Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 291. Basmi Hama Syar'i


__ADS_3

Ini saatnya, sebenarnya Radha sendiri penasaran bagaimana Gian dalam menyampaikan ceramahnya. Pada akhirnya semua sama saja, Radha tak berbeda dari para gadis beranjak dewasa itu.


"Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh."


Suara itu terdengar berwibawa, sebelum menjawab Radha sempat tersenyum lebih dulu. Pesona suaminya memang tidak akan salah, Radha menjawab tulus dengan suara kecilnya.


Sementara di sebelahnya ....


"Waalaikummussalam Warahmatullah Wabarakatuh!!"


Sekuat itu, mereka tidak puasa sebelumnya atau bagaimana, pikir Radha heran kenapa anak-anak ini bisa terlihat tidak lelah sedikitpun.


"Baiklah, hari pertama sudah kita lewati ... bagaimana kabarnya? Tidak ada yang buka diam-diam bukan?"


"Idih pembukaan macam apa itu, perasaan dia yang hampir begitu," batin Radha kala Gian memulainya.


"Saya harap tidak begitu ya teman-teman sekalian, semoga kita senantiasa selalu mengingat akan tujuan dan garis finish dari apa yang kita kerjakan saat ini ...."


"Aaaahh suaranya bikin sayang," tutur salah satu dari mereka dan itu benar-benar merusak suasana hati Radha.


"Haaa babe gue gakuat, ntar malem bisa-bisa gue gak tidur hm."


"Idih, tadi sok-sok an bilang kalau bang Gian ada bininya, eh sekarang gatelnya keluar."


Memang, Radha membenarkan pernyataan temannya yang mengatakan jika gadis itu gatal dan perlu ditangani dengan segera.


"Dia punya bini bukan berarti jadi penghalang gue buat jadi bidadarinya ustadz Gian muach."


"Hahah, bener juga ... yaudah mending kita adu aja, doa siapa yang lebih duluan diterima sama Tuhan di bulan ramadhan kali ini."


Idih, doa apa? Radha yang sejak tadi memiliki prasangka buruk semakin tak tahan kala mereka mengutarakan masalah doa. Ceramah Gian sama sekali tak dia dengar lagi, dan kini telapak tangannya mendarat pelan di bahu salah satu dari mereka.


"Ehem, dek."


"Iyaaa, kenapa, Kak?" sahut gadis itu sopan, terlihat berbeda dari wujud sebelumnya.


"Bisa diem dulu nggak, dari tadi kalian ribut banget ... ngalahin suara suami saya," ujar Radha dengan lembut sembari menebar senyum tipis.


"Eeh ... aduh, heee maaf Kak kalau ganggu, maaf ya semua."


Wajah ciut itu membuat Radha tersenyum, kalimat singkat yang membuat mereka tersadar dalam hitungan detik. Terlihat jelas jika gadis itu ketakutan setelah Radha berkata demikian.

__ADS_1


"Lain kali kalau mau histeris lihat tempat ya, ini bukan konser ... dia cuma lagi ceramah," tambah Radha lagi yang membuat gadis itu semakin malu bukan kepalang.


Gadis itu menggigit bibir bawahnya, wajahnya seakan tebal seketika. Malu, sungguh dia mungkin ingin menggali kuburan untuknya saat ini juga.


"Bininya, lu si gede banget ... kena kan gue," bisik gadis itu pada temannya yang seakan tutup mata dan telinga karena dia malu juga.


"Ya gue gatau kalau di sebelah kita ada bininya, lu juga kok gasadar sih," jawab teman lucknut itu seakan tak menerima jika dirinya memang salah.


"Mana gue tau wujud bininya, Zaenab!! Kan yang tau bang Gian punya bini abang lu issh!!"


Mereka tengah saling menyalahkan, sementara Radha di dekat mereka justru merasa lebih tenang dan mulai menikmati setiap tutur kata yang Gian sampaikan.


"Bukan tentang siapa yang menyampaikan, tapi apa yang dia sampaikan. Dengan sejuta kekurangan mungkin ada beberapa yang memandang saya sebelah mata di tempat ini ... akan tetapi, apa yang saya lakukan semata-mata hanya demi kebaikan yang juga tengah berusaha saya raih di bulan ini."


Setelah menyampaikan ceramah singkat yang ternyata benar hampir sama dengan apa yang dia katakan di meja makan ketika berbuka, Gian kini menyampaikan penutup yang membuat Radha seakan tercubit hatinya.


Suaminya tengah menyinggung atau apa, karena memang sejak kemarin Radha kerap meragukan kemampuannya. Namun malam ini, Gian benar-benar mematahkan semua keraguan Radha kala pria itu membawa dalil-dalil yang pelafalannya membuat Radha tercengang.


-


.


.


.


"Kok lama, Sayang ... kamu ngapain di dalem," tutur Gian membuat istrinya terkejut bukan main, di luar dugaan dia justru sudah menunggu, dan ucapan Gian itu dapat didengar oleh beberapa orang yang berada di sana.


"Loh, udah ada istrinya ya? Saya pikir baru keluar pesantren masnya." Lagi-lagi, Radha bertemu dengan jelmaan ulat bulu namun lebih kalem sepertinya.


"Iya, betul ... ini istri saya," jawab Gian seadanya, wanita yang bicara dengannya kini terlihat seperti seumuran dengannya.


"Ah kirain anak didiknya ustadz Azzam, masih muda banget soalnya."


Gian hanya tersenyum singkat, dia tahu istrinya kini tengah panas persis suhu bara sate kambing. Mereka mungkin tak terlalu dikenal lantaran masjid yang Gian pilih memang cukup jauh dari kediaman mereka, wajar saja jika tak begitu banyak yang mengenali istrinya.


"Bisa dibilang demikian, saya banyak belajar dari beliau."


Gian hanya ingin menghormati pria itu, dia memang belajar banyak dari Azzam. Meski usia mereka terlalu dekat untuk dikatakan anak didik.


"Oh gitu, ya sudah kami pamit duluan, Mas ... Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikummussalam," jawab Gian sebagaimana mestinya, tanpa sadar bahwa kini sepasang mata tengah hendak menguliti wanita itu.


"Ayo, Sayang ... kamu kok diem," ujar Gian seraya menggenggam pergelangan tangan Radha.


"Mas, senyam senyum ... nyaman banget sepertinya dipanggil Mas begitu, mana lembut lagi." Radha masih kesal lantaran wanita itu memang hanya pamit pada Gian, padahal dirinya juga berada di sisi Gian.


"Ra, baru pertama kali udah cemberut mulu, semangat dong."


"Iih!! Nyebelin banget sih, siapa yang cemberut." Bibirnya semakin maju beberapa centi dan dia masih menolak keadaan jika dirinya memang cemberut.


"Hahah, kan cuma manggil doang ... cemburu?" Gian menautkan alisnya, senyum tipis itu terlihat semakin menyebalkan, sungguh Radha ingin menghajar Gian saat ini juga.


"Idih, siapa juga yang cemburu, nggak usah ge-er deh!" Perkataan paling bohong, padahal saat ini udara di sisinya juga paham jika dirinya tengah cemburu buta lantaran banyaknya wanita yang cari perhatian pada suaminya.


"Iya terserah kamu saja, ngelak aja terus, Ra."


Sempat-sempatnya dia mencubit dagu Radha, padahal tempat ini belum sesepi itu. Seakan sengaja mempertegas pada sekelilingnya jika Radha adalah pemiliknya.


"Sini sajadahnya Kakak aja yang bawain," tutur Gian yang tanpa Radha ketahui sudah meraihnya tanpa izin.


"Eh, Neng!! Tunggu!!"


"Aduh, apalagi." Radha berdecak kesal, dia kesal bukan main kala suara itu kembali menghentikan langkahnya.


"Kenapa, Bu?" Kaget, Radha terkejut kala yang mendatanginya adalah sosok wanita paruh baya yang tampak tergesa-gesa.


"Sandal kita ketuker, ini kegedean sama saya, Neng."


Wanita itu memperlihatkan sandal yang kini ia pakai, dan memang kebesaran. Dan anehnya, Radha justru tidak sadar yang ia pakai saat ini kekecilan.


"Bener, Ra? Kok bisa nggak sadar?" Gian bertanya dengan tatapan aneh, dia memperhatikan kaki Radha, dan benar saja, sandal yang kini istrinya kenakan terlihat membuat kakinya benar-benar sesak.


"Aduh maaf ya, Bu, saya nggak sadar." Radha memperlihatkan penyesalannya, karena memang dia sama sekali tak sadar jika sandal itu bukan miliknya.


"Eheh nggak apa-apa, Neng, untung belum dibawa pulang," ujar wanita itu dengan senyum tulusnya, akhirnya malam ini ada tatapan ramah yang membuat Radha damai sejenak saja.


"Terima kasih ya, Bu, istri saya memang kadang pelupa, maklum keseringan lihat kegantengan suaminya," ujar Gian yang membuat wanita itu terkekeh.


"Idih, bisa-bisanya," cicit Radha sembari mencubit lengan Gian, perkataan semacam itu terkadang membuat Radha kerap salah tingkah.


🌻

__ADS_1


__ADS_2