Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 268 Salah (Pijat)


__ADS_3

"Cari siapa, Bu?"


Kehadiran wanita paruh baya berkacamata hitam dengan membawa tas besar itu mengejutkan Radha. Wajahnya terlihat cantik meski usianya tak muda lagi, dari pakaian yang ia kenakan Radha meyakini wanita ini adalah dukun beranak.


"Yang mau dipijat mana, Neng? Bayinya umur berapa?"


"Hah? Bayi? Bayi siapa?"


Sejak kapan Radha memanggil jasa pijat, kalaupun ada yang salah dengan kedua buah hatinya, dia tidak akan menyerahkan masalah ini pada tukang pijat.


"Saya nggak panggil jasa pijat, Bu, mungkin salah alamat ibunya," ujar Radha sangat lembut, berhati-hati karena tak ingin wanita itu tersakiti.


"Hah? Bener kok," ujar wanita itu seyakin-yakinnya, karena alamat yang diberitahukan oleh pelanggannya sudah sangat benar.


Wanita itu mengecek ponselnya, Radha sempat kaget lantaran ponsel wanita itu tak kalah canggih darinya. Tiba-tiba Radha tak yakin jika wanita ini adalah tukang pijat.


"Itu, bener kan? Pelanggan saya sendiri loh yang bilang."


Ia menunjukkan bukti chat yang ia terima tadi siang, dan sesuai janji wanita itu datang sore hari.


"Siapa yang pesen ya? Apa mungkin kak Gian?"


Radha berpikir keras, kenapa Gian tak izin lebih dulu jika memang dia ingin meminta tukang pijat untuk kedua buah hatinya.


"Sebentar, saya panggil suami saya dulu, Ibu duduk aja dulu ya."


Merasa alamat yang diperlihatkan memang tidak ada kesalahan, Radha tak mungkin meminta wanita itu pergi segera.


Sempat dibuat kagum, tak ia duga jika pelanggannya kali ini adalah seorang konglomerat. Walau sempat kesal lantaran penjaga rumahnya tak memberikan izin dan sempat menuduhnya sebagai penjual obat-obatan.


Meninggalkan wanita yang kini ia minta untuk menunggu, Radha menghampiri Gian di kamar anaknya. Setelah pulang, Gian memang segera mandi dan menghabiskan waktu bersama Kama dan juga Kalila.


"Kak," panggil Radha lembut, tak ingin mengacaukan manisnya interaksi mereka bertiga, Gian hanya tersenyum menyadari kehadiran istrinya.


"Iya, kenapa, Sayang?"


Masih dengan memangku Kalila yang sejak tadi merengek jika Gian lepaskan. Sementara Kama justru tampak baik-baik saja meski Gian biarkan tengkurap di atas tempat tidur.


"Kakak yang panggil tukang pijat?"


Pertanyaan Radha langsung ke intinya, dan kini pria itu sedikit terkejut dan berdiri semaunya, meninggalkan Kama yang tiba-tiba kesepian akibat ulahnya.


"Tidak," jawabnya santai, selain mudah lelah ternyata dia juga sedikit pikun.


Wajar saja, karena yang menghubungi tukang pijat itu adalah Reyhans, bukan dirinya. Dan juga, kini rasa lelahnya seakan hilang begitu saja kala bersama kedua buah hatinya.


"Ih serius, alamat yang minta jasa dia beneran rumah ini, Kakak jangan bercanda deh," desak Radha yang justru merasa tak enak jika benar-benar suaminya tidak meminta seorang tukang pijat untuk ke rumahnya.


"Tukang pijit apa sih, Ra, lagian sejak kapan Kakak suka di pij ...."


Sebentar, Gian terdiam sejenak. Masalah tukang pijat sempat ia bahas bersama Reyahans, dan kini pria itu memejamkan mata. Ternyata Reyhans benar-benar meminta seseorang untuk datang padanya.

__ADS_1


"Apa? Kenapa berhenti ngomongnya?"


"Kakak lupa ... Reyhans yang nawarin tadi siang, udah Kakak jawab iya lagi."


Gian mengajak Radha turun, dan karena paniknya pasangan itu bahkan lupa jika anaknya kembar. Bisa-bisanya mereka lupa bahwa Kama masih berada di dalam kamar dan baru ingat ketika Kalila merengek menyadari saudara kembarnya ketinggalan.


"Astafirullahaladzim, Zura ... Kama ketinggalan, ambil buruan."


Nasib malang seorang Kama, memiliki orangtua yang jauh dari kata sempurna jika tentang otaknya. Radha setengah berlari, sungguh ia benar-benar lupa karena Kama sejak tadi tidak bersuara, terlalu pendiam ternyata tak begitu baik.


"Aduh, sepertinya aku benar-benar lelah."


Gian sadar jika dirinya benar-benar tak beres, datangnya tukang pijat yang Reyhans sarankan sepertinya akan berguna. Walau dia tidak terlalu sering mempercayai jasa pijat sebagai penghilang lelahnya.


Tak butuh waktu lama kini Radha sudah kian dekat, dengan menggendong Kama yang cemberut menatapnya. Seakan menaruh dendam pada Gian yang meninggalkannya begitu saja.


"Maaf, Sayang ... papa tidak sengaja," ujar Gian merasa bersalah, dan sialnya Kama sama sekali tak sudi menatapnya balik.


"Kamu sih, Ra, aku kan udah bawa Kalila." Gian menyalahkan Radha atas kemarahan putranya, diperlakukan begitu saja sudah membuat Gian sedikit sakit.


"Ih kok nyalahin aku, Kakak yang deket sama Kama tadi." Sama halnya dengan Gian, Radha juga tak mau berada di posisi salah.


Andai dua anak itu sudah bisa bicara, mungkin mereka akan habis oleh kedua buah hatinya. Niat hati buru-buru untuk tiba ke ruang tamu, nyatanya mereka semakin lama lantaran debat padahal tidak ada gunanya.


-


.


.


.


"Mampush, aku kan tukang pijat anak-anak, mba Yati kenapa gak bilang kalau pasiennya orang dewasa, aku mana bisa."


Retno membatin, tugas istimewa yang Yati berikan padanya karena telah menerima sejumlah uang membuatnya asal mengiyakan dan tidak tahu jika pasiennya pria dewasa setampan ini.


"Mbok Yati kan?"


Jika dia jujur, kesempatan untuk dapat menyentuh pasien setampan itu akan hilang. Dengan sangat terpaksa Retno berbohong dan memutar alur serta menjelma menjadi tukang pijat serba bisa.


"Iya, saya Yati ... tak pikir anaknya yang mau dipijit, ternyata Bapaknya toh," ujarnya berusaha tenang dan tak ingin Gian ataupun Radha curiga nantinya.


"Asisten saya tidak menjelaskan saya yang minta? Reyhans bagaimana sih," ujarnya sedikit bingung, hendak menghubungi Reyhans namun wanita itu segera menghentikannya dengan penjelasan yang cukup masuk akal.


"Oh yang hubungin saya tadi asistennya? Ya ampun, kenapa saya bisa lupa ... haduh maaf, soalnya hari ini banyak sekali pasien, dan rata-rata anak kecil, saya jadi terbawa suasana."


Sebisa mungkin Retno mengubah suasana, kesempatan ini tidak boleh hilang. Persetan dengan kemampuannya, lagipula sepertinya tidak akan jauh berbeda antara anak-anak dan orang dewasa, tinggal pijat-pijat dan semua akan selesai, pikirnya.


Melihat penampilan Retno yang lebih tua dari mertuanya, Radha tak merasa ada yang aneh dan sama sekali tak ada perasaan cemburu. Karena ia pikir wanita yang sudah berumur takkan pernah punya pikiran menyimpang seperti wanita-wanita muda lainnya.


"Sayang, boleh ya?"

__ADS_1


Sebelumnya Gian meminta izin lebih dulu, walau sebenarnya ia sedikit ragu. Sorot mata wanita itu tidak meyakinkan sama sekali, Gian hanya takut uratnya ada yang bermasalah.


"Boleh, Kak, ke kamar atau?" Radha ragu, akan tetapi keputusan berada pada sang suami.


"Di sini aja," jawab Gian pasti, karena memang pria itu tak mengizinkan siapapun masuk kamar kecuali keluarga dan orang-orang terdekatnya.


Tidak apa, mau di kebun sekalipun Retno tak masalah selagi ia bisa menjamah tubuh Gian. Janda satu anak ini tak bisa menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba hadir saat pertemuan pertamanya.


-


.


.


.


"Aarrrggghhhh!!!"


Sudah kesekian kali Gian berteriak, sedikit tak tega melihat suaminya yang justru terlihat tersiksa. Radha sama sekali tak yakin jika wanita memang tukang pijat.


"Tenang, ini terjadi karena Aden kurang banyak gerak, lihat semua uratnya kaku semua."


Penjelasan paling ngarang yang pernah Radha dengar, mana mungkin urat bisa dilihat dari luar, pikirnya.


Gian memejamkam mata, tubuhnya yang mengeluarkan bunyi memang terdengar melegakan, namun percayalah rasa sakitnya juga luar biasa.


Kama dan Kalila yang hanya menonton dengan santainya menganggap sang papa tengah bermain bersama wanita itu.


Duduk manis di pangkuan Radha, Kama menepuk tangan ketika Gian lagi-lagi berteriak.


"Iyaaaan," panggil Kalila semakin kencang kala Gian berteriak bersamaan dengan kakinya ditarik paksa hingga mengeluarkan bunyi.


"Apaa, Sayaang."


Dengan suara sedikit tertekan, Gian masih menjawab panggilan putrinya walau masih seperti kemarin-kemarin.


"Papa lagi sakit jangan dipanggil," ujar Radha berbisik pelan, tubuh Gian seakan remuk, bukannya sembuh kenapa dia serasa habis dipukuli.


"Gerakakannya diulang, apa belum selesai?" tanya Gian singkat mulai sadar jika gerakan ini sudah dua kali namun Retno masih mengulangnya.


"Biar sehatnya lebih lama, Den."


Bisa saja alasan wanita itu, padahal tubuh Gian sudah terasa sangat menyakitkan. Jujur saja Gian bahkan merasa lebih baik pijatan istrinya.


"Sudah-sudah, ini sudah cukup," ujar Gian menolak halus, karena jika ia teruskan Gian takut tulangnya rontok semua.


"Lehernya belum," ujar Retno yang langsung mendalar penolakan mentah-mentah dari Gian.


"Tidak!! Terima kasih, aku sudah lebih baik," ujarnya tegas, Gian tak punya nyali lagi karena takut jika lehernya cidera lebih parah.


🌻

__ADS_1


__ADS_2