Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Dewasa (Tak Seharusnya)


__ADS_3

"Aarrrggghhh!! Stop!! Gian aku bisa sendiri."


Sebagai kakak kandungnya, Jelita hanya menggeleng kepala berkali-kali menatap adiknya seakan mengulang masa muda. Yaps, tawuran SMA. Di umur yang tak muda lagi Randy masih saja berulah.


Tak peduli apapun alasannya, sekalipun rindunya sedalam palung mariana tetap saja Randy salah. Kini posisinya berbeda, Maya adalah istri orang dan apa yang Randy lakukan memang terlalu lancang.


Berkali-kali Jelita tekankan, bersikap dewasa dan melupakan adalah jalan satu-satunya. Karena bagaimanapun Wira bukanlah pria yang akan diam ketika di usik ketenangannya.


Meski dahulu Jelita teramat menyayangkan keputusan Maya yang akhirnya mau menikah dengan Wira, kilas balik masa lalu kisah mereka memang membuat Jelita mengelus dada.


"Ran," panggil Jelita sembari menatap nanar adiknya yang kini tengah protes lantaran Gian mengobatinya tanpa perasaan.


"Apa?"


"Udah baikkan?"


"Mata lu baik, liat dong muka gue."


Bugh


"Yang sopan sama Mama." Pukulan Gian mendarat tiba-tiba di perutnya, pria itu meringis walau Gian tak mengeluarkan seluruh tenaganya.


"Ck, mata Mamamu kurang berfungsi, Gian ... aku lupa dia habis operasi beberapa bulan lalu."


Ia berniat membuat suasana tak setegang ini, Randy mengerti betapa marahnya kakak iparnya atas kelancangannya sore ini. Raka duduk di sisi Jelita dengan pandangan yang membuat kulitnya seakan terbakar.


Tak ada wajah ramah di sana, sejak Randy tiba dengan beberapa orang yang menolongnya, pria itu bahkan tak bertanya keadaannya sedikitpun. Tapi, manik elang itu jelas menggambarkan betapa marahnya dia.

__ADS_1


"Berapa pukulan kau terima?"


Kala pria itu bicara, mendadak seluruh yang berada di sana tertunduk diam. Tak terkecuali Radha yang sedari tadi duduk di samping Jelita, menantu kesayangan itu nampaknya tak bisa lepas sedikitpun dari mamanya.


Randy belum menjawab, pria itu tampak mengingat lalu tersenyum tipis entah apa artinya itu. Ia membenarkan posisi duduknya, tulang yang terasa remuk itu luar biasa sakitnya.


"Randy, kau tidak tuli kan?"


"Tidak, Kak ...."


"Katakan padaku," titah Raka semakin dingin, pria paruh paya yang masih begitu tampan itu mendominasi ruangan secepat itu.


Randy hanya menggeleng pelan, rasanya tidak perlu ia ucapkan. Karena jika ia katakan sudah pasti Raka akan mengambil tindakan. Memang benar semua murni kesalahannya, dan ia tak menyangka jika Gian akan membeberkan semua kejadian yang ia tahu di pantai tanpa sisa pada Raka dan juga Jelita.


"Baiklah, aku yang akan mencari tahu sendiri."


"Mas."


"Jangan menambah pikiranmu, ini memang salah Randy, jika kamu di posisi Wira tentu akan melakukan hal yang sama," ucap Jelita membuat Raka menghela napas perlahan, ia terdiam sejenak menimbang keputusan dan apa yang Jelita katakan benar adanya.


"Tapi kau lihat seberapa parahnya luka Randy akibat ulahnya, Ta."


"Biarkan, dia sudah dewasa ... harusnya sudah pandai untuk berpikir."


Jika sebelumnya Jelita menahan Raka, kini berbalik ia yang berlalu begitu saja. Meninggalkan wajah-wajah bingung yang kini menatap punggungnya. Jelita jelas marah, namun tak mungkin ia memperlakukan Randy layakny anak remaja.


*******

__ADS_1


Meninggalkan Randy yang tengah menjadi beban keluarga Wijaya, sebuah villa dengan lampu yang tak seluruhnya menyala, Maya duduk di sisi ranjang sembari menautkan jemarinya.


Kedua putrinya telah tertidur, dan kini ia tengah menyiapkan diri menghadapi hal yang tengah mengancamnya. Derap langkah Wira kian jelas, pria itu meminta waktu Maya untuk menunggu dan tak bergerak sedikitpun sementara ia menenangkan putrinya, Arunika dan juga Jingga.


Detak jantungnya semakin cepat, wajah Maya kian cemas. Bibirnya bergetar dan belum apa-apa matanya sudah basah, sebenarnya hal semacam ini tidaklah asing bagi Maya.


Menghadapi kemarahan Wira yang terkadang membuat Maya terluka adalah hal biasa, namun untuk melepaskan pria itu adalah hal paling mustahil baginya.


"Kau menangis?"


Jemari itu menyeka air matanya, begitu lembut namun membuat air matanya kian deras. Selembut apapun caranya bicara tetap saja membuatnya semakin sakit. Manik tulus itu tak mampu ia balas, dan cara Wira menyayanginya kadang kala sedikit menyiksa.


"Maaf, Mas."


Rahangnya mengeras, begitu kata maaf keluar dari bibir istrinya. Pria itu mencengkram dagu istrinya cukup kuat, tampak jelas Maya merasakan sakit karenanya.


"Hanya itu?" tanyanya dengan seringai tipis disana.


Maya mencoba melepas, mengiba dengan air mata berharap hati suaminya akan tersentuh. Namun tak semudah itu, Maya begitu halus menggapai pergelangan tangan suaminya, dan sekaras itu ia tepis tanpa perasaan.


"Hentikan tangismu jika yang menjadi alasannya bukan aku, Maya."


Cengkraman itu semakin kuat, bahkan kini wajah Maya semakin memerah. Kemarahannya kali ini tak seperti biasa, dendam dan air mata yang dapat Maya tangkap dari suaminya begitu nyata. Penyelamat sekaligus penjara dalam hidupnya ini tengah meluapkan kekecawaannya, dan kini, pasrah adalah pilihan terakhirnya.


"Aku mencintaimu sedalam itu, dan kau semudah itu mengizinkan dia memelukmu, kau gila?!!!"


Suara itu menggelegar memekakan telinga, begitu mengiris batin dan Maya hanya memperlihatkan air mata sebagai jawabannya, kalimat yang kerap Maya pikirkan kebenarannya, bagaimana Wira memaknai arti cinta ia sungguh tak dapat mengerti sedikitpun.

__ADS_1


"Lepaskan, Mas ... aku bisa mati." Hampir terputus, namun tak mungkin ia diam manakala Wira semakin tak dapat menguasai dirinya.


...............🌻


__ADS_2