Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Gara-Gara Gian


__ADS_3

"Bisa?"


"Bisa, Kak ... aku bisa sendiri."


Sudah ia duga sebelumnya, hal semacam ini akan terjadi. Sulitnya Radha membuat Gian merasa bersalah, sedari tadi bahkan mandi saja tak kunjung usai. Wajahnya memerah bukan hanya karena sakit, melainkan malu karena Gian tak juga keluar dari kamar mandi.


"Ck, kalau kau begini makin lama di kamar mandinya, Radha."


"Aku bisa sendiri astaga, justru semakin lama kalau Kakak tetap di sini, paham?"


Perdebatan keduanya masih saja terjadi, entah sudah berapa kali pintu kamar mereka di ketuk sang Mama. Gian tak peduli apa yang dipikirkan orang di luar sana, karena kini istrinya lebih mengkhawatirkan.


"Kak, udah sana ... nanti Mama malah ikut masuk kesini!!"


Tentu saja ia khawatir, karena yang ia tahu Jelita adalah tipe orang yang selalu penasaran dan akan mencari tahu hingga tuntas. Dan kini Gian bahkan enggan melepaskan genggaman tangan dari pundak Radha dengan alasan takut istrinya jatuh.


"Tapi kamu sakit,Ra." Gian meringis, menatap lekat wajah Radha yang kian memerah. Sejak tadi ia berusaha menutupi tubuhnya dengan telapak tangan, karena belum apa-apa Gian berhasil melucuti pakainnya.


"Mendingan, gak sakit lagi, beneran."


"Apa iya? Kakak cek dulu ya," tuturnya sembari hendak menunduk, ia ingin memastikan apa benar telah baik-baik saja.


"Heeih!!! Mau apa!!!" Karena terkejut, Radha tak sengaja menarik rambut Gian cukup kuat.


"Awwww, lepas ... lepas, Ra."


"Abis aku lepas keluar ya," tawar Radha berusaha mencari keuntungan kala kesempatan ini ada.


"Iya-iya ... keluar."


Gian mengalah, karena sampai kapanpun takkan usai jika dia terus mempertahankan egonya. Karena kini, Radha benar-benar enggan ia sentuh, apalagi jika ia hendak memandikan istrinya, mungkin bisa benjol kepalanya nanti, pikir Gian.


Radha masih memastikan keadaan, kala punggung Gian menjauh dan menghilang di balik pintu. Ia bernapas lega, meski memang nyeri itu masih ada. Ingin rasanya ia menangis, namun demi menghindari makhluk itu masuk kembali, ia memilih menyembunyikan kesakitannya sebisa mungkin.


Gara-gara Gian, sungguh menyebalkan. Bahkan untuk melangkah saja terasa sulit, lalu bagaimana dengan pelajaran olahraga besok pagi? Bukankah mereka harus praktek lari cepat? Matilah kau, Radha!! Habis sudah nasibmu, pikir Radha dalam diam di bawah guyuran air menyegarkan itu.

__ADS_1


"Eh, besok kan aku masih di sini," ucapnya lega kemudian, wajahnya tak sepanik beberapa detik lalu mengingat Rey telah mengurus izinnya di sekolah hingga satu minggu kedepan.


Meski di rasa mustahil lantaran ia murid pindahan namun minta izin selama itu, tapi setelah perlahan memperlajari profil sekolah itu, Radha dapat paham mengapa ia begitu mudah mendapatkannya.


******


"Kenapa, Mama?"


"Pakek nanya kenapa, ini udah jam berapa dan kalian gak keluar-keluar juga?"


"Ya belum aja, Ma ... kemarin juga lebih siang dari ini."


"Terserah kau saja, menantu Mama mana?"


"Mandi," jawab Gian malas sambil memutar kedua bola matanya malas.


"Man-mandi?"


Jelita melipat kedua tangannya, menggeleng pelan dan berdecak heran kala menyadari baju Gian sedikit basah. Rambut acak-acakan dan gestur tubuh anaknya dapat Jelita baca.


"Apaaa? Kenapa Mama melihatku begitu?"


"Gian, jangan bercanda ya kau, dia kenapa?"


Gian yang terlihat kesal justru membuat Jelita mengkhawatirkan Radha, apa yang terjadi pada wanita mungil itu, apa putranya menyakiti Radha, atau selebihnya.


"Astaga, harus aku jelaskan bagaimana lagi, Ma? Radha mandi, karena ini memang waktunya mandi pagi, apa yang salah?"


Iya juga, Jelita menyadari tak ada yang salah. Mungkin pikirannya terlalu buruk, hingga membuat putranya terlihat kriminal di matanya kini.


"Kau tidak memarahinya kan?"


"Marah untuk apa, tidak akan pernah, Ma."


"Kenapa Mama khawatir, dia tidak sakit kan, Gian?"

__ADS_1


"Sakit, dikit katanya ... aku pelan kok, Ma."


Plak!!


Tamparan pelan itu mendarat mulus di bibir asal ceplos putranya. Mata genit Gian membuatnya yakin dengan apa yang ada di pikirannya,


"Awww!! Salah lagi?"


"Kau mau mati ya? Jangan keras-keras, Papa tahu kau bagaimana, Gian."


Ada kebahagiaan di mata Jelita, namun mengingat apa yang di sampaikan Raka membuat ia khawatir bagaimana Gian kedepannya. Ia menggenggam tangan putranya, begitu bangga lantaran putranya kini menerima Radha seutuhnya, serta menemukan bahagia bersama wanita mungil itu.


"Ck, dia istriku yang sepenuhnya adalah milikku ... aku sudah dewasa, Papa tidak seharusnya ikut campur kehidupan rumah tanggaku."


Gian menjawab santai, karena baginya memang ia telah dewasa dan berhak atas apapun dalam hidupnya. Persetan bagaimana Ardi dan Raka menganggap dirinya, karena pada intinya saat ini Gian adalah suami dari Radha dan mutlak wanita itu adalah miliknya.


"Hm, Mama selalu mendukungmu, nanti Mama akan bantu bicara pada Papa."


"Terima kasih, Ma. Maaf pagimu tidak begitu baik lagi karena aku," ucap Gian sopan, karena hari ini Mamanya membuang tenaga cukup banyak karena bolak balik ke kamarnya.


"Tidak masalah, jaga istrimu ya."


"Iya, Ma."


Pembicaraan penting kedua orang ini tak lepas dari pantauan sepasang manik indah di sana. Wajahnya yang tegas menatap tajam Gian dari jarak beberapa meter di depannya, dari tempat ini ia dapat saksikan sebahagia apa Gian hari ini.


"Bahagia sekali kau rupanya, masih jadi kesayangan Mama ternyata," tuturnya tanpa melepaskan Gian dari pandangan, samar terdengar namun dapat ia dengar beberapa inti dari pembicaraan itu.


"Papa? Sepertinya Papa kau bantah diam-diam, baiklah kita lihat saja nanti."


Ia paham watak Raka, tak suka di bantah. Meski ia tahu, dirinya juga pernah membantah, namun ia berharap apa yang Gian lakukan akan membuat pria itu merasakan sedikit akibat layaknya dia.


"Tanpa Papa kau bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa, Gian," ucapnya sembari tersenyum licik dan melihat betapa luas kesempatan di depannya.


............ 🌿

__ADS_1


__ADS_2