
Niatnya untuk pulang tak terlaksana dengan sempurna. Pasalnya Radha yang tiba-tiba meminta Gian mengantarnya bertemu Caterine dengan alasan merindukannya.
"Tapi bentar aja ya," tutur Gian seakan tak ikhlas, karena di sana ada Jelita yang biasanya ia akan merasa kesepian lantaran tiga wanita ini akan sibuk sendiri dan tak peduli tentang dirinya.
"Tergantung, kenapa memangnya? Kok kayak nggak suka?"
"Bu-bukan gitu, Sayang ... Kakak pikir kamu harus tidur siang," tutur Gian tersenyum tipis.
Bisa saja mengarang alasan, Gian membenarkan alasannya dengan mengkhawatirkan Radha kurang istirahat. Padahal, sudah jelas niatnya ingin berdua bersama sang istri di hari libur dadakannya.
"Enggak, kan malem bisa tidur cepet."
Mendengar kata malam Gian rasanya lelah sendiri, mengingat bagaimana perjuangannya terasa amat berat di malam hari. Menemani Radha dan terpaksa harus bangun tengah malam, itu rasanya sedikit menyiksa.
Tak punya pilihan lain, Gian hanya boleh menuruti kehendak istrinya. Berlalu ke rumah Randy dengan kecepatan sedang dan iringan musik yang membuat suasana seakan terasa makin romantis, bagi Gian bukan Radha.
"Ih selera musiknya jadul banget sih, Kakak nggak gaul banget."
"Hah? Nggak gaul gimana, ini lagu paling enak, Zura ... pakek ngatain lagi."
"Cari yang lain lah, aku nggak suka melow-melow begini, kita nggak lagi dalam suasana berduka ya, Kak."
Hanya sebuah lagu, dan keduanya berdebat bahkan Gian menerima secuil hinaan dari Radha. Sungguh tak masuk akal, bagaimana bisa ia memiliki istri yang sesadis ini dalam bicara.
Lampu merah menghentikan sejenak perjalanan mereka, jika biasanya Gian akan marah-marah bahkan nekat menerobosnya, kini ia sangat hati-hati dan takut bila hal buruk terjadi karena tingkahnya.
"Kak, liat deh, mereka sweet banget."
Gian melihat keluar, apa yang Radha anggap sweet padahal perlakuan Gian sudah sangat amat sweet menurutnya.
"Sweet apanya, panas, Zura ... kamu nggak sayang sama kulit kamu?"
Hanya pasangan muda yang kini berpelukan dengan mesranya di atas motor. Apa enaknya bagi Gian, yang ada hanya panas dan ketampanannya terancam tercemar polusi udara ibu kota.
"Nggak juga sampai kebakar lah, Kakak nggak pernah rasain sih enaknya naik motor." Radha mencebik, Gian sama sekali tak asik jika diajak bicara masalah ini. pikir Radha.
"Kenapa jadi bawa-bawa motor? Kamu inget bocah itu atau gimana?"
"Bocah? Siapa yang bocah?"
"Abian atau siapa itu, iya kan ingat dia?"
Fitnahnya benar-benar lancar, Radha sama sekalintak memikirkan Abian. Dan bisa-bisanya Gian justru memikirkannya.
"Nggak inget siapa-siapa, Kakak ... jangan salah paham dong," tutur Radha selembut-lembut, andai saja lampu hijau tak kunjung tiba, mungkin Gian akan membahasnya lebih lama.
Dan sialnya, walau tak lagi dia bahas wajah Gian masih sama kusutnya. Entah mengapa pria ini sangat sensitif jika berhubungan tentang Abian, padahal anak itu baik-baik dan tak lagi mengusik kehidupannya sama sekali.
Mungkin terlalu banyak hal yang ia lakukan untuk Radha dulu, bahkan sebelum Gian menjadi suaminya, keduanya sudah lebih dulu dekat walau tak se-intens itu.
__ADS_1
Perlahan, kini mereka memasuki rumah Randy yang lebih mirip istana dengan putri kerajaan di dalamnya. Penjagaan masih ketat seperti biasa, meski Harry tak lagi mungkin menjangkau Caterine, tapi hal itu masih Randy lakukan untuk menghindari kedatangan orang luar tanpa seizinnya.
"Kok makin banyak, Kak? Kata Kakak baik-baik saja, aku jadi merinding."
Meskipun ia telah mengetahui apa yang terjadi pada Caterine, akan tetapi tak ia duga jika keadaan sangat amat berubah seperti ini. Ini kali pertama dia bertamu dan kembali menemui Caterine setelah berita buruk itu ia dengar.
"Om Randy melakukannya demi Caterine, Ra ... dan juga di sini banyak maling, kemarin lampu taman tetangganya di gondol maling, Ra.
Sedikit tidak ia percaya, bahkan tak sama sekali. Dari mana Gian mengetahui hal semacam itu, apa dia kurang pekerjaan atau bagaimana, pikir Radha.
"Terus malingnya apa kabar? Apa nggak kestrum, Kak?"
"Enggak sih, cuma koma di rumah sakit," tutur Gian dan memang keduanya berbincang sangat serius.
-
.
.
.
Begitu berbeda, Radha memasuki halaman rumah itu seakan baru pertama kalinya. Apa sekhawatir itu Randy hingga mengubah rumahnya yang biasanya terlihat tenang kini dijaga ketat persis tempat penyanderaan.
"Ih Kakak, sejak kapan ada anjiing?"
"Beberapa hari lalu, itu anjiing blasteran, Ra ... Om Randy bilang keturunan Eropa."
"Bodo amat, Kak, mau dia blasteran atau apapun, ngapain om Randy pelihara gituan ya Tuhan."
Wanita itu tak bercanda, bukan pura-pura takut tapi memang dia takut. Bahkan ia melangkah tak beradi jika jauh-jauh dari Gian.
Belum usai disitu, ketika hendak memasuki rumah itu, penjaga lainnya bahkan ada di depan pintu. Tak hanya satu, tapi dua orang.
"Silahkan tuan muda," ujar salah satu di antara mereka sembari membukakan pintunya.
Meski keluarga Gian kaya, belum pernah ia melihat penjagaan segila ini. Bahkan jika Radha datang sendirian, rasanya ia lebih baik meninggalkan tempat ini dibandingkan terus masuk.
"Mereka orang-orang terbaik yang diminta menjaga Caterine selama waktu yang tidak om Randy tentukan, mungkin selamanya."
"Woah." Radha berdecak kagum, seakan lupa jika alasan semua ini terjadi karena kejadian suram yang sempat membuatnya mual ketika Radha tahu beritanya.
"Mama di dapur, kamu temui saja, Kakak ke atas ... ada sesuatu yang perlu dibicarakan."
Wanita itu mengangguk patuh, kini berlalu menuju dapur dan ingin melihat bagaimana sepupunya saat ini. Radha yang biasanya tak canggung sama sekali, kini merasa semuanya kaku dan takut.
"Mama," panggil Radha membuat wanita itu mengangkat wajahnya, menantu cantiknya ini menghampiri dan Jelita seakan tak percaya.
"Udah belanjanya, Ra? Suami kamu mana?" Jelita menyambut hangat menantunya, ia masih sibuk dengan bahan-bahan kue yang kini sedikit berantakan di depannya.
__ADS_1
"Udah, Kak Gian ke atas ... Mama buat apa?"
"Caterine minta Cup Cake, katanya pengen ... udah lama nggak makan."
"Aaah aku juga mau, Mama buatnya yang banyak ya."
"Iyaya, untuk kalian berdua, kamu udah makan belum? Mama masak banyak itu, biasanya laper mulu," tutur Jelita menatap menantunya jahil, kebiasaan makan Radha yang tak biasa bukan hanya menjadi candaan Ardi, akan tetapi seisi rumahnya.
"Kak Ket mana, Ma?"
"Berenang, panas katanya."
Mendengar hal itu, Radha yang memang suka tak memikirkan banyak hal dan berlari menemui Caterine. Benar-benar menantu yang bijaksana bukan? Radha hanya menggeleng sembari tersenyum hangat, memiliki Radha sama persis seperti memiliki anak gadis yang sedang manja-manjanya.
"Hei!! Kamu baru dateng, Ra?"
"He'em, boleh gabung ga, Kak? Aku juga pengen," tutur Radha tak sabar dan kini membuka bajunya.
"Bisa berenang?"
"Bisa sih, gaya batu."
"Heh!! Serius, Ra, jangan bercanda ya, ini kedalamannya 2 meter loh." Bukan karena menakut-nakuti, tapi memang Caterine khawatir jika Radha terkena masalah nantinya.
"Kakak tenang aja dong, aku bisa."
Kebetulan sepi, pikirnya. Celana pendek dan tanktop takkan membuatnya malu walau nanti ada Jelita yang kemari. Dan Caterine jelas senang begitu Radha turut berenang bersamanya, berharap wanita mungil itu tak tenggelam.
BYUR
"Eh beneran bisa ternyata," tutur Caterine begitu menyadari jika Radha benar-benar pandai, bahkan mengalahkan lumba-lumba.
"Bisa kan!!"
"Haha iya bisa, kamu bilang gaya batu, itu kan gaya ratu, Radha."
Sejenak Caterine lupa bagaimana lukanya, seberapa sakit hidupnya dan bahkan lembaran baru itu tak sesulit itu untuk ia buka. Senyumnya terlalu lebar untuk seseorang yang tengah dipeluk luka berdarah, Radha tak menyadari jika pengaruh dirinya sebesar itu bagi orang lain.
Tbc
Buat yang ga sabar nunggu aku up, ya baca karya aku yang udah end aja.
Wajib Baca😎
Give Away buat 5 besar pendukung Gian tetap berlaku dan itu aku umumin setelah End. Ini terkecuali dua akun, yaitu akun aku sama akun Habi.
Sama buat komen terbaik juga aku pilih ya, acak sih.
3 Komen ya.
__ADS_1