
"Kak, tiduuur."
Bisikan untuk kesekian kali dalam pelukan hangat Gian yang entah kerasukan apa selarut ini masih terjaga jua. Sejak tadi memainkan surai hitam Radha di sela jari tiada henti, terlalu senang dan kecupan manis itu beberapa kali mendarat di keningnya.
"Hm, Kakak belum ngantuk, kau tidurlah ... aku tidak menganggumu."
Tidak menganggu bagaimana, sejak tadi kau hanya menempel di tubuhku. Ya, begitulah batin Radha. Dalam balutan selimut, tubuhnya yang setengah polos itu terkunci pelukan Gian.
Setengah polos? Iya, drama rumah tangga manakala Gian meminta haknya, namun terpaksa ia tunda lantaran Radha lebih seperti korban perampokan. Jelas saja teriakan yang sudah berusaha ia kontrol lagi dan lagi berhasil terdengar keluar kamar.
Setengah jam Gian mencoba, dengan berbagai cara bahkan dalam keadaan ruangan gelap pun ia tetap berteriak kala Gian menyentuh area sensitifnya. Benar, sepertinya ia harus merencanakan hal ini dengan matang, menculik wanita berisik itu adalah jalan satu-satunya.
Adanya Jelita dan juga Raka yang turut andil dalam kepanikan beberapa jam lalu membuat Gian menyerah, walau beberapa kali Radha meminta maaf dan mempersilahkan Gian untuk mengulang kembali, tetap saja teriakanny lebih besar daripada teriakan emak-emak kompleks sebelah.
"Maaf," ucapnya tulus, Radha tahu dalam hal ini suaminy tentu merasa kecewa walau tak ia perlihatkan sama sekali.
"Tak apa, mungkin terlalu dini untuk kamu, Ra."
Tidak ada kemarahan di wajah tegas nan dewasa itu, Gian mengukir senyum tipis sembari menatap mata polos istrinya. Cahaya lampu tidur, remang bersamaan gemerlap bintang di luar sana seakan menjadi saksi betapa luluhnya pria itu di depan gadis kecil yang bahkan KTP nya saja masih hangat.
"Beberapa waktu lalu, Kakak memintaku dewasa dengan segera. Tapi, hingga saat ini, aku belum melakukannya."
"Hm, lalu?" Gian menautkan alisnya, mengerutkan kening seakan pernyataan Radha yang menggantung benar-benar penting.
"Kenapa tidak Kakak paksa saja?"
"Paksa? Paksa bagaimana, Ra?" Gian mengukir senyumnya, tawa sumbang itu tiba-tiba saja berkuasa.
"Ya paksa, kalaupun aku hamil kan ada kakak."
Otak Gian memang tak dapat disamakan dengan Radha, jelas saja pikiranny mengarah ke arah sana. Tanpa menanti jawaban Radha, ia menggeleng segera.
"Kenapa?"
"Hahahah!! Ada-ada saja kau, mana mungkin aku melakukannya."
"Tapi sampai kapan Kakak sabar? Sedangkan aku di sentuh begitu aja geli ewhh," ujarnya sembari bergetar membayangkan betapa tidak nyamannya ketika seseorang menyentuhnya sedalam itu.
__ADS_1
"Hahah, kau mau aku mati di tangan Papa?"
"Tutup saja mulutku pakek bantal kek gitu, atau lakban aja gimana? Atau ...."
"Ssstttt!!! Gila kau."
Karena permintaan Radha terlalu konyol, tanpa sadar ia menonyor kepala sang istri hingga pindah dari bantal. Ya, kadang memang kasar dan tak mampu mengontrol tenaga. Salah satu keburukan makhluk itu memang demikian.
"Ya Allah maaf, Sayang, pusing yaa?"
"Iya iyalah!! Pakek nanya!!"
"Aah, aku pikir tidak akan begitu akibatnya." Muka tanpa sesal, lebih ke arah mengejek sebenarnya.
Wajah kusut Radha membuatnya semakin gemas, andai pipinya bisa bicara, mungkin sudah berteriak lantaran risih menjadi sasaran kecupan Gian.
"Kakak sanaaan dikit, aku bisa jatuh ini."
"Hah? Apa iya?"
Tanpa sadar sebenarnya, Gian tak sadar kalau dirinya terlalu mepet bahkan hampir menguasai seluruh tempat tidur. Bersama Radha seakan candu, walau tadi hampir saja Raka memberinya bogem mentah lantaran membuat menantu kesayangan putra wijaya itu berteriak tiba-tiba.
"Baiklah, Kakak geser."
"Astaga, lagi dong."
Bagaimana bisa, dia hanya bergeser satu centi. Dengan wajah usil yang membuat Radha semakin naik darah. Apa perlu ia teriak lagi agar Gian mengikuti kemauannya.
Entah kapan kantuk akan menyerang pria itu. sejak tadi Gian hanya menidurkan wanitanya. Perlahan namun pasti, wajah teduh itu mulai terlelap, mungkin lelah karena suaranya hampir habis akibat pemanasan yang kelewat panas sampai meledak dan berakhir gagal total rencananya.
"Mana mungkin aku tega, Ra," tuturnya kemudian, ia tatap cintanya itu, tentram bahkan hanya menatapnya Gian tenang.
Benar ternyata, manakala ia ikhlas menerima pernikahan, walau dahulu sempat bertolak dengan batinnya. Gian percaya, wanita yang tepat dalam hidupnya akan mendatangkan ketenangan.
Tangan mungilnya, bibir ranumnya, wajah imutnya, ia tak habis pikir wanita sekecil dirinya harus hidup dengan dekapan keluarga yang tak pernah memberikannya balutan kasih sayang.
Semakin erat, pelukan itu semakin ia eratkan kala Radha tiba-tiba saja menggigil. Memang dingin, tapi dia yang meminta istrinya untuk tak pakai baju sebagai ganti ia tak mendapat apa yang seharusnya malam ini.
__ADS_1
Sedikit jahat, tapi Gian hanya ingin egois untuk beberapa saat saja. Setelah debat kecil di meja makan bersama Haidar, ia hanya ingin memberikan peringatan pada adiknya, bahwa wanita yang kini dalam peluknya seujung kuku pun bukan milik Haidar lagi.
"Ppftt, apa aku terlau tega? Tidak jugaa," ujarnya menjawab pertanyaannya sendiri. Dengan wajah penuh senyum kemenangan, ia terpikir akan sesepi apa adiknya kini di kamar.
Ia meraih ponselnya, walau sedikit sulit lantaran takut Radha terbangun. Berhasil meraih benda pipih itu dan jemarinya mulai beraksi sesuai rencana.
"Ck, belum tidur ... kebetulan."
Yaa, dia benar-benar tengah berada di puncak kebahagiaan. Dengan wajah penuh ejekan, ia mengabadikan fotonya tengah memeluk erat Radha dalam balutan selimut putih polos nan nyaman itu.
Ia menyeringai jahat ketika tahu sasarannya telah membuka ponselnya. Mungkin Haidar takkan dapat tidur hingga esok hari, penampilan Radha dan dirinya di foto itu jelas akan menimbulkan sakit, dan itu yang Gian inginkan.
Haidar :
Bangsstt!!! Kau menyentuhnya?!! Apa yang kau lakukan, Gian!!!
Setaaan!! Kau memaksanya kan?
Dia masih kecil, dasar gila!! Kau benar-benar harus di hajar!!
Wajah datar Gian menatap santai pesan beruntun yang dikirimkan adiknya, baginya tak sedikitpun ia gentar hanya karena kalimat kasar yang bahkan dirinya jauh lebih kasar dari itu.
"Akan ku pastikan kau takkan tidur nyenyak selagi berada di dekatku."
Kali ini, jiwa kompetisi Gian tiba-tiba membara. Ucapan Haidar sebelumnya membuatnya benar-benar terbakar, dan tentu saja dengan Radha dalam dekapannya akan lebih mudah membuat Haidar lemah.
"Kau terlalu lancang padaku, kau lupa dengan siapa berhadapan, Haidar."
Dia memang tak pandang bulu, walau sedarah ia tak peduli. Dan memang sejak dahulu, Gian bahkan tak segan menghancurkan beberapa orang yang merupakan bagian dari keluarga besar Wijaya hancur tanpa perlu izin Raka sebagai Papanya.
Dan kini adiknya, berani memperlihatkan taring yang masih sekecil gigi susu bagi Gian. Jelas ia geram, dan mungkin kali ini akan sama, seberapa gilanya dia jika hidupnya mulai terusik walau hanya dengan kalimat, saat itu ia mulai bertindak.
............ Bersambung❣️
Hai👋 Pakabar? Moga selalu baik ya semua, kali ini aku cuma mau nyapa dengan bawa episode yang aku tulis tanpa beban. GC nya aku bersihin, karena memang ga aktif dan aku mau hapus kalau bisa ehee🤗 Maaf ya, terima kasih buat kalian.
Love you, sehat selalu para orang baik❣️
__ADS_1