Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
END


__ADS_3

Menjadi seorang Radha bukanlah hal yang mudah. Di usia muda hidupnya dapat dikatakan kacau dan berbeda. Dulu memang dia sangat membencinya, bahkan luar biasa membencinya. Dianggap sebagai kesalahan, dan bahkan sebegitu bencinya Maya dahulu padanya.


Tak pernah ia duga, Tuhan mempertemukannya bersama Gian. Pria dewasa yang awalnya ia anggap sebagai bencana, nyatanya jalan cerita paling indah. Bersama Gian, Radha mengerti bahwa dunia tak sepahit yang ia duga.


Menyaksikan senyum kedua orang tuanya, Radha dapat merasakan jika mereka sama-sama menyayanginya. Baik Ardi maupun Maya, walau sempat sesulit itu untuk berdamai, kini mereka mampu saling menerima diri tanpa mengungkit kesalahan.


"May, nggak masalah kan ya Ardi ikut ... aku nggak tega liat dia sendirian," bisik Jelita hati-hati, pasalnya Jelita yang memberi ide untuk mengajak serta Ardi karena tak tega besannya itu menopang dagu di hari raya.


"Enggak, Mba, aku justru bersyukur jika semua baik-baik aja. Mas Wira juga tidak mempermasalahkan hal ini lagi."


Memang benar, semenjak mereka kerap bertemu dan interaksi semakin baik. Wira tak segila dahulu, nampaknya pria itu sadar jika cemburu dan cinta yang ia berikan justru membuat Maya menderita.


"Syukurlah, aku seneng suami kamu nggak sinting lagi."


"Mama," cicit Radha menggigit bibir bawahnya, jujur saja diantara manusia di dunia Radha sedikit ciut jika berhubungan dengan papa tirinya.


"Jauh, Ra, nggak bakal dia denger juga," bisik Jelita tapi bisa didengar dari jarak 3 meter.


"CCTV on loh, Mba." Maya berucap santai sembari mengaduk teh manis di depannya, sontak Jelita panik dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Dia lupa siapa suaminya atau bagaimana, pikir Maya.


"Kok nggak bilang!! Ih sumpah, Maya ... kamu mau aku dibakar si Wira?"


"Ya memangnya mas Wira segila itu, dikira kambing kali ah pakek dibakar." Maya menggeleng pelan, suaminya tak sekejam itu juga. Jelita benar-benar berlebihan.


"Ehem, Ma."


Suara berat dan membuat ketakutan Jelita semakin menjadi. Putranya muncul tiba-tiba dan membuatnya kaget luar biasa, untuk saja gelas di tangannya tidak melayang.


"Kebiasaan, manggil pelan kan bisa, kamu mau ngapain sih?" sentak Jelita sembari mengelus dadanya, sementara Gian yang merasa tak salah hanya menatap datar Jelita.


"Mama berlebihan, aku cuma mau Radha bentar."


Apa salahnya, pikir Gian heran. Padahal tidak ada yang salah darinya. Hanya saja memang Jelita yang pantang dikagetkan.


"Kama sama Kalila mana?" tanya Maya sedikit heran, karena yang ia tahu sejak tadi cucunya bersama Gian.


"Ada, sama Papa kok, Ma."


Gian menjawab santai tanpa dosa sama sekali walau sempat membuat sang mama hampir pingsan di tempat. Jelita ingin marah tapi tak mungkin karena saat ini mereka bukan berada di rumahnya.


Sejak pagi Gian sulit mencuri waktu untuk dapat berdua bersama istrinya. Kesibukan membuat Radha harus sejenak terpisah beberapa waktu karena tak mungkin keduanya akan menempel terus-terusan.


"Ya sudah sana, kek anak muda aja kudu beduaan."

__ADS_1


"Mama sewot ah, kan memang masih muda."


Sempat-sempatnya dia bicara sembari mencubit pinggang Jelita. Tak salah memang jika Jelita menjuluki putra sulungnya ini sebagai psikopat kepribadian ganda.


"Dasar sinting, untung aja anak, kalau bukan udah lama masuk penjara." Jelita mengomel luar biasa, sungguh tingkah laku Gian membuatnya lelah luar biasa.


"Sabar, Mba, gitu-gitu kamu sayang banget pas dia masih kecil," tutur Maya menarik sudut bibir, terbayang bagaimana dulu Jelita marah bahkan membuat kepala Randy terluka ketika Gian tak sengaja tertinggal di kebun binatang dengan alasan Randy takut gajah.


"Dia masih kecil nggak usil, May ... nggak tau dewasa jadi begitu."


Hal ini memang menjadi hal yang cukup Radha bingungkan, bagaimana bisa Gian berubah menjadi segila itu padahal sewaktu kecil dia benar-benar meratukan Jelita.


-


.


.


.


"Kakak mau apa?"


Sengaja berlari ke taman belakang demi mencari tempat sepi. Sepertinya Gian memang tak bisa lepas dari Radha, terlepas dari statusnya yang kini sudah mempunyai dua anak.


Radha terperanjat kaget, pasalnya pria ini justru meraih tengkuknya tiba-tiba dan menciumnya tanpa aba-aba. Dan kesalnya kenapa Gian memilih tempat ini yang bisa saja terlihat adik-adiknya.


"Apa-apaan sih, gila ya?" tanya Radha sedikit kesal sembari mendorong tubuh Gian, namun sama halnya tak berguna karena tenaga pria itu lebih besar darinya.


"Kok nolak? Kenapa?" tanya Gian tiba-tiba dingin, bukannya takut Gian yang begini justru membuat Radha kesal.


"Pakek otak dong, ini dimana? Kalau sampai Arunika lihat gimana?"


"Dia juga sudah mengerti, Ra."


Dimana hari Gian menerima penolakan, tidak ada!! Baginya semua harus menjadi miliknya. Tak peduli dimana tempatnya, selagi ia merasa memang haknya.


"Tapi nggak di sini juga, Kak."


Gian hanya menarik sudut bibir, jemarinya kini meraih kotak perhiasan sekecil amal ibadahnya di sana. Bisa Radha tebak pria itu akan melakukan hal romantis tiba-tiba sepertinya.


"Happy Birthday, Radhania ... doanya udah Kakak ajukan sebanyak-banyaknya sama Tuhan, semoga Tuhan kabulkan ya, Sayang."


Radha bingung jika Gian sudah begini, semarah apapun dia jika sudah begini hatinya luluh juga. Gian menyematkan cincin yang kesekian itu di jemari istrinya.

__ADS_1


"Makasih, Kak ... tapi," tutur Radha sengaja menggantung ucapannya, sedikit heran dan bingung kenapa Gian bisa lupa.


"Tapi apa, Sayang?"


Gian bingung tentu saja, dia merasa tidak ada yang salah. Jika hanya perihal menciumnya secara tiba-tiba sepertinya tidak begitu masalah bagi Radha.


"Aku nggak ulang tahun, ulang tahun siapa yang Kakak ingat? Apa Kakak punya wanita lain selain aku?"


"Hah?"


Wajah bingung sembari mengingat-ngingat, benar-benar merusak keromantisan yang tengah Gian usahakan. Dia yang salah momen atau bagaimana sebenarnya.


"Hah gimana? Hari ini juga bukan ulang tahun anak kita, terus siapa?" tanya Radha semakin mengintimidasi, menatap tajam Gian bahkan wajahnya semakin menakutkan.


"Bukannya ulang tahun kamu? 03 Mei kan?"


"30 Mei!! 03 Mei mah ulang tahun Kakak."


Ingin marah tapi mau bagaimana, Gian mengusap kasar wajahnya, kenapa bisa dia salah begini. Pria itu menggigit bibirnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama


"Apa iya?" tanya Gian masih tak percaya, sungguh dia benar-benar pikun rupanya.


"Iyaa, Kak ... coba ingat-ingat lagi."


Tak peduli salah momen, yang jelas cincin secantik itu sudah tersemat di jemarinya. Niat hati ingin memberikan kejutan untuk Gian, nyatanya dia dibuat terkejut sendiri oleh suaminya ini.


"Yaudah sini cincinya, buat tanggal 30 Mei saja," pinta Gian kembali, mana mau Radha memberikannya lagi.


"Nggak bisa lah, enak aja."


"Ya masa begitu? Kan belum waktunya," ungkap Gian merasa waktunya tidak pas, dia ingin cincin itu diberikan di waktu yang tepat.


Gian tertawa sumbang kala istrinya sontak berlari begitu Gian menginginkan cincinnya kembali, sungguh istri yang baik sekali. Menatap istrinya dengan sejuta kebahagiaan, hidup Gian semakin sempurna seiring bertambah dewasa umurnya.


"Terima kasih telah menjadi duniaku, semoga Tuhan menjadikan kamu sebagai sesuatu yang aku butuhkan, Ra." -Dirgantara Avgian.


"Takdir mendewasakanku secepat itu, tapi kamu pemeran utamanya dibalik proses itu." -Radhania Cheilla Azzura.


"Aku berusaha sembuh, tentang aku, kamu dan tentang sakitnya takdir mempertemukan tanpa niat menyatukan." -Haidar Zhafran Abrisam.


END❣️


Terima kasih semua, sakit banget harus pisah sama mereka. Karya ini aku bangun susah payah, jatuh bangun walau akhirnya mampu tetap nulis sebanyak ini. Jangan di unfav dulu, author mau kasih pengumunan nanti perihal karya baru beberapa hari lagi. Tunggu ya🦔

__ADS_1


__ADS_2