
"Om kenapa?"
"Enggak, memangnya aku kenapa?"
Randy mengelak kala Gian bertanya perihal wajah cemberutnya. Malam terakhir, ia telah meminta Gian untuk pulang esok pagi. Jika harus bertahan beberapa malam lagi, ia tak sanggup untuk menjadi nyamuk dalam liburan yang berubah jadi bulan madu keponakannya.
"Itu mukanya bisa biasa aja nggak, Om?"
Radha mencoba tak peduli, menutupi rasa malu dan wajah yang kini memerah di depan Randy. Pria itu tengah menyinggung mereka habis-habisan, meski Gian menganggap itu sebagai hiburan, lain halnya dengan Radha yang merasa hal ini sedikit memalukan.
"Besok kita pulang, Radha sudah terlalu lama tidak masuk sekolah."
Mendengar keputusan Gian yang ia tunggu sejak tadi, pria itu tampak bersemangat dan selera makannya malam ini kembali. Susah payah ia merayu akhirnya Gian mengerti juga.
"Tapi Om jangan seneng dulu, kita pulang sendiri-sendiri, paham?"
"Enak aja, kalau pulang sendiri aku naik apa, Gian?"
Jelas ini bukan keputusan baik, alasannya meminta Gian adalah agar ia bisa pulang dengan nyaman dan selamat. Randy tak begitu suka pergi jauh sendiri walau usianya sudah setua ini.
"Ck, aku ingin menikmati waktu bersama istriku, Om mengerti lah, ya."
Dasar menyebalkan, jika tau akan begini ia takkan meminta Gian untuk pulang segera. Wajah pria itu berubah seketika, sungguh ia ingin meluapkan emosinya.
"Aku jadi supir, kalian bisa duduk dengan nyaman, aku tak masalah."
Tawaran yang bagus, Gian menarik sudut bibir. Sudah lama ia tak memanfaatkan keahlian Randy menerobos lampu merah. Sepertinya menyenangkan, pikirnya.
"Yakin?"
"Ehm, yakin sekali."
"Om nggak punya SIM," tolak Gian menyadari pria itu tak memiliki benda penting dalam hidupnya.
"Astaga, kau ini seperti tidak mengenalku saja, selagi aku punya nyawa kau aman bersamaku, Gian."
Ia menyombongkan diri, pria tampan dengan sejuta pesona yang dapat melanggar tanpa ketahuan, entah bagaimana caranya terjun di jalan raya hingga Gian saja kalah.
__ADS_1
"Baiklah, tidur nyenyak malam ini."
Gian menyudahi makan malamnya, menatap sekilas ke arah sang istri yang terlihat tak berselera, mungkin karena keberadaan Randy, pikir Gian.
"Kenapa, Ra? Gak enak ya?"
"Enggak, asin." Randy menjawab tanpa Gian minta.
"Gak nanya situ, Ra, jawab sayang."
"Ng- Enak kok," tuturnya sedikit kaku, bukan tak enak, hanya saja ia tak lapar dan di pikirannya kini hanya tidur segera.
"Istrimu gak nafsu, kamu yang bikinin soalnya," ejek Randy berucap enteng yang membuat Gian mendelik tak suka.
"Bu-bukan begitu, Kak ... ini enak, tapi aku yang nggak nafsu," tutur Radha panik menatap Randy si provokator tak suka.
"Tuh dengerin, lidah Om aja yang gak berfungsi dengan baik."
"Pakek nyalahin lidah, emang kamunya aja nggak pinter masak."
"Emosian, Zura ... suamimu datang bulan ya?"
"Nggak dong, Om nggak sadar tadi siang aku ngapain? Kalau datang bulan nggak mungkin dong aku bisa ...."
"Stop!! Bisa-bisanya kau membahasnya di meja makan, Gian!!"
Gian tertawa sumbang, pria itu tampak kesal dan menghentikan perkataannya secara paksa. Sesekali ia melirik Radha yang kini semakin merah di sampingnya.
"Om yang mulai duluan," tutur Gian meraih sendok yang sejak tadi hanya Radha gunakan untuk mengaduk-ngaduk makanannya.
"Abisin ya." Tutur katanya begitu berubah, 180 derajat sangat berbeda dari caranya bicara pada Randy.
"Kenyang, Kak." Radha menolak, tapi mulutnya tetap terbuka kala Gian mulai menyuapinya.
"Sedikit lagi, Kakak nggak mau kamu kurus."
Tatapannya begitu tulus, membuat yang di hadapannya menatap iri sembari merenungi nasibnya. Kapan terakhir ia merasakan hal itu, sepertinya ia lupa.
__ADS_1
"Ntar juga dia gendut sendiri, Zura jangan mau ya, nanti badan kamu keberatan, susah mau jalan."
"Ck, Anda masih di sini? Saya pikir sudah pergi sejak tadi."
Radha menepuk lengannya, ucapan suaminya pada Randy sedikit tak baik menurut Radha. Belum lagi tatapan Gian begitu serius, jelas membuat Radha takut jika Randy akan tersinggung.
"Widih serem, tatapanmu buat mataku perih," ujar Randy memilih berlalu dengan membawa segelas susu yang Gian buatkan untuk istrinya.
"Kakak jangan." Radha menarik pergelangan tangan suaminya, menahan agar Gian tak melakukan hal yang tak sopan.
"Kakak buatin untuk kamu, Ra ... tuh pipinya makin kurus," ujar Gian menunjuk pipi Radha yang memang terlihat lebih tirus.
"Aku udah kenyang, nanti muntah kalau di paksain."
Dalam diamnya, Radha kini tengah berterima kasih sebesar-besarnya pada Randy yang telah membawa pergi susu coklat panas itu. Bersama Gian ia diperlakukan bak anak kecil yang begitu di perhatikan nutrisi setiap harinya.
"Kenyang?"
"Makannya aja belum habis, kamu kenyang makan apa, Ra?"
"Ehm, nggak tau, Kak ... tapi intinya aku kenyang ah."
Wajar saja kecil, pikir Gian menatap istrinya dari atas hingga ke ujung kaki. Makan saja sesulit ini, kapan bisa berisi.
"Abisin, kamu terlalu kurus, Sayang. Tipis banget," tuturnya sejujur itu dan membuat Radha menatapnya nyalang.
"Kurus-kurus, Kakak aja yang kegedean ... pakek nyalahin aku."
"Iyaya, jangan marah ... tapi abisin ya, dikit lagi, nanti nangis makananya." Salah besar, ia lupa jika Radha juga mampu marah.
"Kakak abisin sendiri, dikit lagi tuh."
Gian memejamkan mata, nampaknya malam ini akan berbeda. Istrinya benar-benar marah, bahkan berlalu tanpa mengucapkan apa-apa padanya.
"Gian ... waktumu tidak tepat." Gian menepuk pelan bibirnya berkali-kali.
🌚
__ADS_1