
Menjauh dari bahagianya Gian yang kini lengkap dengan hadirnya Radha, suasana ruangan yang dengan hiasan lampu kerlap kerlip itu membalut pria tampan yang kini hanya terdiam menatap nanar beberapa wanita di sana. Hidupnya terasa kosong, beberapa hal yang menjadi tanggung jawabnya terpaksa ditunda.
Hal buruk yang ia lakukan tak dapat diterime mentah-mentah oleh keluarga bersarnya. Meski kuasa sang papa cukup besar untuk menghilangkan jejaknya, namun nyatanya Harry tak mendapat perlakuan sebaik sebelumnya.
Sang kakak yang merupakan aktivis dan pembela hak-hak perempuan seakan merasa gagal memiliki adik sepertinya. Sungguh dibenci seluruh dunia membuat Harry terluka, belum lagi Caterine yang ia cinta justru semakin sulit ia gapai.
“Bahkan dengan cara ini aku tetap gagal meraihmu,” sesalnya begitu besar, ia menjambak rambutnya kuat-kuat.
Pikirannya seakan terpecah, bagaimana Randy memukulnya tadi masih terasa sakit. Harry hilang akal, sudut bibirnya masih terasa perih dan minuman itu ia tenggak lagi dan lagi. Kesadarannya mulai hilang, kembali ia meracau dan meneteskan air matanya untuk kesekian kali.
“Maafkan aku.”
Hanya itu yang ia ucapkan, hari sudah sangat larut namun Harry masih mampu menolak beberapa wanita yang mulai mencobanya. Tak tanggung ia bahkan mengusir wanita-wanita itu dengan kasarnya.
“Caterine?” Bibirnya lagi-lagi mengucapkan nama itu.
“Ck, tutup mulutmu, Harry … lebih baik kau pulang, sebelum kau dicoret dari KK.”
“Kemana? Caterine mencariku kah?”
Arnold membuang napas kasar, sungguh ia tak paham pola pikir sahabatnya ini. Mengikat wanita yang ia cintai dengan cara sejahat itu dengan alasan takut Caterine tolak adalah hal paling bodoh menurut pria bermata sipit itu.
“Tidak ada yang mencarimu, kau tau kan seberapa kotornya dirimu di mata orang-orang yang mengenalmu, Harry?”
Harry tak mendengar dan memahami apa yang Arnold ucapkan, mulutnya sejak tadi hanya perihal Caterine dan Caterine. Senyum tak jelas menghiasi wajah memar akibat Randy hajar sore tadi. Sudah Arnold katakan, mengikuti kemana Caterine pergi adalah ide paling buruk.
“Caterine butuh aku, Arnold … kau tidak tau saja.”
__ADS_1
“Dasar bodoh!! Wanita mana yang akan membutuhkan seseorang yang telah menodainya? Tidak ada! Dasar gila.”
Meski ia sekesal itu, Arnold tetap berusaha baik untuk mengantar Harry ke hotel tempat mereka menginap. Karena akan sangat bahaya jika pria itu ia biarkan bebas, bisa-bisa seluruh wanita yang ia temui akan dianggap Caterine dan hancur sudah wanita-wanita itu.
“Aku mencintainya, Arnold … kenapa kau tak mengerti aku, hah!!”
“Iya!! Cinta, tapi kau gila, Harry!”
Sebagai seseorang yang mengenal Harry dan juga Sheina, sungguh hal ini menjadi hal pelik bagi Arnold. Sudah ia duga, Harry mendekati Sheina karena tertarik pada putri wanita cantik itu. Usia Harry yang memang masih muda mana mungkin menyukai Sheina, dan itu sudah Arnold simpulkan dari awal.
“Salahku apa? Hanya itu caraku bisa mendapatkannya dengan cepat, Arnold.”
Sungguh ia benar-benar tak mengerti, kenapa obsesi Harry benar-benar segila ini. Selama ia menjalin hubungan dengan wanita, belum pernah Arnold menemukan sahabatnya ini bertingkah gila dan tak berpikir panjang dalam mengambil tindakannya.
“Kau bertanya salahmu apa? Dasar tidak sadar diri kau, Harry.”
Tak ada lagi jawaban dari pria itu, kini ia terpejam dan mulai terlelap. Sedikit miris menatap luka di wajah sahabatnya, Arnold dapat merasakan bagaimana perihnya, pria itu tak dapat melakukan apa-apa kala Randy membabi buta dan menghajar Harry tanpa ampun.
“Kasihan sekali kau,” tutur Arnold menatap pria di sisinya.
Karir tengah berada di puncaknya, harta berlimpah, orang tua kaya raya, bahkan dirinya merupakan aktor sekaligus pengusaha. Sayang, otaknya kurang berfungsi dan sepemisis itu perihal cinta hingga melakukan jalan pintas yang nyatanya tak seperti realita yang ia bayangkan.
Memiliki wajah tampan, dan segala kesempurnaan. Harry jatuh cinta pada pandangan pertama kala bertemu Caterine dalam sebuah pertemuan antara dirinya dan Sheina. Sejak saat itu, meski ia tak suka dengan pekerjaannya, jika yang menjadi lawan main adalah Sheina ia akan terima, karena itu adalah cara dia untuk mendekati Caterine.
-
.
__ADS_1
.
“Papa pernah main film sama kak Haidar? Tampan sekali ya Tuhan.”
Caterine kini mengagumi papanya yang tengah melakukan adegan manis bersama sosok pemuda tampan yang dahulu sangat ia kenal. Sejak kecil, Caterine menyukai dunia hiburan hanya untuk melihat papanya, berharap perlahan ia dapat melangkah dan dipersatukan bersama Randy dalam sebuah perkerjaan.
Ya, memang sesulit itu hidupnya. Ia paham bagaimana cara Martadinata, sang kakek dalam mendidiknya. Keras dan otoriter yang tak terbantahkan, berpura-pura tak rindu adalah hal paling sakit bagi Caterine. Hingga, ketika Sheina memintanya untuk mulai menggeluti dunia itu, Caterine senang tentu saja.
“Andai dulu aku sabar, papa memang akan datang untukku kan?”
Ia berucap sembari menyentuh layar kaca itu, duduk sendiri di kamar ia memutuskan untuk menghibur dirinya. Wajah tampan Randy dan juga Haidar yang sesekali menghipnotisnya membuatnya tersenyum sejenak. Jujur saja, ia menyesali keyakinannya untuk mengikuti jejak Sheina.
“Miss you, Pa … tetaplah tertawa seperti ini.”
Caterine terluka, ia sadar papanya takkan pernah bisa tertawa seperti yang kini ia saksikan di sana. Tanpa dendam, meski Randy tak bersamanya, Caterine menyayangi papanya begitu luar biasa. Nyatanya menjadikan sosok papa sebagai cinta pertama tak harus dengan selalu bersama, keyakinan dalam benak Caterine yakin bahwa Randy menyayanginya.
Dan tanpa ia sadari, tangisnya kini disaksikan jelas oleh sepasang mata yang tengah membuka pintu kamarnya sedikit. Randy, ia datang dengan membawa susu hangat untuk putrinya, berharap malam ini mereka akan sedikit menghangat.
Udara di ruangan ini seakan menipis, Randy sesulit itu menarik napasnya. Luka, dan sakit itu semakin nyata setelah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri wajah badjingan yang membuat putrinya begini. Andai, Randy punya hak lebih dan membunuh orang itu tak dosa, mungkin Harry sudah berada di alam barzah.
“Maafkan papa, Caterine … papa gagal menjagamu.”
Diantara sesal dalam hidupnya, kehancuran putrinya adalah kesalahan paling sakit bagi Randy. Ia benar-benar terluka dan bingung harus apa. Satu-satunya putri dan harta yang kini ia punya, meski sekuat apapun Randy menjaganya kini takkan membuat semuanya kembali.
“Papa berjanji demi darahku, Caterine … takkan aku biarkan pria itu dapat menikmati hidup dengan baik, Nak.”
Rahangnya mengeras, tak sabar menanti proses persidangan yang kini tengah Martadinata perjuangkan. Bagaimanapun caranya, derita Harry adalah hal yang paling Randy inginkan.
__ADS_1
Tbc
Kita libur dulu ngakaknya Gaes, capek sendiri ketawa sambal ngetik Giantoro. Lagian kasian tokoh utama yang cool buanget itu jadi kita nistain begitu. Hilang charisma Babang Gian, dia bawa guci aja udah buat gue batal shalat.