
Pagi-pagi sekali, seisi rumah sudah heboh sekali. Radha bangun sangat pagi bahkan sudah mandi, Gian masih mengumpulkan nyawa ketika tirai jendela itu dibuka lebar.
"Sayang, ini masih pagi? Mau kemana?"
Sulit untuk menjelaskan, namun Radha harus mengikuti rencana yang lainnya. Ia tengah berbohong besar-besaran kini, walau memang ia tahu memang ini tidak seharusnya, bahkan Radha merasa semua ini kelewatan dan sudah tidak wajar lagi.
"Hari ini kita mau pergi, Kakak juga siap-siap, pakaiannya udah aku pilih ... sekarang aku mau mandiin anak-anak dulu."
Ingin bertanya banyak, namun sepertinya Radha memang luar biasa sibuknya. Gian meregangkan otot-ototnya, jujur saja ia masih sangat malas pagi ini.
Namun, jika Radha yang meminta maka Gian akan tetap melakukannya. Tak peduli ia semalas apa, bergegas mandi dan mengikuti alur dari istrinya.
Tak butuh waktu lama, karena Gian merasa sangat dingin. Pria itu sendirian di kamar, mengeringkan rambut dan kini mengenakan pakaian yang telah Radha siapkan.
"Mau kemana sebenarnya," tutur batin Gian bertanya-tanya, sejak tadi malam dia tak henti merasa ada yang aneh dengan keluarga besarnya.
Tak banyak berpikir, pria itu segera bersiap karena tak ingin nantinya Radha mengamuk lantaran pusing akibat menjaga dua anak dan dirinya sekaligus.
Menghampiri kedua anaknya lebih dulu, mereka menyambut kedatangan Gian penuh suka cita. Tentu saja harus ada adegan teriak-teriak antara Kama dan Kalila.
"Heboh banget, baru sadar papanya cakep ya?"
"Idih, bisa-bisanya dia bilang begitu," celetuk Radha yang kini memakaikan gelang di tangan Kalila, semakin heran lagi karena tak biasanya Radha memakaikan banyak perhiasan pada putrinya.
"Istriku julit sekali ... kita mau kemana sebenarnya? Kamu mau kasih surprise buat aku ya? Aku nggak nggak tahun loh, Ra."
Gian hanya takut keliru, sungguh pria itu memiliki kepeecayaan diri yang terlalu besar. Siapa juga yang mengingat tanggal ulang tahunnya, Radha saja lupa.
"Nanti juga Kakak akan tau, yuk turun ... kita sarapan, pasti yang lain udah nunggu kita."
Gian kecewa, yang lain? Artinya bukan hanya istrinya saja, melainkan masih banyak yang terlibat dalam hal ini. Bersama Kama dalam pelukannya, kini Gian berlalu keluar kamar mengikuti langkah Radha.
Belum sempat terjawab apa yang sebenarnya terjadi, kini bingungnya Gian makin bertambah begitu melihat Orang tua dan adiknya sudah siap dengan mengenakan pakaian yang sama rapihnya.
Mau kemana sebenarnya mereka kali ini, kenapa hanya dia yang terlihat bodoh dan tidak tahu apa-apa. Hendak bertanya akan tetapi wajah mereka tak meyakinkan Gian untuk bertanya.
"Sayang, aku mau susu putih."
Kebiasaan, di saat begini Gian masih berulah. Jelita sudah berdehem pertanda agar putranya tak banyak tingkah. Sebagai istri yang baik, Radha tetap memberikannya.
Sarapan berjalan semestinya, tak banyak bicara dan hanya dentingan sendok yang terdengar. Saat ini Gian yang tengah dirundung kebingungan, dan Radha yang juga semakin membuatnya bingung dengan senyum tipis sejuta arti itu.
"Perginya kita pisah ya, benar enak ... Haidar ikut Mama, Gian sama istrinya."
Jelita mulai bersuara, sementara Gian yang melongo bingung turut mengiyakan. Mungkin ini adalah kejutan keluarga untuknya, pikir Gian sangat percaya diri.
"Kama ikut kita ya, Ma," ujar Haidar yang sejak tadi tak bisa menahan diri dari keponakannya.
"Tidak bisa, anak-anak ikut aku semua."
Mana mungkin akan Gian izinkan. Raka yang kerap mengajak Kama atau Kalila jalan-jalan saja tidak dia berikan. Dan kini Haidar meminta mereka terpisah diperjalanan, jelas saja takkan dia berikan.
"Sayang, kalau dua-duanya sama kamu ... Radha yang susah, mereka juga nggak mungkin tidur, Gi, biarkan salah satu ikut Haidar," ucap Jelita menjadi penengah, dan ini adalah hal yang paling Gian tak suka, tahta anak bungsu memang utama di mata seorang ibu.
"Yaudah iya, jangan sampai dia menangis kalau kau mau umur panjang," ujar Gian asal ceplos seperti biasa, memberikan Kama sedikit tak ikhlas dan tatapannya setajam itu.
__ADS_1
"Kau tenang saja, Kama baik-baik saja bersamaku."
Haidar meyakinkan, persetan dengan ancaman Gian yang kerap menyinggung masalah umurnya. Yang penting saat ini Kama bersamanya.
-
.
.
.
Jarak kediaman mereka tak terlalu jauh, dan kini mereka sudah memasuki kediaman Randy. Dari jauh Gian sudah merasa aneh, kenapa keadaannya terlihat berbeda.
"Tunggu, ini ada apa?"
Radha hanya tersenyum, sungguh sejak kemarin dia tak bisa menahan tawa lantaran Gian yang tak paham apa-apa padahal pernikahan Randy sudah di depan mata.
"Ayo turun."
Radha turun lebih dulu, dan Gian tak punya pilihan lain. Pria tampan itu dengan rasa penasaran yang luar biasa tergesa-gesa turun dan menghampiri istrinya.
"Sayang, Harry keluar dari penjara? Kenapa Caterine mau menerimanya?"
Otak Gian sudah menjalar kemana-mana, kedatangan penghulu yang kini menghampiri Raka membuat pikirannya mulai terbuka, ini adalah sebuah pernikahan.
"Kak ...."
Ucapan Radha terhenti, tampaknya Gian lebih emosi dari apapun. Ia mengepalkan tangan dan merasa semua yang dia lakukan sebelumnya hanya sia-sia dan tidak dihargai sama sekali oleh Caterine.
Di luar dugaan, pria itu berlari menerobos beberapa tamu di depan sana. Tak peduli mereka akan menganggap apa, karena Gian takkan pernah membiarkan pernikahan ini berhasil.
"Lah, astaga ... dia beneran berulah."
Radha panik, di sini memang tak begitu ramai. Akan tetapi tidak sepi juga, beberapa orang penting dan pihak keluarga Hulya hadir semua.
Di hari kebahagiaan, harusnya seseorang tenang. Dan kini Gian justru kemasukan banteng kelaparan. Proses akad nikah sebentar lagi dimulai, Randy dan Hulya sudah bersanding.
Kegaduhan itu cukup membuat Radha tegang. Sejak tadi dia sudah berusaha mengejar Gian akan tetapi langkah suaminya terlalu panjang. Haidar yang menyadari kakaknya mulai menunjukkan gelagat aneh segera menghampiri.
"Kak, mau kemana? Jangan membuat kerusuhan!!" cegah Haidar memegang lengannya.
"Ini yang kalian sembunyikan? Aku siapa bagi kalian, hm? Berhari-hari aku bertanya dan kalian sama sekali tidak menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya."
Gian benar-benar marah, merasa tak dihargai dan kecewa itu pasti ada. Gian mengepalkan tangannya, andai saja tidak ada Kama dipelukan Haidar, sudah tentu dia akan mendaratkan pukulan di wajah Haidar.
"Kak." Radha kini berada di sampingnya, namun bukannya luluh Gian justru semakin marah.
"Kamu diam, Ra, kamu juga sama ... aku suami kamu, bisa-bisanya ikut mereka dan diam masalah ini."
Untuk pertama kali, Gian menghempas tangan Radha. Marah benar-benar marah, ia susah payah membuat Harry mendekam di penjara, dan kini justru Caterine terikat pernikahan, pikirnya.
"Kak, jangan gegabah ... di sini banyak orang, nanti kita luruskan lagi masalah ini di rumah." Haidar tahu, pernah berada di posisi Gian, dan ia sangat paham bagaimana rasanya.
"Persetan, tidak ada pernikahan tanpa izinku."
__ADS_1
Haidar panik, sementara hendak memanggil Raka, pria itu sudah berada di sisi Randy sebagai saksi. Gawat, pria ini salah paham dan mungkin akan membuat malu.
"Kakak stop!! Mau kemana?!!"
Gian masih kekeuh melanjutkan langkah, dan karena Haidar turun menariknya, Gian tak bisa bergerak bebas dan sepatunya bahkan lepas.
"Lepaskan aku!! Papa, Caterine tidak boleh menikah!!!"
Suaranya terlalu besar, sungguh Haidar malu luar biasa. Ardi yang duduk bersama Raka sebagai saksi bahkan kaget mendengar amukan pria itu.
"Astaga, sepertinya salah setting," ujar Ardi menyaksikan kegaduhan putra Raka yang persis anak kecil.
Jelita dan Caterine yang berada di dekat mereka menoleh dan menganga menyaksikan adegan tarik-tarikan ketiga orang itu. Jelia menggigit bibir dan segera menghampiri putranya.
"Maaf semua, sepertinya ada salah paham, saya akan selesaikan."
Menyesal, Jelita merasa malu pada orang-orang ini, terutama penghulu. Sementara Randy yang bersusah payah menyembunyikan ini hanya bisa memejamkan mata dan menundukkan kepala hingga terbentur ke meja.
BRAK
"Eeeh, Ran ... ngantuk?"
Raka justru salah paham lantaran Randy membenturkan kepalanya di meja. Wajahnya sudah memerah dan kini Raka justru menuduhnya ketiduran.
"Malu, putramu benar-benar membuat kacau, harusnya tidak perlu diundang makhluk itu."
Andai saja boleh diulang, sepertinya memang lebih baik Gian tidak diberitahu sampai mereka resmi menjadi suami istri.
-
.
.
.
"Dasar boddoh, buat malu kamu, Gian, astafirullah."
Jelita menarik telinga putranya, wajah tanpa dosa itu justru menonyor kepala Caterine yang kini berada di samping mamanya.
"Ih kenapa aku?" tanya Caterine tak terima, dia yang merasa tak salah sama sekali jelas saja kesal dengan apa yang Gian lakukan.
"Kalian semua gilaaa!! Kenapa harus begini? Aku salah paham dan kalian bilang aku bikin malu? Menyebalkan sekali."
Gian berdecak kesal, wajahnya kini merah padam. Haidar yang justru menarik sudut bibir membuatnya
semakin marah.
"Kau benar-benar mau mati, Haidar?" tanya Gian dengan suara dinginnya, pria itu kembali berubah dingin, perpaduan malu karena menjadi pusat perhatian dan kesal lantaran berita sebesar ini dia tidak tahu.
"Papa yang minta, kejutan katanya," jawab Caterine singkat, pria itu masih mengatur napasnya, mencoba memastikan bahwa yang kini berada di depan sana memang Randy.
"Hulya ... apa dia malu aku mengetahui siapa wanita yang menjadi istrinya?" Dugaan Gian memang tak salah, tapi selain itu yang menjadi alasan Randy adalah karena tak suka Gian kerap mengejeknya.
🌻
__ADS_1