Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 190. Benar-Benar Sama (Raka Muda)


__ADS_3

"Radhania, istriku udah tidur?"


"Hm, belum ... Kakak kok lama?"


Istrinya belum tidur, meski matanya sudah amat sayu. Gian menghampiri Radha dengan langkah pastinya. Sungguh perasaan rindu ini sudah begitu besar, bagaikan tak bersua hampir satu windu. Ya, lebay memang, karena baru kali ini mereka terpisah beberapa jam padahal seharusnya bisa bersama.


"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Gian dengan suara lembutnya, ia tatap manik teduh sang istri, entahlah hanya sekadar memandangnya saja Gian sudah bahagia.


"Nunggu, Kakak."


"Kenapa ditunggu, matanya udah ngantuk begini," ujar Gian seakan tak menginginkan Radha menunggunya, padahal batinnya kini bersorak lantaran bahagia istrinya tak dapat tidur tanpa dirinya.


"Iya, soalnya kepala aku sakit gitu, tarik-tarikin rambutnya bisa, gak? Sampe bunyi gitu, Kak."


Sial, ternyata Radha butuh jasa penghilang rasa sakit yang kini rasakan. Gian terlanjur percaya diri bahwa dirinya memang dinanti-nanti Radha karena ingin tidur sama-sama.


Wajah Radha yang kini meringis sembari memijit pelipisnya hanya Gian tatap dengan datarnya. Ingin ia teriak, tapi tak berguna juga. Hingga tatapan itu berubah menjadi pasrah kala Radha kini menuntutnya untuk melakukan apa yang ia minta segera.


"Belajar dari mana cara nyembuhin sakit yang begini, Ra?"


"Dari mbak, biasanya dia yang bantuin."


Tak tega, menarik satu helai saja rasanya Gian tak sanggup. Lantai bagaimana jika kini Radha meminta rambutnya ditarik satu genggaman.


"Ra? Yakin? Nanti sakit, Sayang." Gian ragu, sangat amat ragu jika cara ini tidak membahayakan kepala istrinya.


"Iya, udah tarik aja, tapi jangan pelan ya, sekali tarik gitu caranya."


Gian masih ragu, ia tengah mengumpulkan keberanian untuk menarik rambut istrinya. Sejak tadi ia menelan salivanya, lembutnya surai hitam Radha tak mampu membuatnya melakukan hal segila ini.


"Ya Allah, nggak tega, Ra."


"Aduh, gak bakal kecabut, Kak, narik rambut aja susah banget," gerutu Radha lantaran Gian hanya menggenggam rambutnya tanpa melakukan sesuai perintah.


"Ya gimana, nanti rontok, kamu kesakitan gimana?"


"Enggak, Kakak."


"Tetap saja, nanti otakmu geser, Ra, itu yang lebih menakutkan lagi," tutur Gian serius, fakta jika dirinya memang benar-benar takut luar biasa.


"Berlebihan, sini aku contohin dulu."


Dengan satu gerakan, cepat, tepat dan mantap Radha menarik rambut Gian hingga berbunyi dan membuat pria itu meraung bakai terkena serangam hewan buas.


"Aaaarrrggghhh!! Sakit, gila!! Kenapa malah rambut Kakak yang kamu tarik?"

__ADS_1


Ingin marah, tapi tak bisa, dan anehnya Radha hany Menatapnya datar tanpa rasa bersalah. Sungguh luar biasa seorang Radhania, nampaknya mental penyiksanya sejak kecil sudah terlatih.


"Contohnya, Kakak nggak lakuin karena bingung caranya kan?"


"Bukan gitu, tapi Kakak nggak tega, Ra, ini buktinya sakit ... dan astaga, Zura!! Rontok rambutku."


Baru sadar jika kini rambutnya rontok beberapa helai di telapak tangan Radha. Meski sesakit itu, ia masih sama sekali tak berniat menyembuhkan sakit kepala istrinya dengan cara itu.


"Cuma dua, nggak banyak."


"Tetap saja, kamu tau kan berapa mahal rambutku ini," ucap Gian sombong seperti biasa.


"Hm, terserah Kakak deh," ucapnya terdengar acuh, nampaknya apa yang ia inginkan malam ini takkan ia dapatkan.


"Pusing banget ya?"


"Sedikit," jawab Radha singkat, entah kenapa kepalanya terasa tak nyaman, sejak tadi ia mencari posisi, bahkan telah mengoleskan di pelipisnya berkali-kali, tetap saja sama.


"Sini, Kakak pijit pelan-pelan, gak mesti harus ditarik-tarik biar sembuh."


Radha tak menolak, sentuhan Gian yang ia rasa memang nyaman, perlahan membuatnya tenggelam dalam lautan mimpi karena memang ia ngantuk berat.


"Hm, tidur juga akhirnya, kamu kenapa sebenarnya, Ra," tutur batin Gian menatap wajah lelap istrinya yang kini selelap itu hanya dengan sentuhan pelannya.


-


.


.


"Hm, selamat pagi, Sayang."


Sungguh, ia terkejut bukan main. Seakan berada di alam mimpi, kini yang ia lihat adalah Ardi, sang papa yang hanya mengenakan kaos biasa.


"Papa nggak pulang berarti ya?"


"Iya, Papa mau lihat kamu pergi sekolah, Ra."


Sebuah ucapan sederhana yang seharusnya membuat Radha senang, kini terasa menyakitkan di benaknya. Ada apa dengan sang papa hingga hal sekecil ini membuatnya ia ungkapkan di depan Raka dan juga Jelita.


"Dia sekolah hampir 12 tahun, belum lagi pendidikan usia dininya, seperti tidak pernah lihat Radha sekolah saja kau ini."


Ardi hanya diam, apa yang diucapkan Raka benar adanya. Memang sudah selama itu Radha menempuh pendidikannya, dan selama ia sekolah tak jarang Ardi menjemputnya jika ada waktu, tapi sayang janji menjemput kadang ia ingkari setiap waktu.


"Sudah-sudah, kenapa jadi tegang begini ... Radha, ayo sarapan, Gian juga."

__ADS_1


Berjalan pelan, saat ini Radha kembali merasa diperlakukan persis anak kecil. Ada banyak perhatian tertuju padanya, terutama dari Gian yang sejak bangun tidur menyiapkan segala sesuatu untuknya.


"Ujianmu kapan, Sayang?"


"7 hari lagi, Pa."


Minggu depan, dan Ardi bahkan tak paham jadwal anaknya sekolah. Sangat cepat, entah kemana dia hingga masa-masa begini ia tak paham.


"Belajar?"


"Hm, tentu ... kak Gian yang ngajarin."


Ardi tersenyum hangat, sepertinya Gian adalah sosok terbaik yang memang Radha butuhkan. Wajah cantiknya kini tampak berseri, entah karena bahagia Ardi perhatikan atau memang sejak awal sudah bahagia.


"Syukurlah, sebentar lagi lulus artinya."


"Kalau udah lulus istriku boleh hamil, Pa?" tanya Gian keluar dari topik yang membuat siapapun berada di sana jelas saja kaget.


"Gian!!"


"Mama kenapa? Makanya makan baca Bismillah, biar ga keselek."


Tidak sama sekali ia merasa bersalah, karena baginya yang salah adalah mamanya sendiri. Sungguh aneh, tersedak dan ia menyalahkan orang lain, pikir Gian.


"Jangan gitu, Gi ... putriku masih sangat kecil, kau tega? Hamil bukan hal yang mudah, Gian." Ardi memang belum terlalu rela jika sampai putrinya hamil di usia muda, sangat-sangat tak rela.


"Apa susahnya, lagian buatnya enak. Iyakan, Sayang?"


"Uhuk-uhuk, sia ... lan." Jika tadi Jelita yang tersedak, kini gantian Radha yang sial akibat ucapan asal Gian.


"Benar-benar persis dirimu, Ka."


"Dia putraku, wajar saja jika sepertiku, Ardi."


Suasana sarapan kali ini berbeda, ada tawa dan kesal bercampur jadi satu kala Gian mulai ikut bicara. Tak bisa ia pahami, pikiran suaminya memang lebih luas dari laut mati.


"Oh iya, dua hari lagi Papa harus pergi, makanya sengaja menemui kamu dulu."


Pergi? Kemana, bukankah Ardi sangat anti pergi-pergi meninggalkan rumah. Apalagi ini ia sampai pamit, artinya tentu akan lama. Wajah Radha hanya menatap bingung sang Papa, aneh sekali.


"Papa mau kemana?"


"Hm, ada pokoknya, tidak akan lama, Ra."


Tak ingin banyak tanya, karena memang ia tak suka terlalu bertanya ini itu pada papanya sejak dahulu. Radha begitu penurut, sebab demi tetap menjadi putri Ardi yang baik, hingga tak pernah sekalipun ia membantah apa yang Ardi katakan sejak dulu.

__ADS_1


Aku up lebih dari 1 untuk hari ini, makasih😎 Stor Hadiahnya jan lupa ewkwk.


__ADS_2