Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 281 Berulah (Putra-Putri)


__ADS_3

PRANK


Suara itu memekakan telinga, Radha panik bukan main. Sebagai seoarang ibu jelas saja dia khawatir akan terjadi sesuatu yang tak baik pada kedua buah hatinya.


Meninggalkan Kama dan Kalila bersama memang terkadang tidak begitu baik. Segera Radha meninggalkan perkerjaannya, mempercayakan sisanya pada Asih.


"Terusin ya, Bi, mereka pasti buat ulah lagi."


Setelah kemarin menghancurkan vas bunga kesayangan Jelita, entah kini apalagi yang mereka lakukan. Tentu saja karena keasyikan bermain, saling dorong bahkan melempar bola kesayangan mereka adalah sebab utama.


"Kama!! Kalila!!"


Mengeluarkan tenaga ekstra sudah menjadi kebiasaan Radha sejak kedua buah hatinya berulah. Mereka sama saja, semakin besar dan kemampuan semakin banyak justru makin berulah.


"Ya Tuhan, kenapa bisa begini, Sayang?"


Mendapati akuarium mini itu pecah Radha hanya bisa menganga. Lantai kini membasah akibat ulah kedua anak itu, sudah tentu Kalila pelakunya.


"Kalila, Mama ... Kama nggak pecahin."


"Kalila mana?" tanya Radha selembut itu walau kini ikan-ikan kecil yang baru hidup beberapa bulan itu tengah terdampar.


Dia masih terdiam, bibirnya mencebik sembari menunjuk sofa di sampingnya. Sudah tentu putrinya bersembunyi di balik sofa itu.


Radha menarik napas pelan, matanya terpejam sembari memperdalam kesabaran. Mengangkat tubuh Kama agar duduk di sofa sementara dia mencari Kalila yang kini tengah bersembunyi.


"Sayang, kenapa di sana sendirian? Sini, Mama nggak marah."


Jika dengan kekasaran, Kalila akan semakin takut. Kini saja dia duduk di sudut ruangan sembari memeluk kalkinya. Matanya tak berani menatap wajah mamanya, dia yang penasaran dengan ikan-ikan di akuarium mini itu ternyata berakibat fatal.


"Kalila," panggil Radha pelan, ia tak mau membuat putrinya justru terjebak rasa bersalah.


Pelan-pelan putrinya mendekat, Radha memeluk erat tubuhnya. Manik polos itu tetap tak berani memperlihatkan wajahnya, dan Radha memberikan senyum hangat sembari menggenggam tangannya.


"Maap, Mama ... Kalila ga sengaja," tuturnya sembari menahan tangis, sejak kecil memang kata itu selalu Radha ajarkan.


"Boong, Mama, Kalila tangkap ikannya tadi, Kama liat cendili."


Yaya, sama halnya seperti pada Gian, Kama memang kerap membuat Kalila terpojok. Kalila mencebik, kakak cadelnya ini memang paling pandai mengadu dan jadi CCTV.


"Gitu ya? Kalila bener yang Kama bilang?"


Radha bertanya selembut itu, melatih kejujuran putrinya harus ia lakukan sejak dini. Walau tanpa Kama beritahu Radha juga tahu jika ini kemungkinan besar adalah ulah putrinya.


"Tapi Kama bantuin Kalila juga, kama ambil juga ikannya."


Dia menatap wajah Kama nyalang, tak suka dengan tuduhan kakaknya. Padahal memang Kama juga turut menjadi pelaku terdamparnya ikan-ikan itu.


"Kalila yang ajak Mama, Kama cuma bantuin benelan," jelas Kama dengan suara lantangnya, sadar jika posisinya juga terancam Kama membela dirinya.


"Benerrraaan," sergah Kalila membenarkan cara pengucapan Kama, kelemahannya adalah dari hal ini, Kalila lebih unggul dan bisa mengejek Kama sesukanya.


"Sshhuut!! Satu-satu, jadi siapa yang salah?" tanya Radha sekali lagi, meski sejak tadi interaksi keduanya justru membuat Radha tersenyum.


"Kama!!"

__ADS_1


"Kalila!!"


Keduanya berucap di waktu yang sama, baik Kama maupun Kalila keduanya sama-sama menyalahkan. Radha terlalu fokus mengintrogasi kedua buah hatinya hingga lupa bagaimana kabar ikan-ikan kesayangan suaminya.


"Haaaa, Kama yang bantuin!!" teriak Kalila dan tak segan menghadiahkan pukulan di kaki Kama, sengaja berlari menghampiri sang kakak dan meluapkan kemarahannya.


"Kalila yang ajak!!" teriak Kama tak mau kalah, meski demikian semarah apapun dia tetap berusaha menahan diri agar tangannya tak menyakiti Kalila.


"Stop, udah ya ... ingat kan kata Mama, kalau salah minta maaf, jangan saling salahin," tutur Radha menjauhkan Kalila yang kini dikuasai emosi padahal memang dirinya yang buat ulah.


Kama mengangguk, menatap sendu ikan-ikan yang sudah tak bisa diselamatkan itu lagi. Meski Radha sempat meminta bantuan Asih untuk mengamankan korban bencana itu, tetap saja sudah terlambat.


"Kalila, minta maaf sama Kama ... jangan main pukul begitu," titah Radha tegas namun tetap ia ucapkan dengan lembut, karena sadar putrinya takkan luluh jika dia justru menghadapinya dengan amarah.


"Maap, Kama."


Meski sempat menjadi korban amukan Kalila, Kama tetap mengalah dan meraih uluran tangan Kalila. Memiliki adik seperti Kalila membuatnya harus terlatih sejak dini.


"Sekarang, ikut Mama ... tangan kalian berdua ya Tuhan."


Tak salah jika mereka saling menuduh, karena pada nyatanya tangan keduanya sama-sama bau. Watak kedua buah hatinya mulai terlihat, meski sudah meminta maaf Kalila tetap saja bertingkah semaunya.


"Kalila nggak usah lari, Nak."


Kama lebih mudah diatur daripada Kalila, putranya terkesan penurut dan tak banyak ulah. Sungguh berbeda dengan Kalila yang bahkan bisa melakukan hal-hal diluar jangkauan Radha.


-


.


.


.


"Kama ikut?" tanya Gian setelah bersiap-siap, sejak dia pulang nampaknya putranya memang lebih memilih diam.


"Gamau," jawabny singkat, Sepertiny hiburan di ponsel itu lebih baik dari segalanya.


"Yakin? Nanti Kamu cariin papa gimana?" Gian bermaksud mengajak keduanya, karena setelah acara minta maaf yang cukup lama itu, Kama memang lebih memilih diam.


"Gaak, Kama sama mama."


Keputusan Kama sudah bulat, sama sekali dia takkan mau jika harus menghabiskan waktu dengan dua orang yang sama-sama menyebalkan, dia lebih memilih untuk diam di rumah bersama Radha.


"Sayang, dia marah sama aku?"


Gian merasa kehilangan cara, hingga kekecewaan pada diri sendiri itu muncul. Cara putranya marah terkesan berbeda, bahkan tak jarang Gian merasa putranya sedikit membedakan perlakuan padanya dan Radha.


"Kama memang begitu, Kak, kalau dia gak mau jangan dipaksa, yang ada makin badmood dia."


Memang Radha lebih paham putranya, sementara Gian tak begitu paham perihal perasaan. Pria itu tersenyum menarik sudut bibir, wajah datar putranya sudah mulai terlihat sejak dini, dan itu sanggat menggemaskan.


"Eemuuuaaaaccchhh, Papa pergi ya." Putranya terlalu menggemaskan untuk bersifat dingin jika masih sekecil ini.


"Haaa Papa sana, Gamau!!!"

__ADS_1


Kama berontak, pelukan dan ciuman sang Papa keterlaluan bahkan membuatnya terasa sulit bernapas. Dia tengah kesal kini dan Gian justru membuatnya semakin kesal.


Gian menarik sudut bibir, jika putranya tengah seperti ini, justru mengingatkan dia pada Radha sewaktu sensitif. Mereka sama-sama suka mengamuk dan tak menganggapnya pengganggu.


"Udah sana, nanti dia nangis kalau terlalu kesel."


Saat ini Kama tengah bersedih, karena telah membuat kesalahan akibat dari perbuatan yang ia kira adalah sebuah kebaikan. Membantu Kalila menangkap ikan itu dengan susah payah namun justru berakhir membuatnya terkena masalah.


"Bye, jagain ya, Kama nyeremin juga kalau marah," tutur Gian sebelum berlalu, pria tampan itu menggeleng pelan, sementara Kalila yang berada di gendongannya hanya menatap Kama tanpa kalimat.


-


.


.


"Papa sayang Kalila?"


Kalila berjalan sembari menggenggam tangan sang papa, cinta pertamanya. Anak itu berjalan dengan girangnya sembari sesekali tersenyum karena sang papa kini bersamanya.


"Sayang dong, masa nggak sayang."


Gian tertawa renyah, pertanyaan putrinya membuatnya merasa gemas. Terlalu lucu jika ditanyakan anak seusia Kalila, dan Gian hanya bisa menjawab demikian.


"Sama Kama?"


"Sayang juga," jawab Gian lagi, sepertinya Kalila te gah merayu dirinya agar benar-benar melupakan kemarian ikan-ikan itu.


"Sama Mama?" tanya Kalila lagi, bibir mungilnya tak henti berceloteh, entah sampai kapan dia berhenti.


"Sayang juga, Papa sayang semuanya, Kalila."


Genggaman tangan itu kian erat, keduanya menyusuri basement dan hendak kembali ke rumah setelah sempat menghabiskan waktu di playground bersama.


"Love you, Papa."


"Love you too, Sayang."


Putrinya sudah bisa bersikap amat manis, berbeda dengan Kama yang lebih banyak bertengkar bersama Gian perkara cemburu dan memperebutkan Radha.


Dengan membawa mainan yang seharusnya untuk laki-laki, sebenarnya Gian heran kenapa justru putrinya seperti ini. Walau Jelita telah menjelaskan jika mereka memang bisa saja berbeda kepribadian, akan tetapi bagi Gian, Kalila terlampau berbeda.


"Papa kita pulang ya?" putrinya begitu aktif bertanya padahal itu sudah pasti.


"Iya pulang, besok kita pergi sama-sama lagi." Gian memang kerap menjanjikan hal semacam ini, dan Kalila bahagia tentu saja Mendengarnya.


"Yeeeeay!! Janji?"


"Iyaa, bawel, Papa janji."



Kalila With Papađź’™


Selagi belum up boleh mampir ke novel ini ya guys, monggo.

__ADS_1



__ADS_2