
Dasar tidak bisa di tebak, dan Radha enggan ambil pusing dengan perubahan Gian yang tiba-tiba hanya karena sebuah kalimat yang sama sekali tak salah menurutnya.
"Aarrrggh, kebetulan gue capek banget."
Radha merenggangkan ototnya, berbaring sejenak menikmati nyamannya tempat tidur lebih baik daripada memikirkan amarah pria yang tak ia mengerti bagaimana cara meredamnya.
Jika tadi ia sempat menolak kala Gian memintanya untuk istirahat, kini ia rasa memang membutuhkan hal itu. Tak membutuhkan waktu lama, karena ia memang luar biasa penatnya.
Jauh di luar dugaan Radha, nyatanya Gian luar biasa memikirkan ucapannya. Lama menahan, dan kini pria itu telah berdiri tegap di depan pintu kamar Haidar. Ya, tentu saja ada yang ingin ia ungkapkan, luka yang Radha maksud adalah adiknya itu.
"Mau apa kau?"
Belum sempat mengetuk pintu, wajah terkejut adiknya kini tergambar jelas. Haidar mengerutkan kening lantaran merasa aneh dengan kehadiran Gian yang tiba-tiba di depannya. Bukankah sejak beberapa hari lalu mereka tak pernah bertegur sapa, bahkan hanya sepatah kata pun.
"Boleh aku masuk?"
Tangannya menyilang tegap di atas perut, pria itu tak melepaskan manik tajam Haidar dari pandangannya. Entah, amarah dan kebencian tiba-tiba saja menyeruak di benak Gian.
"Cepat katakan apa maumu, Gian, aku tak punya waktu sebanyak itu."
Haidar menghela napas perlahan, sejak awal masuk Gian hanya diam memandangi pemandangan yang menyapa damai di luar sana.
"Hm, bukankah seharusnya kau mengerti tanpa aku bicara, Haidar?"
Gian berbalik, kini melangkah lebih dekat kepada sang Adik yang sejak tadi menatapnya penuh tanya. Haidar dengan berbagai kebimbangan di benaknya, namun menyadari raut wajah pria itu ia dapat memahami apa yang menjadi sebab gusarnya.
"Huft, aku pikir liburan bersama adalah hal baik bagi keluarga kita, bukankah kakak ipar juga berhak dekat dengan keluarga besar kita, Kak?"
"Heh!! Kau yang merencanakan ini semua? Hm?"
Tak peduli, Haidar tak sedikitpun menepis tangan Gian yang tiba-tiba meraih kerah bajunya hingga ia sedikit kesulitan. Diam, ia hanya menatap manik Gian penuh kemenangan, setidaknya ia memiliki celah untuk menciptakan kehancuran sang Kakak.
"Aku rasa mama tidak akan memberikan info yang salah, kau saja yang tidak mendengarkan dengan seksama."
"Ck, diam kau!! Kau sengaja membuatku terjebak dengan membawa turut serta Radha dalam rencanamu agar kau bisa selalu berada di dekatnya, kan?"
Gian, pria pemarah yang bahkan mengesampingkan akal akan terus menuruti hawa nafsunya. Tak peduli bagaimana nanti kebenarannya, namun yang ia tahu bahwa saat ini adiknya tengah berusaha mencari kesempatan dalam celah sesempit apapun.
"Jangan terlalu percaya diri, jika aku mau tanpa menggunakan cara ini, Radha semudah itu kembali padaku, Kak."
Haidar tak sesabar itu, dugaan Gian yang sebenarnya jauh dari apa yang ia pikirkan sedikit membawa pengaruh. Dengan kasar ia singkirkan tangan Gian, dengan wajah yang tak kalah mengerikan.
__ADS_1
"Kau ingat Haidar, kehadiranmu hanya akan menjadi duri yang akan menganggu rumah tanggaku. Sebaiknya, kau turuti saranku beberapa waktu lalu," ucap Gian melangkah mundur, namun matanya belum terlepas dari manik tajam Haidar.
"Pergilah, jalani hidupmu seperti beberapa tahun terakhir, Haidar."
"Hahaha, kenapa? Kau takut rupanya?" Haidar tertawa sumbang, tawanya cukup membuat merinding bahkan terkesan meremehkan emosi Gian yang tengah berusaha ia tahan.
"Cih, takut kepada pengecut sepertimu adalah hal paling bodoh yang aku lakukan, dan kau tahu itu takkan terjadi, Haidar."
Tidak ada ketakutan memang, karena saat ini seberapapun Radha meminta pergi takkan ia berikan walau hanya selangkah. Tapi, yang menjadi masalah saat ini, adanya Haidar membuat Radha merasa bahwa tengah melukai pihak lain.
"Jika kau tak takut, kenapa aku kau haruskan pergi jauh?"
"Aku tidak perlu mengulang, Haidar."
"Aku tidak akan pernah menjadi duri selagi kau tak berpikiran demikian, Kak ... tapi, jika prihal cinta, maaf aku tak semudah itu rela menghapusnya."
Gian bergetar, kalimat Haidar membuatnya sesak begitu saja. Bukan prihal pria itu yang ia pikirkan, tapi hati Radha yang ia khawatirkan. Paham seberapa lama mereka menjalin hubungan, dan memang tak semudaj itu menghapus kenangan.
"Apapun perasaanmu, jangan mengusiknya sedikitpun, Haidar. Walau hanya sebatas untaikan kata ataupun tatapan mata, aku juga takkan rela."
Niat hati ingin berbicara banyak, namun Gian memilih mengakhiri. Takut jika ucapan Haidar semakin membuatnya tersayat. Memang tak menyakitkan, namun ia sejenak berpikir bagaimana jika Radha juga merasakan hal yang sama.
Braak!!
Langkahnya memelan, amarah yang sempat membuat Radha terdiam membuatnya merasa bersalah. Mendorong pelan pintu yang ternyata tak terkunci, Gian masuk dengan segudang sesal yang membuatnya sejenak mengelus dada.
"Dia tidur?"
Tak ada pergerakan dari Radha, dari posisi tidur istrinya cukup menjelaskan bahwa memang wanita mungil itu terlalu lelah.
Sejenak, Gian masih duduk di tepian tempat tidur. Menatap nanar tubuh mungil yang tidur sesukanya, menguasai tempat tidur dan mulut yang terbuka. Gian menarik sudut bibir, melihatnya demikian seakan menghapus segudang amarahnya.
Kembali ia ingat, tiada yang salah dari apa yang Radha ucapkan sebelumnya. Ia hanya meminta hal yang wajar, mencintai tanpa melihat luka di sekelilingnya. Tanpa ia sadari, mendadak melow dan matanya membasah begitu saja.
Cengeng memang, Gian kadang kala berubah bak wanita hamil yang tak terkendali jika berhubungan prihal istrinya. Ia genggam jemari itu, terasa dingin dan membuatnya merangkai senyum.
Wajah datar yang tetap terlihat tegar dengan mata yang tak seperti sebelumnya, ia berucap lirih dalam diamnya.
"Kak?"
Suara serak khas mengantuk itu membuatnya dengan cepat mengalihkan pandangan. Berusaha menyeka pipi yang dengan sialnya kini membasah, sungguh menyebalkan sekali.
__ADS_1
"Kak,"
"Hm, ada apa?"
"Kenapa denganmu?"
"Ti-tidak ada, kenapa aku memangnya?" Hendak berbohong, tapi sayang jaraknya terlalu cepat hingga membuat Radha paham walau tanpa ia beritahukan.
"Kakak nangis."
"Cih dasar gila ... aku bukan dirimu, mana mungkin aku membuang air mataku dengan percuma, Ra."
"Lalu ini apa?" tanya Radha dengan usil menunjuk sudut mata Gian yang membasah, ia tak mampu menyeka air mata dengan baik.
"Ah ini? Angin di luar terlalu kencang, mata Kakak kemasukan debu."
"Masa iya?"
"Hm, kau tak percaya?"
"Tidak, sama sekali!!"
"Hm, terserah kau, Ra ... kau tau tidak mempercayai suami bisa jadi dosa."
"Oh iyaaa? Lalu bagaimana jika Kakak berbobong pada istri? Apa itu bisa jadi dosa juga?"
Gian terdiam, manik tulus Radha membuatnya luluh. Dan wajah cantik itu mengulas senyum tulus menjadikan Gian tak bisa berkutik sama sekali. Dan kalimat Radha, dengan jelas ia mengatakan dengan jelas statusnya di hadapan Gian, dan seketika hatinya terasa hangat begitu saja.
"Ulangi, Ra."
"Hah?"
"Ulangi, kau tadi bilang apa?"
Bukannya menurut, Radha kini bungkam dengan wajah yang tiba-tiba saja memerah. Sungguh ia malu lantaran ucapannya sendiri, dan bahkan lagi dan lagi ia paham Gian tengah menjebaknya.
"Ays, kenapa Kakak melihatku seperti itu?!!"
"Pegang ucapanmu hingga nanti ya, Ra, jangan hiraukan luka lain yang ada di sekelilingmu." Tanpa melepas genggaman tangannya, Gian menatap pasrah penuh harap pada wanitanya.
............ Bersambung❣️
__ADS_1
Alarm temen gue berisik!!! Buyar semuaa aelah :) Btw gaes ini Othor lagi kesel bet dah, semoga Allah permudahkan langkah kita semua:* Babay🧚♂