Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 163. Pengaruh Buruk


__ADS_3

“Pak Gian, pihak agensi model yang bersangkutan sudah menunggu di luar,” jelas Reyhans dan membuat pria itu menggrebak meja seketika.


“Apa mau mereka sebenarnya, Rey!! Katamu diundur dan kenapa tiba-tiba sudah ada di luar? Kau mau kehilangan hidung mancungmu itu, Reyhans?”


Sungguh, diganggu seperti ini adalah hal paling menyebalkan bari Gian. Kesibukannya yang luar biasa itu belum tuntas. Ia masih penasaran Aris memilih Lidya atau Kinan pada akhirnya, dan kedatangan Reyhans ini benar-benar menghancurkan moodnya, keinginannya untuk melanjutkan series itu sempat tertunda, dan kini waktu luangnya Reyhans ganggu.


“Pihak agensi hanya ingin meminta maaf atas tidak profesionalnya Harry dalam project ini, Pak.”


“Harry? Modelnya laki-laki?” tanya Gian yang membuat Reyhans menghela napas pelan, apa mata Gian tidak digunakan dengan baik hingga ia tak mengetahui siapa yang terlibat dalam projectnya kali ini.


“Iya, Pak … dan pak Raka sendiri yang memilih Harry karena memang prestasi pemuda itu cukup menonjol satu tahun terakhir.”


“Iya tapi buktinya? Prestasi apa yang kau harapkan dari laki-laki begini? Tidak bertanggung jawab, bukankah Papa mengeluarkan banyak uang demi memakai wajah pria itu?”


Tak peduli, penjelasan Reyhans tentang pemuda itu. Bagi Gian baik atau tidaknya orang adalah saat berhubungan dengannya, bukan dari pemberitaan. Belum lagi Raka tak berpikir dua kali ketika memutuskan untuk melakukan kerja sama bersama pihak agensi Harry yang menurut Gian masih jauh tampan dirinya.


“Papa kenapa tidak bayar Haidar saja, aku rasa dia lebih tampan dan berbakat dari pria itu.”


Ucapan Gian yang terlihat tengah bebicara sendiir membuat Reyhans tertawa. Ada-ada saja, jika Haidar mau tentu saja Raka takkan mencari aktor lain untuk turut andil dalam peluncuran produknya.


“Maaf, bisa Anda ulangi, Pak?”


Gian berdecak, baru sadar jika celetukannya didengar Reyhans, sedangkan sejak dahulu Gian tak pernah sama sekali membahas adiknya. Terlebih lagi kali ini Gian tampak memuji Haidar yang menrutnya lebih baik.


“Aarggh kepalaku pusing, Reyhans … bisakah kau saja yang menemui mereka? Aku tidak mau membuang waktu jika kedatangan mereka hanya untuk mengambil hatiku.”


Percaya diri, tapi memang kemungkinan besar pihak agensi Harry berniat mencuri hati Gian. Wijaya Group merupakan perusahaan terbesar dan tentu akan berpengaruh besar bagi mereka jika mereka menjalin kerja sama.


“Maaf, Pak, untuk kali ini saya tidak bisa melakukannya, pak Raka juga memin …."


“Okay! Demi Pak Raka yang terhormat itu, ayo kita temui mereka.”


Tak punya cara lain, Reyhans kembali mengeluarkan kalimat itu. Karena jika ia tak melibatkan nama Raka, maka tentu saja Gian akan memilih bersantai dan menungu berkas untuk ditanda tangani saja.

__ADS_1


“Sambil makan siang, Pak?”


“Aku sibuk, Reyhans! Kau saja yang makan,” ujar Gian benar-benar enggan.


Jujur saja, makan siang bersama Rey adalah hal yang takkan pernah ia lakukan lagi. Lebih tepatnya malas. Dan juga, hari ini ia berencana untuk membawa Radha ke kantor, bergelut dengan tumpukan berkas hanya membuat Gian pusing.


Formalitas, demi menjaga nama Raka yang dikenal selalu memperlakukan seseorang dengan baik, Gian sangat terpaksa menampilkan senyum manis di wajah tampan paripurnanya itu. Benar-benar palsu, Reyhans yang mengerti bahwa bosnya ini mulai tak nyaman memutuskan untuk mengakhiri pertemuan yang terkesan telah mereka permainkan.


“Kenapa cepat sekali, Pak Gian? Apa tidak bisa kita mengobrol lebih dekat lagi?”


“Maaf, tidak bisa … saya sibuk sekali,” tutur Gian sembari menatap pergelangan tangannya, wanita cantik itu hanya mengulas senyum terpaksa.


Sibuk apanya, sejak tadi Gian hanya mengulur waktu dan ingin menjemput Radha segera. Reyhans yang paham hanya membuang napas perlahan, pasrah dan terserah bosnya saja.


******


“Aduh kok gue gaenak banget ya,” tutur Radha mengedipkan matanya berkali-kali, ia kurang tidur lebih tepatnya.


“Kantung mata, Ele.”


Radha membenarkan pengucapan Ele, dua siswi cantik mempesona ini sudah behasil keluar gerbang dengan rayuan mautnya. Wajah lelah Radha dan senyum cantik Helena membuat penjaga sekolah luluh dan membiarkan mereka pulang lebih cepat.


“Ya itu pokoknya, udah hayuu mumpung masih promo, Ra … lagian muka lu kucel banget, perawatan sesekali kagak ngapa-ngapa dah.”


“Lu bayarin ya, gue lupa minta duit soalnya hari ini.” Ya, Radha lupa. Dan memang untuk menggunakan kartu kredit dan sejenisnya Radha belum mau.


“Ah gampil, gue baru nyolong duit bokap gue, aman lah.”


“Widih gila lu, masa traktir gue pakek duit nyolong … haram, Ele.”


“Yaelah gue juga nyolong duit bokap gue, bukan bokap tentangga.”


Simple, karena bagi Helena uang ayahnya adalah uang dia juga. Jadi walau mengambilnya dengan cara yang lebih sederhana dari meminta, itu bukanlah hal yang salah.

__ADS_1


Balutan seragam SMA, masih pukul 10 pagi. Waktu dimana seharusnya mereka menghadapi pelajaran pak Yanto. Tapi dengan alasan takut molor mereka memilih bolos. Benar-benar pengaruh buruk sebenarnya, tapi entah kenapa Radha yang dahulu memang tak terlalu rajin mendadak semakin malas begitu kenal Helena.


“Masih jauh gak, Ra?” tanya Helena, karena ia tak mengetahui dimana sebenarnya klinik kecantikan itu berada, hanya bermodalkan alamat yang tertera di papan iklan dan Google Maps kedua gadis yang satunya tidak perawan ini mengelilingi kota.


“Kalau kata Mapsnya belok kiri ke arah utara, nanti ada jalan Mawar, Le.”


“Lu yang bener dong, Ra … yakali belok kiri.”


“Iya tapi bener kok belok kiri.”


“Sampah semua, masa iya lewat tempat beginian.”


Ternyata benar, 85 persen cewek di Indonesia tidak bisa membaca Maps. Sudah berputar berkali-kali dan keduanya lagi-lagi tersesat. Di tipu atau bagaimana, kenapa yang mereka tuju justru menunjukkan warung ketoprak.


“Capek gue dah, makan dulu kali ya,” ujar Helena menyampaikan idenya, sedanhgkan Radha yang kini lapar luar biasa mengangguk mantap.


“Bang, sekalian tanya boleh gak?” Ele mencoba membuka pembicaraan pada pria tampan itu, heran setampan itu ia temui di gerobak ketoprak, pikir Ele.


“Lala Beauty dimana? Udah muter-muter kita dimari.”


“Lala?”


“Eh Syalala maksudnya.”


Pria itu menatap mereka berdua heran, tidak yakin sebenarnya apa yang mereka pertanyakan. Mata mereka yang tak berfungsi atau bagaimana, pikir pria itu.


“Itu, Neng gak liat tulisan Syalala Beauty segede gaban?” Pria itu menunjuk sebuah bangunan paling mewah yang berada tak jauh dari tempatnya mangkal.


“Is, Radha!! Makanya jangan tidur, mana udah muter-muter.”


Radha terperanjat, ketoprak itu baru saja masuk mulutnya. Dan wajah merah Helena kini berteriak dan membuatnya hampir tersedak. Sebenarnya bukan Radha yang salah, melainkan diirnya yang salah memberi tahu nama klinik itu yang benar.


Helena anak siapa sii kok gemesin, jan-jan anak selingkuhan Randy😎

__ADS_1


__ADS_2