Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 255. Azab?


__ADS_3

"Eits!!! Hari ini mereka milikku 100 persen, tidak menerima gangguan Mama sama sekali."


Baru saja melangkah, padahal Jelita menyambut mereka dengan sejuta kerinduan. Dan Gian datang dengan peperangan. Ia tak memberikan izin Jelita untuk bersama putranya dan putrinya hari ini, tentu saja ini adalah dendamnya karena Jelita menculik mereka kemarin.


"Ya Allah, Gian ... jahatnya kamu."


Radha ingin membela, namun takkan bisa. Karena kini Gian sudah membawa kedua bayinya dalam pelukan. Pria itu bahkan berlalu dengan langkah panjang dan meniti anak tangga, tak peduli kedua anaknya yang hendak menangis karena mungkin ingin bersama Jelita.


"Maaf ya, Ma, besok Mama bisa bebas main sama mereka."


Radha memang benar-benar penenang bagi Jelita. Terkadang Jelita bertanya-tanya, anak kandungnya itu siapa, kenapa lebih peduli Radha terhadapnya.


"Ini buat Mama, siapa tahu suka." Radha memberikan papper bag yang memang ia beli khusus untuk mertuanya.


"Aaah makasih, Sayang ... kamu baik banget."


Walau Jelita sebenarnya bisa membelinya sendiri, akan tetapi tetap saja jika itu pemberian dari Radha rasanya lebih istimewa. Sebesar itu dia menghargai pemberian menantunya.


"Istirahat sana, kamu tadi bangunnya pagi banget, Ra."


Jelita hanya khawatir Radha kelelahan, ia tak bisa membiarkan jika menantunya ini sakit nantinya. Karena baginya lebih baik Gian yang kenapa-kenapa.


"Iya, Ma ... aku ke atas dulu ya," pamit Radha, walau hatinya merasa sangat bersalah karena sifat sang suami, akan tetapi Radha tak punya pilihan lain saat ini.


Menatap sedih Jelita, mungkin wanita itu merasakan sepi saat ini. Ingin ia peluk, namun kembali ia ingat bahwa selama Gian tak berada di rumah, Kama maupun Kalila selalu bersama Jelita selagi Jelita mau.


Mendorong pintunya pelan, Radha hanya tak ingin membuat Gian berpikir macam-macam lagi jika sampai dirinya mendorong paksa pintu itu.


"Sayang, kok lama?"


Meski ia tahu, istrinya tentu usai menghabiskan sejenak waktunya bersama Jelita. Ia memang keterlaluan, akan tetapi kemarin sore Jelita lebih keterlaluan baginya.


Kalila mulai rewel, mungkin dia sudah lapar dan mengantuk. Dan ini adalah kesempatan Gian untuk menyaksikan pemandangan paling menarik baginya.


"Susuin, kamu kenapa liatin Kakak?"

__ADS_1


Senyumnya tertarik tipis, Gian menunggu santai di atas tempat tidur, bersama Kama yang kini tengkurap atas tubuhnya, mencoba menghibur salah satu terlebih dahulu.


"Giliran dia laper aja diserahin sama aku." Radha mencebikkan bibir, pria ini memang benar-benar curang terhadapnya.


"Ya kan tanggung jawab kamu sebagai mamanya, Sayang ... kamu tau kan dalam agama kita itu adalah perintah Allah sebagaimana terdapat Q.S Al-Baqarah ayat 233 yang artinya Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna." Gian mengucapkannya dengan sangat mantap dan tampak berwibawa, bahkan Kama dan Kalila kini fokus menatap wajahnya.


"Eits, tapi jangan lupa kelanjutannya kan masih ada," tutur Radha tak mau kalah, nampaknya perdebatan syar"i ini akan segera dimulai.


"Apa coba? Ayo jelasin," tutur Gian menantang Radha dengan nada seriusnya.


"Ehem-ehem ... Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut."


Radha mengatakan dengan gerakan tangan yang sejenak membuat kedua buah hatinya mengagumi sang Mama.


Seketika, mendadak suasana di kamarnya berubah menjadi majelis ta'lim. Pasangan penceramah ini tengah menyampaikan ilmu pada kedua malaikat kecil yang seharusnya belum menerima materi tentang kewajiban suami istri.


"Kan sudah Kakak lakukan, nafkah, pakaian dan apapun itu, hayoo." Gian menarik sudut bibir dan menegaskan bahwa dirinya menang.


"Lah terus aku? Memangnya kewajibanku sebagai ibu aku lalaikan? Kan tidak, mereka nyusu hampir tiap jam, badannya bisa seperti itu minum apa kalau bukan susu aku, yakali minum jamu," tukas Radha tak kalah tegas, buah hatinya yang tak bersalah itu hanya menatap heran bergantian papa dan mamanya yang tengah berdebat perihal kewajiban masing-masing.


"Kakak yang mulai duluan, lagian sejak kapan sih tiba-tiba jadi penceramah begitu."


Dengan perasaan yang masih tak menentu Radha tidur di samping Kalila karena biasanya anak itu akan tertidur lebih cepat jika minum susu sembari tertidur di sisinya.


"Kamu juga kenapa ikutan ceramah segala," tutur Gian yang justru bingung sendiri kenapa tiba-tiba mereka adu mulut perihal tanggung jawab yang sebenarnya sama-sama terpenuhi.


Bugh


"Aaakkkhhhh, ya Tuhan, Kama ... sakit sekali," keluh Gian tiba-tiba karena Kama memukul bibirnya cukup kuat, tangan gempal itu cukup menyakitkan bagi Gian karena ia tak punya persiapan untuk menahan tangan Kama, belum lagi bibirnya tiba-tiba terasa perih.


"Hahahah bagus, Sayang, besok-besok pukul biji matanya," tutur Radha menatap Kama begitu bangga, mungkin putranya mengerti bahwa sang papa halal untuk dipukul.


"Astafirullahaladzim, Azzura ... Istri macam apa kamu, hm," ujar Gian dan meletakkan telapak tangannya di kening Radha layaknya tengah melakukan ruqyah terhadap istrinya.


"Aakkh, sakit!! Ih, Kakak abis ngupil juga, ewh."

__ADS_1


Kalila tak peduli dengan keributan orang tuanya, ia fokus dengan sumber kehidupannya itu. Tak lupa dengan jemari yang memainkan sebelah telinga Radha yang memang menjadi kebiasaannya sejak lama.


"Sembarangan," ucapnya yang kini justru berpindah mencubit pipinya hingga memerah, andai saja ia tidak sedang menyusui Kalila, mungkin sudah habis Gian di tangannya.


-


.


.


.


Makan malam sudah dimulai, dentingan sendok dan garpu menguasai ruangan. Radha menikmati makanan lahap seperti biasa, sedangkan Gian terlihat hanya menatap makanan hingga membuat Radha kesal sendiri.


"Kakak maunya apa?" tanya Radha baik-baik, sudah hampir selesai mereka bertiga makan malam, dan Gian masih sibuk menimbang mau makan lauk yang mana.


"Bibir Kakak perih, susah, Ra." Dia membuka mulutnya pelan, sebelumnya memang sudah terluka akibat pukulan Kama, dan sialnya luka itu semakin lebar kala sikat gigi menambah siksanya dua kali lipat.


"Kamu sakit?" Raka bertanya sembari menatap lekat wajah putranya, sepertinya tidak ada yang salah.


"Bibir Kak Gian luka, Pa, tadi Kama pukul, terus pas mandi kecolok sikat gigi." Radha menjelaskan seadanya, karena memang awal mula luka di bibir Gian adalah akibat pukulan Kama.


"Itulah akibat memisahkan Oma dari cucunya, biasanya azab Tuhan cepet datangnya, Gi."


Jelita menimpali, Raka hanya mampu menggelengkan kepala mendengar ucapan Jelita yang hampir membuatnya tersedak.


"Ta, masa ngomongnya begitu."


"Biarin, Mas, lagian dia pelit banget, aku mau cium cucuku aja nggak dibolehin." Jelita masih benar-benar kesal, tak peduli mata sendu Gian yang terlihat sedih mendengar ucapannya.


"Ish, Mama apaan ... masa aku disumpahin kena azab, jahat banget ya Allah," tuturnya seakan tengah menjadi korban paling tersakiti, padahal dirinya adalah pelaku utama, suaranya sedikit kecil karena Gian menahan perih akibat luka di bibirnya.


"Yaudah, malam ini kamu minum susu anget aja ya, Gian, besok-besok kalau tambah parah yaudah nutrisinya pakai infus aja." Jelita tengah menari-nari diatas penderitaan Gian, sepertinya ia perlu berterima kasih pada Kama.


🌻

__ADS_1


__ADS_2