Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 172. Kebetulan (Hajar!!)


__ADS_3

Gian bernapas lega kala Radha memilih jinak dan menerima Laura baik-baik. Meski ia tak membuka diri seluas itu, terlihat jelas ketika ia memilih diam dan tak banyak tanya usai menyampaikan selamat pada Laura.


Membiarkan teman-teman suaminya itu berbincang dan sedikit menjauh dari sana, entah apa yang dibahas Radha juga kurang peduli. Tapi yang jelas beberapa cake yang kini berada di depannya cukup untuk membuat Radha diam sementara. Ya, meski sebenarnya perutnya lebih menginginkan bakwan malang tapi Radha tak menyia-nyiakan makanan.


“Bro, yang seperti dia … kau dapat dari mana?”


Andrew tampaknya serius bertanya, manik hitamnya tertuju pada Radha yang tengah sibuk mengunyah dengan santainya. Ada debaran tak terduga kala ia menatap wanita mungil berwajah imut itu sejak tadi. Kagum lebih tepatnya, karena memang Andrew belum pernah bertemu Radha secara langsung.


“Kau serius menanyakan itu?” Gian menatap kearah istrinya, hanya sosok gadis kecil biasa yang dia sendiri tak mengerti kenapa bisa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.


“Hm, serius … sepertinya gadis seumuran dia lebih menarik, cantik dan sangat menggemaskan,” tutur Andrew membuat Gian mengerutkan dahi, mulai tak suka karena istrinya dipuji pria lain segitunya.


“Minta papamu sana,” celetuk Erick yang sama sekali tak Andrew minta jawabannya.


“Aku tidak bertanya padamu, Om.”


Memang, penderitaan tersendiri bagi Erick berada di antara mereka. Perbedaan umur membuatnya dianggap sesepuh dalam pertemanan ini. Jangankan dihormati, Erick bahkan tak memiliki harga diri.


“Entahlah, aku tidak bisa menjawabnya ….” Gian menarik sudut bibir, menegak minumannya padahal sama sekali tak haus.


“Ck, pelit sekali … aku hanya minta caranya, Gi, bukan merebut peri kecilmu itu.” Andrew membuang napas kasar mendengar jawaban Gian yang baginya luar biasa menyebalkan.


“Tuhan memberikannya padaku secara tiba-tiba, aku tidak memintanya bahkan sempat menolak keberadaannya. Andai saja aku waktu itu menolak maunya Papa, mungkin dia tidak akan pernah jadi milikku.”


Tanpa jeda, Gian menjawab dengan mantapnya. Sorot matanya teramat jujur dan tak dapat dibohongi betapa ia memang mencintai Radha sedalam itu. Sebagai pria dewasa yang pernah merasakan sakitnya cinta, wanita itu benar-benar penyembuh luka bagi Gian.


“Papa? Maksudmu om Raka yang meminta kalian menikah?”


“Ah sudahlah, kau ini benar-benar ketinggalan berita … makanya jangan cuma wanita kau pedulikan, sahabatmu hampir gila kau bahkan tak peduli.”


Gian tertawa sumbang kala Erick menyela pertanyaan Andrew. Terkadang Gian memang merasa lucu, karena dia tak seterbuka itu selain pada Erick, tapi kali ini justru Erick mengatakan Andrew kurang peduli padahal memang sahabatnya itu tak mengerti apa-apa, yang Andrew tahu Gian sudah menikah, itu saja.


“Aku memang tidak tau apa-apa gila, kau membuatku emosi saja, Erick … aku batalkan kado pertunanganmu mau?”


Ercik menggeleng cepat, rugi besar pikirnya jika Andrew mengambil kembali mobil mewah itu. Mobil impian yang sebenarnya ia mampu beli sendiri, namun akan lebih hemat jika ditanggung sahabat tajirnya itu, pikir Erick.


“Ampun, Tuan muda, aku akan diam setelah ini,” tutur Erick sembari mengatupkan tangannya, formalitas namun bibirnya mencebik seakan mengejek temannya itu.

__ADS_1


Terlalu asik dengan pembicaraannya yang kini menjalar kemana-mana, Gian tak sadar jika Radha telah berpindah dari pengawasannya. Wanita itu mulai bosan, namun ia enggan jika harus kembali pada Gian, memilih duduk di tempat yang sekiranya sepi, ia ingin meregangkan otot kakinya sejenak.


-


.


.


“Hai, boleh aku duduk di sini, Nona?”


Suara itu tampak familiar dan Radha yang tadi fokus dengan benda pipih milik suaminya itu kini mendongak, belum ia jawab pertanyaan itu dan pria tampan itu telah duduk di depan Radha. Senyumnya terlihat ramah, gigi rapihnya dapat Radha saksikan dengan jelas.


“Kau ingat aku?”


“Ehm, siapa ya? Sebentar aku lupa, sepertinya kita pernah bertemu tapi dimana?” Bukannya menjawab Radha justru balik bertanya, wajah itu benar-benar familiar, tapi sungguh kenapa ingatannya hari ini benar-benar lemah.


“Juan,” ucap pria itu setelah beberapa saat namun Radha belum juga mengingatnya, sungguh Juan patah hati.


“Ah iya!! Bang Juan, astaga … maaf, aku lupa.”


“Kamu sendiri?”


Menggeleng pelan, tak mungkin juga ia mengaku jika tengah bersama suami. Karena yang Juan tahu, ia hanya siswi SMA. Akan banyak pertanyaan jika nanti Juan tahu kehidupan pribadinya, senyum kakunya berusaha Radha tutupi. Sembari menatap ke arah Gian yang masih tampak sibuk dengan teman-temannya, ia hanya takut jika kehadiran Juan diketahui suaminya.


“Kamu lihat apa?”


“Ah, enggak … cari mama aku,” jawab Radha singkat menghindari kecurigaan Juan, sekaligus memang terbesit keinginan untuk menghampiri sang mama.


“Oh ada mama kamu? Kebetulan,” ujar Juan membuat Radha mengerutkan dahi, apa yang dimaksud pria ini, pikirnya.


“Kebetulan gimana?”


“Ehm, sekalian Abang mau ketemu sama calon mertua,” ucap Juan seketika membuat Radha meremang, menggelikan, pikirnya.


Ingin berlari, namun jelas akan membuat Juan sakit hati. Karena selama ini, Radha sangat tak nyaman dengan laki-laki yang berani terang-terangan memperlihatkan perasaannya. Sama halnya dengan Abian beberapa bulan lalu, meski akhirnya Radha mampu menerimanya sebagai teman yang baik tetap saja ia menganggapnya sejenis seperti Juan.


“Bercanda, oh iya, kamu udah baca puisinya?”

__ADS_1


“Hah? Puisi, puisi apa?” Pertanyaan itu muncul di benak Radha, karena setahu dia tidak pernah menerima apapun apalagi dari Juan.


“Abang chat kamu setelah kita ketemu hari itu, kamu lupa, Ra? Atau malah nggak baca?”


Radha mendadak mengerti, kenapa Gian waktu itu menyita ponselnya hingga saat ini usai menanyakan siapa itu Juan. Pasti ini biangnya, pikir Radha justru menatap kesal pria di depannya. Gara-gara Juan, ia bahkan tak bisa mengakses sosial media dan memantau kehidupan para idolanya.


“Maaf, mungkin tenggelem, Bang.”


“Tenggelam, emang itu sejenis lautan atau gimana bisa tenggelam,” tutur Juan tertawa sumbang, bukannya mengerti jika Radha risih dengannya, malah menganggap Radha semakin lucu.


“Cantik banget sih, ikut Abang yuk.”


Pria itu tanpa takut menarik pergelangan tangan Radha, berniat mengajaknya berdansa layaknya beberapa pasangan kekasih yang ada di sana. Panik? Jelas saja dia panik, bukan main. Berusaha ia melepaskan genggaman yang lembut namun cukup sulit Radha lepaskan.


BUGH


Pukulan itu menghantam wajah tampan Juan, ia yang tak memiliki persiapan sama sekali gelagapan ketika Gian menghamtamnya dengan bogem mentah secepat itu.


“Kakak!! Astaga … ya Allah, Bang pakek ngungsep lagi,”


Sebenarnya ia lega, kehadiran Gian yang tiba-tiba membuatnya terlepas dari kelembutan Juan yang justru terkesan memaksa. Ia dapat lihat gurat kemarahan Gian begitu membara, sekuat tenaga Radha berusaha agar Gian tak lagi memukulnya untuk kedua kali.


“Kakak udah! Kasian, Bang Juan nggak buat aku celaka,” tutur Radha menahan suaminya agar tak menjadi pusat perhatian lebih lama, ia hanya takut jika nanti Gian menjadi tontonan tak wajar dan merusak suasana pertunangan Erick.


“Juan? Woah kebetulan … dari kemarin aku mencarimu, kau datang sendiri ternyata.” Tanpa pikir panjang, toh memang Gian mencari pria ini untuk memberikannya pelajaran, dan kini mangsa itu di depan mata, kenapa dia harus diam.


“Kak cukup!!” Radha berteriak kala Gian dengan keras kepalanya ingin kembali menyerang Juan yang kini tengan meringis lantaran perih di sudut bibirnya.


“Gian hentikan, kau bisa membunuh anak orang, tahan emosimu.” Erick dengan langkah panjangnya, melerai kedua orang ini untuk tak saling melukai.


“Dia menyentuh istriku!! Apa aku harus diam saja, hah?!!”


🌻


Hm, babay , kalau bisa 3 aku bakal up 3 ya bond🤗


Sehat selalu kalian semua. Buat cowok-cowok gausah sembarangan gombalin perempuan ya, ntar kek Juan.

__ADS_1


__ADS_2