
Dan ia menyerah, beberapa kali ia mencocokan angka yang ia duga password yang Gian gunakan. Namun berjalannya waktu semakin larut dan suaminya benar-benar meninggalkannya tidur.
"Pakek ngadep sana lagi tidurnya, dia gak mau peluk gue apa gimana."
Jiak sebelumnya ia yang mempernasalahkan, kini justru Radha yang merasa tak nyaman tanpa peluk Gian. Mengambil posisi sedekat mungkin bahkan kini mereka tidur di bantal yang sama.
"Gede banget badannya kek badak," tutur Radha mencoba memeluk erat tubuh kekar Gian.
Untuk pertama kalinya, memeluk Gian seperti ini nyatanya nyaman juga. Jika sebelumnya Radha yang tenggelam dalam pelukannya, kini ia merasakan tidur tanpa mendapat balasan dari sang suami.
Mengambil posisi terbaik, dan memang gerakannya terlalu grasak grusuk dan membuat pria itu kini berbalik. Dengan mata yang masih terpejam namun sungguh Radha hampir saja berteriak.
"Cerewet sekali bibirmu ini, kapan tidurnya, Zura."
Radha terdiam, ia hanya menatap kaku Gian yang begitu dekat dengannya. Napas pria itu berhembus hangat dan membuatnya tak mampu berkutik.
"Tidur, nanti kantung matamu semakin besar."
Senyumnya mengembang, perlakuan Gian membuatnya tentram. Sungguh, meski ia sempat emosi karena banyak hal, namun kelembutan Gian membuatnya luluh begitu saja.
Tenggelam dalam mimpi perlahan, usapan lembut Gian membuat kantuknya kembali dan menghantarkan ia ke gerbang angan dalam alam bawah sadarnya.
Dan jauh dari kamar mereka, dalam kesendirian kamar di sudut bangunan masih terang benderang. Penghuninya masih menatap langit-langit kamar, memeluk guling sembari sesekali menggigit ujungnya.
Memikirkan apa, ia sendiri bingung sebenarnya apa yang di pikirkan. Ucapan mantan istrinya masih terbayang jelas, apa kabar wanita gila itu? Wanita penghalang cinta yang membuat Randy harus memilih hal yang bahkan menurutnya bukan pilihan waktu itu.
__ADS_1
"Ays!!! Apa yang aku pikirkan!!"
Randy mengacak rambutnya yang tak seberapa itu. Ia benar-benar gusar sembari beberapa kali menatap pergelangan tangan kirinya. Dan kembali ia berdecak kesal kala ia sadar bahwa malam masih panjang.
Apa yang ia tunggu, dan siapa sebenarnya yang membuatnya tak sabar menanti hari esok. Mungkin rindu pada putrinya, duda anak satu ini memang tak bisa menyimpulkan sebenarnya apa yang ia mau.
"Apa Caterine merindukanku? Ah pasti rindu, masa sama Papanya gak rindu."
Ia menghentak-hentakkan kaki membayangkan bagaimana cantik putrinya itu. Beberapa tahun tak bertemu lantaran orang tua Sheinna memberikan jarak sebegitu rapatnya, jika ia ingat lagi sungguh menyebalkan drama rumah tangganya.
Pernah terbesit untuk mengambil alih hak asuh putrinya, namun hal itu adalah ketidakmungkinan paling nyata bagi Randy. Karena bagaimanapun, menjadi menantu dari keluarga itu adalah salah satu penderitaan yang takkan pernah Randy ulang.
Tak ada rasa kantuk sedikitpun, menatap langit hanya membuatnya semakin uring-uringan. Ia beranjak dan kini membuka jendela kamar. Hanya ada gelap, tak ada bintang yang ia harapkan.
"Ck, langit juga ikutan suram, selucu ini duniaku."
Terkadang ia berpikir, mengapa sesulit itu kebahagiaan berpihak kepadanya. Seakan kesempatan hanya datang namun tak memberinya waktu untuk bergerak walau hanya selangkah. Randy memejamkan matanya, dinginnya malam ini menusuk kulit, namun sama sekali Randy tak ingin berpindah.
“Ck, tumben hening ….”
Sadar bahwa kini yang ia dengar hanya bisikan alam, Randy terkadang ingin tertawa namun sedikit kesal jika ia ingat hal itu. Sudut bibirnya masih terasa perih, pukulan bertubi yang ia terima tanpa membalas itu akan menjadi cerita tak terlupakan.
“Hahaha … istri orang.”
Bukannya dendam, ia sama sekali tak marah pada Wira. Namun bukan berarti ingin meminta maaf, tidak sama sekali dan tidak akan pernah keluar kata maaf dari bibirnya. Randy merasa menang kala itu, dengan luka yang kini begitu nyata di wajahnya, seakan menjelaskan bagaimana Wira menyakitinya.
__ADS_1
“Ck, makin cantik juga si biji Nangka.”
Pria itu menggeleng sembari tertawa sumbang, perasaan gila itu kembali. Bagaimana wanita itu membuatnya gemas meski Maya sudah resmi menjadi istri orang. Begitupun yang ia rasakan dulu kala Maya menjadi istri Ardi, di posisinya yang menjadi suami bayaran Sheinna, ia masih tetap setia meletakkan cintanya untuk Maya.
Kilas balik masa lalunya, Randy berusaha seikhlas itu menerima kenyataan kala Ardi meminang Maya. Berharap Maya akan bahagia jika Ardi yang menggantikan dirinya kala itu, penyesalan yang bahkan hingga saat ini takkan pernah habis.
Sungguh drama paling memuakkan yang pernah ia jalani, beberapa tahun wanita itu membangun rumah tangga dengan baik, tanpa kabar yang membuat Randy harus khawatir. Hingga hari itu tiba, hari dimana ia mematahkan dua hati sekaligus, Sheinna dan juga Caterine, putrinya.
Kabar kacaunya rumah tangga Maya yang membuatnya nekat menemui Ardi, dengan harapan dapat memberi Ardi pelajaran. Kesalahpahaman dan hal ini berimbas pada rumah tangganya, orangtua Sheinna yang mengetahui kepergiannya berhubungan dengan wanita lain jelas tak tinggal diam.
Randy belum melakukan apapun, bahkan niat untuk mengakhiri pernikahannya dengan Sheinna tak ada. Memang salah dirinya, ia mengacaukan proses yang tengah ia jalani untuk menjalin cinta walau perlahan. Semua hal yang ia lakukan demi putrinya seakan sia-sia, ia tak punya kuasa untuk bertahan walau sesakit itu ia meminta bertahan menjadi papa untuk Caterine.
“Memang kamu begook, Ran.”
Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, mengingat seberapa konyolnya ia dulu. Entah salah mengambil langkah atau memang bukan takdirnya. Perceraiannya dengan Sheinna bahkan belum putus, namun Randy juga belum usai dengan Ardi. Hingga semakin membuat Sheinna yakin keputusan papanya memang tepat.
Salah paham, kecemburuan dan sakit yang menjadi satu membuat Randy harus berpisah dengan putrinya. Karena mana mungkin hak asuh Caterine akan ia dapatkan, dan lagi lagi Randy berada di titik terendahnya.
Kehilangan orangtua, terpisah dari belahan jiwanya dan kini cintanya benar-benar menghilang entah kemana. Dalam kesendirian Randy mencari cinta pertamanya, bahkan karir hampir hancur karena hal sia-sia yang ia lakukan untuk Maya.
Sejak awal perpisahan dari Sheinna, ia butuh waktu berbulan-bulan untuk mencari dimana sebenarnya Maya. Bak hilang di telan bumi, bahkan ia sempat berpikir bahwa Maya telah tiada karena wanita itu benar-benar tak mampu ia temukan. Terombang ambing menjalani hidup tanpa arah, dan Jelita yang berperan sebagai sandaran untuk adiknnya itu.
Drrrt Drrrt Drrrt
“Ck, siapa lagi?!!” Kesal Randy merasa lamunanya yang tak indah sama sekali itu di kacaukan oleh dering ponsel yang luar biasa menyebalkan itu. Tanpa ia tahu, bahwa mungkin beberapa detik lagi hatinya akan berbeda jika ia menyadari siapa yang menghubunginya.
__ADS_1
TBC