
Meninggalkan kecurigaannya, Radha kini butuh usaha mencari Gian. Sedikit kesal sebenarnya, pria itu menghabiskan cukup banyak waktunya. Sedangkan di sisi lain Radha juga tak boleh lupa dengan kejawibannya di sekolah.
“Rumahnya gede banget lagi,” tuturnya tanpa berhenti melangkah, padahal rumahnya juga tak kalah besar, namun jika dibandingkan jelas kekayaan Ardi belum ada apa-apanya.
Hingga Radha ingat, ada satu ruangan yang dahulu pernah Jelita kenalkan sebagai tempat favorit Gian. Namun sayang ia belum sempat masuk, jadi ia belum mengetahui apa yang tersimpan di sana.
“Ga kekunci?”
Hati Radha tengak bersorak riang menyadari pintu itu ternyata tidak terkunci, dengan mudah ia buka dan apa yang berada di dalamnya membuat Radha terpana. Sejak kapan ada tempat seperti ini, menatap banyaknya buku yang tersusun rapi di sana Radha seakan lupa dengan tujuan.
Ia tak begitu suka membaca, meski demikian ia tetap termasuk ke dalam daftar siswa berprestasi jalur hoki. Ia hanya suka melihat susunan buku itu, namun tak berpikir untuk membacanya, terutama buku pelajaran.
“Ini buku dari zaman TK apa gimana? Banyak banget gila.”
“Dari zaman PAUD.” Suara itu terdengar begitu jelas tepat di telinganya, Radha terperanjat kaget bahkan hampir saja ia terbentuk lemari di sisi kanannya.
“Aarghh Kakak … kaget!!”
“Ck, lebay sekali reaksimu.”
Gian tertawa sumpah sembari mengetuk jidat istrinya dengan perasaan sayang. Wajah kaget Radha serta suara melengking itu benar-benar menghiburnya.
“Mau apa? Mencariku hm?”
Gian mengalihkan pandangan, bersikap seadanya dengan suara datar yang sengaja ia buat. Masih marah ceritanya, namun karena terlalu bahagia Radha masuk ke ruangan itu, Gian tak bisa menunggu lebih lama agar wanita menghampirinya.
“He’em cari Kakak, di suruh Papa.” Ia menjawab polos kemudian mendekati suaminya.
“Pa … Papa?!”
“Iya, Papa … Kakak sering ngambek ya?” tanya Radha tanpa menatap suaminya.
Ia menarik napas dalam-dalam, sedikit kesal lantaran kehadiran istrinya adalah atas perintah Raka. Bukan murni khawatir atau Radha yang tak bisa jauh darinya. Gian menatap datar wanita yang hanya sepundaknya itu tengah menmperhatikan susunan buku di depannya.
“Kenapa?”
Radha mendongak, menyadari suaminya itu tak juga bicara jelas ia merasa sedikit aneh. Namun jika ia lihat gurat wajah pria itu nampaknya ia telah membuat kesalahan.
“Dasar tidak peka.”
__ADS_1
“Maksudnya?
“Pikir saja sendiri, kau sudah dewasa, Zura.”
Rada mencebikkan bibir, mengapa pria ini semakin menjadi. Bahkan dengan santainya ia berlalu dan merebahkan tubuhnya di sofa panjang itu. Kemana gerak Gian tak lepas dari pandangan matanya, pria itu mulai membuka buku yang sejak tadi ia pegang.
“Semua bukunya punya Kakak?”
Masih memiliki mental baja dan stok kesabaran yang tersisa, Radha mendekat dan kini duduk di ujung sofa yang masih tersisa, kaki jenjang itu tiba-tiba Gian luruskan dan kini berada di atas pahanya. Radha mengelus dadanya lagi, ucapannya saja kini tak Gian respon sama sekali.
“Tuli ternyata,” celetuknya sembari menatap jemari lentiknya.
“Apa katamu?”
“Tidak, lanjutkan saja bacanya … benerin dulu bukunya kebalik.”
Gian berdehem dan menutup buku itu, sejak tadi memang ia tak berniat membacanya. Namun sungguh memalukan hal semacam ini Radha sadari dan membuat harga dirinya sedikit tercoreng.
“Hahah, ternyata Mama benar … Kakak memang pintar, baca buku aja bisa dibalik, daebak!!”
Tengah menjadi bahan ejekan istrinya habis-habisan. Gian duduk dan menarik bibir Radha dengan santainya. Jelas saja wanita itu kaget, belum pernah ia temukan seseorang membuatnya diam dengan cara seperti itu.
Radha menelan salivanya, masih tak percaya dengan apa yang ia alami. Bibir mungilnya Gian cubit bahkan sedikit terasa sakit, pria itu tidak bercanda ketika menarik bibir istrinya hingga beberapa centi.
“Kenapa harus begitu, Kak.”
Ia masih tak terima, Radha menatapnya nyalang sebagai musuh yang harus di tuntaskan. Bukannya marah, Gian kini menarik sudut bibir menyaksikan istrinya mulai mengambil ancang-ancang. Istrinya terlalu mudah untuk di kalahkan, hingga baru saja tangan Radha hendak menggambil kesempatan untuk membalaskan dendamnya, Gian menangkap pergelangan tangan Radha dengan mudah.
“Mau apa kau?”
“Bales, sakit asal Kakak tau ya.”
“Coba saja kalau bisa,” tantang Gian menjulurkan lidahnya.
Takkan ia biarkan, bahkan seganas apapun Radha menyerangnya justru membuat Gian semakin senang saja. Radha tak sadar bahwa hal yang ia lakukan dengan mendorong tubuh Gian hingga terbaring itu justru membuat posisinya dalam bahaya. Berada di atas tubuh Gian jelas membuat pria itu merasa senang, ia bahkan tak menyadari kini tangan kanan suaminya melingkar di pinggangnya.
“Awas tangannya, nanti perih.”
Meski wanita itu berambisi luar biasa untuk meraih bibirnya, Gian tetap fokus pada luka Radha yang masih memerah itu. Istrinya yang celaka tapi dirinya yang was-was tiada habisnya.
__ADS_1
“Udah ya,’ tuturnya lembut berharap agar Radha menurut, karena jujur saja dirinya sedikit takut jika bibirnya menjadi sasaran amukan istri kecilnya.
“Balas dulu, Kakak jangan curang lah.”
“Baiklah, jika memang kau mau.” Ia berucap mantap sembari menatap lekat wajah Radha yang berada di atasnya.
Cup
“Begitu kan?”
Radha membeku, bisa-bisanya Gian mencuri kesempatan setelah berhasil menjebaknya. Senyum itu sungguh membuatnya geram, jika saja menimpuk suaminya itu tak dosa, ia akan lakukan detik ini juga.
“Kenapa? Kurang, Ra?”
“Dasar curang!! Menyebalkan.”
Ia beranjak dengan cepat, menghempas tangan Gian yang sejak tadi dak melepaskannya. Bibirnya bahkan lebih maju dari sebelumnya. Dan Gian takkan berhenti menggodanya walau wajah istrinya tak memungkinkan untuk di ajak bercanda.
“Kamu abis makan apa, Ra?”
“Ikan,” jawabnya asal, melampiaskan kekesalannya dengan mencabut benang di ujung lengan bajunya.
“Pantes … berminyak,” ujar Gian yang lagi-lagi berhasil membuat Radha naik pitam.
“Gak sempet!! Karena Papa minta Kakak buat makan secepatnya, puas?!!”
Ia sedikit berbohong di bagian ini, menutup rasa malu yang sedang menyelimutinya. Ia memang tak sadar, bisa-bisanya ia lupa hal sepenting ini. Bibir berminya, dan sepertinya akan amis, pikirnya.
“Kenapa harus Papa? Kamu nggak mikirin Kakak sama sekali seperti Papa, Ra?”
Ingin sekali ia mendengar jawaban Iya dari Radha. Karena untuk saat ini, jika Radha yang mengatakan dirinya yang meminta Gian untuk makan, mungkin akan ia turuti walau nafsu makannya sudah hilang entah kemana.
“Enggak, kan Kakak sepanjang jalan ngemil, masa masih laper.”
“Benarkah?”
“Iya … atau Kakak udah lapar? Aku ambilin mau?”
Pertanyaan yang berhasil membuatnya tersenyum tipis, ia bahkan menyiksa diri sendiri hanya demi sebuah perhatian dari wanita yang ia cintai. Sungguh kebodohan yang patut diteruskan.
__ADS_1