
Suasana menjadi canggung, Gian bingung hendak memulai percakapan. Radha sejak tadi tidur memunggunginya, jika sebelumnya wanita mungilnya tidur sembarang arah, kini ia terlihat begitu berbeda. Ingin ia membuka pembicaraan, namun mengingat lagi dan lagi beruntung saja ia tidak tidur di luar malam ini.
“Ra,” penggilnya dengan begitu hati-hati sembari menautkan jemari, sebelumnya tak ada hal yang membuatnya ragu dalam melakukan apapun. Namun, kini semua begitu berbeda.
“Apa dia marah ya?”
Gian berbisik sembari menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berhati-hati untuk mencoba memastikan istrinya telah tertidur atau belum. Diamnya Radha sejak awal masuk kamar sungguh menyiksanya, ia tak kuat membiarkan tubuh mungil istrinya itu tanpa peluknya.
“Huft, sudah tidur ternyata.”
Ia menarik sudut bibir, tersenyum lega sembari dadanya berdebar tak karuan. Deru napasnya terdengar teratur, wanitanya ini tampak lelah dan Gian mencoba memanfaatkan kesempatan untuk memeluknya dari belakang.
“Ah nyamannya.”
Gian memeluk Radha penuh kelembutan, mengecup pundak istrinya di balik piyamana biru muda itu. Berkali-kali ia mencari posisi untuk dapat tertidur dengan nyaman, aroma tubuh Radha memang menjadi candunya.
“Ehem, bilangnya tipis tapi butuh juga kan.”
Suara itu membuat Gian yang sebelumnya mulai terlelap kini membeliak tiba-tiba. Matanya terbuka sempurna dan perlahan merenggangkan pelukannya, hendak apa dia sekarang? Pura-pura tidur juga percuma, karena Radha tak sebodoh itu.
“Ra? B-belum tidur ya?”
Gian salah tingkah, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal ketika Radha kini menoleh dan memergoki wajah paniknya. Kenapa bisa wanita sekecil dia berhasil membuat Gian mati kutu hanya karena hal yang bahkan tak ia duga akan seperti ini akibatnya.
“Menurut Kakak?”
“Ya belum.”
Ia mengalihkan pandangan, sembari menjauh dan kini justru meraih ponsel untuk menyembunyikan tingkahnya. Mata tajam istrinya sungguh membuat jantung Gian berdetak dua kali lebih cepat, entah itu dendam lantaran Gian membahas fisiknya atau karena hal lain yang membuat dia jadi emosi.
“Ck, Kakak ngapain? Siapa juga yang mau nelpon malem begini.”
Ia berdecak kesal kala Gian mencoba berpura-pura seakan tak terjadi apa-apa. Tanpa persetujuan Gian, Radha berani menarik ponsel pria itu hingga membuat Gian menganga. Tak ia duga, istrinya itu berani melakukan hal semacam ini, dan lebih menakutkan lagi kini wanita itu mulai mengecek pesan yang masuk padanya.
“Zu-zura, kamu mau buka apa, Sayang?”
“Kakak kenapa takut?”
__ADS_1
“Tidak, siapa yang takut … ah sudahlah, tidak ada yang menarik dari sana, Radhania.”
Semakin tertantang dirinya kala Gian panik ia mulai memeriksa isi ponselnya, memang begitu berbeda, ponsel yang Gian miliki adalah hal yang ia inginkan beberapa bulan lalu. Dan sayangnya ponsel itu tak berhasil ia dapatkan lantaran Ardi menghukumnya usai Radha melakukan hal yang tidak Celine sukai.
“What?!! Kakak!! Ini apa?!”
Gian menatap Radha seakan tanpa dosa, foto Radha yang ia sombongkan bersama teman-temannya membuat Radha malu sekaligus kaget. Bagaimana respon teman-teman Gian yang memujinya, ia hanya menggeleng tak percaya.
“Kau bisa lihat, kenapa bertanya?” tanya Gian datar seakan dunia kini baik-baik saja.
“Kakak gila ya!! Foto begini Kakak sebar, gak malu?!!”
“Tapikan Kakak peluk, lagian badan kecil kamu itu gak keliatan,” tuturnya membela diri.
Fotonya yang sempat ia kirim pada Randy sempat ia bagikan juga kepada teman-temannya. Rasanya sungguh menyenangkan memamerkan kebahagian pada kaum tak berpasangan itu bagi Gian.
“Tapi ini tetep aja gak masuk akal!!”
“Aww, kejam banget, Ra, aku suami kamu loh padahal.” Ia tak terima kala bantal yang Radha lempar mendarat tepat di wajahnya.
“Ya enak dong, kamu viral nanti ngalahin Haidar jalur sensasi,” ucapnya enteng seakan memang itu tujuannya.
“Enak gimana enak!! Aku di hujat lagi nanti, Kakak beneran gak waras ya.” Ia mencoba membuka galeri Gian namun privasi laki-laki itu tampaknya sangat besar sekali hingga ia menyerah sesaat untuk mencuri kesempatan menghapus fotonya.
“Eh kan kamu punya cita-cita buat bisa cari uang sendiri kan, nah ini kesempatan loh. Kakak bantu debut ya,” ucapnya seakan idenya ini memang benar-benar cemerlang.
l
“Diam!! Aku aduin Mama ya nanti.”
Sungguh besar kekhawatirannya, pikiran Radha terlalu panjang dan membuat Gian tertawa sumbang. Begitu takut ia jika nanti terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan, korban sinetron kalua kata Gian menatap lucu wajah cemberut istrinya.
“Aduin aja sana, paling juga dia ketawa,” ucapnya dengan wajah penuh ejekan yang berhasil membuat Radha merah padam, matanya kini mulai berkaca-kaca.
Niatnya untuk membujuk Radha beberapa waktu lalu hilang sudah, nampaknya melihat istrinya yang kini mirip anak kecil yang hilang kesempatan menang undian lebih seru dari apapun. Meski ia tampak tenang, hatinya tengah terpingkal-pingkal akibat ulah Radha,
“Kasih tau, kodenya berapa?”
__ADS_1
“Nggak akan, tidur sayang … udah malem.”
“Hapus dulu, Kakak pasti punya foto aku yang lebih parah dari ini kan?
Gian membeliak kala Radha kini mendekat bahkan perutnya sengaja Radha tekan hingga pria itu meringis. Kantuknya sudah hilang entah kemana dan mungkin Radha telah lupa permasalahan yang tadi sempat membuatnya emosi jiwa.
“Cepat, buka galeri foto Kakak, atau gak aku banting HP nya ya?” tawar Radha menatap tajam Gian yang kini tak berhenti tertawa karena ulahnya.
“Enggak ada, Zura … foto seperti apa yang kau maksudkan hm?”
“Ck, udah deh nggak usah ngelak, Kakak tu mesum kan, ini buktinya hayo!!”
Gian kalah telak, karena memang foto yang ia sebarkan ke grup chat itu terkesan memancing pembicaraan dewasa dan mata Radha sedikit sakit membaca mahakarya jari-jari teman Gian. Tapi ia jelas saja mengelak, tuduhan istrinya yang mengatakan ia mesum sungguh merusak nama baiknya sebagai pewaris keluarga Wijaya.
“Kau pikir aku segila itu? Kakak juga punya otak, Zura.”
“Halah bohong, bisa jadi kamar mandi Kakak pasang CCTV buat rekam semua kegiatan aku kalau lagi sendiri kan?” tuduhnya menunjuk wajah Gian persis anak SMA merebutkan guru olahraga.
“CCTV? Untuk apa Kakak pasang hal-hal yang begitu, Zura … toh Kakak bisa lihat langsung kapanpun Kakak mau.” Ia mencebik, tuduhan Radha keterlaluan, ya meskipun memang ia pernah merencanakan hal gila itu lantaran sulitnya mendapatkan Radha secara utuh sebelumnya.
“Iya juga sih,” tuturnya yang semakin memperlihatkan betapa ceteknya otak Radha, sontak hal itu membuat Gian terbahak bahkan mungkin terdengarb dari luar kamar.
BUGH
“Kakak jangan ketawa ah!!”
“Hahaha, dasar stress!! Kamu sepertinya sangat lelah, mending tidur ya cantiknya Kakak.”
“Buka dulu, baru aku tidur.”
“Ya sudah, terserah kau saja, apakah kau sanggup menahan kantuk hingga esok hari Ny. Dirgantara.” Gian membelakangi istrinya yang masih belum puas terhadap tuntutannya, ingin ia tendang tubuh tinggi suaminya itu detik ini juga.
"Nyebelin banget si dia, udah tua juga."
"Aku bisa mendengarmu, Ra."
……..Bersambung
__ADS_1