
PLAK!!
Perih rasanya, wajahnya terasa panas dan Gian susah payah menahan tubuhnya agar tak tumbang. Sudah ia duga, hal ini akan ia dapatkan. Karena pantang bagi Raka melanggar sebuah janji, dan begitupun ia terapkan untuk putranya.
"Katakan sekali lagi, benar kau melakukannya, Gian?"
"Iya, Pa."
Dengan tegas, Gian menjawab. Karena memang ia merasa tak salah. Persetan dengan janji yang Ardi tetapkan sendiri, karena pria itu juga tak peduli bagaimana Radha setelah menjadi istrinya.
"Kau ingat janjimu, Gian? Bukankah kau sendiri yang mengatakannya seyakin itu di depan Papa?"
Raka menatap tajam putranya kini, wajahnya merah padam dan kini tangan itu lagi-lagi ingin berlabuh di wajah Gian. Namun Raka mengurungkan niatnya, pria itu kini memukul angin lantaran bingung menghadapi putranya.
"Iya, aku mengingatnya, Pa ... sangat ingat."
"Lalu, yang kau lakukan padanya bagaimana? Dia masih begitu kecil, Gian ... harusnya kau paham itu."
"Hahaha lucu kalian, jika kini memikirkan usia Radha, kenapa dulu Papa begitu matang merencanakan pernikahan untuk gadis sekecil dia?"
Raka terdiam, karena dahulu ia tak mengira akan begini. Lagipula perjanjian itu ada kala Ardi menyadari bukan Haidar yang menjadi menantunya, melainkan Gian.
"Karena dulu Papa yakin Haidar akan memikirkan masa depan istrinya meski sudah menikah," jawab Raka datar namun sedikit bergetar, rasanya kini ia tengah menghancurkan masa depan Radha berkali-kali.
Apa yang Radha cita-citakan, Raka mengetahuinya secara detail dari seseorang kepercayaannya. Dan tentu hal itu ia ketahui dari sosok Ardi sendiri, karena dahulu yang mereka rencanakan adalah mengikat Haidar dan Radha dalam sebuah perjanjian pernikahan yang mengutamakan Radha tetap baik-baik saja meski ia harus menikah di usia muda.
"Lalu aku?"
Gian menatap kecewa sang Papa yang kini tengah membandingkannya dengan Haidar. Perihal masa depan, memang Gian tak bisa memberikan seperti anak seumuran Radha lainnya, tapi bukankah hal semacam ini dimulai oleh Raka sendiri, pikir Gian menatap Raka tak suka.
"Kau membawanya terlalu dewasa, Gian ... Ardi menikahkannya bukan berarti merusak masa depannya, Gian."
Raka berucap begitu lemahnya, ia bingung apa yang akan di sampaikan pada Ardi nantinya. Karena ia lah yang menjamin bahwa Gian akan patuh terhadap perjanjian yang Ardi berikan.
"Yang namanya menikah artinya dewasa, Pa ... dan juga yang seharusnya terikat perjanjian pernikahan itu Haidar kan, Papa dan Om Ardi menyiapkan perjanjian konyol itu atas nama Haidar dan juga Radha, dan di kertas yang terpaksa aku tanda tangani itu, tidak ada nama Dirgantara Avgian di sana."
Ia tengah membela dirinya, jika dahulu ia tak mempermasalahkan apapun itu. Tapi, tidak dengan sekarang. Ia mencintai Radha, dan jelas hal konyol yang dahulu sempat pria itu iyakan adalah penyesalan paling nyata dalam hidup Gian.
"Kau lupa itu tanda tangamu, Ha?!!"
"Lalu kenapa? Aku pria dewasa yang memang sudah pantas untuk menikah!! Jangan Papa samakan aku dengan Haidar yang bisa Papa atur hanya dengan goresan tinta di atas kertas, Pa."
"Gian, kau."
__ADS_1
Raka memejamkan matanya sejenak, putranya kini tampak begitu dewasa. Bahkan hal semacam ini membuatnya merasa kalah, ada rasa bangga sebenarnya, namun kekhawatiran itu lebih besar mengingat usia Radha yang semuda itu.
"Apa masih ada yang perlu Papa sampaikan? Jika tidak, aku angkat kaki."
"Jaga baik-baik istrimu, Papa mohon jangan egois dan jangan pedulikan permintaan Mamamu."
Gian menangkap inti dari pembicaraan ini, nampaknya Raka belum mengizinkan jika Radha mengandung di usianya yang masih begitu muda. Karena memang sejak awal, Jelita begitu menginginkan Gian untuk segera memberikan cucu untuknya.
"Aku suaminya, kenapa Papa yang atur."
"Gian!!"
Bukannya tak sopan, sebenarnya ia takut jika berani asal ceplos seperti sekarang ini. Pria itu berlalu usai berdebat panjang dengan sang papa. Meski hasilnya belum jelas, karena Gian tak mengiyakan keinginan Papanya, dan Raka juga tak mengizinkan Gian sepenuhnya.
"Astaga, anak itu masih sama."
Raka memijit pelipisnya, nyatanya Gian memang masih sama. Putra sulungnya memang begitu patuh, namun hal-hal semacam ini kerap terjadi di antara mereka.
*******
"Enak saja, dia istriku kenapa yang atur."
Jalannya selincah bibirnya yang terus saja mengomel. Ia berlalu dengan langkah cepat dan tentu istrinya yang menjadi tujuan. Sempat berpikir bagaimana hidup Mamanya ketika muda, dan Gian tak sadar jika dirinya juga persis Raka di suatu saat.
"Astaga!! Ketuk dulu kan bisa, Kak."
"Sssttt diam kau," ujarnya melangkah maju dan menempelkan telunjuknya kasar ke bibir Radha hingga kepala wanita itu terdorong ke belakang.
"Ppffttt, Kakak kenapa?"
Ia tepis kasar jemari itu, menatap heran wajah suaminya yang masih memerah. Kulit putih Gian membuat bekas tamparan itu terlihat nyata, jika ia lihat-lihat sudah pasti tamparan itu membuat seseorang kehilangan keseimbangan.
"Kak, ditampar?" tanya Radha polos menatap lekat wajah Gian yang kini menatap sembarang arah menyembunyikan kesalnya.
"Tidak, Ra, dicium," jawabnya asal sembari melepas jas dan dasinya, melemparkan benda itu sembarang arah dan kini ia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.
"Sakit?"
"Geli, Sayang."
Sedikit menyesal ia bertanya, namun memang Gian menghawatirkan. Meski tak berdarah, namun bisa ia rasakan bagaimana panasnya. Karena dahulu tamparan adalah hal yang biasa Radha dapatkan dari Dewi yang kurang waras itu.
"Diam di sini, aku akan kompres wajah Kakak."
__ADS_1
"Tidak perlu, nanti Mama heboh dan jadi bahan ribut sama Papa."
Gian menahan pergelangan tangan istrinya, karena ia tak mau Raka mendapat amukan dari ratu di rumah ini. Karena bagaimanapun, marahnya Raka tak boleh berimbas pada hal lain, begitulah pikiran Gian.
"Tapi itu sakit, Kak." Ia menatap khawatir suaminya, namun gelengan kepala Gian seakan menenangkannya.
"Tidak, Ra, nanti berhenti sendiri."
Ia duduk di sisi Gian, masih menatap khawatir dan sedikit heran apa yang menjadi penyebab Raka sampai menyakiti suaminya. Karena setau Radha, Gian tidak membuat masalah yang seharusnya menjadi amarah.
"Arrgh, Ra," keluh Gian kala merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya, sentuhan halus itu awalnya memang nyaman, namun mengapa kini matanya justru terasa perih.
"Kenapa, Kak?"
"Kamu abis megang apa? Perih, Ra."
"Megang apa?" tanyanya menatap heran, megingat lagi apa yang pernah ia lakukan.
"Astaga!! Maaf, Kak ... aku lupa, cabe yang tadi belum aku cuci, bentar ya aku turun dulu."
"Whats?!! Aku yang harusnya kau khawatirkan, Zura!!"
Sungguh sopan sekali, Gian menendang angin kala istrinya memilih pergi dan lebih peduli dengan bumbu dapur itu. Sungguh istri yang bijaksana, pikirnya geram.
...............❣️
Hai!! Aduuh, visual ya. Dulu aku pernah kasih Visual Gian, tapi ada beberapa komen yang bilang kalau Gian ga cocok kalau visualnya kebarat"an gitu. Karena cocokin sama Raka dan Jelita yang mukanya Asia banget itu.
But ini kita coba lagi, Visual Versi Authornya. Kalau ga sesuai seleranya maafin ngokey, kalian bisa berimajinasi sendiri perihal Visualnya ya❣️
Dirgantara Avgian
Radhania Azzura
Haidar Zhafran Abrizam
Btw ini bukan semuanya korea ya gaes, tapi bukan mas-mas Jawa juga. Ngokey😙
__ADS_1