
Pagi-pagi suasana sudah panas saja, ini adalah hari dimana Gian harus bekerja dan dia dalam keadaan berpuasa. Sejak tadi pria itu uring-uringan mencari ponselnya entah kemana.
"Ada-ada aja sii, terakhir dimana emang?" tanya Radha yang justru membuat Gian menghela napas pelan.
"Kalau ingat nggak bakal Kakak cari-cari begini, Zura."
Istrinya memang terlalu konyol untuk sebuah pertanyaan. Kenapa juga Gian akan bertanya jika dia tahu keberadaan gawainya itu. Ingin ia menangis saja rasanya, kenapa istrinya tak jauh beda dari Jelita yang sejak tadi justru bertanya dimana letaknya.
"Ya kan nanya, biasanya kalau ditanya gitu bakal kepancing ingatan masa lalunya, Kak."
Terserah, Gian pasrah. Padahal sudah satu jam dia mencari, kemana dia meletakan benda itu sebenarnya. Baru saja semalam dia mengatakan jika istrinya rada pikun, dan kini karma justru dibayar tuntas.
"Telpon coba, Gi ... lagian kenapa juga bisa ilang, puasa baru sehari tapi otakmu sudah geser begitu."
Ini lagi satu, bukannya bantu malah makin menjadi. Sejak tadi Gian juga sudah melakukannya berkali-kali, akan tetapi memang saat ini ponselnya tidak bisa dihubungi.
Hendak berangkat kerja, tapi pakaiannya sudah kacau duluan. Radha membenarkan dasi Gian yang longgar sebelum waktunya, memang kebiasaan pria ini, bingung sedikit saja justru kacau semuanya.
"Pakai punya aku dulu ya, Kak sementara."
"Bukan masalah itu, Ra, kalau cuma karena hpnya doang, bisa beli lagi ... tapi masalahnya, semua hal-hal penting ada di sana, kalau hilang gimana?"
Gian panik luar biasa, habislah dia jika ponsel itu benar-benar hilang dan semua yang ia abadikan di ponsel itu adalah koleksi pribadi dan tidak boleh mata siapapun melihatnya juga.
"Hal penting? Apa memangnya? Bukannya ada di Kak Rey semua?"
Jelas saja dia bingung, karena seingat Radha Gian tidak menyimpan hal-hal semacam itu di ponselnya.
"Masalahnya ini lebih penting daripada itu, Zura ... foto Kama, Kalila semua di sana."
Radha tersenyum mendengar alasannya, kalaupun cuma itu sebenaenya tak apa. Toh masih bisa mereka abadikan dan Radha juga menyimpan foto-foto kedua buah hatinya bahkan sejak masih dalam kandungan.
"Kan di hp aku ada banyak, Kak," ungkap Radha menenangkan Gian yang kini terlihat seperti ulat bulu yang tak bisa diam sama sekali.
"Tidak semuanya kamu simpen juga, foto kamu yang jadi masalah."
Radha semakin bingung, jika hanya foto dirinya kenapa Gian sepanik ini? Bukankah hanya sekadar foto, lantas kenapa suaminya seakan kehilangan jempol kaki, pikirnya.
"Kenapa foto aku? Apa yang jadi masalah?" desak Radha tak bisa berkata-kata lagi, paniknya Gian membuat Radha gemas dan ingin mencabut rambut suaminya hingga akar.
"Foto kamu seksi semua di sana, kalau sampai orang lain yang lihat dosanya Kakak tanggung, Ra."
"Dasar guoblok!!! Kenapa juga pakek di simpen, lagian doyan banget foto-foto nggak jelas begitu, kalau foto aku disalahgunakan gimana? Kakak jangan gila deh!! Cari itu hp sampai ketemu!!"
Bisa-bisanya Gian justru memikirkan dosa pribadi, kebiasaan tengil yang kerap sengaja mengambil foto Radha dalam segala keadaan akhirnya berdampak seburuk ini.
"Ya maaf, Kakak nggak tau kalau bakal begini, Sayang ... sorry," pintanya mengiba dan halal sekali untuk di kurung di kandang beo milik Budi.
__ADS_1
"Sorry apanya sorry, nggak mau tau ya, tu HP harus ketemu, ih jahat banget sumpah." Bibirnya mencebik bahkan terlihat hendak menangis, dia memang sudah cukup dewasa, namun Gian terkadang membuatnya berurai air mata.
Tadi malam mereka seromantis Romeo dan Juliet, dan di siang hari mereka justru berubah layaknya Spongebob dan Squidward. Satunya cari masalah, dan satunya emosi tak terkira.
"Iya, Sayang ... akan Kakak cari."
Sudah pasti dia takkan ke kantor sebelum ponsel itu ia temukan. Berlalu sendiri dan meminta Reyhans pergi duluan tanpa dirinya dengan alasan mendesak dan tak bisa diganggu gugat.
"Hem, baiklah ... tapi sepertinya ponselmu tidak hilang, Gi. Karena terakhir kali kau menghubungiku adalah kemarin saat hendak membangunkan sahur, dan kau belum keluar kan setelah itu?"
Berusaha memberikan petunjuk, walau akhirnya gagal dan membuat Gian semakin banyak pikiran.
"Sorenya pergi beli takjil, setelah itu malemnya sholat ... tapi seingatku aku tidak cek hp di saat-saat begitu."
Mulai bisa berpikir dengan jernih, dia berusaha untuk kembali mengingat. Saat ini yang paling penting ialah ponsel itu kembali padanya, karena alasan Gian takut ponsel itu jatuh ke tangan orang lain adanya foto-foto istrinya.
-
.
.
.
Hingga kini di kantor, pikiran Gian masih sama. Sejak tadi matanya kemana tangannya kemana, tanda tangan juga salah tempatnya.
Evany mencoba memberanikan diri, jika biasanya fia memiliki ketakutan kini melihat bosnya seperti kurang asupan dia tidak akan diam.
"Hah? Salah ya?"
Benar-benar gila efek puasa, padahal ini masih termasuk pagi, dan Gian sudah seperti ikan yang terjebak di daratan.
"Evany, kenapa tidak dari tadi? Kamu kok diem aja."
Salah lagi, mengingatkan salah, tapi diam juga lebih salah. Evany mencebikkan bibir melihat kelakuan bosnya ini, kuat juga mental Radha, pikirnya.
"Lah ini saya bilang, Pak."
"Telat!! Gimana ini, gak bisa ilang diapus pakek ludah juga," tutur Gian hendak menjilat jemarinya, segera Evany menghentikan maksud Gian.
"Heeeeh, saya akan buat ulang, Pak."
Tanpa banyak berucap, dia serahkan kembali. Dia memang tidak marah-marah seperti biasa, namun tingkahnya yang seperti ini lebih berat daripada marah-marah.
"Eva," panggil Gian setelah Evany hendak meraih handle pintu, ada saja, Evany takut jika Gian justru memintanya melakukan pekerjaan lain.
"Ada apa, Pak?"
__ADS_1
"Kamu, lihat ponsel saya nggak?" tanya Gian dengan wajah sendu dan tubuh lesu bersandar di kursi kebanggaan dengan.
"Nggak, Pak ... memangnya kenapa?"
"Hm, tidak berguna memang ... kamu jangan ikutan nanya dong, saya kan makin pusing."
Terserah, Evany berlalu pergi setelah dianggap tak berguna padahal dirinya sudah baik hati mau bertanya.
Brugh
"Awww, jalan lihat-lihat ... kamu buta atau gimana?" keluh Evany kala seseorang menabraknya hingga kepalanya terasa sakit.
"Kamu yang salah, awas."
"Ish, kamu apaan sih, Mas!!"
"Sshut ... pelan-pelan, ketahuan bahaya kita."
"Ketauan juga gapapa, paling dipecat salah satunya," ucap Evany enteng sekali.
Reyhans menarik sudut bibir, sepertinya istrinya frustasi menghadapi Gian. Garis wajahnya jelas mengungkapkan jika dia lelah luar biasa.
"Stres ya? Nggak usah masuk kerja dibilangin," ungkap Reyhans begitu halus merapikan rambut Evany yang kemana-mana.
"Bos kamu tuh nyebelin banget, ya kali sampe HP nya ilang nanya aku, emang aku ngurusin hal-hal sekecil itu, orang nanya balik malah dikatain gak berguna."
Wajahnya benar-benar kusut, walau sebenarnya tak apa dia tak bekerja, mengingat gaji Reyhans sudah lebih dari cukup. Akan tetapi, dia belum mau dan memilih tetap merahasiakan pernikahan mereka demi bisa memantau Reyhans di kantor.
"Hahah sabar, dia lagi kena musibah ... jarang-jarang manusia itu pikun ... dah, kamu istirahat sana, jangan sampai lelah, Eva."
Menepuk pelan pundak istrinya, dia tahu Evany mungkin saja lelah. Menjalani peran sebagai istri saja sudah melelahkan, dan kini di kantor dia harus menghadapi Gian.
Setelah menatap pundak istrinya yang kian jauh, Reyhans kini melangkah menuju ruangan Gian. Memastikan jika manusia itu masih sedikit waras setelah kehilantan harta berharganya itu.
Ceklek
"Allahu Akbar!!! K-kau sejak kapan berdiri di sini?"
Reyhans ketar-ketir begitu menatap Gian berdiri di dekat pintu dengan wajah datar andalannya. Belum lagi sebelumnya mereka sempat membicarakan ptia ini, hancur sudah.
"Jangan ghibah, nanti pahala puasamu berkurang," ujarnya santai, dan justru berlalu keluar meninggalkan Reyhans.
🌻
Guys, aku udah mantepin untuk karya baru akan aku up di sini. Sementara nabung Bab dulu, kalau misal yang aku kerjain di RL selesai dengan baik kita gas saat itu juga, dan karena masih sayang Gian, ini belum aku tamatin setelah nanti beneran bisa fokus ke karya barunya.
Tapi kalau udah bosan Gian bilang aja ya.
__ADS_1