Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 189. Kehancuran


__ADS_3

"Ma! Kok diem aja, gimana kalau udah begini?"


"Diam, Celine!! Kamu lihat sendiri kan sampai malam ini Papamu nggak pulang, kamu yang keterlaluan."


Keduanya kini tengah kebingungan, Ardi tak pulang dan sebelumnya mereka terlibat pertengkaran singkat. Saling menyalahkan, baik Dewi maupun Celine. Keduanya sama-sama tak mau mengalah.


"Papa nggak pulang karena Mama, mana mungkin karena aku!!"


"Diam, atau aku hancurkan wajahmu."


Apa yang sebenarnya membuat Ardi berubah, pasalnya bukan hanya fasilitas Celine saja yang Ardi cabut, tapi juga Dewi.


Meski memang sebagai wanita ia juga memiliki penghasilan, namun tetap saja dia membutuhkan segala sesuatu dari Ardi sebagai suaminya.


Di ujung kegelisahan, Dewi kini hanya mampu melampiaskan kemarahannya pada barang-barang di kamarnya. Lelah menanti Ardi yang hingga malam hari tak pulang juga, ia kacau luar biasa.


"Stop, Ma! Apa yang Mama lakukan tidak akan menyelesaikan masalah kita."


"Lalu gimana sama kamu? Apa yang kamu lakukan bisa buat Papa maafin gitu aja? Kamu yang boros dan ga tau aturan, malah Mama yang kena imbasnya."


Bukan main kesalnya Dewi, ulah putrinya berbuntut panjang dan membuat dirinya terhempas jatuh ke jurang. Apa yang dipikirkan Celine hingga semua sekacau ini menimpanya.


"Jawab Mama Celine, kamu pakai buat apa sebenarnya? Laki-laki itu lagi?" tanya Dewi dingin sembari menatap tajam Celine.


Gugup, ia sangat takut jika Dewi tahu. Biaya yang ia keluarkan untuk kekasihnya memang cukup besar, dan itu tanpa persetujuan.


"Dasar bodoh!! Sudah Mama katakan tinggalkan dia, kamu kenapa sebenarnya, Celine!"


Melihat Celine yang hanya bungkam, Dewi makin emosi. Ingin ia lempar putrinya ini ke hutan amazon. Memang ia terlalu memanjakan putrinya, tapi tak pernah Dewi relakan jika Celine memanjakan seorang pria dalam hidupnya.


"Keluarlah, kamu hanya membuat Mama semakin pusing, Celine."


Luka, Dewi begitu sering mengeluarkan kata itu untuknya sejak pulang dari rumah sakit. Celine hancur, baik papa maupun mamanya hari ini sama, entah kenapa semua dunia jahat padanya.


-


.


.


.


"Kau benar-benar akan tetap di sini, Ardi? Apa kau tidak punya rumah?"


Raka sudah mengusir pria ini secara halus, pasalnya sampai kapan dirinya dan Gian akan menemani Ardi di ruang tamu dengan permainan jadul yang sejak tadi mereka lakukan.


"Sekali lagi, Raka ... aku pusing, dan juga aku merindukan putriku."

__ADS_1


Alasan, hanya alasan rindu tapi enggan pulang padahal sudah malam. Raka sudah mengantuk, begitupun dengan Gian yang sejak tadi gelisah menatap anak tangga.


Istrinya sudah tidur, dan Gian ingin segera bersama Radha. Akan tetapi Ardi yang terus saja menahannya membuat Gian mengalah sejenak.


"Hoam, Gian ... kau temani mertua gilamu ini, Papa ngantuk," ujar Raka tak bisa lagi bertahan lebih lama.


Sedangkan Gian yang kini mendapat perintah hanya pasrah mengangguk namun demi Tuhan ia telah memberontak ingin segera ke kamar detik ini juga.


"Sialan kau!! Kau yang gila, kenapa aku."


"Buktinya ini, mana ada mertua bertamu ke rumah menantunya hingga larut malam, kau pikir mereka tidak ingin tidur."


Ingin ia bersorak dengan kalimat yang Raka ucapkan, namun tidak mungkin karena bagaimanapun juga bavi Radha Ardi adalah papanya.


"Gian, kau keberatan Papa datang?" tanya Ardi dengan mata yang segar luar biasa, entah kapan ia mengantuk.


"Tidak, Pa ... aku senang Papa datang," tutur Gian dengan senyum yang dibuat semanis mungkin, padahal jiwanya kini tengah memikirkan Radha yang berguling-guling dengan bebasnya di ranjang super luas itu.


"Kau lihat, Gian saja suka aku datang, kenapa kau yang sewot? Sudah sana masuk, nanti istrimu tidur duluan, bahaya."


Dasar sinting, Raka tak bisa lagi berkata-kata. Mau dengan cara apalagi dia mengusir besan sekaligus sahabatnya ini.


"Terserah kau saja, untung mertuaku tidak sepertimu."


"Papa, Kakek sudah wafat, jangan dibicarakan nanti dia tersinggung." Gian masih sempat menyela, bukan suatu hal yang asing sebenarnya jika pria ini asal sebut tanpa peduli siapa yang kini ia ajak bicara.


"Heh!! Kalian tidak ada bahasan lain selain membahas mendiang ayahku?"


Gawat, Nyonya rumah kini keluar dari sarangnya. Jelita yang sejak tadi khawatir lantaran suaminya tak masuk juga kini menemukan fakta kenapa Raka masih betah di luar.


"Mas, lama banget sih, punggungku pegel."


"Mama modus, bilang aja mau di pijit plus-plus sama Papa." Tanpa dosa ia bicara, membuat pernyataan yang membuat kedua orangtuanya malu di depan Ardi.


"Gian!!"


Raka kesal tentu saja, di depan Ardi putranya masih bisa bercanda dan menjadikan dia bahan tertawaan besannya itu. Andai saja Gian masih kecil, mungkin Raka akan mengurungnya di dalam kamar mandi.


"Wuis, santai, Pa ... ingat kolesterol Papa naik, bahaya."


"Hm, betul kata Gian, Ka ... kau tidak mau kan terbaring di rumah sakit seperti 26 tahun lalu?"


Kerja sama yang bagus, keduanya sama-sama halal untuk dibakar. Baik Gian yang memiliki ide untuk membuat Raka terpojok, dan Ardi yang menambah panas suasana.


"Hah? Papa pernah masuk rumah sakit? Waw, aku bahkan tidak percaya Papa bisa sakit."


Karena yang Gian ketahui, Raka adalah sosok papa terkuat baginya. Selama ia hidup, tak pernah ia lihat papanya tumbang, begitupun dengan penampilannya, 50 tahun-an tapi jika masalah adu tonjok, Gian mungkin kalah.

__ADS_1


"Hm, pernah dong ... Mama kamu nangis-nangis, dia ketusuk paku, Gi, untung bukan kepalanya."


"Hahah, masa iya? Terus ketusuk apanya?"


Mendadak jadi menarik, Jelita yang tadinya ingin marah justru jadi ingin membahas masa lalu. Masa mencekam kala kehamilan Gian, masih jelas ia ingat bagaimana Raka yang pulang persis seperti korban penganiayaan.


"Aduh Mama jadi inget, untung ada om Andra yang selametin, kalau nggak ... metong dia, Gi."


"Ih, Mama apaan, kalau Papa metong aku gimana dong?" tanya Gian yang sama sekali tak peduli bagaiamana suramnya wajah Raka menatap mereka.


"Ya kamu kan udah jadi, Gian ... dulu kalau Papa kamu metong, mungkin aku yang menggantikan posisinya."


"Ardi, kau mau mati?"


Jika sejak tadi Raka hanya diam, kini perkataan Ardi membuatnya sedikit emosi. Dan tawa Gian yang sampai sesak napas membuatnya ingin mencakar wajah putranya.


"Papa lucu sekali, wajar Mama suka."


"Kamu juga lucu, Gian, wajar Radha bahagia," tutur Ardi dengan tulus, terdengar seperti candaan tapi memang nyata Ardi ungkapkan.


Karena ia menghabiskan waktu beberapa jam bersama Gian dan Radha di rumah ini, bahkan hal kecil yang Gian lakukan mampu membuat Radha tertawa, dan hal itu tak ia dapatkan dari Ardi sebagai papanya.


"Harus, Pa ... kalau sudah punya istri, apapun dan bagaimanapun harus dibahagiakan, jangan pernah disakiti walau itu seujung jari," tutur Gian seadanya tanpa ada niat menyinggung Ardi sama sekali.


"Betul, apalagi sampai diselingkuhi, itu adalah hal yang halal untuk dirajam," sahut Raka yang kini menyerang balik Ardi, wajah itu memerah, nampaknya Raka tengah mencubit hatinya.


"Haduh, stop ... sudah malam, lebih baik kita tidur, dan Ardi tidak perlu pulang, biar besok masih bisa ketemu Radha."


"Nah, ini yang aku mau!! Kau memang tidak peka, Raka."


"Kenapa jadi menyalahkanku? Kau sehat, Ardi?"


Jelita menggeleng, sudah menjelang punya cucu dua manusia ini masih saja sama, mereka lupa umur atau bagaimana, pikir Jelita.


"Gian, masuk kamar sana, mata kamu udah merah."


"Siap!! Ma, selamat malam."


Belum selesai dengan pikirannya tentang Ardi dan Raka, kini putranya yang berlari-lari meniti anak tangga juga membuatnya menganga.


"Aku titipkan dia padamu, Gian ... aku gagal menjaganya, Tuhan menitipkannya padaku tapi aku sia-siakan semudah itu. Maafkan aku, May, putri kita bahagia dan bersinar seperti nama yang kau berikan untuknya."


Bahkan kini, di depan Raka dan Jelita ia tak mampu menyembunyikan betapa hancurnya dirinya. Air mata, Ardi masih punya. Dan itu menetes di depan besannya.


"Ardi, kau butuh susu?" tanya Raka dengan sedikit mendendang kakinya.


"Sialan, kau! Mengganggu saja."

__ADS_1


__ADS_2