takkan berpikir dua kali. Lepasnya Radha dari pengampuannya sebagai orangtua merupakan awal dari semakin berdarahnya luka Ardi.


Nyatanya, wanita yang dulu ia jadikan pelarian kala rumah tangganya dengan Maya terasa hambar tak membuat hidup Ardi sempurna pada akhirnya.


Memang benar, hal yang diawali dengan sebuah pengkhianatan tak akan memberikan apa-apa. Bagaimana kini hampanya Ardi kala hidupnya tak kurang suatu apapun.


Terlambat, memang terlalu telat untuk Ardi sadar salahnya. Minta maafpun percuma, karena siapa yang sudi menerima maafnya semudah itu.


Menatap nanar ke luar sana, kamar hotel menjadi saksi sepinya hidup Ardi. Apa yang ia tuai, kini dibayar tuntas dengan isu perselingkuhan Dewi di belakangnya. Memang belum cukup bukti untuk membuat Dewi tercekik, akan tetapi telinga Ardi sudah cukup panas mendengarnya.


"Kenapa harus sejahat ini?"


Dia yang jahat atau dunia yang tak pernah berpihak. Ardi seakan lupa bagaimana dulu dengan mudah ia mengkhianati sucinya pernikahan bersama Maya yang saat itu ia jalin baik-baik.


Perbedaan umur yang cukup jauh, Ardi sebahagia itu mendapatkan penamping hidup walau harus dengan bantuan Jelita yang kala itu sangat dekat dengan Maya.


Mengambil celah kala hubungan Maya dan Randy benar-benar kacau, Ardi mengambil alih posisi seakan menjadi pahlawan yang dikirimkan Tuhan untuk Maya.


Sialnya, Ardi dengan gampangnya tergoda kala ia pindah bekerja dengan alasan tenaga dia amat dibutuhkan di rumah sakit tempat Dewi bekerja.


Jika mengingat hal itu, Ardi tak mampu untuk mencela ataupun mengatakan siapa yang salah. Karena memang jelas, yang salah adalah dirinya, godaan Dewi terlalu manis hingga membuatnya menyia-nyiakan hal yang lebih manis.


"Maafkan aku, Maya ... ternyata sesakit ini rasanya."


Di umur yang tak lagi muda, Ardi merasakan bagaimana hancurnya. Lantas, bagaimana dengan Maya yang dulu harus merasakan pahit bersama karena ulahnya.


-

__ADS_1


.


.


.


"Ma? Om Artis masuk berita, Mama harus nonton deh."


Maya yang tengah fokus dengan alat-alat dapurnya kini rela berlari meninggalkan pekerjaannya sejenak. Biasanya ia tak terlalu memusingkan berita tentang Randy ataupun kehidupannya, karena bagi Maya semua itu adalah luka bagi dirinya.


"Tuh," tutur Arunika menunjuk antusias, sefanatik itu dirinya pada seorang Randy, sungguh Maya sangat amat heran.


Kabar ini tak terlalu menyenangkan, Maya menggigit bibirnya kala mendengar Randy angkat bicara. Tak ada Randy yang lucu disana, hanya ada wajah penuh kesedihan dan amarah.


"Putri bang Randy hampir seumuran Radha ternyata."


"Wiratmadja? aku tidak salah dengar kan?"


Telinganya masih perlu memperjelas apa yang ia dengar, dan ia tak salah. Meski nama putrinya tak disebutkan bahkan ia tak membawa Sheina dalam hal ini, dan hal itu yang membuat Maya bingung.


"May ...."


Cepat-cepat Maya mengganti siaran televisinya, tak ingin jika suaminya marah karena hal semacam ini.


"Hm, kenapa, Mas?"


"Kamu yang kenapa? Di depan TV kok bawa wajan," tutur Wira dengan wajah datar sembari menghampiri istri dan anaknya, Arunika tampaknya diam dan mengerti jika dia harus berlalu.


"Haha iya, berita sekarang gila-gila, aku jadi penasaran makanya nonton."


Wira menghempaskan tubuhnya di sofa, pria itu tampak lelah dan memikirkan sesuatu. Wajah Wira tak dapat dibohongi, pria itu memang tampak menyimpan banyak masalah.


"Hm, begitulah."


"Kamu dari mana, Mas?" tanya Maya biasa layaknya pasangan suami istri lainnya.


"Dari kantor, dan kamu tau hari ini aku ketemu siapa?" Wira menarik sudut bibirnya tipis, alisnya meninggi seakan menujukkan jika posisinya tengah di titik kemenangan.

__ADS_1


"Siapa memangnya?" Maya tak banyak waktu untuk menebak siapa yang Wira temui, ia bukanlah pemikir handal.


"Antoni," jawab Wira kecil, ia merenggangkan dasi seraya kembali mengingat bagaimana Kakaknya itu tiba-tiba datang dan seakan melupakan hal yang telah mereka lakukan.


"Kakakmu?"


"Iya, ternyata dia masih mengingatku, aku pikir lupa." Wira mencebikkan bibir, sama sekali ia tak peduli bagaimana keadaan kakaknya kini, karena sejak beberapa tahun lalu mereka bahkan memutuskan untuk tak saling mengenal.


"Ada perlu apa, Mas?"


"Hahah biasa, dia hanya akan menatapku jika dia nilai berguna, dan saat ini ia butuh aku untuk berada di pihaknya karena Wijaya Group mengancamnya hancur dalam waktu dekat."


Penjelasan Wira sejenak membuat Maya bingung, apa yang sebenarnya tengah Wira bicarakan. Ia tak terlalu mengerti.


"Wijaya Group? Itu perusahaan suaminya Mba Jelita kan?"


"Hm, perusahaan yang akan diwariskan pada menantumu lebih tepatnya," tutut Wira menjelaskan, karena saat ini, meski Antoni adalah kakak kandungnya, untuk sementara ia berad di pihak keluarga Gian.


Meski ia tahu bahwa yang keponakannya usik itu adalah putri kandung Randy, pria yang paling ia benci setelah Ardi. Akan tetapi bagi Antoni memang mereka tidak layak untuk di tolong, baik itu karena kesalahan Harry, ataupun karena perlakuan orang tua Harry padanya.


Maya terdiam, seraya berpikir keras mengingat berita yang tadi ia saksikan. Nama Wiratmadja memang menjadi permbicaraan, tapi ia tak tahu jika ada hubungannya dengan keluarga Wijaya Group.


Hendak bertanya banyak, tapi Maya takut jika hanya akan menjadi kemarahan bagi Wira. Cukup ia sendiri yang menyimpulkan, karena jika ia bertanya, mereka akan membahas nama Randy yang tentu saja tak Wira sukai.


"Apa yang kamu pikirkan?" Sadar jika istrinya sedari tadi terdiam, tampak berpikir dan entah apa.


"Hm, tidak."


Maya menghindar, menyembunyikan pikirannya yang hanya tertuju pada putri Randy sejak tadi. Membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Randy, terakhir bertemu saja pria itu tampak hancur dan kesepian, lalu bagaimana sekarang.


"Yakin tidak memikirkan hal lain?"


"Iya, apa lagi memangnya?" Maya menutup kesempatan untuk Wira selalu curiga dan curiga.


❣️


Ini Eps aku tulis malem setengah, ternyata udah 800 an aku ketiduran, aku pikir dah up. Ternyata mimpi, Babay🧘‍♀

__ADS_1


__ADS_2