Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Cari Mati


__ADS_3

"Eeh, mau kemana kamu lari-lari?"


Melihat menantunya berlari menghampiri, Jelita khawatir tentu saja. Sudah pasti ia takut istri putranya itu celaka, seperti dulu awal pernikahan. Harapan Jelita terlalu besar, bahkan yang ia sudah mengira-ngira waktu kapan ia mendapatkan cucu.


"Cari apa Sayang?"


Dengan senyum tulus namun tak melepaskan pekerjaannya, Jelita bertanya sembari menatap menantunya yang terlihat kebingungan.


"Cabe, Ma." Ia menjawab polos, karena memang pekerjaan yang sempat ia tunda itu kini tak ia temukan lagi.


"Sudah di beresin sama Layla, kamu ngapain kesini? Kan udah Mama bilang istirahat sana sama Gian."


Radha beralih mendekati Jelita, nampaknya sejak tadi Layla enggan menyapanya. Padahal setelah ia sadari kini wanita itu tengah mengeksekusi cabai yang Radha cari-cari.


"Tapi aku nggak capek, Ma."


Bisa saja menjawab, daun bawang itu kini menjadi mainannya. Seakan kurang dengan menyentuh bumbu dapur di sana, padahal suaminya sudah celaka hanya dengan Radha menyentuh satu saja hal yang ada di sana.


"Ya udah, liatin aja di situ."


Entah sebuah hal yang menjadi kebiasaan atau bukan, meski Radha meminta untuk di ajarkan banyak hal termasuk urusan dapur, tapi Jelita tampaknya belum mengizinkan Radha benar-benar melakukannya.


Dengan alasan takut jika nanti tangannya terluka, atau kulitnya terbakar minyak panas dan hal-hal lain yang menjadi pertimbangan Jelita, hingga ia membuat Radha terlihat seperti anak manja yang tak tahu apa-apa.


Tapi berbeda halnya dengan Radha, wanita ini tampaknya tak suka jika hanya berdiam diri saja. Ia beranjak dan kini menghampiri Layla yang tengah menggoreng ikan di sana.


Persis seorang juri yang tengah menilai konsestan dalam lomba memasak, Radha memang hanya memperhatikan. Ingin bertanya banyak, tapi sepertinya pembantu di rumah ini terlalu pendiam, pikir Radha.


Beberapa detik pertama aman, ia menatap teliti minyak panas yang terlihat tenang itu. Hingga kala Ikan itu Layla masukkan, ia terperanjat kaget lantaran percikan minyak itu mengenai lengannya.


"Arrgghh Mama."


Tentu saja Jelita panik, segera ia tinggalkan pekerjaannya dan tangan Jelita menjadi fokusnya. Merah, dan itu lumayan besar. Tampak seperti siraman, bukan lagi percikan.


"Astaga!! Sudah Mama bilang jangan di sini, Radha ... kenapa kau batu sekali, hm."


Ia menarik Radha agar sedikit menjauh, namun herannya ia, yang panik dalam hal ini hanya dirinya seorang. Sedangkan Radha perlahan tenang dan Layla tampak diam karena mungkin takut majikannya akan marah.


"Kau bisa hati-hati kan, Layla? Kau bukan pertama kali menggoreng ikan? Kenapa seceroboh ini?!!"


Jelita tahu kemampuan asisten rumah tangganya, hal semacam ini harusnya tak seheboh ini. Dan bahkan Layla ia kenal dengan pekerjaan yang begitu teliti dan juga hati-hati.


"M-maaf, Nyonya ... saya tidak sengaja," tuturnya tanpa berani menatap ke arah Jelita, kemarahan Jelita adalah hal yang langka, dan jika ia telah menerimanya maka ia tengah dalam bahaya.

__ADS_1


"Tunggu Mama di sini, jangan kemana-mana."


Radha mengangguk, menurut dengan apa yang mertuanya perintahkan. Radha meringis, bahkan rasanya kini ia ingin menangis, merah yang begitu nyata di kulitny yang putih.


Namun anehnya, Layla justru menatap datar dirinya yang terlihat kesakitan. Tak ada penyesalan ataupun keinginan untuk meminta maaf pada Nona mudanya. Ia hanya fokus dengan pekerjaannya kini, toh Radha juga tidak terlalu parah, pikirnya.


"Radha, sini ikut Mama."


Seharusnya Layla yang merasa bersalah, justru dirinya yang ketar ketir. Karena yang ia hadapi nanti bukan hanya putranya, melainkan suaminya. Raka begitu teliti tentang hal-hal yang terjadi pada Radha, dan Jelita tidak ingin keributan terjadi lagi.


"Hanya sedikit kemerahan, kenapa Nyonya sekhawatir itu padanya."


Ia membuang napas perlahan, tersenyum tipis sembari menatap ikan-ikan yang kini berada di minyak panas.


********


"Katakan!! Ini kenapa?"


Jelas ia marah, dengan wajah yang sudah merah padam Gian menuntut penjelasan Radha. Kembalinya sang istri ke dalam kamar yang tiba-tiba membawa tangan yang tak baik-baik saja itu membuat amarah Gian meluap.


"Zura, kau tidak punya mulut atau kenapa? Kenapa dengan tanganmu?"


Ia belum sempat menjawab, bahkan sejak awal melangkah ke dalam kamar Gian sudah memburunya dengan pertanyaan tiada henti. Baru saja hendak membuka mulut, namun pria itu lagi-lagi menuntut penjelasan.


"Pasti kau coba-coba melakukan hal yang sudah Mama larang kan?"


"Bu-bukan begitu ...."


"Terus apa? Jangan bilang ini luka karena air panas? Kau tidak pernah minum kopi, Zura ... dan juga apa tidak bisa kau meminta Layla atau yang lain jika kau membutuhkan sesuatu?"


Radha memejamkan mata, kapan ia akan bicara jika suaminya lebih cerewet dari ibu kos di akhir bulan seperti ini. Ingin rasanya ia bungkam mulut suaminya itu sejenak dengan benda-benda yang ada di kamar ini.


"Kakak mau dengar aku atau tidak?"


"Ck, cepat katakan, kenapa?"


Sebelumnya ia ingin jujur, namun melihat bagaimana Gian kini rasanya mengadu dan memberitahukan hal yang sebenarnya sama saja membuat Layla dalam bahaya.


"Jangan berbohong, Ra ... kau tidak mungkin berani menggoreng ikan, menyentuh ikannya saja kau takut."


Ia menangkap kebohongan itu dengan jelas, tampaknya Radha berusaha menyembunyikan sesuatu. Hingga ia beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Jelita yang ia yakini masih di dapur.


"Ma!!"

__ADS_1


"Mama!!"


"Kak, jangan teriak-teriak begitu," pintanya begitu khawatir lantaran Gian mencari Jelita tak seperti biasanya.


"Ck, lepaskan aku!! Aku goreng orang yang membuatmu terluka itu." Ia membuang napas kasar, karena yang ada di dadanya kini hanya kecurigaan besar pada asisten rumah tangganya.


"Hei kau!! Kenapa berani menatapku?"


Apa yang Radha takutkan benar-benar terjadi, Ia menangkap Layla yang baru saja merapikan kompor dan beberapa peralatan di sana. Dan Gian dapat dengan mudah menyimpulkan penyebab luka istrinya.


"Ulahmu kan?"


"Maksud tuan muda apa? S-saya tidak mengerti," tuturnya kali ini benar-benar takut, tak seperti sebelumnya kala ia menghadapi Jelita, genggaman tangan Gian di pergelangannya begitu kuat hingga terasa sakit.


"Kau lihat!! Kau punya mata yang masih berfungsi dengan baik kan?"


Ia menghempas tangan Layla usai berhasil membawa wanita itu mendekati istrinya. Wajah tak nyaman dan khawatir Radha tak dapat ia sembunyikan, Gian kini benar-benar marah, bahkan kelembutan yang Radha coba nyatanya tak berhasil.


"Maaf, Tuan ... saya tidak sengaja, Nona muda yang mendekat dan membuat saya terkejut dan saya juga tidak tau jika cipratan minyak itu akan melukainya," ucapnya membuat Radha mengerutkan kening. Padahal yang ia ingat, tidak ada yang seperti itu, bahkan ia telah menyapa Layla sebelum memerhatikan apa yang wanita itu lakukan.


"Jangan berbohong, luka itu terlalu besar jika kau mengatakan hanya cipratan minyak."


Dalam keadaan begini, yang sungguh ia takuti ialah Gian membalas secara tuntas apa yang telah istrinya terima. Dengan kasar ia menarik lengan Layla menuju dapur dan memerintahkan Layla untuk menuang minyak lagi ke dalam penggorengan di atas kompor.


"Nyalakan," titahnya yang membuat Radha panik, suara dingin Gian mendominasi bahkan mengalahkan panasnya api kompor itu.


"Kakak jangan gila, jangan Mba."


"Nyalakan, Layla, aku yang harus kau patuhi di sini."


"Jangan, Mba ... Please!!"


"Kau bisa diam, Zura?"


"Kakak tidak berhak menyiksanya," tutur Radha mengelengkan kepala, memohon agar Gian menghentikan niat gilanya.


Gian berdecak kesal, ia menatap dingin Radha di sampingnya. Lalu fokus menatap wajah pucat asisten rumah tangganya, berani berbuat sudah tentu harus menanggung akibatnya.


"Kau mau mati?"


"Maafkan saya, Tuan."


Tak ia duga, hal seperti ini dapat membuat amarah suaminya begitu besar. Radha menatap khawatir wanita yang tak berbeda jauh umur darinya itu, sudah tentu ketakutan menyerangnya, namun tampaknya Gian tak tergoda dengan air mata yang sudah membasahi pipi wanita yang kini tengah bersimpuh di depannya.

__ADS_1


"Melukai istriku sama saja kau cari mati," tuturnya dingin dan menatap rendah wajah kusut Layla.


__ADS_2